Joe membawa pesan terakhir pamannya: mencari orang yang menghancurkan keluarganya. Jejak itu menuntunnya bukan ke orang asing — melainkan ke pintu rumah sahabat-sahabatnya sendiri. Saat kebenaran terungkap, ia harus memilih: membalas dendam, atau menyelamatkan persahabatan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MR1991, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TAWARAN JOE
Sore harinya, di dalam kamar penginapan yang nyaman dan tertutup rapat, Mama Billy berdiri di depan cermin besar yang menempel di dinding. Ia sedang merias dirinya dengan teliti, menyisir rambutnya dengan rapi dan menyentuhkan sedikit bedak serta lipstik ke wajahnya sebelum bersiap untuk pulang. Cahaya lampu yang lembut menerangi wajahnya yang tampak segar dan berseri, seakan beban berat yang dibawanya seharian tadi telah hilang begitu saja.
Rey yang sejak tadi duduk di tepi tempat tidur memperhatikan setiap gerak-geriknya dengan tatapan yang penuh kekaguman sekaligus keinginan yang belum sepenuhnya terpuaskan. Perlahan ia berdiri dan melangkah mendekat, lalu memeluk pinggang Mama Billy dari belakang dengan erat, menempelkan wajahnya di bahu wanita itu.
"Tante..." bisik Rey pelan namun dalam. "Aku masih merindukan Tante. Rasanya belum cukup, belum cukup sekali pun kita sudah bersama sedari tadi."
Mama Billy tersenyum di depan cermin, lalu tertawa kecil mendengar keluhan itu. Ia meletakkan tangan Rey yang melingkar di pinggangnya, lalu mengusap punggung tangan itu dengan lembut.
"Tenanglah, sayang," jawabnya dengan nada lembut dan penuh kehangatan. "Tante akan mengatur waktu dengan baik. Nanti Tante akan menyusun jadwal agar kita bisa bertemu lagi, dan Rey bisa meluapkan semua rindu yang tertahan itu sepuas hati."
Rey tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya membalikkan badan Mama Billy perlahan, menatap lekat-lekat wajah cantik itu, lalu menciumnya dengan penuh hasrat dan kerinduan yang mendalam. Ciumannya panjang dan hangat, seakan tidak ingin melepaskan lagi. Mama Billy pun membalasnya dengan lembut, membiarkan diri tenggelam sejenak dalam kehangatan yang diberikan pemuda itu. Setelah keduanya merasa cukup dan tenang, Rey melepaskan pelukannya perlahan.
"Aku membersihkan diri sebentar," ucapnya pelan.
Ia pun berjalan menuju kamar mandi untuk merapikan diri. Tidak lama kemudian, keduanya sudah selesai bersiap-siap sepenuhnya. Mereka berjalan keluar kamar, menuruni tangga, dan meninggalkan penginapan itu dengan wajah yang tampak biasa saja, seakan tidak ada hal istimewa yang terjadi di sana. Di depan pintu, mereka berpisah menuju kendaraan masing-masing — tujuan yang berbeda, namun hati Rey membawa rencana yang sudah tersusun rapi.
Saat mobilnya melaju membelah jalanan yang mulai sepi, Rey tiba-tiba tertawa lebar sendirian di balik kemudi. Tawanya bukan tawa bahagia, melainkan tawa penuh kemenangan dan kepuasan yang dingin. Ia mengeluarkan sebuah alat perekam suara kecil yang tersembunyi di saku jaketnya — alat yang sejak tadi pagi sudah diletakkannya di tempat tersembunyi di dalam kamar penginapan itu, tepat di sudut yang tidak akan diperhatikan siapa pun.
"Haha... sekarang semuanya sudah tertangkap dengan jelas," gumamnya sambil memutar setir dengan tangan kiri, tangan kanannya masih memegang alat kecil itu seakan memegang harta yang paling berharga. "Billy... kali ini loe benar-benar bakalan mampus dan tidak ada jalan lain buat loe."
Rey tertawa lagi, kali ini lebih keras dan penuh kepuasan. Ia menekan pedal gas lebih dalam, membuat mobilnya melesat lebih cepat menuju rumahnya. Semakin cepat ia sampai, semakin cepat rencananya berjalan sempurna.
Sementara itu, jauh dari hiruk-pikuk kota, di dalam kedalaman hutan yang sunyi dan sejuk, suasana sangat berbeda.
Sore itu langit perlahan berubah menjadi kelabu. Awan hitam berkumpul menumpuk tinggi di atas pucuk-pucuk pohon yang menjulang, menandakan hujan lebat akan segera turun. Joe dan Arthur baru saja selesai merapikan isi rumah kayu milik Paman Robert — menyusun alat-alat di sudut ruangan, merapikan alas tidur, dan memastikan semuanya tertata rapi agar nyaman untuk ditinggali.
