NovelToon NovelToon
LEGENDA KULTIVATOR GILA

LEGENDA KULTIVATOR GILA

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Danzo28

Dibuang oleh Klannya sendiri ke Shenzhou—daratan terlarang tempat pemujaan Dewa Jahat—seorang bayi harusnya mati menjadi abu. Namun, takdir menolak tunduk. Dia justru bangkit dengan menyedot habis seluruh energi terkutuk di daratan tersebut. Tumbuh besar seorang diri dengan ingatan jurus-jurus terlarang purba, kini tiba saatnya ia melangkah keluar. Sembilan Daratan yang korup harus bersiap, karena tumbal yang mereka buang telah kembali sebagai pembawa kiamat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danzo28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1

​Sembilan Daratan Dunia Bawah adalah panggung berdarah bagi para pemuja kejayaan. Di bawah langit yang kelabu, para kultivator bertarung demi pil keabadian, saling menjatuhkan demi kitab suci, dan menumpahkan darah hanya demi sejengkal tanah. Namun, jauh di ujung cakrawala, di mana hukum moral tidak lagi berlaku, terdapat daratan kesepuluh. Shenzhou. Wilayah yang diselimuti kabut hitam abadi—tempat yang dikutuk sekaligus dipuja dalam bisikan ketakutan para master tingkat tinggi.

​Bagi manusia biasa, Shenzhou adalah neraka paling jahanam. Bagi para kultivator frustrasi yang batas kultivasinya telah mentok, Shenzhou adalah tanah harapan.

​Desas-desus itu telah menyebar seperti wabah di antara klan-klan besar selama ratusan tahun: Di jantung Shenzhou, bersemayam entitas kuno yang tertidur—para Dewa Jahat. Mereka tidak butuh batu spiritual. Mereka tidak butuh ramuan langka. Mereka hanya menginginkan satu hal: esensi kehidupan yang paling murni, paling suci, dan belum ternoda oleh kotoran dunia. Jiwa dan darah bayi yang baru lahir.

​Malam itu, badai petir hitam menggulung langit di perbatasan daratan kesembilan dan Shenzhou. Angin melolong seperti rintihan jiwa-jiwa penasaran. Di bawah kegelapan yang pekat, sebuah rombongan kereta berkuda bergerak dalam keheningan yang mencekam. Kereta-kereta itu tidak membawa barang dagangan atau batu permata, melainkan keranjang-keranjang bambu.

​Dari dalam keranjang tersebut, terdengar suara sayup-sayup yang memilukan. Suara tangis bayi.

​Rombongan itu diisi oleh para tetua dari berbagai sekte terkemuka dan klan terpandang. Di barisan tengah, berjalan para tetua dari Klan Wu, salah satu klan kultivator terkuat yang menguasai wilayah selatan. Pemimpin rombongan Klan Wu adalah Tetua Agung Wu Cang, seorang pria tua berjanggut perak dengan mata yang dingin seperti es. Di tangannya, ia memegang sebuah keranjang sutra merah. Di dalamnya, seorang bayi laki-laki berusia tiga hari—yang lahir dari garis keturunan cabang Klan Wu—tengah tertidur lelap, tidak sadar bahwa ajalnya sedang dipertaruhkan.

​"Tetua Agung," bisik seorang kultivator muda di samping Wu Cang, suaranya bergetar menahan hawa dingin yang mulai menusuk tulang. "Apakah... apakah kita benar-benar harus melakukan ini? Bayi itu memiliki bakat akar spiritual yang murni. Jika kita mendidiknya—"

​"Diam!" bentak Wu Cang tanpa menoleh. Suaranya rendah namun penuh tekanan energi spiritual yang menekan dada. "Mendidiknya butuh waktu seratus tahun untuk melihat hasilnya! Klan Wu membutuhkan Master Ranah Dewa sekarang juga! Jika kita tidak mengambil langkah ini, Klan Li dan Sekte Pedang Langit akan menginjak-injak kita dalam perang wilayah bulan depan. Pengorbanan satu bayi untuk kejayaan klan selama seribu tahun adalah harga yang sangat murah."

​Kultivator muda itu menunduk, tidak berani membantah. Di dunia bawah, kasih sayang adalah kelemahan, dan ambisi adalah tuhan.

​Rombongan terus menembus kabut beracun Shenzhou. Semakin dalam mereka melangkah, vegetasi di sekitar mereka semakin mati. Pohon-pohon kering berbentuk seperti cakar manusia yang meronta kesakitan. Tanah yang mereka pijak berwarna merah kehitaman, basah oleh darah purba yang tidak pernah mengering.

