NovelToon NovelToon
Teman Tapi Menikah

Teman Tapi Menikah

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:72.5k
Nilai: 5
Nama Author: elaretaa

Setelah tiga tahun lulus kuliah, Aira merasa hidupnya hanya sebagai beban. Di saat teman-temannya sukses dengan pekerjaannya, Aira harus menerima kenyataan jika hidupnya sangat menyedihkan.

​Di tengah frustrasinya, teman kuliahnya yang paling cuek, tiba-tiba menelepon Aira. Berawal dari obrolan malam dan lamaran yang dikira candaan, teman prianya mendadak muncul di depan rumah Aira bersama keluarga besarnya untuk melamar Aira.

Bagaimana cerita selanjutnya? Apa Aira akan menerima lamaran tersebut? Mengapa pria itu tiba-tiba melamar Aira?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jangan Utang-utang Terus

Ucapan Bu Romlah laksana sembilu yang menyayat tepat di lubuk hati Aira yang paling dalam, membandingkan gelar Sarjana Ekonomi miliknya dengan ijazah SMA milik Pandu adalah pukulan telak pada harga diri yang selama ini ia pertahankan dengan susah payah.

​Aira menarik napas panjang dan mencoba meredam gemuruh di dadanya, tangannya mengepal kuat di dalam saku jaket rajutnya.

​"Nggih, Bu Romlah. Alhamdulillah, yang penting halal dan bisa bantu keluarga," jawab Aira dengan suara yang diusahakan tetap tenang, meski senyumnya terasa begitu kaku.

​Bu Romlah hanya mendengus, membetulkan letak tas anyamannya dengan gerakan yang sengaja dibuat heboh.

"Ya memang halal, Ra. Tapi ya itu, apa gak malu sama tetangga? Kuliah jauh-jauh ke Bandung cuma buat jadi buruh kupas singkong. Ya sudah, saya duluan ya, mau beli lauk. Kasihan Pandu kalau pulang kerja belum ada makanan enak,"

Tanpa menunggu balasan Aira, Bu Romlah melenggang pergi dengan daster batiknya yang berkibar. Aira terpaku di tempatnya berdiri selama beberapa detik dan memejamkan mata, membiarkan angin pagi Semeru menyapu sisa rasa hangat di pipinya akibat menahan malu.

​“Sabar, Aira. Sabar,” gumam Aira.

​Pabrik keripik rumahan milik Bu Rika terletak di ujung desa. Begitu melangkah masuk, aroma singkong goreng langsung menyergap indra penciuman Aira. Ruangan itu riuh oleh suara obrolan ibu-ibu desa yang mengupas singkong, beradu dengan bisingnya minyak panas di wajan raksasa.

​"Eh, Mbak Aira sudah datang. Ini tolong tumpukan singkong yang baru datang dari tengkulak ditimbang dulu, ya," seru Bu Rika dari meja administrasi yang berantakan.

​"Nggih, Bu," jawab Aira cekatan.

​Sebagai lulusan Sarjana Ekonomi, mata Aira sebenarnya sering kali gatal melihat bagaimana Bu Rika mengelola usahanya, semuanya masih dilakukan secara konvensional. Tidak ada pencatatan arus kas yang rapi, strategi pemasarannya hanya mengandalkan titip jual di warung-warung sekitar dan kemasannya pun hanya plastik bening biasa tanpa merek.

​Saat tangannya sibuk memilah singkong, otak Aira justru bekerja menyusun strategi bisnis. 'Kalau saja keripik ini dikemas dengan plastik klip yang kekinian, diberi logo yang menarik lalu dipasarkan ke marketplace atau media sosial, keuntungannya pasti bisa naik tiga kali lipat,' batin Aira.

​Namun, Aira tahu diri. Ia di sini hanyalah buruh harian yang dibayar kurang dari lima puluh ribu rupiah sehari. Menggurui Bu Rika yang sudah belasan tahun menjalankan usaha ini justru bisa dianggap tidak sopan dan berpotensi membuatnya kehilangan satu-satunya mata pencaharian, angan-angan besarnya terpaksa ia telan kembali bersama dengan peluh yang menetes di dahi.

