Yura, gadis kesepian yang tiba-tiba harus pulang ke desa tempat nenek nya tinggal selama ini. Sang ibu yang akan menikah lagi menjadi salah satu alasan untuk kepindahannya.
Ia tidak banyak bicara, hanya menurut dan mengemasi barang-barang yang akan ia bawa.
Namun siapa sangka, kepindahannya ke desa membuatnya memiliki kehidupan baru yang lebih berwarna. Ia bahkan bertemu dengan gadis yang memiliki nama yang persis sama dengan namanya.
Lantas, akankah Yura berhasil menemukan kebahagiaan walaupun harus hidup berdampingan dengan gadis yang seolah memiliki ikatan dengannya itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nona yeppo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dokter Mark
Namun Yura kembali lagi untuk memberikan ponsel pria itu. "Ponselmu.. " seraya mengambil tangan pria itu lalu meletakkan ponsel nya.
Liam tak berhenti tersenyum. Sebesar apapun badai yang menerpa, jika dihadapannya ada Yura maka tak akan jadi masalah.
Ia lalu mengejar gadis itu dan mengatakan kalau ia tidak bisa tenang makanya tidak pulang semalam.
"Bukan aku yang butuh penjelasan, tapi Yura a.. "
Ia masih sibuk melangkah dan tak ingin dekat-dekat dengan Liam lagi. Namun bukan Liam namanya jika ia dapat tidak mengejar Yura.
"Hahaha, kamu masih berpikir kalau dia menyukaiku? Bukan aku, tapi kakakku.. " ucap Liam sambil mengikuti langkah Yura.
"Terserah.. " Kedua nya segera berpisah setelah tiba didepan kelas Yura.
Pagi ini, pak Don mengumumkan peserta lomba matematika tingkat provinsi. Beliau meminta Yura untuk ikut sebagai perwakilan bersama dengan dua siswa lainnya dari sekolah.
Nanti setelah pulang sekolah, kamu tinggal dulu ya, kita akan belajar sebentar bersama rekan mu yang lainnya.
Lomba ini beranggotakan tiga orang, satu sebagai pembicara dan dua lainnya ikut membantu.
Yura dengan senang hati mengikuti permintaan pak Don. Ia sangat menyukai kegiatan yang berbau tantangan seperti itu.
Setelah bel tanda pulang berbunyi, Yura segera pergi keruangan yang telah sebelumnya diberitahukan oleh pak Don.
Disana telah ada pak Don, dan dua teman lainnya.
"Mohon Dengarkan teman-teman, saya sudah memilih tiga diantara yang terbaik menurut pengamatan saya."
"Jadi untuk kedepan nya, selama sebulan kedepan kita akan meluangkan waktu kita satu jam untuk mengulas kembali soal-soal yang berhubungan dengan lomba nanti. "
"Saya harap kali ini kita dapat lolos setidaknya ke babak semi final nanti " ucap pak Don mengawali pembicaraan nya.
Terlebih dahulu ia mempersilahkan para siswa untuk saling mengenalkan diri. mereka adalah perwakilan dari setiap tingkat kelas masing-masing.
Dan untuk posisi pembicara, kedua siswa itu sepakat untuk menyerahkan nya pada Yura. Pak Don juga setuju. menurut mereka, Yura memiliki kepercayaan diri yang kuat terlebih lagi dirinya berasal dari sekolah elit yang dapat dipastikan pengalamannya lebih mumpuni.
Ketiga nya pun mulai mengerjakan soal yang diberikan oleh pak Don. Hingga tak terasa waktu satu jam begitu cepat berlalu.
Yura dan yang lainnya bergegas pulang ke tempat tujuan masing-masing.
Karena hari sudah gelap, Pak Don menawarkan tumpangan pada ketiga nya, namun serentak ditolak oleh mereka.
"Masih ada bis pak.. " ucap Yura diangguki oleh kedua temannya.
"Baiklah, kalau begitu kita sama-sama berjalan menuju gerbang saja, " ucap pak Don.
"Oh ya Yura, lomba ini diadakan diaula sekolah lamamu. Pasti kamu merindukan sekolahmu kan? "
Yura hanya tersenyum menanggapi pak Don. Dirinya tidak menyangka akan memiliki kesempatan untuk mendatangi sekolah itu lagi.
Sesampainya digerbang sekolah, mereka semua akhirnya berpisah. Tertinggal Yura yang berjalan kehalte sendirian.
Dikepalanya masih terukir dengan jelas bagaimana cara untuk meminta maaf pada Yura. Ia sangat yakin Jika Yura saat ini pasti salah paham padanya.
Terlebih lagi gadis itu tidak menghubungi nya sejak pagi. Jika biasanya gadis cantik itu selalu mengucapkan salam pagi untuknya, dan kali ini sangat berbeda.
