Raymond dikenal di seluruh kampus sebagai Pangeran Kampus. Wajahnya tampan dengan sorot mata dingin yang sulit ditebak. Ia jarang berbicara, tetapi sekali bertindak, tak seorang pun berani membantah. Latar belakang keluarganya yang kaya dan berpengaruh membuat namanya selalu menjadi pusat perhatian. Namun, di balik sikapnya yang tenang dan dingin, Raymond memiliki sisi yang sangat posesif terhadap satu orang—istri rahasianya.
Angela adalah kebalikan dari Raymond. Gadis berusia delapan belas tahun itu berpenampilan tomboy, lebih nyaman mengenakan jaket dan sepatu kets daripada gaun. Rambut hitamnya selalu dikuncir satu sederhana, membuat wajah manisnya terlihat segar. Meski terlihat ceria dan mandiri, Angela tidak pernah menyangka hidupnya akan berubah setelah terikat dalam pernikahan rahasia dengan pria yang paling populer di kampus.
Di tengah halaman kampus yang dipenuhi sinar matahari dan pepohonan rindang, Raymond berdiri di belakang Angela. Tanpa memedulikan tatapan orang-orang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rizky Mutha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 22
Suasana ruang VVIP kembali hening setelah tawa kecil mereka mereda. Kenangan masa SMA membuat Diana dan Bu Sulastri seolah kembali ke masa puluhan tahun silam.
Edward yang sejak tadi tersenyum tiba-tiba teringat seseorang.
Ia menoleh ke kanan dan kiri, seolah mencari sosok yang dikenalnya.
"Lho... Sulastri," panggilnya pelan. "Hendra ke mana? Bukannya dia pasti nggak bakal ninggalin kamu kalau lagi sakit begini?" Mendengar nama itu, senyum di wajah Bu Sulastri perlahan memudar, Angela yang berdiri di samping ranjang langsung menundukkan kepala.
Ruangan yang semula hangat seketika berubah sunyi, Edward mengernyit bingung.
"Kenapa? Apa aku salah ngomong?" Diana yang melihat perubahan raut wajah sahabatnya langsung menggenggam tangan Bu Sulastri.
"Sulastri?"
Dengan suara lirih, Bu Sulastri akhirnya menjawab.
"Hendra, sudah nggak ada, Edward." Mata Edward membelalak.
"Apa?"
"Hendra meninggal delapan belas tahun yang lalu."
"Astaga." Edward terduduk lemas di kursi yang ada di dekatnya. Wajahnya dipenuhi rasa tidak percaya.
"Bagaimana bisa?" Bu Sulastri menarik napas panjang, berusaha menguatkan dirinya.
"Waktu itu Hendra mengalami kecelakaan lalu lintas saat pulang bekerja. Lukanya sangat parah. Dokter sudah berusaha semaksimal mungkin... tapi Allah berkehendak lain."
Air mata Bu Sulastri mulai mengalir di pipinya.
"Sejak hari itu, aku membesarkan Angela sendirian." Angela menggenggam erat tangan ibunya.
"Ibu." Diana tak kuasa menahan tangis. Ia memeluk sahabatnya dengan penuh kasih.
"Kenapa kamu nggak pernah mengabari kami? Kalau kami tahu, kami pasti datang."
Bu Sulastri menggeleng pelan.
"Aku bahkan nggak tahu harus menghubungi siapa. Setelah kalian pindah, semua kontak terputus." Edward mengusap wajahnya kasar.
"Hendra itu sahabat terbaikku." Ia menatap kosong ke arah lantai, seakan kembali mengingat masa muda mereka. "Dulu kami sering berangkat sekolah naik motor yang sama. Dia selalu bilang kalau suatu hari nanti ingin punya keluarga yang bahagia." Edward tersenyum pahit.
"Dan waktu dia bilang akan menikah denganmu, dia adalah orang paling bahagia yang pernah kulihat." Pak Arman menganggukkan kepala pelan.
"Hendra juga anak yang bertanggung jawab. Ayahnya sangat bangga padanya." Edward menatap Angela yang sejak tadi menemani ibunya.
"Jadi, kamu putri Hendra?" Angela mengangguk pelan.
"Iya, Om." Edward tersenyum haru meski matanya masih memerah.
"Pantas saja. Wajahmu sangat mirip ayahmu. Terutama sorot matamu." Diana ikut mengusap kepala Angela dengan lembut.
"Kalau Hendra masih hidup, dia pasti sangat bangga melihatmu tumbuh menjadi anak sebaik ini." Angela mencoba tersenyum, meski air matanya tak lagi mampu dibendung.
"Ayah selalu jadi alasan Angela untuk tetap kuat."