Di mana, Bu Rika terkenal sebagai orang yang tidak suka dengan pendapat orang lain. Salah satu Bu Sri yang pernah memberikan saran agar Bu Rika membuat produk baru yang sedang tren seperti basreng atau urus goreng, sayangnya Bu Sri justru di pecat.

Matahari sudah tergelincir ke barat ketika Aira menyelesaikan pekerjaannya. Hari ini badannya terasa jauh lebih lelah dari biasanya, rasa lelah fisik itu kian bertambah saat ia melangkah masuk ke dalam rumah bambunya dan mendapati sang ibu sedang duduk di dipan ruang tamu sambil memijat lututnya yang bengkak.

​"Ibu kenapa? Kakinya sakit lagi?" tanya Aira panik, langsung berlutut di depan ibunya.

​Ibu Astri mencoba tersenyum, menyembunyikan rasa nyeri yang terpancar dari gurat wajahnya. "Gak apa-apa, Nduk. Cuma kecapekan tadi habis dari sawah. Biasa, penyakit orang tua," jawab Ibu Astri.

​Aira meraih kaki ibunya, memijatnya dengan lembut dan penuh kehati-hatian. Hatinya mencelos, obat sendi yang biasa ditebus di puskesmas sudah habis sejak tiga hari lalu dan Aira belum punya uang sisa untuk membelikannya lagi, gajinya minggu ini sudah habis untuk membayar iuran air bersih desa dan membeli beras.

​"Besok Aira mintakan kasbon ke Bu Rika ya, Bu. Buat beli obat Ibu di apotek kecamatan," ucap Aira telaten.

​"Gak usah, Aira. Jangan utang-utang terus, Ibu nggak mau kamu punya beban pikiran lagi. Dipakai kompres air hangat saja nanti juga mendingan," tolak Ibu Astri lembut, tangannya mengusap rambut putrinya.

​Aira menunduk, menyembunyikan matanya yang kembali berkaca-kaca. Di dalam kamar yang remang, malam itu Aira kembali membuka ponsel retaknya. Di tengah gulita malam pedesaan yang sunyi, ia kembali berselancar di situs-situs lowongan kerja, mengetikkan kata kunci apa saja yang sekiranya bisa memberinya penghasilan lebih layak.

​Aira tidak butuh pekerjaan yang mentereng lagi seperti impiannya saat wisuda dulu. Baginya sekarang, asal bisa membelikan obat untuk ibunya dan membuat mereka makan dengan layak tanpa perlu mendengar sindiran tetangga, itu sudah lebih dari cukup. Namun, layar ponselnya tetap bergeming, tidak ada satu pun panggilan wawancara yang masuk.

​Aira mendekap dadanya yang terasa sesak, ditemani suara jangkrik di luar rumah yang seolah ikut meratapi nasibnya yang kian terhimpit realitas.

Aira membalikkan tubuhnya menghadap dinding, menarik selimut tipisnya hingga sebatas dada. Di luar, suara angin malam Semeru berembus kencang dan menggoyang pohon-pohon sengon di belakang rumah. Di tengah kesunyian itu, terdengar suara batuk kecil ibunya dari kamar sebelah, disusul rintihan pelan yang berusaha ditahan.

​Setetes air mata kembali lolos dari sudut mata Aira, membasahi bantal kapuknya yang sudah mengempis. Ia tidak membenci takdir, ia hanya sedang kelelahan setengah mati memeluk harapan yang tak kunjung berbuah.

"Ya Allah, aku cuma pengen dapat penghasilan yang lebih baik supaya aku bisa bahagian Ibu... Aku nggak mau menyusahkan Ibu terus," gumam Aira.

.

