Kemenangan gemilang dan gunungan harta yang dibawa pulang oleh Zeng Niu dan "Kelompok Perampok Tersenyum" ke Sekte Angin Merah harus dibayar dengan harga yang menentang surga. Kematian tragis Pangeran Pertama, Di Tian, di Lautan Bintang telah menghancurkan kedamaian Alam Abadi.
Kaisar Langit Di Shitian, penguasa Benua Tengah, terbangun dari meditasinya dengan amarah kosmik. Mesin perang terbesar dan paling menakutkan di Alam Abadi pasukan dewa dari Istana Pusat kini digerakkan dengan satu tujuan pasti: meratakan Sekte Angin Merah dan menghapus seluruh Benua Utara dari peta keberadaan.
Saat kebahagiaan sekte berubah menjadi kengerian massal, Zeng Niu tidak memiliki pilihan selain bersiap menghadapi badai kehancuran yang ia tarik sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25: Delapan Wajah Takdir
Persekutuan antara Zeng Niu dan seorang monster tua yang pendendam adalah aliansi yang terbuat dari kertas basah. Sedikit saja embusan angin keserakahan, aliansi itu akan robek berkeping-keping.
Zeng Niu, Zhao Ying, dan Patriark Yan Zun beserta sisa pasukannya kini bergerak melintasi Jalur Sumsum Tulang Belakang sebuah terowongan vertikal raksasa yang mengarah langsung ke Kepala Naga Primal.
Di dunia kultivasi, hasil dari sebuah benturan tidak selalu hitam dan putih. Dongeng-dongeng fana sering menceritakan bahwa seorang pahlawan yang kalah hanya perlu berlatih di gua tertutup untuk kemudian kembali dan menang. Namun di Alam Abadi, kematian tidak memberimu kesempatan kedua, dan pertarungan memiliki banyak wajah. Jaring karma dan sebab-akibat di dalam makam naga ini menampilkan seluruh wajah tersebut.
Saat rombongan mereka melesat menembus terowongan tulang rawan, sekawanan Kelelawar Darah Purba tingkat Nascent Soul Puncak menyergap dari langit-langit.
Zeng Niu yang berada di depan bahkan tidak melambat. Ia hanya mengayunkan punggung tangannya.
BAM! BAM! BAM!
Ratusan kelelawar itu meledak menjadi kabut darah sebelum sempat memekik. Dengan Tulang Emas Asura, menghadapi musuh yang ranahnya jauh di bawah adalah sebuah Kemenangan Telak.
Namun, bau darah itu memancing sesuatu yang jauh lebih mengerikan. Dari kedalaman jurang sumsum, merayap naik seekor Induk Lintah Karma yang memancarkan aura Ascendant Tahap Akhir! Tubuhnya dipenuhi ribuan mata yang menembus jiwa.
Jika Zeng Niu memaksakan diri, ia bisa saja bertarung dan membunuhnya dengan mengorbankan sebagian Niat Ketiadaannya. Namun, Matanya menyipit.
"Ying'er, naik!"
Zeng Niu meraih pinggang Zhao Ying, membungkus tubuh mereka dengan Hukum Ruang, dan menggunakan manuver gerakan ekstrem untuk menyelinap melewati celah tebing tulang, sepenuhnya mengabaikan lintah raksasa itu.
Ia memilih mundur karena tujuan lebih penting. Membuang energi untuk monster penjaga saat Sang Kaisar Naga menunggu di ujung jalan adalah kebodohan. Akibatnya? Induk Lintah itu mengamuk dan menerjang lima ratus pasukan elit Klan Pil Emas di belakang, memaksa Patriark Yan Zun membuang beberapa pil tingkat surga untuk menahannya.
Sementara Zeng Niu dan Yan Zun terus bergerak naik, skala kekacauan di bagian lain Istana Naga Primal semakin tak terkendali. Rahasia bahwa tempat ini adalah formasi pengorbanan darah mulai disadari oleh tokoh-tokoh puncak lainnya, memicu berbagai jenis konflik yang brutal.
