NovelToon NovelToon
Istri Pengganti Yang Terluka

Istri Pengganti Yang Terluka

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Balas Dendam
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: Miss Ra

Dua jam sebelum akad, Devon tiba-tiba dijebak masuk penjara. Demi harga diri keluarga, Liam terpaksa turun tangan menjadi pengantin pengganti untuk menikahi Mira Hazelya.

​Namun, malam pertama yang seharusnya indah justru berubah menjadi neraka. Liam murka saat mendapati fakta bahwa istri barunya ternyata sudah tidak lagi perawan!

​"Kau memanfaatkanku?! Kau menjebakku untuk menjadi penanggung jawab dosa orang lain?!" bentak Liam penuh amarah, siap melayangkan talak.

​Tepat sebelum Liam melangkah pergi, sebuah rahasia besar terbongkar. Noda di tubuh Mira bukan karena ia wanita murahan, melainkan bukti pengorbanan berdarah demi menyelamatkan keluarga Liam dari kehancuran.

​Saat rasa benci dalam semalam berubah menjadi rasa bersalah yang mencekik dada, sanggupkah Liam menyembuhkan luka di hati Mira? Sementara di kampus, mereka harus bersandiwara seolah tidak saling kenal!

Kita Simak Yuk Kisah Selanjutnya Di Novel => Istri Pengganti Yang Terluka.
By - Miss Ra.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19

Taman tengah Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik siang itu sedang terik-teriknya. Di bawah rindangnya pohon-pohon trembesi raksasa, belasan mahasiswa duduk berkelompok di bangku-bangku taman, menikmati semilir angin yang sesekali lewat.

Namun, ketenangan taman itu mendadak terusik oleh tawa sinis yang menggaung dari salah satu sudut dekat air mancur.

Hilmira Hazelya berdiri mematung di dekat pilar selasar. Ia mengenakan gamis berwarna hijau daun muda dengan khimar hitam panjang yang menutupi dada bidangnya. Di wajahnya, cadar sifon hitam andalannya terpasang rapi. Di tangannya, ia memeluk sebuah map kertas berisi tugas kuliah yang harus segera ia kumpulkan ke ruang dosen.

Namun, jalannya diadang oleh tiga mahasiswi dengan pakaian modis dan riasan tebal. Mereka adalah bagian dari circle populer kampus yang terkenal kerap mengintimidasi mahasiswa yang dianggap tidak selevel dengan mereka.

"Heh, anak baru," salah satu dari mereka, seorang gadis berambut kecokelatan bernama Sherly, melipat kedua tangannya di depan dada dengan dagu terangkat tinggi. "Bisa gak sih, kalau di kampus itu biasa aja? Gak usah sok misterius pakai penutup muka kayak gini. Kita kan jadi gak tahu, di balik kain ini mukamu itu beneran cantik atau sebenarnya lagi menyembunyikan korengan?"

Tawa geli langsung pecah dari kedua temannya. Beberapa mahasiswa yang lewat sempat menoleh, namun mereka memilih acuh dan mempercepat langkah, enggan berurusan dengan kelompok Sherly yang memiliki pengaruh kuat di kalangan senior.

Hilmira menundukkan kepalanya sedalam mungkin. Jemari tangannya yang mungil meremas ujung map kertas hingga sedikit kusut.

Di balik cadarnya, bibir Hilmira bergetar hebat. Serangan kata-kata kasar itu kembali memicu debaran panik di dadanya. Traumanya berbisik bahwa ia kembali menjadi target ketidakberdayaan yang tak bisa membela diri.

"Kenapa diam? Beneran cacat ya mukanya?" Sherly melangkah maju satu langkah, tangannya yang berkuku merah lentik terjulur kasar, berniat merenggut tali cadar di belakang kepala Hilmira. "Coba buka. Aku penasaran...."

"Hentikan."

Sebuah suara bariton yang hangat namun tegas mendadak menginterupsi dari arah belakang.

Seorang pria bertubuh jangkung dengan kemeja flanel merah yang lengannya digulung santai melangkah maju. Ia memiliki garis wajah yang ramah dengan senyum tipis yang menenangkan, namun sepasang matanya memancarkan ketegasan yang mutlak.

Di dadanya, tersemat pin emas berlogo BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa).

Rian. Ketua BEM Universitas yang sangat populer karena kecerdasan, keramahan, dan sikap ksatria yang kerap ia tunjukkan di kampus.