Hari Minggu pagi di desa selalu diawali dengan harmoni yang tenang, suara kokok ayam bersahutan, kepulan asap dapur dari kayu bakar dan bau tanah yang basah oleh embun.

Bagi sebagian besar buruh harian, hari Minggu adalah hari libur yang dinantikan untuk mengistirahatkan otot-otot yang tegang. Begitu pula dengan Aira, karena hari ini pabrik keripik Bu Rika tutup.

​Setelah menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah, mencuci baju, menyapu halaman dan memastikan ibunya sudah meminum jamu rebusan untuk meredakan bengkak di lututnya, Aira duduk di kursi kayu teras rumah. Angin pagi berembus sejuk, membawa aroma pinus dari kejauhan.

​Untuk sejenak, Aira ingin melarikan diri dari realitas kubangan bumbu balado dan singkong. Ia meraba saku jaketnya, mengeluarkan ponsel lamanya lalu jemarinya bergerak membuka aplikasi media sosial yang sudah berbulan-bulan sengaja tidak ia lihat. Ada rasa penasaran, sekaligus ketakutan yang aneh saat layar ponselnya mulai memuat beranda.

​Satu per satu, unggahan dari teman-teman masa kuliahnya di Bandung bermunculan. Layar retak ponsel Aira seolah berubah menjadi jendela menuju dunia lain yang berkilauan.

.

.

.

Bersambung.....

1
Aidil Kenzie Zie
yang nangani Dokter Kandungan malah disuruh periksa lagi di Dokter Kandungan 🤔🤔🤔 mungkin suruh USG kali y🤔🤔🤔
elaretaa: Maaf, salah Kak. Seharusnya dokter umum itu, terus nanti dibawa ke dokter kandungan🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Felycia Fernandez
bukannya tadi di part atas di jelaskan kalau dokter yang keluar dokter wanita spesialis kandungan..
kenapa bisa ada dokter kandungan lagi di dalam..
Felycia Fernandez: semangat revisi kk Thor
total 2 replies
Allfa Rizky
sayang ya Zakia sifatnya plek ketiplek bapaknya
erviana erastus
didunia nyata apa ada suami spti ini? 🤭
erviana erastus
syukurlah semua baik-baik aza
Felycia Fernandez
naaaah bener tebakan ku kemaren, Aira mengalami eklamsia...
Bunga Andthea
sempet deg deg an bacanya
falea sezi
preeklamsia ya 😓
Felycia Fernandez
lho kenapa?? demam kah??
erviana erastus
apa efek anestesi nya sdh hilang dan aira nggak bisa menahan rasa sakit? 🤔
erviana erastus: ho oh
total 2 replies
Felycia Fernandez
jadi ingat waktu kontraksi, sudah sehari 2 malam ngalami kontraksi,tapi mentok di pembukaan 3 terus . akhirnya SC pun dilakukan
Aidil Kenzie Zie
tu si Ibu Ami masih waras nggak mau ganggu Aira 👍🏻
Felycia Fernandez
kesabaran Aira yang punya bapak lucknut dulunya
Felycia Fernandez
lucu 🤣🤣🤣🤣
cari juga la suami kaya...
kalau perlu jadi jalang sekalian
Syifa Fauziah
ulalaaaaaa,,, pagi2 udh gemess liat arsen dan airaa😍🤭.
erviana erastus
omg ternyata adik kandung toh ckckck gila bener .... mau numpang hidup enak sama aira 🤣 nggak waras kek pantes nyusul bpk sama pmnx dipenjara biar rasa
Felycia Fernandez
ternyata darah pak Hilma mengalir deras di tubuh Zakia...
🤣🤣🤣🤣🤣
Felycia Fernandez
Bu Ami beneran sayang Ama Zakia
erviana erastus
licik kek bapakx ckckck 🤬🤬🤬
Felycia Fernandez
ini lagi duo lambe...
mau ikutan juga Bu...
ayo bergosip lagi...
makin sip di tiap warung ...😆
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!