Di area Paru-Paru Fosil, Pangeran Ketiga dari Kerajaan Langit Selatan sedang dikepung oleh tiga Jenderal Mayat Hidup. Sang Pangeran mengorbankan Pelindung Dao dan membakar separuh umurnya untuk mengaktifkan Artefak Kaisar. Ia berhasil memusnahkan ketiga jenderal itu, namun fondasi kultivasinya hancur separuh, dan salah satu lengannya membusuk secara permanen. Ia menang, tetapi dengan harga yang luar biasa mahal.
Di area Hati Naga, dua keluarga kuno yang telah berseteru selama ribuan tahun sedang memperebutkan sebuah Batu Pencerahan. Pemimpin kedua keluarga telah mempersiapkan taktik dan formasi pembunuh terbaik mereka. Namun, sebelum ada yang menang, dinding Hati Naga itu tiba-tiba berdenyut. Asam lambung primordial membanjiri area tersebut akibat aktifnya formasi naga! Kedua belah pihak, tanpa sempat bereaksi, tersapu bersih dan meleleh menjadi cairan. Mereka kalah karena keadaan strategi sehebat apa pun tak berguna di hadapan bencana alam semesta.
Di tempat lain, seorang jenius pedang pengembara bertemu dengan ilusi sisa jiwa Leluhur Naga. Sang jenius bertarung dengan brilian, mengerahkan seluruh pemahaman Dao-nya. Namun, perbedaan ranah terlalu mutlak. Jiwa leluhur itu mengalahkan sang jenius dengan satu sentuhan ringan. Sang jenius tersenyum pasrah, duduk bersila, dan membiarkan tubuhnya berubah menjadi debu bintang. Sebuah kekalahan terhormat karena perbedaan ranah; tidak ada penyesalan di jalan pedangnya.
Kembali ke kelompok Zeng Niu.
Setelah tiga hari melintasi Sumsum Tulang Belakang, mereka akhirnya tiba di pelataran raksasa yang menghubungkan leher dengan tengkorak sang Naga Primal.
Namun, area ini telah diduduki.
Kabut hitam tebal menutupi pelataran tulang. Dari dalam kabut, ratusan pasang mata merah menyala. Ini adalah Klan Iblis Laut Dalam, faksi kultivator asing yang selalu menjadi musuh bebuyutan ras manusia di Langit Selatan.
"Yan Zun! Rubah tua pengecut, ternyata kau masih hidup!"
Tawa parau menggema dari dalam kabut. Sesosok pria kekar dengan kulit bersisik hitam dan enam lengan melangkah keluar. Ia adalah Penguasa Iblis Gui Hai, musuh bebuyutan Yan Zun, yang juga berada di ranah Ascendant Tahap Akhir!
Yan Zun menggertakkan giginya. Ia memberi isyarat pada pasukannya untuk maju.
Namun, langkah pertama puluhan elit Klan Pil Emas langsung memicu cahaya ungu di lantai tulang. WUUUSSSSH! Ribuan tentakel bayangan melesat dari bawah, menyeret tiga puluh kultivator elit ke dalam dimensi saku dan meremukkan mereka seketika.
Gui Hai tertawa sinis. Ia telah tiba lebih dulu dan sengaja memasang Formasi Jaring Iblis Pemakan Suara tanpa meninggalkan fluktuasi sedikit pun. Pasukan Yan Zun kalah karena strategi; musuh jauh lebih pintar dalam memanfaatkan medan tempur.
"Gui Hai! Kau mencari mati!" raung Yan Zun, tidak tahan lagi melihat pasukannya terus berkurang.
Patriark alkemis itu melesat ke depan, tungku raksasanya memuntahkan Api Karma. Penguasa Iblis Gui Hai menyambutnya dengan enam senjata iblis yang membelah ruang.
BOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOM!
Bentrokan dua ahli Ascendant Akhir membuat tulang leher naga itu retak hebat. Ledakan energi meluluhlantakkan pelataran.
Namun, setelah satu benturan mematikan, keduanya justru terpental mundur sejauh ratusan tombak. Yan Zun memuntahkan darah emas, sementara sisik di dada Gui Hai hancur memperlihatkan tulang rusuknya.
Keduanya saling menatap dengan penuh kebencian, namun pada detik berikutnya, mereka secara serentak menurunkan senjata mereka.
Keduanya adalah monster tua berumur ribuan tahun. Mereka langsung menyadari bahwa jika mereka bertarung sampai mati, darah dan esensi Ascendant mereka hanya akan dihisap oleh lantai formasi makam ini, mempercepat kebangkitan Sang Kaisar Naga.