Raymond yang sedari tadi diam, perlahan meraih tangan Angela di balik tubuhnya dan menggenggamnya erat, memberikan dukungan tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Melihat itu Edward dan Diana saling bertukar pandang. Di dalam hati, keduanya mulai memahami satu hal, Perhatian Raymond kepada Angela bukan lagi sekadar rasa simpati. Ada perasaan yang jauh lebih dalam, yang belum diungkapkan kepada siapa pun.
Ruang rawat kembali diselimuti keheningan.
Tak seorang pun langsung berbicara. Semua masih larut dalam cerita tentang almarhum Hendra Gunawan.
Edward menarik napas panjang sebelum menatap foto kecil yang berada di atas nakas. Foto itu memperlihatkan seorang pria tersenyum hangat sambil merangkul Bu Sulastri dan Angela yang saat itu masih balita.
Edward mengambil foto itu dengan hati-hati.
"Ini Hendra." Jemarinya mengusap bingkai foto pelan. "Wajahnya sama sekali nggak berubah." Matanya mulai berkaca-kaca.
"Dia memang selalu tersenyum seperti ini."
"Hendra memang anak yang baik." Pak Arman mengangguk pelan. Edward tersenyum tipis, lalu menatap ke arah Raymond dan anak-anak muda lainnya.
"Kalian tahu nggak? Dulu ayah Angela itu bukan cuma sahabatku." Rio, Kevin, Arga, Dion, Maya, bahkan Angela ikut memperhatikan.
"Kami bertiga, aku, Hendra, dan Sulastri selalu bersama sejak SMA. Hendra itu orang yang paling sering nolong teman." Diana tertawa kecil sambil mengingat masa lalu.
"Benar. Waktu Edward dihukum guru karena terlambat, Hendra ikut menemani di depan kelas. Padahal yang terlambat cuma Edward."
Semua tertawa kecil. Edward menggeleng sambil tersenyum malu.
"Dia bilang, 'Sahabat itu senang susah ditanggung bareng.'" Pak Arman ikut tersenyum.
"Itu memang sifat Hendra." Edward melanjutkan ceritanya.
"Setelah lulus, aku melanjutkan kuliah ke luar kota. Hendra memilih bekerja membantu usaha keluarganya. Kami masih sering berkirim surat."
"Tapi setelah aku sibuk membangun perusahaan, hubungan kami mulai jarang."
Edward menundukkan kepala. "Itu penyesalan terbesar dalam hidupku. Aku terlalu sibuk mengejar karier, sampai kehilangan kabar sahabatku sendiri." Diana menggenggam tangan suaminya, berusaha menenangkan.
"Mas." Edward menghela napas panjang.
"Kalau saja waktu itu aku lebih sering menghubunginya, mungkin aku masih sempat bertemu sebelum kecelakaan itu terjadi." Ruangan kembali hening. Bu Sulastri tersenyum tipis.
"Hendra nggak pernah menyalahkanmu."
Edward menatap Bu Sulastri. "Beberapa hari sebelum kecelakaan, dia sempat bercerita kalau suatu saat nanti, kalau kami bertemu lagi, dia ingin memperkenalkan Angela kepada kami." Angela menundukkan kepala sambil menahan haru. Bu Sulastri mengangguk pelan.
"Dia memang sering berkata begitu."
"Tapi ternyata, Tuhan mempertemukan kami justru setelah dia tiada." Edward tersenyum getir. Pak Arman berdiri dari duduknya.
"Hendra memang sudah pergi, tapi persahabatan itu tidak ikut hilang." Ia menoleh kepada Angela. "Mulai hari ini, jangan pernah merasa sendirian lagi." Edward ikut berdiri dan menatap Angela dengan penuh kasih.
"Angela."
"Iya, Om?"
"Ayahmu pernah menjadi saudara bagiku. Jadi mulai sekarang, anggap saja rumah kami juga rumahmu." Mata Angela langsung memerah.
"Om !" Diana menghampirinha memeluk Angela dengan lembut.
"Kalau kamu butuh apa pun, jangan sungkan. Kami sudah menganggapmu seperti anak sendiri." Di sudut ruangan, Maya memperhatikan semua itu dengan perasaan campur aduk. Awalnya ia mengira keluarga Raymond hanya membantu karena iba.
Namun kini ia sadar, ternyata kedua keluarga itu telah terikat oleh persahabatan yang berlangsung selama puluhan tahun.
Sementara itu, Raymond memandang Angela dengan senyum tipis yang nyaris tak terlihat.
Dalam hatinya, ia berjanji.
"Pak Hendra... saya akan menjaga Angela seumur hidup saya. Apa pun yang terjadi."
Tanpa disadari siapa pun, janji itu bukan sekadar tekad.
