NovelToon NovelToon
Cinta Dalam Dilema

Cinta Dalam Dilema

Status: sedang berlangsung
Genre:Percintaan Konglomerat / Beda Usia / Romantis
Popularitas:24.6k
Nilai: 5
Nama Author: Septira Wihartanti

Rangga melamarnya setelah suaminya meninggal. Mirisnya, Suaminya meninggal karena Rangga. Apakah Arumi dapat bertahan dalam takdir yang seakan sedang berkelakar ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septira Wihartanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Lagi-lagi gagal

Rian pulang ke rumah diantar BMW iXnya Rangga. Dari raut wajah anaknya, Arumi langsung tahu kalau rencana anak sulungnya terhadap Rangga gagal total. Entah apa yang terjadi semalaman.

Tujuan mereka mengerjai Rangga, ya apa lagi kalau bukan untuk membuat Rangga mengurungkan niatnya menikahi Arumi dan akhirnya memilih opsi mempekerjakan Arumi dan Rian di perusahaannya saja. Paling tidak dicarikan posisi yang aman dari konflik, begitu? Apalagi Arumi tidak dalam kondisi yang tepat untuk mengutarakan penolakan. Padahal dia ingin sekali bilang “Berondong bukan selera saya walau pun kamu  ganteng. Kayak pacaran sama anak sendiri.”. takutnya kalau Rangga tersinggung, ia akan serta merta membatasi pendanaannya.

Sekali lagi, ini masalah perut dan kesejahteraan anak-anak.

Siapa yang tidak mau menikmati harta melimpah?

Ujian untuk Rangga lagi-lagi muncul.

Sarapan di atas meja kayu milik Arumi bisa kita nilai bukan sewajarnya sarapan. Tapi temanya sudah ‘makanan pengusir tamu elit’. Wanita itu sengaja menyajikan semur jengkol dengan kuah kental yang aromanya memenuhi seisi rumah, dipadukan dengan sambal terasi mentah dan lalapan pucuk pepaya pahit.

Rian langsung menghentikan langkahnya, ia menyeringai enggan. “Aku mandi dulu, siap-siap ke sekolah.” Gumamnya pelan langsung balik badan. Aryo yang sudah siap dengan seragam sekolahnya nggak jadi nimbrung. Diam-diam dia melipir ke dapur dan mencari indomie yang tersisa di lemari, tanda menyerah sebelum berperang.

"Makan, Rangga. Maaf menunya cuma ini, maklum selera orang desa," ujar Arumi ketus, sengaja menaruh piring berisi jengkol tepat di depan hidung Rangga. Ia menunggu reaksi mual atau setidaknya kernyitan jijik dari pria kota itu.

Namun, Rangga justru duduk dengan tenang. Ia melipat Samsung Z Fold-nya setengah, lalu mulai mencuci tangan di kobokan. "Wah, jengkol? Kebetulan saya lapar," ucapnya tanpa beban.

Arumi terpaku. Rangga menyendok nasi, mengambil potongan jengkol besar, mencocol lalapan ke sambal terasi yang merah membara, lalu mulai makan dengan lahap menggunakan tangan. Tangan kanannya menyuap nasi, sementara tangan kirinya lincah melakukan scrolling di layar ponsel. Tidak ada drama mual. Tidak ada tisu yang menutupi hidung.

Sambil mengunyah, Rangga bicara dengan nada seolah mereka sedang mendiskusikan laporan keuangan bulanan.

"Mbak Arumi, kalau nikah nanti maunya menurut weton atau biasa saja?" tanya Rangga datar. "Saya tadi malam sempat riset kecil, katanya kalau weton kita ketemu angkanya bagus, rezekinya lancar. Mbak tahu weton Mbak apa?"

“Saya... entahlah, nanti dicari dulu.” Suara Arumi terputus-putus karena fokusnya bukan ke weton.  dengan takjub ia menonton Rangga sarapan. Dia sendiri... tidak suka jengkol atau petai. Semua ini ia beli dari warteg di pasar. Tentu saja ada menu ‘normal’ untuk sarapan lain, tapi ia memilih ini dengan harapan Rangga kabur.

Tapi yang ada malah lahap.

"Mau nikah di mana? Di Purwokerto atau di sini saja? Saya pikir sih di sini saja ya, Mbak. Karena dulu kan Mbak dan Mas Ary juga nikah di rumah ini. Lagi pula, nasib kita ini sama, Mbak." Tanya Rangga lagi.

Arumi membeku. "Sama apanya?"

"Sama-sama diberi amanah dari pendahulu," Rangga menatap Arumi sejenak, tatapannya mendalam. "Mbak diberi amanah oleh almarhum istri pertama Mas Ary untuk menjaga rumah dan anak-anak ini. Sementara saya... saya diberi amanah langsung oleh Mas Ary di detik terakhirnya untuk menjaga Mbak. Jadi, rumah ini saksi sejarah amanah kita berdua."

