NovelToon NovelToon
Cintaku Mentok Di Kapten Rex

Cintaku Mentok Di Kapten Rex

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Showbiz / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: daehwi25

Cikar Bobrok Berjalan Juga, Kerasnya batu jika selalu diteteskan air akan Berlubang juga, Waiting Tresno Jalaran Soko
Kulino.

Itulah landasan Seorang Nadya Marlynda Sismoko Tetap menancapkan cintanya kepada si kapten tentara tampan nan gagah Rexsaka Pramuja anak dari sopir pribadi keluarganya, Meski Tidak Mendapatkan Balasan yang sama. Ditengah penolakan dan sikap profesionalnya Rexsaka yang menganggap Nadya hanya sebagai nona majikannya, berbagai sarkas yang di lontarkan Rexsaka seolah merendahkan Nadya, membuat Nadya menjauh namun tak kunjung membuat Nadya jenuh untuk menaklukkan dinginnya puncak Everest itu.

" Lo memang cegil sejati Nad, Lo tau betapa dinginnya rexsaka itu, kenapa Lo gak menyerah juga jadi bucinnya sih"

"Asal Lo tau Ris, Cegil Nama tengah gue dan bucin nama belakang gue, gue gak akan menyerah"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon daehwi25, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 7

Mobil hitam itu melaju membelah jalan raya, meninggalkan pelataran markas militer yang kian menjauh di spion. Di dalam kabin, Nadya melipat kedua tangan di dada dengan gurat kekesalan yang tercetak jelas di wajah cantiknya. Ia sama sekali tidak terima dengan tindakan Paman Amar yang menyeretnya masuk ke mobil. Bukan karena perlakuan Amar kasar, pria paruh baya itu tetap memperlakukannya dengan lembut, melainkan karena timing sandiwaranya dirusak begitu saja.

​Padahal, Nadya sudah melihat binar iba di mata prajurit penjaga tadi. Sedikit lagi saja, sang prajurit pasti akan luluh dan bersedia memberikan nomor darurat atau alternatif lain agar ia bisa berkomunikasi dengan Rexsaka. Jujur saja, kerinduan pada pria itu sudah terlampau menyesakkan dadanya, dan andai saja Paman Amar tidak menariknya, ia mungkin sudah selangkah lebih dekat untuk mengikis jarak itu.

​"Hampir saja berhasil, Paman. Kenapa Paman malah menarik Nadya dari sana, sih?" protes Nadya dengan nada bersungut-sungut, melirik sang sopir dari samping.

​Paman Amar tetap fokus menatap jalanan di depan. Pegangannya pada kemudi tampak mengerat. "Lalu, apakah Bapak harus diam saja saat Nona menghancurkan nama baik putra Bapak di tempat kerjanya sendiri?"

​Deg.

​Kalimat itu meluncur tanpa ledakan emosi maupun nada tinggi. Namun, justru karena suaranya yang begitu tenang dan datar, Nadya tahu ada kekecewaan yang teramat dalam di setiap jengkal kata yang diucapkan Paman Amar. Pria itu terluka sebagai seorang ayah.

​Keberanian Nadya seketika mengempis. Lidahnya mendadak kelu untuk melanjutkan pembelaan diri. "Ta... tapi Paman, Nadya hanya... Nadya cuma... ingin bertemu dengan Kak Rex. Nadya hanya merindukannya, Paman," ucapnya lirih sembari tertunduk dalam. Jari-jemarinya bertautan erat di atas pangkuan, meremas satu sama lain seiring dengan rasa bersalah yang kian menghimpit dada.

​Paman Amar tidak menanggapi ucapan itu. Beliau hanya melirik sekilas dari sudut matanya, sebelum kembali menatap lurus ke depan, fokus pada aspal jalanan. Keheningan yang tercipta di dalam kabin mobil mendadak terasa mencekam dan begitu dingin.

​"Paman... marah sama Nadya?" tanya Nadya akhirnya, memecah kesunyian dengan nada suara yang bergetar takut.

​"Apakah Bapak berhak untuk marah, Nona?" Amar menyahut, nadanya begitu datar namun sarat akan penekanan yang menusuk.

"Apakah ada hak bagi seorang bawahan untuk memarahi anak majikannya? Bapak tahu diri, Non. Bapak tahu betul posisi Bapak di rumah ini ada di mana."

​"Paman... maafkan Nadya," bisik Nadya parau.

​Sepasang matanya kini benar-benar memanas, bukan lagi karena akting drama seperti di pos penjagaan tadi, melainkan karena rasa sesal yang teramat sangat. Panggilan ucapan dari mulut Paman Amar terasa seperti tamparan keras yang menyadarkannya bahwa ia telah melangkah terlalu jauh.

