Di hari ketika seluruh mimpinya hancur, Lin Yuan divonis memiliki Akar Roh Rusak Total dan diusir dari Sekte Awan Langit.
Tunangannya meninggalkannya, sahabat menjauhinya, dan musuh-musuhnya memilih membunuhnya agar tak menyisakan ancaman.
Namun di ambang kematian, sebuah sistem kuno terbangun.
**Sistem Pemakan Takdir.**
Selama mampu mengalahkan lawannya, Lin Yuan dapat melahap takdir, bakat, keberuntungan, bahkan kesempatan hidup mereka untuk menjadi miliknya.
Sejak malam itu, seorang "sampah" yang ditertawakan seluruh dunia mulai menapaki jalan yang belum pernah dilalui siapa pun.
Jika langit menolak memberinya takdir...
Maka ia akan memakan takdir langit itu sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Otna Forever, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25: Aula Delapan Gerbang
Langkah kaki Lin Yuan bergema pelan di dalam ruangan yang sangat sunyi dan juga sangat mencekam tersebut.
Begitu dia melewati gerbang batu raksasa, pintu di belakangnya perlahan mulai tertutup rapat dengan suara gemuruh besar.
RUMMM!
Suara benturan batu memenuhi seluruh menara, menandakan bahwa kini sudah tidak ada lagi jalan untuk kembali.
Lin Yuan menoleh sejenak, melihat gerbang yang kini telah menyatu kembali dengan dinding batu yang sangat tebal itu.
"Jadi... benar-benar tidak ada jalan untuk kembali lagi sekarang," gumamnya sambil segera mengalihkan pandangan lurus ke depan.
Ruangan di hadapannya ternyata jauh lebih luas daripada yang dia bayangkan sebelumnya, dengan langit-langit yang tidak terlihat.
Pilar-pilar batu raksasa menjulang tinggi hingga menghilang dalam kegelapan pekat yang menyelimuti bagian atas aula yang luas.
Setiap pilar dipenuhi oleh ukiran kuno yang menggambarkan peperangan besar dan juga para kultivator yang sedang bermeditasi.
Di antara ukiran tersebut, terdapat sembilan sosok yang berdiri menghadap langit dengan masing-masing membawa jenis senjata berbeda.
Namun wajah mereka semua sengaja dihapus, seolah ada seseorang yang tidak ingin identitas asli mereka diketahui dunia.
Tatapan Lin Yuan sedikit menyipit saat memperhatikan ukiran tersebut.
"Sembilan Pewaris Gerbang Takdir," bisiknya dengan nada serius.
Saat itu juga, Kunci Menara Pertama di tangannya mulai bergetar hebat dan memancarkan cahaya keemasan yang sangat terang.
Lin Yuan belum sempat bereaksi ketika kunci itu berubah menjadi aliran cahaya dan langsung memasuki telapak tangannya.
WUUUNG!
Gelombang hangat menyebar ke seluruh tubuhnya, sementara di dalam benaknya muncul bayangan sosok Penjaga Menara Pertama.
Pria itu berdiri seorang diri di atas jembatan batu, melakukan gerakan menusuk tombak yang terlihat sangat sederhana.
Tanpa adanya gerakan indah ataupun teknik yang rumit, setiap tusukannya terasa begitu mantap, kokoh, dan juga sangat meyakinkan.
Seolah tidak ada kekuatan apa pun di dunia ini yang mampu menggoyahkan keyakinan besar di balik setiap tusukannya.
Bayangan itu terus mengulang gerakan menusuk dan menarik tombak secara terus-menerus di dalam penglihatan batin milik Lin Yuan.
Semakin lama Lin Yuan memperhatikannya, semakin dia memahami inti dari kekuatan yang dimiliki oleh sang penjaga tersebut.
"Momentum... bukan kecepatan yang membuatnya mematikan, melainkan besarnya keyakinan yang ada di balik setiap serangan yang dilancarkan."
Suara sistem segera terdengar di kepalanya, memberikan laporan mengenai warisan teknik yang baru saja diterima oleh Lin Yuan.
[Jejak Tombak Penjaga berhasil diwariskan! Pemahaman bertarung dan kemampuan membaca ritme serangan musuh meningkat secara signifikan sekarang!]
[Sinkronisasi dengan Pecahan Kenangan Jiwa kini telah stabil di angka 40%, memberikan kekuatan baru bagi tubuh Tuan!]