Tidak ada yang mau menjadi tumbal. Pertarungan itu berakhir Seri. Keduanya menelan pil pemulihan sambil menjaga jarak aman, dipaksa oleh situasi untuk menahan dendam mereka.
"Siapa pemuda berjubah hitam di belakangmu itu, Yan Zun?" tanya Gui Hai dengan mata menyipit tajam, menunjuk ke arah Zeng Niu yang sedari tadi hanya berdiri santai menonton pertunjukan. "Dia tidak terlihat seperti anjing dari klanmu."
"Dia bukan urusanmu, Iblis Laut!" dengus Yan Zun, diam-diam berharap Gui Hai mencari masalah dengan Zeng Niu agar keduanya saling bunuh.
Namun, Zeng Niu tidak peduli dengan intrik monster tua itu. Matanya terkunci pada gerbang raksasa di ujung pelataran.
Gerbang itu berbentuk mulut naga yang menganga. Di baliknya, terletak Lautan Kesadaran Primordial, tempat otak dan inti formasi Kaisar Naga berada. Dan tentu saja, tempat seluruh harta pusaka dari puluhan ribu kultivator yang mati terkumpul!
Tetapi, gerbang itu tidak terbuka begitu saja.
Berdiri di depan gerbang, adalah sesosok manusia yang terbuat dari kristal darah. Ia mengenakan jubah kekaisaran kuno, dan memegang sebuah pedang yang memancarkan Niat Kehancuran murni.
Fluktuasi yang menguar dari sosok kristal darah itu membuat seluruh Ascendant di pelataran menahan napas.
Setengah Langkah Nirvana!
Ini adalah Penjaga Gerbang Takdir.
Melihat sosok itu, Niat Asura Zeng Niu bergejolak, namun ia menekan insting bertarungnya. Ia telah menelan Sumsum Emas dan memiliki Tulang Emas Asura. Secara teori, ia bisa bertahan dari beberapa pukulan penjaga ini. Namun, menghadapi ahli Setengah Langkah Nirvana secara lansung hanya mengandalkan kekerasan fisik adalah tindakan bunuh diri. Jika ia maju sekarang, hasil terbaiknya adalah kalah terhormat (Kalah karena perbedaan Ranah), dan hasil terburuknya adalah ia dipotong menjadi dua.
Zeng Niu menyipitkan matanya. Di tempat ini selalu membutuhkan pengorbanan, dan sebab-akibat (karma) selalu menuntut harganya.
Sosok kristal darah itu perlahan mengangkat pedangnya. Matanya yang kosong menyapu ribuan kultivator Iblis Laut dan Klan Pil Emas, sebelum akhirnya terkunci pada satu orang.
Zeng Niu.
"PENYUSUP... KAU MEMILIKI AROMA SUMSUM KAMI..." suara penjaga itu bergema seperti petir yang menyambar langsung di Dantian Zeng Niu. "KARMA TELAH TERBENTUK. KEMBALIKAN ESENSI KAISAR, ATAU JIWAMU AKAN DIMUSNAHKAN!"
Yan Zun dan Gui Hai terbelalak, lalu serentak menatap Zeng Niu. Keduanya langsung menyadari bahwa pemuda barbar inilah yang telah mencuri esensi paling vital dari makam ini, memicu kemurkaan sang penjaga gerbang!
"Hahaha! Zeng Niu! Ternyata karma mengejarmu lebih cepat dari dugaanku!" Yan Zun tertawa kejam, segera memerintahkan sisa pasukannya untuk menjauh dari Zeng Niu, membiarkannya menghadapi kemurkaan Penjaga Nirvana sendirian.
Zeng Niu tidak panik. Ia memutar lehernya, tersenyum licik. Musuh yang jelas, jebakan kuno, dan pengkhianatan dari sekutu sementara... semua ini adalah panggung yang sangat ia nikmati.
"Ying'er," bisik Zeng Niu, tangannya perlahan meraih Nisan Petir Asura. "Sepertinya kita tidak bisa masuk lewat pintu depan tanpa membayar. Bersiaplah... kita akan membongkar tempat ini dengan cara perampok!"