Saat keluar dari rumah, Joe melihat langit yang semakin gelap dan angin yang mulai bertiup kencang. Ia tahu hujan pasti akan turun dengan deras. Tanpa membuang waktu, Joe berkeliling mencari sesuatu yang bisa digunakan untuk menutupi bagian depan rumah — tempat di mana mereka biasanya menyalakan api unggun dan duduk bersama. Jika tidak ditutup, tempat itu akan basah kuyup dan tidak bisa digunakan sama sekali.
Tidak lama berjalan, Joe menemukan sebuah gulungan terpal plastik besar yang tersimpan di gudang kecil samping rumah. Wajahnya seketika berseri. Ia segera memanggil Arthur.
"Arthur, bantu gue sebentar!" seru Joe. "Kita pasang terpal ini buat nutup bagian depan rumah. Kalau nggak, nanti kita kebasahan semua pas hujan turun."
Arthur yang mendengar panggilan itu segera berlari mendekat. Mereka bekerja sama dengan cepat — mengangkat terpal yang lebar dan tebal itu, mengikatkan ujung-ujungnya ke batang pohon yang kokoh di samping rumah, lalu menegangkannya hingga membentuk atap pelindung yang luas di bagian depan. Hasilnya jauh lebih besar dari yang mereka duga: terpal itu menutupi hampir seluruh halaman depan rumah kayu, menciptakan ruang yang luas dan kering di bawahnya.
"Wah... luas sekali ya," ucap Arthur sambil menepuk terpal yang sudah terpasang kuat. "Dengan begini, walau hujan turun deras sekali pun, kita tetap bisa duduk di sini hangat-hangat. Bahkan kalau mau tidur di luar pun nggak masalah, nggak akan kena air hujan."
Joe tersenyum puas melihat hasil kerja keras mereka. "Benar. Sekarang kita lebih tenang," jawabnya singkat.
Belum lama mereka selesai memasang terpal, terdengar langkah kaki berat mendekat dari arah dalam hutan. Paman Robert muncul dari balik pepohonan dengan wajah yang cerah. Di bahu dan tangannya tergantung banyak sekali hasil buruan — lima ekor ayam hutan yang masih utuh dengan bulunya yang indah, tiga ekor ikan berukuran besar yang masih terlihat segar, dan dua ekor kelinci berwarna cokelat.
Arthur melongo tak percaya melihat jumlah buruan yang begitu banyak. Matanya berbinar-binar.
"Wah, Paman Robert! Bagaimana caranya bisa mendapatkan sebanyak ini dalam satu pagi?" tanyanya dengan penuh kekaguman.
Robert tersenyum lebar, lalu meletakkan semuanya di atas meja kayu panjang yang ada di bawah terpal. "Aku memasang jerat-jerat di beberapa tempat yang sering dilalui hewan. Tadi pagi aku pergi memeriksanya, dan ternyata banyak yang sudah masuk ke dalamnya. Sebagian lagi aku dapatkan saat berjalan pulang — kebetulan sekali bertemu mereka di jalan."
Tanpa berlama-lama, Robert masuk ke dalam rumah untuk mengambil bumbu-bumbu sederhana yang sudah disiapkannya sebelumnya. Dengan gerakan yang sangat cekatan dan terlatih, ia segera membersihkan ayam hutan, ikan, dan kelinci satu per satu. Tangan besarnya bergerak lincah, memotong bagian yang tidak perlu, mencuci hingga bersih, lalu melumuri seluruh permukaan daging dengan bumbu rempah yang harum semerbak — garam, bawang tumbuk, dan rempah khas yang membuat aroma di sekitar mereka menjadi sangat menggugah selera.
Joe tidak tinggal diam. Ia segera menyiapkan kayu bakar dan menyalakan api unggun yang besar di tengah halaman yang sudah tertutup terpal. Api menyala terang, memancarkan cahaya kemerahan yang hangat dan nyaman. Sebagian daging ayam dan kelinci ditusuk dengan batang kayu bersih lalu dipanggang perlahan di atas bara api. Sebagian lagi — termasuk ikan — dipotong-potong dan dimasukkan ke dalam panci besar berisi air mendidih bersama bumbu dan sayuran liar, menjadi sup yang kuahnya berwarna kekuningan dan kental.
Benar saja, tak lama kemudian terdengar suara gemuruh angin disusul bunyi rintik air yang semakin lama semakin keras — hujan turun dengan sangat deras, membasahi seluruh hutan di sekeliling mereka. Namun di bawah terpal yang luas itu, mereka tetap kering dan hangat. Justru udara menjadi semakin sejuk dan segar, membuat perut terasa lebih cepat lapar dari biasanya.