****
Suasana ruang VVIP yang sempat dipenuhi haru perlahan kembali hangat. Diana duduk di samping Bu Sulastri sambil menggenggam tangannya.
"Kalau dipikir-pikir, lucu juga ya." Bu Sulastri tersenyum heran.
"Lucu bagaimana?"
"Kita bersahabat sejak SMA. Orang tua kita juga saling kenal. Sekarang anak-anak kita malah dipertemukan lagi." Edward mengangguk setuju.
"Iya. Dunia memang sempit."
Tatapan Edward kemudian bergantian mengarah kepada Angela dan Raymond yang berdiri tidak jauh dari ranjang. Ia tersenyum penuh arti.
"Kalau saja Hendra masih hidup, dia pasti senang melihat Raymond dan Angela akur."
Diana tiba-tiba tertawa kecil.
"Mas, ingat nggak?"
"Ingat apa?"
"Dulu waktu kami masih SMA, Hendra pernah bercanda. Katanya, kalau nanti kita sama-sama punya anak, kenapa nggak dijodohin saja?" Mata Bu Sulastri langsung membulat.
"Ya ampun... kamu masih ingat omongan itu?"
"Masih dong." Diana tertawa geli.
"Waktu itu kita semua malah ketawa sampai dimarahi guru." Edward ikut terkekeh.
"Benar juga." Ia menatap Angela dan Raymond sekali lagi.
"Kalau dipikir-pikir sekarang, Sepertinya ide Hendra dulu nggak buruk juga."
"Hah?!" Angela spontan berseru pelan.
Wajahnya langsung memerah dan terlihat salah tingkah.
"I-itu? Om bercanda, kan?" Semua yang ada di ruangan langsung menoleh ke arahnya.
Maya menahan tawa melihat sahabatnya salah tingkah.
"Nah, tuh, baru dibilang dijodohin aja udah salting." Rio menyenggol lengan Arga.
"Waduh, seru nih." Arga mengangguk antusias.
"Gue dukung!" Kevin hanya tersenyum tipis sambil memperhatikan reaksi Raymond.
Berbeda dengan Angela yang wajahnya sudah semerah tomat, Raymond tetap berdiri tegak dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celana. Ekspresinya datar nyaris tanpa perubahan, seolah pembicaraan itu sama sekali tidak memengaruhinya.
Edward menatap putranya ,lalu berkata.
"Raymond."
"Iya."
"Gimana menurutmu kalau Angela dijadikan calon menantu keluarga Wijaya?" Semua orang langsung menahan napas menunggu jawaban Raymond. Angela bahkan tidak berani mengangkat kepala.
Beberapa detik berlalu. Raymond menjawab dengan nada tenang seperti biasa.
"Kalau memang itu yang terbaik, Aku tidak keberatan." Jawaban singkat itu membuat semua orang terdiam. Rio langsung berbisik pelan.
"Buset, gue kira dia bakal nolak." Arga mengangguk.
"Minimal pura-pura malu kek." Dion menahan senyum.
"Abang gue emang susah ditebak."
Sementara itu, Di balik wajah dinginnya, Raymond justru sedang bersorak dalam hati.
'Terima kasih, Ayah... Terima kasih, Mama!
Ia bahkan harus menahan diri agar sudut bibirnya tidak terangkat. Angela diam-diam melirik Raymond. Melihat pria itu tetap tenang tanpa sedikit pun terlihat gugup, Angela justru semakin panik.
"Sekarang jangan bicara soal jodoh dulu, biarkan mereka menyelesaikan kuliah dan mengejar cita-cita masing-masing." Diana mengangguk sambil tersenyum.
"Benar juga."
"Aku cuma bercanda mengingat ucapan Hendra dulu." Namun, Edward menambahkan dengan nada serius.
"Meski begitu... kalau suatu hari nanti Raymond benar-benar memilih Angela, Ayah akan menjadi orang pertama yang merestuinya." Ucapan itu membuat Angela kembali membeku sedangkan Raymond hanya menjawab singkat,
"Baik, Yah." Dalam hati, ia kembali tersenyum puas.
Diana tiba-tiba menepuk pelan paha Edward, seolah mendapat ide.
"Eh, tapi tunggu dulu, Lastri."
"Iya?" tanya Bu Sulastri heran.
Diana melirik Raymond yang sejak tadi berdiri dengan wajah datar tanpa ekspresi.
"Lihat deh anakku." Semua mata langsung tertuju pada Raymond. Raymond hanya mengangkat sebelah alis.
"Kenapa, Ma?"
Diana menggeleng sambil menghela napas.
"Anakku ini wajahnya datar banget. Dingin pula. Kayak papan jemuran."