Uhuk! Uhukk! Minum mana minum!!

Suara batuk berjemaah meledak dari arah dapur. Rian dan Aryo yang sedang asyik menyeruput mi instan tersedak hebat mendengar ucapan "Weton" dan "Amanah" yang meluncur begitu lancar dari mulut Rangga di antara kunyahannya.

“Baru saja Tony mengirimkan daftar WO yang direkomendasikan teman-teman saya.” Rangga memutar ponselnya, memperlihatkan katalog dekorasi mewah di layar lipatnya ke arah Arumi. "Mbak pilih saja mau yang mana. Mau tema apa pun saya turuti, asal Mbak nyaman. Oh ya, sambal terasinya enak, Mbak.”

Arumi kini hanya bisa mencebik kesal melihat Rangga.

**

“Waduh, Anda ini apa-apa’an sepagi ini makan semur jengki?” cetus Denny sambil menarik kursi tanpa disuruh. Pintu depan yang terbuka lebar membuat Tony dan Denny bisa langsung melangkah masuk tanpa permisi. Begitu sampai di ruang makan, Tony langsung ambil piring di samping Arumi dan menyendokkan beberapa centong nasi.

“Bu Arumi sudah melihat daftar WO... ah! Ternyata sedang lihat-lihat. Silahkan diamati dengan santai ya bu. Karena ini kan moment sakral. Sambil menunggu ibu, saya numpang makan.” Sahut Tony. Begitu suapan pertama masuk, mata Tony membelalak. "Gila... ini lebih enak dari masakan ibu saya di rumah, Mbak. Sambalnya juara!"

“Kamu bawa draft perjanjiannya?” tanya Rangga ke Denny.

“Untuk apa saya ada di sini? Untuk menginvasi sarapan? Ya jelas untuk mengantar Draft lah...” desis Denny dengan kesal sambil ikut makan pakai garpu dan sendok.

“Dengarkan saya, sambil makan. Kemarin sore muncul gugatan ke kantor saya mengenai aksi boikot di kantor Pak Rangga yang direncanakan diadakan pagi ini. Jadi kalian berdua, makan yang banyak, habis ini jor-joran nahan emosi, soalnya.” Kata Denny.

“Boikot?” tanya Arumi.

“Iya, kami memecat dan melaporkan dugaan tindakan pidana untuk kelima orang sekretaris Junior dari Divisi Corporate Secretary. Menurut bukti rekaman CCTV, mereka yang mencelakai Pak Rangga di malam sebelum kejadian nahas itu terjadi. Sebenarnya kami juga sudah menduga dalangnya, tapi sayangnya bukti untuk si dalang belum lengkap.” Kata Denny.

“Kita udah antisipasi, Pak Rangga sudah instruksikan lebih dulu ke IT dan Humas saat kita dapat laporan mengenai pemulihan CCTV.” Kata Tony.

“Lu, Ton, siapin obat antidepresan dari psikiater. Bakalan banyak cewek seksi angkat-angkat spanduk di lobby. Jangan sampe Boss lu emosi lempar kursi bakso ke arah kerumunan.” Sahut Denny.

“Separah itu phobia Rangga ke cewek seksi?” tanya Arumi dengan mata membesar. “Sampai... lempar kursi?”

Rangga tersenyum enggan, Tony menyeringai geli, dan Denny hanya tarik nafas panjang karena selalu kebagian ‘membereskan masalah’ dari segi hukum.

“Satu langkah saja sepatu mereka melewati karpet ruangan Dirut, BAM!! Melayang itu bantex ke muka...” desis Tony dengan mulut penuh nasi.

“Banyak model baju tertutup di dunia ini, kenapa mereka harus pakai baju kurang bahan di tempat kerja? DI KANTOR loh ini. Bukan Nightclub! Belahan dada kemana-mana! Pingin banget saya selipin petasan di sana!” desis Rangga ngedumel.

Arumi makin melongo mendengar makian Rangga.

“Jangan dipikirkan Bu Arumi. Ini malah suatu keuntungan untuk ibu. Karena Pak Rangga sudah pasti akan setia sepanjang pernikahan kalian.” Kata Denny sambil nambah nasi. Diam-diam habis.

“Tapi kita kan akan menikah, bagaimana kalau suatu saat kamu melihat saya hanya berbalut handuk?”

“Ohok!!”

Kini yang batuk adalah kru bagian depan, orang-orang di sekeliling meja makan. Sementara di dapur, Rian dan Aryo tidak sanggup lagi melanjutkan makan mie dan akhirnya memilih ke ruang tamu dan scroll ig saja sambil nguping.

“Apalagi... ukuran dada saya lumayan besar. Kamu tidak akan menyelipkan petasan di sini kan?!” lanjut Arumi.