​Hingga akhirnya, mereka tiba di sebuah lembah menganga yang dikenal sebagai Lembah Tengkorak Dewa.

​Di tengah lembah itu, berdiri sebuah altar batu raksasa berbentuk lingkaran sempurna. Di sekeliling altar, sepuluh patung dewa jahat berukuran raksasa menjulang tinggi ke langit. Patung-patung itu dipahat dari batu hitam legam, dengan mata yang terbuat dari batu permata merah darah yang menyala di tengah kegelapan. Atmosfer di tempat itu begitu berat; tekanan spiritual yang magis membuat para kultivator tingkat tinggi sekalipun harus berlutut demi menahan dada mereka agar tidak meledak.

​"Waktunya telah tiba," seru seorang tetua dari aliansi klan lain. Wajahnya dipenuhi ketamakan yang mengerikan.

​Satu per satu, para tetua maju ke atas altar. Tanpa belas kasihan, mereka meletakkan bayi-bayi itu di atas meja batu yang telah dipenuhi ukiran mantra kuno. Ada sekitar tiga puluh bayi malam itu. Tangisan mereka pecah, bersahut-sahutan di bawah guyuran hujan hitam, menciptakan simfoni kematian yang membuat bulu kuduk berdiri.

​Wu Cang maju paling akhir. Ia meletakkan bayi Klan Wu di titik tengah altar, tepat di mana seluruh garis mantra kuno itu berpusat. Ia menempelkan selembar kertas jimat kuning di dada bayi itu, bertuliskan nama garis keturunannya sebagai penanda agar energi dewa jahat tahu ke mana kekuatan harus disalurkan.

​"Wahai Penguasa Shenzhou, Penguasa Kegelapan Abadi!" Wu Cang dan puluhan kultivator lainnya berlutut di tepi altar. Mereka mulai merapalkan mantra terlarang secara serempak. Suara mereka bergaung, memicu getaran hebat di seluruh lembah.

​BZZZZT!

​Langit Shenzhou terbelah. Petir hitam menyambar sepuluh patung dewa jahat. Seketika, mata merah patung-patung itu menyala terang benderang. Dari celah-cellah batu altar, kabut hitam yang sangat pekat dan berbau anyir darah mulai keluar. Kabut itu bergerak seperti tentakel hidup, merayap menuju keranjang-keranjang bayi.

​"Dewa telah menerima persembahan kita! Bersiaplah menyerap energinya!" teriak salah satu tetua dengan tawa histeris.

​Sentuhan pertama kabut hitam itu mengenai bayi-bayi di pinggir altar. Detik itu juga, tangisan mereka terhenti. Kulit mereka melepuh, daging mereka menyusut, dan dalam hitungan detik, tubuh bayi-bayi malang itu berubah menjadi abu abu-abu. Jiwa dan esensi kehidupan mereka dihisap habis tanpa sisa.

​Sebagai gantinya, secercah energi spiritual berwarna merah darah keluar dari altar, melesat masuk ke dalam tubuh para kultivator yang sedang berlutut.

​"Hahaha! Aku merasakannya! Ranah kultivasiku naik!" Tetua yang tertawa tadi merasakan energinya melonjak. Wajahnya memerah kegirangan.

​Namun, kegembiraan itu hanya bertahan sesaat.

​Ketika kabut hitam pekat itu merayap ke tengah altar dan menyelimuti tubuh bayi dari Klan Wu, sesuatu yang tidak masuk akal terjadi. Alih-alih membakar bayi itu menjadi abu seperti yang lainnya, kabut hitam itu justru berhenti bergerak.

​DEG.

​Sebuah detak jantung yang sangat keras terdengar dari dada bayi Klan Wu. Suaranya begitu kuat hingga mengguncang gendang telinga semua kultivator di sana.

​Tiba-tiba, tanda mantra di dada bayi itu terbakar. Altar batu raksasa di bawahnya mulai retak. Pusaran angin topan hitam mendadak tercipta, berpusat tepat di atas tubuh si bayi.

​"Apa yang terjadi?!" Wu Cang terbelalak, matanya hampir keluar dari rongganya. "Energi Dewa Jahat... kenapa tidak mengalir ke tubuhku?!"

​Bukan hanya tidak mengalir, energi yang baru saja masuk ke tubuh para tetua lain mendadak tersedot kembali secara paksa. Kabut hitam yang berada di seluruh penjuru Shenzhou, energi kematian yang terkumpul selama ribuan tahun, dan seluruh sisa-sisa jiwa di lembah itu berputar menggila, membentuk corong raksasa di langit.

