Mengisahkan rumah tangga Anjani dan Malik yang harus kandas dengan hadirnya sosok Dara, wanita yang merupakan sahabat baik Anjani yang menjadi pelakor dalam rumah tangganya. Hinaan kasar dari mertuanya juga membuat Anjani menyerah dan memutuskan untuk berpisah hingga takdir mempertemukannya dengan bule tampan asal Inggris Oliver Jones yang mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Harus Kita Akhiri Selamanya
Langit Jakarta pagi itu tampak cerah, seolah mencoba merayu dunia untuk melupakan kengerian yang baru saja terjadi. Di rumah sakit, suasana hati Anjani jauh lebih ringan dibandingkan hari-hari sebelumnya. Bu Purwati, wanita yang selama ini menjadi kompas kehidupan Anjani, akhirnya diizinkan pulang setelah dinyatakan pulih dari syok berat dan komplikasi tekanan darahnya.
"Terima kasih, Dokter," ucap Anjani dengan senyum tulus yang sudah lama tidak terlihat. Ia membantu ibunya mengenakan selendang, memastikan wanita renta itu merasa nyaman. Pak Santo, yang masih harus menggunakan alat bantu jalan, menatap putrinya dengan pandangan haru.
"Kita pulang, Jani?" tanya Bu Purwati dengan suara pelan.
"Iya, Bu. Kita pulang," jawab Anjani mantap. Ia tidak ingin ibunya kembali ke rumah sakit karena alasan apa pun.
Dengan pengawalan ketat dari petugas keamanan yang disewa Oliver Jones, mereka tiba di rumah petak mereka yang kini telah dibersihkan dan diperbaiki sedikit demi sedikit. Anjani merasa sebuah kemenangan kecil telah diraih. Ia bisa kembali merawat orang tuanya dengan tenang di rumah sendiri. Oliver bahkan sempat mampir sejenak untuk memastikan segalanya aman, memberikan instruksi tegas kepada para penjaga untuk tidak membiarkan siapa pun yang mencurigakan mendekat.
"Tetaplah di dalam," pesan Oliver sebelum ia melaju pergi dengan mobilnya yang anggun. "Aku harus menghadiri rapat dewan direksi, tapi timku tetap berjaga di sini."
Anjani mengangguk, merasa sedikit lega. Ia membantu ibunya beristirahat di kamar, sementara ayahnya duduk di ruang depan, menatap halaman rumah mereka yang kecil namun kini terasa begitu berarti. Anjani mulai menyeduh teh, aroma melati yang menenangkan perlahan memenuhi ruangan. Hidup seolah sedang menata dirinya kembali ke jalur yang benar.
****
Namun, di balik ketenangan itu, ada mata-mata yang mengintai dari kejauhan.
Dara Mitha Dahayu, meski terkurung di balik jeruji besi, memiliki jaringan yang lebih luas dari yang dibayangkan Anjani. Ia telah menyuap sipir penjara untuk mendapatkan akses ponsel, dan melalui kode-kode rahasia, ia memberikan perintah terakhir yang akan menghancurkan kedamaian Anjani. Ia tidak lagi peduli pada Malik, tidak lagi peduli pada perusahaannya sendiri. Ia hanya ingin Anjani hancur.
“Hancurkan tempat di mana dia merasa paling aman,” tulis Dara dalam pesan terenkripsi kepada kaki tangannya.
Pukul dua siang, saat Anjani sedang sibuk melipat pakaian di kamar, sebuah sedan tua tanpa plat nomor melambat di depan rumah. Seorang pria berpakaian kurir dengan helm tertutup turun, meletakkan sebuah kotak besar di balik pot bunga beton besar di halaman depan, tepat di dekat akar pohon mangga tua yang selama ini menjadi peneduh rumah mereka. Tanpa suara, pria itu kembali ke mobil dan melesat pergi.
Anjani, yang sempat melihat bayangan dari jendela, mengerutkan dahi. Ia merasa ada yang janggal. "Siapa tadi, Yah?" tanyanya pada Pak Santo yang duduk di dekat pintu.
"Kurir, mungkin paket untukmu?" jawab Pak Santo santai.
Namun, insting Anjani berteriak. Ia merasakan hawa dingin yang menusuk tengkuknya. Tiba-tiba, sebuah suara bip nyaring terdengar dari arah halaman, disusul dengan kilatan cahaya yang membutakan mata.
BOOM!
Ledakan dahsyat itu mengguncang seluruh bangunan rumah petak tersebut. Hantaman gelombang panas dan tekanan udara melempar Anjani hingga jatuh tersungkur di lantai kamar. Suara kaca pecah bersahutan, diikuti dengan suara kayu yang hancur berkeping-keping.