Denny angkat tangan, “Gue nyerah, No comment.” Desisnya. Karena kelemahan Denny, juga perempuan.

Tony menunggu jawaban Rangga dengan binar mata bersemangat.

“Kalau saya lakukan itu, apa gunanya untuk saya? Yang saya dapat hanya istri yang cacat karena kelakuan saya sendiri, rugi di saya juga dong?” jawab Rangga sambil berdiri dan berjalan ke arah wastafel cuci tangan.

“Tapi phobia kamu itu-“

“Hanya untuk cewek agresif yang menyerang privasi saya.” Sahut Rangga. “Saya bukan sikopet. 60% karyawati di gedung, pakai rok mini. Sisanya pakai baju tertutup atau bahkan hijab. Terus terang saja saya lebih fokus mendengarkan wanita berhijab presentasi, dibandingkan dengan si Bintang yang sukanya geal-geol nggak jelas, padahal isi presentasinya kosong! Kapan kita pecat dia?! Bekingannya  siapa sih kok susah banget dipecat?!” Rangga emosi lagi.

“Simpenan bapak lu.” Gumam Denny mengingatkan.

“Bapak gue udah almarhum.”

“Ya lu lah yang aksi, masa gue lagi?” gumam Denny sambil bergidik. “Gue sewa aja preman kali ya? Sergap tu cewek di tempat sepi? Masukin karung, cemplungin ke lobang, timbun. Hehehehe.” Tiba-tiba senyum liciknya timbul.

“Lu pengacara Den, bisa-bisanya lo mikirin ide sebrilian gini? Khehehe.”

Obrolan antara Rangga dan Denny jadi semakin absurd. Sementara Tony tampaknya sudah terbiasa dengan keadaan ini. “Mereka hanya bercanda kok bu. Yang beginian kalau nggak diomongin, diobrolin, dicurhatin, bisa jadi kenyataan. Ibu harus mulai terbiasa. Lama-lama menyenangkan kok melihat mereka ngobrol-“

“Sebentar!” Arumi mengangkat tangan sambil mengerutkan keningnya. “Tadi kamu sebut nama. Bintang? Siapa nama lengkapnya?”

Karena nama itu bukan nama yang umum. Makanya Arumi langsung fokus ke kata itu.

“Bintang Dirgahayu.”

“Astaga Ya tuhanku!” desis Arumi sambil berdiri. “Bintang... Dirgahayu?”

Rangga dan Denny saling lihat. “Ya...” sahut Rangga sambil mengangguk. “Mbak Arumi kenal?”

“Dia... karyawan di kantor kamu?”

“Iya.”

“Coba... jelaskan lebih dalam?”

“Memang ada hubungan apa antara Bintang dengan Bu Arumi?” tanya Tony sambil bergantian menatap antara Arumi dengan Rangga.

1
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
aku jadi Arumi mending cuma tau duit nya ajalah🤣🤣🤣
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
kok bisa ya bintang kayak gitu, trauma apa yg membentuk dia seperti itu
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
bintang gak selamanya jadi bintang kan..
Lempongsari Samsung
makasih upnya maddam❤❤❤❤❤❤
HilVi Tanurahardja💋
tonyyyy, no no no no ya☝🏻
HilVi Tanurahardja💋
😆😆😆😆
HilVi Tanurahardja💋
betul, guru jg begitu
HilVi Tanurahardja💋
semoga GK ketemu 2 lagi ya rum, ngeri banget ih
mamaqe
mamaq mumet tau duit ajalah😅🤣🤣
Atala Putri
hadir madam💪 tak tunggu up mu
Naftali Hanania
26thn dah melesat kayak komet 😍👍
Hai Madam....Alhamdulillah nongol lg....hbs liburan ya Madam 💖
Miss F
Rangga pelukable loh rum,,MW rasain g??🤣🤣
Leni Pur indah sari
sudah tergoda belum mba arumi??🤭🤭
𝕭𝖚𝖊 𝕭𝖎𝖒𝖆 💱
weew ... selalu emejing tulisan madam 🤩🤩🤩🤩
Reni
Gimana Rum, Rangga emang se mempesona itu, gk heran banyak demit ganjen berkeliaran di kantor kan? tuh, biang demitnya si Bintang baru aja di amankan🤭
Siti Rohmah
mantap
Eni Istiarsi
kalo mau cari bacaan yang all in ya disini. ini udah kayak ruang publik yang one stop service.dapet hiburan, dapet ilmu, dapet realita hidup
Eni Istiarsi
mulai bergeser penilaian Arumi ke Rangga🤭
Dede Maesaroh
lanjut madam😍
virdarizki / ig vindy yuliana1
recomend banget semua novel kamu ka beda dari yg lain, ga bosen² baca nya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!