​Dan semua energi maha dahsyat itu... tersedot masuk ke dalam pori-pori kulit sang bayi.

​CRACK! CRACK!

​Patung-patung dewa jahat di sekeliling altar mulai retak dan hancur satu per satu. Energi terlarang di tempat itu menolak untuk memberi kekuatan kepada para kultivator serakah. Sebaliknya, seluruh Shenzhou seolah-olah sedang dipaksa tunduk dan menyerahkan seluruh isinya kepada satu-satunya makhluk hidup yang berada di pusat altar.

​Bayi Klan Wu itu tidak mati. Kulitnya memancarkan urat-urat hitam keemasan yang menyala. Sepasang matanya yang kecil perlahan terbuka di tengah badai energi. Namun, itu bukan mata bayi biasa. Sepasang bola mata itu berwarna hitam legam tanpa putih mata, memancarkan aura kuno yang dingin, kejam, dan penuh dengan pengetahuan terlarang yang melampaui zaman.

​"Monster... Dia bukan tumbal! Dia menghisap seluruh Shenzhou!" teriak seorang tetua dengan suara histeris, mencoba melarikan diri. Namun, sebelum ia sempat melangkah keluar dari lembah, tekanan gravitasi energi dari sang bayi menghantamnya hingga tubuhnya hancur berkeping-keping menjadi kabut darah.

​Ledakan energi masif terjadi. BOOM!

​Seluruh Lembah Tengkorak Dewa runtuh. Rombongan kultivator hebat yang datang dengan ketamakan, lari tunggang langgang bagai tikus ketakutan. Banyak yang mati mengenaskan akibat shockwave energi, sementara Wu Cang berhasil lolos dengan tubuh yang terluka parah dan kultivasi yang merosot tajam. Mereka pergi dengan ketakutan yang mendalam, meninggalkan altar yang hancur berantakan.

​Malam itu, badai mereda. Shenzhou menjadi hening, jauh lebih hening dari sebelumnya, karena hampir seluruh energi kutukannya telah lenyap.

​Di tengah reruntuhan altar batu yang telah hancur, bayi kecil itu terbaring sendirian di bawah langit malam yang pekat. Tubuhnya tidak lagi ringkih. Di dalam benaknya yang kecil, jutaan informasi, jurus-jurus terlarang yang telah punah, dan ingatan-ingatan aneh dari zaman purba mulai berputar dan mengakar.

​Dia ditinggalkan sendirian di daratan paling berbahaya di dunia bawah. Tanpa klan, tanpa orang tua, dan tanpa nama. Namun, di dalam tubuh mungilnya, mengalir kekuatan yang kelak akan membuat seluruh Sembilan Daratan gemetar ketakutan.

1
Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️
bantaaaaaaaiiiiii 🤣🤣👍
Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️
hehehehe tubuh fisik yang kuat😄👍
Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️
bantaaaaaaaiiiiii Thor 🤣👍
Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️
bantaaaaaaaiiiiii Thor bantaaaaaaaiiiiii 🤣🤣👍
LanzT0k3
keren ❤️❤️
Danzo28: Terimakasih 🥳
total 1 replies
ibarumbung
mantap... lanjut thor
Danzo28: siap KA
ditunggu yahhh🥳
total 1 replies
Was pray
ceritanya bagus sih cuma up nya yg terlalu lama dan sedikit pula... ntar para reader mundur Krn gak sabar nunggu up nya
Was pray: oke... 👍
total 2 replies
Was pray
sayang sekali wu Tian kuat tapi gaya bertarungnya gak ada seninya, kayak babi hutan yg nyruduk
Was pray
cari uang lah.. wu Tian, masak mau mengandalkan diberi makan sama orang lain terus?
Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️
ayoooo Thor semangat
Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️
mereka tidak tau monster sesungguhnya mulai bangkit😄👍
Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️
monster sesungguhnya mulai beraksi👍😄😄
Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️
bantaaaaaaaiiiiii ayooooo bantaaaaaaaiiiiii 🤣👍
Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️
hehehe..aroma pembantaian nih 😄👍
Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️
waduh konspirasi tersembunyi 😄👍
Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️
hehehehehe pura2 jadi babi🤣👍
Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️
hahahaha harga diri yang hancur🤣👍
Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️
alur ceritanya bagus dan menarik
Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️
baca beberapa chapter di awal cukup bagus alur ceritanya 👍
ibarumbung
alur cerita yang bagus
Danzo28: Terimakasih
semoga betah yahh
Happy reading 🥳🥳🥳
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!