Rian langsung memosisikan tubuh tegapnya di depan Hilmira, menghalangi tangan Sherly yang menggantung di udara.

"Sherly, sejak kapan peraturan akademis kampus ini memperbolehkan mahasiswanya melakukan perundungan verbal dan fisik terhadap mahasiswa lain?" tanya Rian, nada suaranya tenang namun memiliki penekanan yang membuat Sherly langsung menurunkan tangannya dengan gugup.

"R-Rian... Aku kan cuma bercanda," elak Sherly, wajahnya mendadak memerah karena malu ketahuan bertindak kasar oleh sang ketua BEM yang dihormati.

"Bercanda itu kalau kedua belah pihak tertawa," sahut Rian dingin. "Tapi kalau hanya satu pihak yang tertawa sementara pihak lain ketakutan, itu namanya penindasan. Dan sebagai Ketua BEM, aku tidak akan membiarkan ada tindakan seperti ini di wilayahku. Sekarang, minta maaf pada Hilmira, atau aku akan membawa laporan ini langsung ke dekanat kemahasiswaan."

Mendengar ancaman tegas Rian, Sherly dan kedua temannya mendengus kesal. Dengan wajah cemberut, mereka akhirnya melangkah pergi meninggalkan selasar sambil menghentakkan kaki dengan kasar.

Setelah situasi aman, Rian membalikkan tubuhnya. Ia menatap Hilmira yang masih berdiri gemetar dengan kepala menunduk. Dengan gestur yang sangat sopan, Rian menjaga jarak sekitar satu langkah agar tidak membuat Hilmira merasa tertekan.

"Kamu tidak apa-apa?" tanya Rian, suaranya terdengar begitu lembut dan penuh perhatian yang tulus. "Jangan dengarkan kata-kata mereka. Kamu berhak mengenakan apa pun yang membuatmu merasa aman di kampus ini."

Hilmira perlahan mengangkat wajahnya. Melalui celah sempit cadarnya, ia menatap Rian. Ada rasa lega yang luar biasa besar yang menyelimuti dadanya. Untuk pertama kalinya di tempat asing ini, ada seseorang yang berdiri membelanya tanpa meminta imbalan apa pun.

"Terima kasih..." bisik Hilmira, suaranya sangat lirih namun sarat akan rasa syukur yang mendalam.

Rian tersenyum hangat, sebuah senyuman manis yang sanggup melelehkan hati wanita mana pun yang melihatnya. "Sama-sama. Namaku Rian. Kalau ada yang mengganggumu lagi di kampus, cari saja aku di ruang BEM. Aku akan selalu siap membantumu."

Di saat yang bersamaan, di lantai dua gedung rektorat yang posisinya menghadap langsung ke arah taman tengah.

Arkan Oliver berdiri bersandar pada pembatas balkon kaca yang dingin. Kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana panjang hitamnya. Kemeja birunya yang berkelas tampak melekat pas di tubuh tegapnya, menonjolkan postur tubuhnya yang atletis dan berwibawa.

Namun, tatapan mata elang Arkan saat ini sama sekali tidak mencerminkan ketenangan seorang penguasa.

Netra hitamnya yang tajam terkunci rapat pada dua sosok yang berdiri di dekat air mancur taman bawah, Hilmira dan Rian. Dari tempatnya berdiri, Arkan menyaksikan seluruh kejadian itu dari awal, mulai dari saat Hilmira diadang oleh Sherly, hingga saat Rian datang menerobos layaknya pahlawan kesiangan yang menyelamatkan wanitanya.

KRETEK.

Tanpa sadar, jemari tangan Arkan yang berada di dalam saku celananya mengepal begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih dan mengeluarkan bunyi halus. Rahang tegasnya mengatup rapat, menciptakan guratan otot yang keras di sepanjang pipi dan leher kokohnya.

Aura dingin yang biasanya tenang dan terkendali kini mendadak bergejolak hebat oleh emosi asing yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya - Kecemburuan.

Melihat bagaimana Rian berdiri begitu dekat dengan Hilmira, bagaimana pria itu tersenyum hangat kepada istrinya, dan yang paling membuat dadanya terasa terbakar, bagaimana Hilmira menatap Rian dengan tatapan yang tidak lagi dipenuhi ketakutan.

Ada ketukan ego yang teramat keras menghantam dada Arkan.