***

​Sudah seminggu berlalu sejak insiden menegangkan di markas militer waktu itu, dan sepanjang itu pula Paman Amar tidak lagi berbicara seramah dulu. Sapaan hangat dan senyum kebapakan yang biasanya menghiasi hari-hari Nadya, kini menguap, digantikan oleh sikap formal yang teramat kaku. Sopir kesayangannya itu tampaknya benar-benar kecewa dan marah besar.

​Satu-satunya hal yang masih bisa Nadya syukuri adalah keprofesionalan Paman Amar, pria paruh baya itu memilih mengunci rapat mulutnya dan tidak mengadukan kegilaan adu aktingnya kepada sang ayah. Jika tidak, Nadya tidak bisa membayangkan seberapa mengerikan murka orang tuanya yang akan runtuh menimpa dirinya.

Namun di sisi lain, Nadya tidak bisa terus-menerus hidup dalam kecemasan akibat aksi bungkam Paman Amar. Bagaimanapun caranya, ia harus bisa mengetuk kembali pintu maaf pria paruh baya itu.

​"Haaah..."

​Nadya mengembuskan napas panjang sembari telentang di atas tempat tidur, meratapi betapa jenuhnya ia melewati satu minggu ini dalam pasung isolasi mandiri. Ketakutan mendalam akan kemungkinan berpapasan dengan Arnold membuatnya nekat membolos kuliah. Namun, cowok itu ternyata tidak menyerah begitu saja. Entah dari mana Arnold mendapatkan nomor barunya, pria itu terus-menerus menerornya dengan rentetan panggilan telepon dan pesan-pesan beracun. Meski tak pernah satu pun ia balas atau angkat, teror yang bertubi-tubi itu akhirnya memaksa Nadya mengumpulkan sisa keberaniannya untuk memblokir nomor Arnold, sosok masa lalu yang telah menorehkan trauma teramat berat di lembaran hidupnya.

​Dalam kesendirian yang mencekam itu, bayangan Rexsaka kembali melintas ke permukaan benaknya. Andai saja perwira muda itu ada di sini, Nadya yakin dirinya tidak akan sefrustrasi ini. Memang, Rexsaka sering kali memperlakukannya dengan sikap sedingin es. Namun, hanya dengan menatap pahatan wajah tampannya atau sekadar mendengar berat suaranya, itu sudah lebih dari cukup untuk mengaliri seluruh tubuh Nadya dengan semangat hidup yang baru.

Tiba-tiba, getar dan dering nyaring dari ponsel di atas bantal mengejutkan Nadya. Ia buru-buru meraih benda pipih itu, yang memang baru saja ia aktifkan kembali setelah beberapa saat sengaja dimatikan.

​Begitu melihat nama Riska berkedip di layar, ketegangan di bahunya sedikit merosot. Nadya menempelkan ponsel itu ke telinga. "Halo, Ris... kenapa?" tanyanya dengan nada suara yang kentara sekali malas.

​"Lo ke mana aja sih?! Gue teleponin dari tadi nomor lo nggak aktif terus!" Sambutan ketus dan penuh kekesalan langsung menyalak dari seberang garis telepon, membuat Nadya refleks menjauhkan sedikit ponselnya dari telinga.

​"Sorry, Ris. Ponsel gue emang baru banget diaktifkan. Ada apa lo telepon gue?" tanya Nadya mencoba mencairkan suasana.

​Terdengar helaan napas panjang di ujung sana sebelum Riska kembali bersuara, kali ini dengan nada yang mendadak berubah ceria, seolah rasa dongkolnya barusan menguap begitu saja. "Gue baru dapat tawaran proyek jadi model untuk brand kosmetik ternama, nih. Lo ambil ya, Nad?" tawarnya antusias.

​Sebenarnya, malas sekali rasanya bagi Nadya untuk menggerakkan tubuh sekarang. Jangankan bekerja, beranjak dari tempat tidur saja ia enggan. Menjadi model foto dan iklan selama ini adalah rutinitas yang ia tekuni bukan demi materi, melainkan sebagai bentuk pembuktian diri kepada dunia, terutama kepada seorang Rexsaka Pramuja. Ia ingin membuktikan bahwa dirinya bukan sekadar gadis manja yang hanya bisa berpangku tangan menikmati kekayaan orang tua. Ia ingin Rexsaka melihat bahwa ia mampu berdiri di atas kakinya sendiri.

​Namun kini, di saat sosok yang ingin ia beri pembuktian itu sedang pergi jauh mengemban misi rahasia, gairah Nadya untuk menekuni profesi itu seolah ikut lenyap tanpa sisa. Untuk apa lagi ia berjuang jika sang audiens utama tidak ada di tempat?