Setelah beberapa saat, aroma masakan yang sangat lezat memenuhi udara di sekitar mereka. Daging yang dipanggang berwarna kecokelatan dan mengeluarkan minyak yang menetes ke api, menimbulkan bunyi mendesis. Sementara itu sup di dalam panci mendidih perlahan, uap panasnya naik ke atas membawa aroma rempah yang sangat menggoda.
"Mari, silakan cicipi hasil buruan kita hari ini," ajak Robert dengan ramah sambil menaruh potongan besar daging di piring masing-masing.
Arthur langsung menyambar sepotong daging ayam hutan yang masih mengepul panas. Ia menggigitnya dengan lahap, lalu matanya terbelalak kagum.
"Wah... ini enak sekali!" serunya dengan mulut penuh. "Dagingnya padat, manis, dan bumbunya meresap sampai ke dalam. Beda jauh sama ayam yang biasa loe beli di pasar, Jo. Ini jauh lebih enak!"
Joe ikut mencicipi potongan daging itu. Mengunyahnya perlahan, lalu mengangguk setuju. "Benar, memang beda rasanya. Dagingnya lebih gurih dan tidak berbau amis sama sekali. Paman Robert memang hebat sekali memasaknya."
Selanjutnya mereka mencoba daging kelinci yang juga baru saja diangkat dari api. Teksturnya lembut dan empuk, rasanya sangat halus dan lezat.
"Ini kelinci juga luar biasa," puji Arthur sambil mengambil potongan yang lebih besar lagi. "Lembut sekali, seperti daging ayam tapi lebih manis. Gue bisa habis seekor sendirian kalau dibiarkan!"
Robert hanya tertawa mendengar pujian mereka. "Makanlah yang banyak, jangan sungkan. Masih banyak lagi yang ada di piring besar itu."
Kemudian mereka menyeruput kuah sup yang panas dan kental. Ikan yang dimasak bersama sayuran liar dan rempah menghasilkan kuah yang sangat kaya rasa — segar, hangat, dan sedikit pedas yang menenangkan perut.
"Kuahnya mantap sekali!" ucap Arthur sambil menyesap hingga bersih. "Panas, gurih, dan bikin badan hangat. Cocok sekali dengan cuaca yang hujan begini."
Joe tersenyum melihat semangat makan temannya. "Pelan-pelan makannya, Arthur. Nanti tersedak. Masih banyak kok, nggak akan habis kalau loe makan pelan-pelan juga."
"Enggak bisa pelan-pelan kalau enak begini!" jawab Arthur dengan semangat sambil kembali menyambar potongan ikan yang besar. "Gue belum pernah makan seenak ini seumur hidup. Daging panggang yang empuk, sup yang hangat, udara yang sejuk... rasanya nggak mau pulang ke kota lagi, Jo."
Joe tertawa kecil mendengar ucapan itu. "Kita memang harus bersabar di sini sebentar. Tapi percayalah, semua ini ada tujuannya. Dan makanan enak seperti ini bisa jadi bekal kita untuk berpikir jernih."
Sambil terus menikmati hidangan yang berlimpah itu, mereka bertiga duduk melingkar di dekat api unggun, berbagi cerita dan tawa di tengah suara hujan yang turun deras di luar sana. Malam itu terasa begitu damai, begitu hangat — jauh dari kekejaman dan bahaya yang mengancam mereka di kota.
Robert hanya duduk diam sambil tersenyum lebar melihat tingkah mereka berdua. Matanya yang tua namun bersinar lembut menatap wajah Joe dengan penuh perhatian. Sesekali ia menghela napas pelan, seakan sedang membayangkan sesuatu yang indah.
Andai Kevin ada di sini... andai tuanku bisa duduk bersama kami, makan bersama, dan melihat putranya tumbuh menjadi pemuda yang berani dan baik hati seperti ini... pikirnya dalam hati.
Malam semakin larut, hujan masih turun deras di luar namun api unggun tetap menyala terang dan hangat. Di tengah keheningan yang nyaman itu, Joe meletakkan sendoknya perlahan, lalu menatap Robert dengan tatapan yang serius namun sopan. Ia menarik napas panjang sebelum berbicara dengan suara yang rendah namun jelas.
"Paman Robert..." panggilnya pelan. "Aku ingin bertanya sesuatu yang sangat penting bagiku. Apakah Paman bersedia membantu kami... membantu aku membalaskan perbuatan orang-orang yang telah membunuh ayah dan ibuku? Dodi, William, dan Jefri — mereka semua bersalah. Dan aku tidak akan berhenti sebelum keadilan ditegakkan."
Suara Joe terdengar mantap, penuh tekad yang tidak bisa digoyahkan lagi. Robert terdiam sejenak, menatap nyala api di depannya, lalu perlahan mengangkat wajahnya menatap Joe dengan tatapan yang penuh arti.