"Dia istriku. Dialah yang seharusnya kulindungi. Tapi kenapa pria lain yang berdiri di sana menggantikan posisiku ?!" jerit batin Arkan dengan frustrasi yang memuncak.

Kontrak "Satu Semester" yang ia buat dengan angkuh demi menjaga jarak di kampus kini terasa seperti rantai besi yang mengikat kedua kakinya sendiri, memaksanya hanya bisa berdiri membeku di atas balkon tinggi ini, menyaksikan pria lain menaruh perhatian pada wanita yang secara sah merupakan miliknya.

"Arkan? Dokumen kerja sama dengan fakultas lain sudah siap ditandatangani," suara asisten pribadinya yang baru saja datang membuyarkan lamunan Arkan.

Arkan tidak langsung berbalik. Ia menarik napas dalam-dalam, merasakan sesak yang teramat pekat di paru-parunya.

Ketika ia kembali menatap ke bawah, ia melihat Rian sedang berjalan beriringan dengan Hilmira menuju gedung fakultas, sesekali Rian berbicara dengan gestur yang sangat ramah yang dibalas dengan anggukan kecil dari Hilmira.

"Batalkan pertemuan jam dua siang ini," perintah Arkan, suara baritonnya terdengar sangat rendah, dingin, dan sarat akan ancaman yang berbahaya.

Asistennya tertegun. "Tapi Pak, itu pertemuan penting dengan dekan..."

"Aku tidak suka mengulang kalimatku," potong Arkan dingin, menoleh sekilas dengan tatapan mata elang yang begitu menusuk hingga membuat sang asisten langsung menunduk ketakutan.

Arkan kembali memalingkan wajahnya menatap ke arah taman yang kini telah kosong. Sembari membetulkan posisi jam tangan peraknya dengan gestur yang dinamis dan berkelas, Arkan memantapkan sebuah keputusan di dalam hatinya.

Persetan dengan kontrak satu semester. Ego dan insting protektifnya sebagai seorang pria telah bangkit sepenuhnya siang ini, dan ia tidak akan pernah membiarkan pria mana pun, termasuk sang ketua BEM populer itu melangkah terlalu jauh menyentuh wilayah kekuasaannya.

...----------------...

To Be Continue ....

1
Eva Karmita
lanjut otor semangat 🔥💪🥰
Eva Karmita
cemburu tanda cinta ...❤️
marah tandanya sayang 🤗
Arkan kamu sudah lupa dengan perjanjian itu 🤸🏼‍♀️😅
Eva Karmita
lanjut otor semangat 🔥💪🥰
Eva Karmita
makanya jangan so nolak kamu Arkan jadi pusing sendiri kan 😤🤣🤣🤣
Eva Karmita
seriyus mau nanya apa nama pu nya di ganti ...??
padahal bagus Liam
Eva Karmita
kenapa namanya di ganti otor yg tadinya Liam kenapa berubah jadi Arkana. 🤔🤔🤔
Riana Utami
puasssss
makanya jangan sok berkuasa 🫤🫤
Lovita BM
kq jd Arkan Oliver namanya, bukanya Liam Oliver ????
Eva Karmita
lanjut otor semangat 🔥💪🥰
Lovita BM
luar biasa
Lovita BM
👍👍👍👍👍💪
Eva Karmita
kita lihat apakah liam mampu merebut hati Mira
Eva Karmita
ya Allah kasihan Mira jadi korban penculikan dan pemerkosaan 🥺
Eva Karmita
percuma menjelaskan Mira lebih baik kamu diam ... biarkan waktu yang berbicara
Eva Karmita
Liam edan main talak" aja ...awas aja nanti kamu menyesal 🥺
Dibalik Senja
Lebih baik diem mira biarkan liam dngn asumsinya krn wlupun kau membela diri dia tdk akan percaya ...talak sdh diucapkan dan mira pasti akan pergi liam tnpa dimintapun
Dibalik Senja
Tdak apa2 dicerai sdh bkn jdohnya jngn dtangisi lebih baik begitu dr pd setiap hari disiksa dan direndahkan....CEO gemblung mainya kekerasan tnpa tau permasalahan merasa pnya dinasti diluar angkasa sungguh awak gemess
N Wage
apa maksud dr paragraf "Di sana,di atas seprai putih bersih yang tertutup beberapa kelopak mawar,tidak ada tanda2 kesucian yang biasanya dst..."

emangnya seperti apa?
N Wage
bukan altar KK...meja akad😊
Lovita BM
👍👍👍💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!