Lin Yuan perlahan membuka matanya, meskipun aura di sekelilingnya tidak berubah, namun cara dia memandang dunia kini berbeda.
Dia seakan mampu menangkap setiap perubahan sekecil apa pun dalam aliran Qi yang ada di dalam ruangan aula.
"Itulah sebabnya Penjaga Menara mampu menekanku hanya dengan satu tombak sederhana saja," ucapnya sambil mengepalkan tangan perlahan.
Walaupun dia menggunakan pedang, pemahaman tentang momentum serangan tersebut tetaplah sangat berharga bagi perkembangan teknik bela diri miliknya.
Lin Yuan melangkah lebih dalam ke tengah aula dan menemukan sebuah prasasti batu hitam yang sangat tinggi sekali.
Permukaannya dipenuhi retakan tua, namun tulisan kuno di atasnya masih terlihat sangat jelas dan memancarkan cahaya redup keemasan.
Lin Yuan mengusap debu yang menempel, dan sebuah kalimat kuno perlahan mulai muncul di hadapan matanya yang tajam.
"Seorang Pewaris Takdir hanya berhak mengetuk Gerbang Kesembilan setelah berhasil menaklukkan delapan ujian berat yang telah disediakan."
Tidak ada penjelasan tambahan ataupun petunjuk lainnya, hanya ada satu kalimat singkat yang penuh dengan misteri besar tersebut.
Lin Yuan mengangkat kepalanya, dan barulah dia menyadari bahwa di sekeliling prasasti tersebut berdiri delapan gerbang batu raksasa.
Masing-masing gerbang memiliki warna dan aura yang berbeda, dengan lambang senjata dan elemen yang terukir di atasnya masing-masing.
Gerbang pertama bergambar pedang, kedua tombak, ketiga kepalan tangan, keempat busur, kelima api, keenam es, dan ketujuh bayangan.
Gerbang terakhir hanya memiliki satu lambang unik: sebuah lingkaran sederhana yang dikelilingi oleh benang-benang halus yang sangat indah.
Itulah simbol Takdir. Saat mata Lin Yuan berhenti pada lambang tersebut, Pecahan Kenangan Jiwa di jiwanya bergetar liar.
Getarannya jauh lebih keras daripada sebelumnya, seolah dia sedang merespons sesuatu yang sangat kuat di balik gerbang tersebut.
Pada saat yang sama, seluruh aula mulai berguncang pelan, dan delapan gerbang batu mulai memancarkan cahaya secara bersamaan.
RUMBLE!
Aula Delapan Gerbang bergetar semakin hebat seiring dengan terbangunnya kekuatan kuno yang telah lama tertidur di sana.
Debu-debu kuno berjatuhan dari langit-langit, sementara delapan gerbang memancarkan variasi warna yang sangat luar biasa indah dan memukau.
Lin Yuan tetap berdiri tegak tanpa sedikitpun bergerak, tatapannya terus mengamati setiap perubahan yang terjadi di hadapannya.
Warisan pengalaman bertarung dari Penjaga Menara membuatnya menjadi jauh lebih berhati-hati dalam menghadapi situasi yang sangat tidak menentu.
Tiba-tiba, sebuah suara berat bergema memenuhi seluruh aula. "Buktikan-lah jalan hidup yang telah kau pilih dengan penuh keyakinan."
Begitu suara itu menghilang, seluruh gerbang mulai bereaksi dengan mengeluarkan aura elemen masing-masing yang sangat kuat dan menekan.
Gerbang Pedang mengeluarkan Qi tajam, Gerbang Tombak memancarkan niat bertarung, sementara Gerbang Api dan Es mulai melepaskan energinya.
Setiap gerbang seolah sedang memanggil Lin Yuan untuk masuk, namun dia tidak terburu-buru untuk segera menentukan pilihan gerbangnya.
Dia memejamkan matanya sejenak untuk mengatur napas dan merasakan setiap perubahan aliran Qi yang ada di seluruh aula.
"Kalau ini benar-benar sebuah ujian, maka mustahil jika tantangannya hanya sekadar memilih salah satu pintu yang ada," pikirnya.
Lonceng Kenangan di pinggangnya ikut berbunyi pelan, TING! Suara lembut itu mendadak membuat cahaya dari tujuh gerbang mulai meredup.
Lin Yuan membuka matanya dan merasa heran karena dia belum melakukan tindakan apa pun untuk memengaruhi gerbang-gerbang batu tersebut.
