Arga Pratama adalah suami yang selama ini dikenal dingin, pekerja keras, dan mencintai istrinya sepenuh hati. Demi memenuhi semua keinginan sang istri, Nabila, ia rela bekerja siang malam hingga menjadi pengusaha sukses.
Namun, di balik kesibukannya, Nabila justru menjalin hubungan terlarang dengan Reza, sahabat terbaik Arga sendiri.
Pengkhianatan itu terbongkar pada hari ulang tahun pernikahan mereka.
Alih-alih langsung menceraikan, Arga memilih diam.
Ia mulai menyusun pembalasan yang begitu rapi, membuat semua orang yang telah mengkhianatinya kehilangan kehormatan, harta, dan kepercayaan satu per satu.
Tetapi di tengah balas dendam itu, muncul seorang wanita sederhana bernama Aisyah yang perlahan mengubah hati Arga.
Akankah Arga tetap menjadi suami yang kejam, atau memilih memaafkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mabuok Hape, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kado Tersembunyi di Balik Pintu
Malam semakin larut ketika mobil hitam Arga membelah jalanan kota yang basah oleh sisa hujan. Di kursi samping, Nabila menyandarkan kepalanya ke kaca jendela, tampak tertidur lelap setelah meneguk beberapa gelas wine di restoran. Wajahnya yang polos di bawah terpaan lampu jalanan yang remang-remang masih memancarkan pesona yang dulu membuat Arga berlutut memohon cintanya.
Arga meliriknya sekilas, jemarinya mempererat genggaman pada lingkar kemudi. Rasa sakit yang semalam begitu menajam kini berubah menjadi gelombang kehampaan yang tenang—tenang namun beracun.
Sesampainya di rumah mewah mereka, Arga mematikan mesin. Ia tak langsung membangunkan Nabila. Dalam keheningan kabin mobil, ia menatap istrinya dalam-dalam. Ada godaan besar untuk mengguncang bahu wanita itu, berteriak, dan mempertanyakan di mana letak kurangnya pengorbanan yang telah ia berikan. Namun rasa bangga dan akal sehat Arga membungkam semua emosi mentah itu.
"Nabila... kita sudah sampai," bisik Arga pelan.
Nabila mengeliat, lengannya melingkar secara refleks mencari kehangatan, lalu perlahan membuka mata. "Emm... sudah sampai ya, Mas? Maaf, aku ketiduran... kepalaku agak pusing."
"Tidak apa-apa," jawab Arga ramah, senyum tipisnya melingkupi ketegangan yang tersembunyi. "Mas bopong ke kamar?"
Nabila tersenyum manja, menyukai perlakuan istimewa itu. "Mas Arga memang paling mengerti aku."
Arga mengangkat tubuh istrinya, membawa Nabila menaiki tangga menuju kamar utama mereka. Beban tubuh Nabila terasa begitu ringan, tapi hati Arga terasa seperti dihimpit batu berbobot ton. Di dalam kamar, Arga membaringkan Nabila di atas tempat tidur empuk mereka, melepaskan sepatu tumit tingginya dengan lembut, lalu menyelimutinya.
"Mas tidak tidur?" tanya Nabila dengan suara serak, matanya setengah tertutup.
"Mas masih harus mengecek beberapa dokumen proyek di ruang kerja bawah. Kamu tidurlah lebih dulu," sahut Arga seraya mengecup dahi Nabila—sebuah kecupan formal tanpa sisa kehangatan jiwa.
"Jangan kemalaman ya, Mas..." gumam Nabila sebelum akhirnya benar-benar terlelap dalam pengaruh alkohol dan rasa lelah.
Arga berdiri diam di samping ranjang selama beberapa saat. Begitu napas Nabila terdengar teratur dan stabil, Arga berbalik. Ia berjalan menuju sudut ruang kerja kecil di dalam kamar mereka—area pribadi yang jarang disentuh Nabila karena wanita itu tak pernah tertarik pada urusan pekerjaan Arga.
Di balik lemari buku jepara yang tebal, terdapat sebuah brankas besi rahasia yang tertanam di dinding. Arga menekan kombinasi angka sensitif, lalu pintu brankas terbuka dengan klik halus.
Di dalamnya bukan hanya berisi surat-surat tanah atau batang emas. Arga merogoh bagian paling dalam dan mengeluarkan sebuah kotak kayu hitam berukuran kecil. Di dalam kotak itu terdapat sebuah flashdisk dan sebuah amplop cokelat tebal yang baru saja ia terima dari detektif swasta kepercayaan Arga tadi sore.
Arga duduk di kursi kerjanya, menyalakan laptop pribadi yang terenkripsi rapat. Ia mencolokkan flashdisk tersebut.
Layar laptop seketika menampilkan rekaman CCTV tersembunyi dan bukti transfer bank. Di sana, Arga melihat fakta yang lebih menyakitkan daripada sekadar perselingkuhan fisik: Reza dan Nabila telah merencanakan ini sejak lama. Bukan hanya mengkhianati ikatan pernikahan, tetapi Reza juga perlahan menyuntikkan dana perusahaan Arga ke rekening pribadi yang diatasnamakan Nabila melalui dokumen-dokumen palsu yang Nabila tanda tangani tanpa Arga sadari dulu.
Kado ulang tahun pernikahan yang sesungguhnya bukanlah gelang emas putih bertatahkan permata yang melingkar di tangan Nabila. Kado yang sesungguhnya adalah kebenaran pahit ini—sebuah kado tersembunyi di balik pintu kepalsuan yang selama ini Arga bangun dengan air mata dan keringatnya.
"Kamu tidak cuma menjual kehormatanmu, Nabila..." bisik Arga pada layar laptop yang menerangi wajah tegasnya di dalam kegelapan. "Kamu juga menjual seluruh pengorbananku."
Rahang Arga mengeras. Rasa iba yang tersisa di sudut hatinya resmi menguap habis malam itu. Ia membuka amplop cokelat di samping laptopnya, mengambil selembar kertas berlogo lembaga keuangan independen, lalu membubuhkan tanda tangannya di kolom persetujuan.
Dokumen itu adalah persetujuan audit forensik menyeluruh untuk anak perusahaan yang dipimpin Reza, serta pengalihan aset rahasia atas nama Nabila ke dalam entitas hukum baru yang sepenuhnya berada di bawah kendali Arga.
Arga mematikan laptopnya, memasukkan kembali kado tersembunyi itu ke dalam brankas, lalu menguncinya rapat-rapat. Pintu rahasia itu telah tertutup, sama seperti pintu hatinya yang kini terkunci rapat untuk Nabila. Pembalasan dendamnya bukan lagi sekadar rencana kasar, melainkan mekanisme dingin yang roda-rodanya mulai berputar malam ini.
laju dikit Thor biar gereget bacanya ini slowly Banggt