Yura merasa kehilangan sekaligus merasa bersalah atas kecerobohan Liam.
Saat sibuk dengan pemikiran nya, sebuah suara mengejutkan telinganya. Suara yang pernah ia dengar namun dirinya lupa siapa nama nya.
Setelah pria itu membunyikan suara klakson mobilnya, barulah Yura dengan cepat mengenalinya sebagai dokter Mark.
"Dokter Mark? mengapa disini malam-malam begini? " Tanya Yura.
dokter itu menjelaskan jika dirinya masih aktif mengikuti sebuah perkuliahan yang dibuka setiap tiga hari dalam seminggu.
"Ayo pulang denganku saja.. " ucapnya dengan ramah.
Namun belum sempat dirinya keluar untuk membukakan pintu mobilnya, Liam muncul entah darimana lengkap dengan pakaian basketnya.
"Maaf pak, Yura lebih menyukai bis.. " ucapnya lalu meraih tangan Yura yang masih kebingungan.
"Bapak kepalamu!, Aku bukan bapakmu... " Kesal Mark.
"Kalau begitu kakak duluan ya ra, kalau yang itu terserah deh, " ucapnya sambil melirik sinis pada Liam.
"Dih,, Modus saja kamu.. . Bukan kakaknya juga.."
Yura yang tangannya masih digenggam oleh Liam segera menariknya membuat pria itu melihat kearah nya.
"Sudah bicara belum sama Yura? " Jika berbicara dengan pria itu, Yura selalu saja merasa waspada.
Jarang sekali jawaban masuk akal yang keluar dari mulut pria itu. Ia selalu jago dalam menaikkan emosi orang lain.
"Udah, aku udah jelasin kalau aku suka nya sama kamu,, "
"Nah benarkan? Memang gila kamu Liam.. "
Yura kesal berakhir dengan menendang lutut pria itu. Sedangkan yang ditendang itu malah tersenyum kesenangan.
"Manis sekali.. "
Ia gemar mengganggu Yura karena ekspresi wajah gadis itu menurutnya sangat lucu ketika sedang marah seperti itu.
"Ra, aku tidak suka dia. itu yang terpenting. Apa itu jadi salahku jika aku tidak membalas perasaan orang lain, ? Kamu juga begitu kan padaku? "
Jawaban Liam akhirnya mau tak mau membuat Yura diam seribu bahasa.
"Baiklah, aku yakin kamu muncul bukan karena kebetulan saja kan? "
Yura masih dengan bahasa nya yang dibuat kesal namun semakin membuat Liam tersenyum sumringah.
"Kamu bertanya karena penasaran saja atau_...
"Tidak ada apapun..! " Yura menjawab cepat setelah menyadari pertanyaanya yang bermakna lain.
Ia segera naik saat mobil berhenti didepannya diikuti oleh Liam dari belakang.
Lagi-lagi Yura melihat tas pria itu tak ada bersamanya. Ia yakin jika Liam pasti menyempatkan diri nya untuk menemui Yura.
"Katanya tidak menyukai nya, tapi kebiasaanya sudah menjelaskan segalanya. "
Yura menggelengkan kepalanya untuk mengusir pikiran buruknya.
"Apa peduliku? Bukankah itu baik untuk keduanya? "batinnya.
"Akhir-akhir ini kamu sudah banyak bicara ra, aku senang.. " ucap Liam.
Ada wajah yang tersipu saat mendengar kan kalimat singkat itu. Perasaan itu murni datang sendiri karena terbiasa, tidak bisa dipaksa bahkan ditutupi.
Yura segera mengalihkan perhatiannya pada foto-foto dirinya dan Steven. Ia menyesali hatinya yang mudah sekali goyah hanya karena pengakuan seseorang.
"Kak, maafkan aku. Aku tidak yakin, debaran dijantungku ini disebabkan oleh perasaanku atau kondisi fisik ku yang sedang tidak baik. "
"Tapi demi Tuhan, aku berharap ini hanya lah kondisi fisik ku yang sedang tidak dalam keadaan baik. "
"Aku tidak akan pernah bisa membayangkan bagaimana jadinya jika aku akhirnya jatuh cinta pada pria yang disukai oleh sahabat ku sendiri. "
Liam yang ada disamping Yura ikut memandangi satu persatu foto yang memenuhi layar ponsel Yura itu.
sebagai seorang laki-laki, ia dapat melihat kebaikan dalam setiap sorot mata Steven. Terbukti dari ciuman dikepala Yura dalam berbagai latar.
"Sepertinya aku perlu belajar darinya.. " ia berucap sambil menutup wajahnya dengan kemeja yang ia kenakan.
"Oh ya, Aku memang sengaja menunggumu, setelah membaca pengumuman lomba itu. " ucapnya masih dalam posisi yang sama.
"Aku juga mampir untuk melihat keadaan Yura.. "
.
.
.
.
Bersambung...