Di Benua Aldabaron yang dipenuhi sihir, monster, dan teknologi Rune, seorang ronin muda bernama Ryosuke Tagawa kehilangan seluruh keluarganya akibat perang yang dipicu ambisi tersembunyi Empire Krusador. Dalam pengembaraannya, ia menemukan Tenkū Matō, pedang legendaris yang ditempa dari pecahan meteor dan menguasai sihir kegelapan. Bersama katana warisannya, Nichirin-gatana, yang memiliki sihir cahaya, Ryosuke menguasai gaya pedang Hyoho Niten Ichi-ryū. Ketika pasukan Krusador menginvasi Kepulauan Great Sea dengan senjata mengerikan Beast Crust Rune Cannon, Ryosuke harus menentukan pilihan: tetap menjadi pengembara yang menghindari perang, atau bangkit melindungi mereka yang tidak mampu melawan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr.Mounyenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12 — Bayangan di Balik Jeruji
Pagi di Kota Garnisun Valen dimulai jauh lebih awal dibandingkan desa-desa di Green Continent. Bahkan sebelum matahari muncul di balik tembok batu yang mengelilingi kota, suara lonceng pergantian jaga telah bergema dari menara pengawas. Puluhan prajurit berbaris rapi meninggalkan barak untuk mengambil posisi di setiap gerbang, sementara kereta logistik mulai berdatangan membawa peti-peti Kristal Rune, gandum, senjata, dan perlengkapan perang. Bagi penduduk Krusador, pemandangan seperti itu sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Ryosuke berdiri di samping kereta milik Gavin sambil mengenakan pakaian pengawal dan topeng hitam yang menutupi sebagian besar wajahnya. Kedua katana nya masih dibungkus kain kasar dan diletakkan bersama barang dagangan sehingga tidak menarik perhatian siapa pun. Penyamarannya berhasil. Tidak ada prajurit yang mengenali ronin muda yang sehari sebelumnya diusir dari gerbang perbatasan.
"Apa kau sudah siap?" tanya Gavin sambil memeriksa daftar barang dagangan.
Ryosuke mengangguk pelan.
"Hari ini kita mengantar kain dan rempah ke beberapa gudang militer," lanjut Gavin. "Jangan banyak bicara. Para prajurit di kota ini lebih suka bertanya daripada mendengar jawaban."
"Aku mengerti."
Karavan mulai bergerak menyusuri jalan utama kota. Ryosuke berjalan di sisi kanan kereta sambil mengamati keadaan sekitar tanpa membuat gerakannya tampak mencurigakan. Kota Garnisun Valen jauh lebih besar daripada yang ia bayangkan semalam. Di sepanjang jalan berdiri toko pandai besi, gudang logistik, penginapan, dan rumah-rumah batu yang tertata rapi. Namun, kemegahan itu tidak diiringi wajah-wajah bahagia.
Penduduk berjalan dengan kepala tertunduk ketika prajurit melintas.
Seorang anak kecil yang sedang bermain segera dihentikan ibunya begitu suara langkah pasukan terdengar dari ujung jalan.
Para pedagang menundukkan kepala saat petugas militer memeriksa barang dagangan mereka tanpa banyak penjelasan.
Ryosuke mulai memahami bahwa ketakutan tidak hanya dirasakan oleh rakyat Green Continent.
Di negeri ini, rakyat Krusador sendiri hidup di bawah bayang-bayang kekuasaan kekaisaran.
Menjelang siang, karavan berhenti di sebuah gudang logistik yang berada di bagian timur kota. Dari tempat itu, Ryosuke dapat melihat tembok batu tinggi yang mengelilingi kompleks militer. Gerbang besinya dijaga dua lapis pasukan bersenjata lengkap, sementara para pemanah berjaga di atas menara.
Tidak ada seorang pun yang dapat keluar masuk tanpa surat perintah.
Saat para pekerja membongkar barang, Ryosuke sengaja mengangkat beberapa peti menuju halaman depan gudang agar dapat mengamati kompleks tersebut dari jarak lebih dekat.
Ia menghitung jumlah penjaga.
Mengamati arah patroli.
Memperhatikan waktu pergantian regu.
Semua itu ia simpan di dalam ingatan.
Seorang prajurit tiba-tiba menghampirinya.
"Kau pengawal baru?"
Ryosuke menundukkan kepala.
"Benar."
"Jangan berkeliaran."
"Aku hanya menunggu barang selesai diturunkan."
Prajurit itu mendengus pelan sebelum kembali ke posnya.
Ryosuke mengembuskan napas lega.
Sedikit saja ia bertindak gegabah, seluruh penyamarannya bisa berakhir.
Sore harinya, Gavin mengajak seluruh pengawal beristirahat di sebuah rumah makan dekat alun-alun. Tempat itu dipenuhi pedagang yang baru menyelesaikan urusan mereka dengan pihak militer. Seperti biasa, pembicaraan mereka berkisar pada harga barang, pajak, dan keamanan jalur perdagangan.
Namun, setelah beberapa cangkir teh dihidangkan, suara mereka mulai mengecil.