"Ma..." protes Raymond singkat. Rio langsung menunduk menahan tawa. Kevin sampai berdeham, berusaha tidak ikut tertawa.
Sementara Arga dan Dion sudah saling menyenggol bahu. Diana melanjutkan dengan wajah serius, meski nada bicaranya terdengar bercanda.
"Aku tuh takut, sebelum Raymond berani menyatakan perasaannya, Angela malah dilirik laki-laki lain." Maya spontan mengangguk.
"Nah, itu bener juga sih."
"Woy!" seru Angela dengan wajah memerah.
Belum sempat suasana mereda, Diana kembali berkata,
"Gimana kalau..." Ia menatap Bu Sulastri penuh semangat. "kita nikahkan mereka secara rahasia dulu. Nanti setelah mereka lulus kuliah, baru kita rayakan resepsi yang meriah." Kalimat itu sukses membuat ruangan mendadak sunyi.
"Apa?!" Angela membelalak. Sendok yang dipegangnya hampir terjatuh ke lantai. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga telinganya sendiri terasa berdenging. Di sisi lain, Raymond tetap berdiri santai dengan kedua tangan di saku celana. Wajahnya masih sedingin biasanya.
"Hm." Hanya itu responsnya. Namun jauh di lubuk hatinya, ia hampir tertawa puas.
'Mama... ide itu bagus." Edward mengangguk pelan sambil berpikir.
"Kalau dipikir-pikir... usulmu masuk akal juga."
"Iya, kan?" sahut Diana antusias.
"Yang penting mereka sama-sama fokus kuliah. Setelah wisuda, baru kita umumkan ke semua orang." Bu Sulastri terkekeh pelan.
"Kalian ini ada-ada saja. Anak-anaknya saja belum tentu mau." Semua mata kembali beralih kepada Raymond dan Angela.
Angela masih membeku, bingung harus menjawab apa. Sementara Raymond menjawab dengan tenang,
"Saya mengikuti keputusan yang terbaik."
Jawaban itu membuat Rio memukul pelan dahinya sendiri.
"Ya ampun... ini orang kalau ditanya soal jodoh, jawabannya kayak lagi presentasi tugas." Seketika seluruh ruangan dipenuhi gelak tawa. Hanya Angela yang masih tersenyum kaku.
Maya yang sejak tadi hanya menjadi penonton akhirnya mengangkat tangan.
"Eits, bentar... bentar!" Semua orang menoleh ke arahnya, Maya tersenyum jahil.
"Kalau boleh jujur ya, Tante Diana... saya setuju sama satu hal." Diana tertawa kecil.
"Yang mana?"
"Tentang Kak Raymond." Maya melirik Raymond dari ujung kepala sampai ujung kaki.
"Maaf ya, Kak. Tapi ekspresi Kak Raymond itu memang datar banget. Mau senang, marah, atau kesel... mukanya ya gitu-gitu aja."
Rio langsung tertawa terbahak-bahak.
"Nah! Akhirnya ada yang berani ngomong."
Kevin mengangguk sambil menahan senyum.
"Fakta memang kadang menyakitkan."
Raymond hanya melirik mereka sekilas.
"Udah puas?"
"Belum," jawab Maya cepat. Semua kembali tertawa. Maya lalu menoleh ke arah Angela yang wajahnya masih memerah.
"Terus terang aja ya, kalau aku jadi Angela, mungkin aku juga bingung."
"Bingung kenapa?" tanya Dion penasaran.
"Soalnya susah nebak isi hati Kak Raymond, Kalau suka, ya bilang suka kalau sayang, ya bilang sayang, jangan cuma pasang muka cool terus. Nanti ceweknya dikira Kak Raymond nggak punya perasaan." Ucapan Maya membuat semua orang mengangguk setuju. Diana bahkan menepuk bahu putranya.
"Dengar tuh, Nak. Belajar yang romantis sedikit." Raymond mengembuskan napas pelan.
"Iya, Ma." Jawaban singkat itu justru membuat Maya geleng-geleng kepala.
"Tuh kan! Jawabannya cuma 'iya, Ma'."
"Kalau nanti punya pacar, kasihan banget."
Angela refleks menunduk sambil menggigit bibir, berusaha keras menahan senyum.
Dalam hati ia bergumam,
"Kalau Maya tahu, Raymond sebenarnya bisa romantis... cuma dia menunjukkannya saat kami berdua saja." Sementara Raymond diam-diam melirik Angela. Sudut bibirnya nyaris terangkat melihat gadis itu berusaha menyembunyikan senyum. Untung saja tidak ada yang menyadari tatapan singkat itu.
kalau bisa up nya di tambahin
padahal seru kenapa sepi komen nan y