Tahun 2042.
Manusia hidup seperti biasa dengan teknologi modern. Tidak ada yang tahu bahwa energi spiritual di Bumi mulai bangkit kembali setelah menghilang selama ribuan tahun.
Arkana Wijaya, mahasiswa berusia 20 tahun, menjalani hidup biasa hingga menemukan cincin kuno peninggalan kakeknya. Saat darahnya menyentuh cincin itu, jiwa seorang kultivator legendaris dari ribuan tahun lalu terbangun.
Namun, alih-alih mengambil alih tubuh Arkana, jiwa itu justru menghilang setelah mewariskan seluruh ingatan dan teknik kultivasinya.
Arkana menjadi satu-satunya orang yang mengetahui cara kultivasi sejati.
Sementara dunia mulai berubah, organisasi rahasia, keluarga kuno, dan makhluk yang selama ini bersembunyi juga mulai bergerak.
Bumi ternyata hanyalah dunia tingkat terendah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bagus Dwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23: Sinkronisasi Elemen dan Radar yang Bergetar
Hawa panas yang dipancarkan oleh Pil Jantung Api Murni seketika mengubah atmosfer di dalam aula bawah tanah Kota Tua menjadi laksana tungku peleburan spiritual. Dani dan Lisa duduk bersila di atas lantai batu, tubuh mereka bergetar hebat saat mencoba menjinakkan energi obat yang mengalir deras ke dalam sistem biologis mereka.
Arkana Wijaya berdiri tidak jauh dari mereka, sepasang mata peraknya berkilat tajam memantau setiap perubahan aliran Qi di dalam tubuh kedua sahabatnya. Sebagai seorang praktisi yang baru saja menembus ranah Spirit Gathering Tingkat Tiga, indra batinnya kini mampu melihat jalur meridian manusia dengan sangat transparan.
Penempaan Dua Bakat
Di sudut kanan aula, Dani mengalami proses transformasi fisik yang sangat ekstrem. Teknik dasar Sembilan Perunggu miliknya dipaksa bekerja sepuluh kali lipat lebih cepat oleh energi pil.
Perubahan Fisik: Kulit di sekujur tubuh Dani berkedip-kedip antara warna merah membara dan warna tembaga gelap.
Pembersihan Tulang: Suara gemertak halus terdengar dari susunan tulang belakangnya, menandakan bahwa sisa-sisa zat polutan modern yang mengendap di sumsum tulangnya sedang dibakar habis oleh api spiritual.
Stabilitas Energi: Napasnya yang semula memburu secara bertahap mulai melambat dan menjadi sangat ritmis.
Sementara itu, di sisi Lisa, fenomena yang terjadi justru sebaliknya. Energi elemen api dari pil tidak membakar meridian gadis itu, melainkan memegu siklus pertumbuhan alami yang menakjubkan bagi benih elemen kayu murni di dalam dadanya. Udara di sekitar Lisa mendadak dipenuhi oleh aroma segar dedaunan hutan purba. Helai-helai cahaya hijau cerah berjalin kelindan dengan uap perak, memperkuat struktur kesadaran spiritualnya hingga ia secara resmi menyentuh gerbang ranah Body Tempering Tingkat Satu.
BOOM!
Sebuah letupan energi ganda bergaung di dalam ruangan. Dani dan Lisa membuka mata mereka secara bersamaan. Dani langsung melompat berdiri, melayangkan sebuah pukulan cepat ke arah udara kosong yang menghasilkan suara letupan angin yang memekakkan telinga.
"Ka! Gua ngerasa kayak bisa menghancurkan mobil dengan tangan kosong sekarang!" seru Dani, menatap otot-otot lengannya yang kini tampak sangat padat dan efisien.
"Itu karena pil tadi mendorong lo ke puncak Body Tempering Tingkat Dua secara instan," jawab Arkana dengan senyuman tipis. "Tapi jangan takabur. Fisik lo memang kuat, tapi lo belum punya energi batin untuk menahan serangan spiritual jarak jauh dari para ahli klan kuno."
Anomali di Permukaan Kota Tua
Mereka tidak sempat merayakan keberhasilan tersebut lebih lama. Di sudut ruangan, monitor siber holografik (cyber-rig) milik Dani mendadak berkedip-kedip merah secara agresif, mengeluarkan suara alarm peringatan frekuensi tinggi.
Dani langsung berlari ke depan dek elektroniknya, jemarinya yang kini bergerak jauh lebih cepat berkat peningkatan refleks fisik segera menari di atas keyboard virtual.
"Arka, situasi di permukaan makin gak masuk akal!" ucap Dani, wajahnya kembali menegang saat membaca baris-baris data yang terenkripsi. "Satelit militer siber yang gua retas tadi menunjukkan kalau Biro Keamanan Khusus baru saja membagi Jakarta menjadi lima zona isolasi total. Dan tebak apa? Kawasan Kota Tua tempat kita sembunyi sekarang baru saja dimasukkan ke dalam Zona Merah Pemindaian Prioritas."
Arkana berjalan mendekat, menatap layar holografik yang memproyeksikan pergerakan titik-titik siber di permukaan jalanan Kota Tua. "Mereka mendeteksi tempat ini?"
"Gak secara spesifik, tapi mereka menyisir semua bangunan bersejarah yang punya fondasi abad ke-19 dan ke-20," jelas Dani, memperbesar sebuah gambar taktis. "Lihat ini. Ada satu regu unit khusus—bukan tentara biasa, tapi unit khusus faksi elit pemerintah—sedang bergerak mendekati area Museum Fatahillah. Mereka membawa alat pemindai geo-radar kuantum bawah tanah yang bisa menembus hingga kedalaman puluhan meter!"
Mata perak Arkana menyipit dingin. Formasi Pengubah Dimensi kuno yang melindungi aula ini memang mampu menyembunyikan energi Qi, namun jika geo-radar militer mendeteksi adanya ruang kosong raksasa yang tidak tercatat dalam cetak biru tata kota resmi di bawah tanah, pemerintah pasti akan meledakkan area ini untuk melakukan investigasi fisik.
"Kita gak bisa nunggu mereka sampai di atas kepala kita," ucap Arkana, suaranya terdengar sangat tenang namun membawa aura kepastian yang dingin. "Dani, tetap pantau jalur komunikasi mereka dari sini. Jaga Lisa. Gua bakal naik ke permukaan secara proaktif untuk menghentikan tim pemindai itu sebelum mereka sempat mengirimkan data struktural bawah tanah ke pusat komando."
Dengan satu sentakan tangan, Arkana menarik tudung jaket hoodie hitamnya kembali, mengaktifkan Teknik Kamuflase Napas Kaisar untuk membaur dengan kegelapan malam Jakarta yang kian mencekam, siap melancarkan serangan senyap pertamanya di permukaan.