Detik berikutnya, Gerbang Pedang padam sepenuhnya, disusul oleh Gerbang Tombak, Gerbang Tinju, hingga seluruh gerbang kehilangan cahaya energinya masing-masing.
Hanya ada satu gerbang yang masih tetap bersinar terang benderang di tengah kegelapan aula, yaitu Gerbang Takdir yang misterius.
Lingkaran kuno di permukaannya berputar perlahan dengan benang-benang cahaya yang mengelilinginya seperti sebuah galaksi kecil yang sangat indah.
Suara sistem segera terdengar memberikan penjelasan mengenai fenomena unik yang baru saja terjadi di depan mata Lin Yuan tersebut.
[Target ujian telah ditentukan! Seorang Pewaris tidak dapat memilih jalannya sendiri, melainkan jalan itulah yang akan memilih Pewarisnya!]
Mata Lin Yuan sedikit menyipit saat menyadari bahwa setiap pewaris ternyata akan memperoleh jenis ujian yang berbeda-beda satu sama lain.
Tanpa menunggu lebih lama lagi, Gerbang Takdir perlahan mulai terbuka dengan suara gesekan batu kuno yang sangat berat sekali.
KREEEK!
Tidak ada cahaya menyilaukan ataupun ledakan aura, yang terlihat hanyalah sebuah dunia sunyi dengan langit penuh bintang indah.
Tanahnya berwarna putih bersih seperti sebuah cermin, dan suasana di dalamnya begitu tenang hingga suara napasnya terdengar sangat jelas.
Lin Yuan melangkah masuk ke dalam gerbang tersebut, dan begitu kakinya menginjak permukaan putih, gerbang di belakangnya langsung menghilang.
Sekali lagi dia terjebak dalam situasi tanpa jalan kembali, membuatnya harus terus melangkah maju untuk menghadapi apa pun di depannya.
Tempat itu tampak sangat kosong tanpa adanya musuh, bangunan, ataupun tekanan aura yang biasanya dia rasakan di dalam menara.
Justru ketenangan yang sangat luar biasa itulah yang membuat tingkat kewaspadaan Lin Yuan meningkat hingga mencapai batas maksimalnya saat ini.
Beberapa saat kemudian, di kejauhan muncul sesosok pria berjubah putih dengan rambut hitam panjang yang terurai hingga ke bagian pinggang.
Di tangan kanannya tergenggam sebilah pedang sederhana tanpa sarung, dia berdiri membelakangi Lin Yuan dengan sikap yang sangat tenang.
Pria itu tidak memancarkan aura ataupun niat membunuh, seolah dia hanyalah seorang kultivator biasa yang sedang menikmati ketenangan dunia.
Namun saat Lin Yuan menatap sosok itu, Pecahan Kenangan Jiwa di dalam jiwanya tiba-tiba bergetar dengan sangat liar sekali.
BUZZZ!
Lonceng Kenangan berbunyi sangat nyaring,
TING!
Suara sistem yang biasanya tenang mendadak berubah menjadi sangat kacau dan tidak stabil.
[Kesalahan! Kesalahan! Identitas target tidak dapat dipastikan oleh sistem! Terjadi gangguan data yang sangat besar pada proses analisis target!]
[Peringatan! Tingkat kemiripan energi target dengan sosok "Guru" mencapai angka 91%, harap segera bersiap untuk segala kemungkinan!]
Jantung Lin Yuan berdetak jauh lebih cepat saat menyadari bahwa sosok di hadapannya berkaitan erat dengan sang Guru misterius.
Seolah merasakan tatapan tajam dari Lin Yuan, pria berjubah putih itu perlahan mulai mengangkat pedangnya ke arah langit yang berbintang.
Tanpa menoleh sedikit pun, dia berbicara dengan nada suara yang sangat tenang namun penuh dengan wibawa yang sangat besar.
"Jika kau ingin memahami hakikat Takdir yang sesungguhnya, buktikan-lah bahwa pedangmu mampu memotong segala macam bentuk kebohongan dunia."
Detik berikutnya, pria itu perlahan mulai membalikkan badannya, dan saat wajahnya akhirnya terlihat jelas, mata Lin Yuan langsung membelalak.
Wajah pria misterius berjubah putih tersebut ternyata sangat mirip dengan wajah milik Lin Yuan sendiri, seolah mereka adalah saudara.
Bersambung...