"IBU! AYAH!" teriak Anjani, suaranya parau tertutup kepulan debu tebal yang memenuhi ruangan.
****
Ia merangkak dengan napas terengah-engah, matanya perih terkena debu beton. Di luar, halaman depan rumah mereka telah berubah menjadi neraka kecil. Pohon mangga yang selama ini berdiri kokoh kini tumbang, batangnya hangus terkena api. Pot-pot bunga keramik kesayangan Bu Purwati hancur berkeping-keping, serpihannya tertanam di dinding rumah. Halaman yang tadinya rapi kini penuh dengan lubang kawah akibat ledakan yang terfokus.
Anjani berhasil mencapai ruang depan. Ia melihat Pak Santo terkapar di dekat pintu, tertutup reruntuhan kusen pintu yang hancur. Dengan kekuatan yang entah datang dari mana, Anjani mengangkat balok kayu itu, menarik ayahnya ke tempat yang lebih aman.
"Yah! Bangun, Yah!" teriak Anjani sambil menepuk pipi ayahnya. Pak Santo mengerang, ia masih sadar, meski wajahnya tertutup darah dari goresan pecahan kaca.
Dari arah kamar, Bu Purwati keluar dengan tertatih, wajahnya pucat pasi, mulutnya ternganga melihat kehancuran di depan matanya. "Jani... apa yang terjadi?"
Anjani tidak menjawab. Ia menatap halaman yang kini mengeluarkan asap hitam pekat. Ia tahu ini bukan kecelakaan. Ini adalah pesan. Pesan berdarah dari Dara yang ingin menunjukkan bahwa meski di penjara, tangannya masih mampu menjangkau nyawa orang-orang yang paling ia cintai.
Sirine mobil polisi dan pemadam kebakaran mulai terdengar di kejauhan. Anjani memeluk kedua orang tuanya dengan erat di sudut ruangan yang masih tersisa, menahan isak tangis yang mulai meledak. Ia melihat ke arah sisa-sisa pohon yang tumbang, sebuah simbol kehancuran hidup yang selama ini ia bangun dengan susah payah.
Ponsel Anjani yang berada di lantai berdering. Itu panggilan dari Oliver. Dengan tangan yang bergetar hebat, ia mengangkatnya.
"Anjani! Aku mendengar laporan ledakan di dekat lokasi rumahmu. Kau tidak apa-apa? Katakan kau aman!" suara Oliver di seberang sana terdengar panik, sesuatu yang tidak pernah Anjani dengar dari pria yang selalu tenang itu.
"Mereka... mereka meledakkan rumah kami, Oliver," isak Anjani. "Mereka hampir membunuh orang tuaku."
****
Hening sejenak di seberang sana, sebelum suara Oliver berubah menjadi geraman rendah yang sangat menakutkan. "Tetap di sana. Jangan bergerak. Aku akan tiba dalam lima menit dengan tim medis dan tim keamanan pribadiku. Anjani, dengarkan aku... ini sudah berakhir. Mereka tidak akan pernah bisa menyentuhmu lagi, karena mulai detik ini, aku tidak akan lagi bermain secara profesional."
Anjani menutup telepon. Ia menatap ibunya yang masih gemetar di pelukannya. Ia menyadari satu hal: selama ia bermain dengan aturan hukum, orang-orang seperti Dara akan selalu menemukan cara untuk melanggarnya melalui kekerasan.
Dara mengira ia baru saja menghancurkan Anjani. Namun, dengan meledakkan rumah orang tua Anjani, Dara baru saja melakukan kesalahan fatal yang akan memicu kemarahan pria yang paling berpengaruh di balik layar.
****
Di penjara, Dara duduk di sudut sel dengan senyum penuh kemenangan, membayangkan wajah ketakutan Anjani. Ia tidak tahu bahwa Oliver Jones kini sedang berjalan menuju ruang tahanan dengan membawa perintah eksekusi—bukan hukuman mati, melainkan penghancuran total bagi setiap orang yang membantu Dara menjalankan rencana gila ini.
Anjani berdiri di tengah sisa-sisa reruntuhan rumahnya. Ia memandang ke langit, bukan dengan kesedihan, melainkan dengan tatapan penuh dendam yang jauh lebih membara daripada api ledakan tadi. Ia tahu, untuk menghentikan iblis, ia tidak bisa lagi menjadi malaikat.
Malam itu, saat Oliver Jones tiba, ia tidak hanya membawa tim medis. Ia membawa sebuah dokumen yang akan membuat setiap kaki tangan Dara di luar sana ketakutan setengah mati. Anjani tidak lagi merasa lemah. Ia berdiri di samping Oliver, menatap reruntuhan rumahnya, dan berbisik pelan, "Ini saatnya kita mengakhiri segalanya, Oliver. Apapun caranya."