​Nadya membalikkan tubuhnya menghadap langit-langit kamar, lalu menyahut lirih, "Gimana ya, Ris... sebenarnya gue lagi malas banget mau ngapa-ngapain sekarang."

​"Lah, Nad? Kalau lo malas, otomatis mampet juga dong uang masuk gue," sahut Riska di seberang sana. Nada bicaranya seketika merosot, berganti riak kecewa yang amat kentara. "Lo tahu sendiri kan gue lagi butuh banget uang sekarang? Kalau lo mogok kerja begini, gue juga gak bakal punya pemasukan, Nad."

​Semua ini bermula dari keisengan Nadya mengunggah rangkaian fotonya di media sosial beberapa tahun lalu. Bagai pucuk dicinta ulam pun tiba, unggahan acak itu rupanya menjadi jawaban atas kegundahan hatinya. Kala itu, Nadya memang sedang mati-matian mencari jalan untuk membuktikan diri kepada Rexsaka, pria teramat kaku yang menghinanya sebagai gadis manja yang hanya bisa berlindung di bawah ketiak orang tua.

​Tak disangka, sebuah brand lokal mendadak terpikat dan menjadikannya bintang iklan utama. Langkah awal itu menjadi batu loncatan yang luar biasa. Sejak saat itu, tawaran kerja terus membanjiri Nadya hingga ia kerap kewalahan dan mutlak membutuhkan seorang manajer untuk mengatur jadwalnya yang kian padat.Di tengah gemerlap dunia hiburan yang penuh kepalsuan, hanya Riska satu-satunya sosok yang paling Nadya percayai. Maka, demi menopang kondisi finansial sahabatnya tanpa harus melukai harga diri gadis itu dengan belas kasihan cuma-cuma, Nadya resmi menarik Riska untuk mengelola seluruh karier modelingnya. Sebuah simbiosis yang tidak hanya menyelamatkan dapur Riska agar tetap mengepul, tetapi juga menjaga kewarasan Nadya di bawah tekanan industrinya.

​"Nad... lo menolak proyek ini apa karena lo masih takut sama Arnold, ya?" tanya Riska hati-hati di seberang sana.

​Sebagai sahabat terdekat, Riska tentu sudah tahu seluruh duduk perkaranya karena Nadya tidak pernah bisa menyimpan rahasia sendirian tanpa mencurahkan isi hatinya. "Lo takut tiba-tiba berpapasan sama dia di luar? Kalau alasannya karena cowok berengsek itu, lo tenang aja. Serahkan urusan itu ke gue. Biar gue yang kasih dia pelajaran kalau dia sampai berani muncul dan ganggu lo lagi," lanjutnya berapi-api, siap pasang badan.

​Nadya kembali mengembuskan napas panjang. Ia perlahan bangkit dari posisi telentangnya, lalu duduk bersila di atas kasur empuknya. "Entahlah, Ris. Sebenarnya bukan cuma karena itu aja, sih. Ini lebih karena mood booster gue, my little T-Rex lagi pergi dinas. Rasanya pasokan semangat gue langsung habis buat ngapa-ngapain."

​Keheningan sempat merayap beberapa detik di seberang saluran telepon, sebelum akhirnya pekikan nyaring Riska memecah udara. "Anjrit, lo, Nad! Gue udah telanjur khawatir setengah mati, ternyata cuma gara-gara itu! Udahlah, pokoknya detail lokasi perusahaannya langsung gue share lock. Kalau lo tetap keras kepala mau menolak, gak apa-apa, biar besok gue balik kerja paruh waktu di kafe lagi!"

​Pip.

​Dengan nada super dongkol yang amat kentara, Riska langsung memutuskan sambungan telepon secara sepihak.

​"Ishhh... dasar! Pasti ngambek lagi nih anak," gerutu Nadya sambil melempar kembali ponselnya ke atas tumpukan bantal.

​Namun, ancaman halus Riska tentang 'kembali kerja di kafe' sukses menyentil hatinya. Sambil mengerucutkan bibir, Nadya mau tak mau menurunkan kedua kakinya ke lantai, melangkah gontai menuju kamar mandi. Ya, pada akhirnya dia mengalah dan menerima pekerjaan itu. Demi Riska, sahabat terbaik yang selalu ada untuknya.

1
falea sezi
uda g lanjut kah thor😕
falea sezi
ada rahasia apa
falea sezi
saka 😒 g tau diri lu ya 😒 coba ayah lu g di tolongin bisa metong dia 😒
falea sezi
bodoh bilang ke orang tua lo bego😒
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!