"Aku dengar kompleks timur kembali menerima kiriman tabib dari ibu kota," ujar seorang pedagang.
"Untuk apa?" tanya rekannya.
"Entahlah."
"Katanya hanya untuk memeriksa satu orang tahanan."
Beberapa orang saling berpandangan.
"Satu tahanan?"
"Ya."
"Itulah yang aneh."
Seorang kusir tua ikut menyela pembicaraan.
"Dua hari lalu aku mengantar gandum ke sana."
"Lalu?"
"Aku melihat beberapa tabib masuk dengan pengawalan ketat."
"Biasanya perlakuan seperti itu hanya diberikan kepada bangsawan."
Pedagang lain menggeleng.
"Kalau memang bangsawan, kenapa ditahan?"
"Tidak ada yang tahu."
Suasana kembali hening.
Ryosuke tetap menatap cangkir tehnya agar tidak menarik perhatian, tetapi setiap kata yang didengarnya semakin menguatkan keyakinannya bahwa tahanan itu bukan orang biasa.
Setelah selesai bekerja, Gavin menghampiri Ryosuke.
"Hari ini kau terlihat lebih banyak berpikir."
"Aku hanya mengamati kota."
"Itu bagus."
Gavin menatap ke arah kompleks militer yang terlihat dari kejauhan.
"Kalau kau benar-benar mencari seseorang, jangan bertindak gegabah."
"Di kota ini, orang yang ceroboh tidak akan sempat menyesali kesalahannya."
Ryosuke mengangguk.
"Aku tahu."
Menjelang senja, ketika seluruh anggota karavan mulai kembali ke penginapan, Ryosuke meminta izin kepada Gavin untuk berjalan sebentar.
"Aku hanya ingin melihat keadaan kota."
"Jangan terlalu lama."
"Aku akan kembali sebelum malam."
Dengan langkah tenang, Ryosuke menyusuri gang-gang sempit hingga tiba di deretan bangunan tua yang berada tidak jauh dari kompleks militer. Sebagian bangunan telah kosong karena pemiliknya pindah ke pusat kota. Salah satu di antaranya memiliki lantai dua yang menghadap langsung ke bagian belakang kompleks.
Ryosuke menaiki tangga kayu yang mulai lapuk dengan hati-hati.
Setiap pijakan dilakukan perlahan agar tidak menimbulkan bunyi.
Sesampainya di lantai atas, ia berjongkok di balik jendela yang kacanya telah pecah.
Dari tempat itu, halaman dalam kompleks militer terlihat cukup jelas.
Ia tidak segera bertindak.
Selama hampir satu jam penuh, Ryosuke hanya mengamati.
Ia melihat pergantian patroli dilakukan setiap tiga puluh menit.
Ia melihat regu pemanah berganti ketika matahari mulai tenggelam.
Ia juga menyadari bahwa hampir seluruh penjaga berkumpul di sekitar sebuah bangunan batu dua lantai yang terpisah dari barak utama.
Bangunan itu tidak besar.
Namun, jumlah prajurit yang menjaganya jauh melebihi gudang persenjataan.
"Itu pasti tempatnya..."
Belum sempat Ryosuke menyelesaikan pikirannya, pintu bangunan tersebut perlahan terbuka.
Empat prajurit keluar lebih dahulu.
Di belakang mereka berjalan seorang gadis kecil dengan kedua tangan terikat di depan tubuhnya.
Tubuhnya tampak lebih kurus dibandingkan anak seusianya.
Rambut hitam panjangnya terurai hingga melewati bahu.
Ia berjalan perlahan tanpa mengangkat kepala.
Seorang tabib mengikuti di belakang sambil membawa kotak obat.
Ryosuke tidak berkedip sedikit pun.
Dadanya berdebar semakin keras.
Ketika rombongan itu tiba di halaman, embusan angin membuat rambut gadis tersebut tersibak.
Ia perlahan mengangkat wajahnya.
Meskipun jarak mereka cukup jauh, Ryosuke mengenali wajah itu dalam sekejap.
"Hana..."
Bisikan itu hampir tidak terdengar.
Enam bulan pencarian.
Enam bulan hidup dengan ketidakpastian.
Kini semua keraguan telah menghilang.
Hana masih hidup.
Namun, sebelum Ryosuke dapat melihat lebih lama, para prajurit kembali menggiring gadis itu memasuki bangunan batu. Pintu besi ditutup rapat dari luar, disusul suara gerendel yang dikunci berlapis-lapis.
Ryosuke tetap berjongkok di tempatnya.
Ia memaksa dirinya tetap tenang.
Keinginan untuk segera menerobos masuk begitu kuat, tetapi ia tahu tindakan gegabah hanya akan membuat mereka berdua tertangkap.
Ia telah menemukan Hana.
Itu berarti pencariannya telah selesai.
Kini, yang harus ia lakukan bukan lagi mencari.
Melainkan menyusun rencana yang sempurna untuk membawa adiknya keluar dari Kota Garnisun Valen dengan selamat.
..._BERSAMBUNG _...
cerita nya seru, like + bunga🌹 , semangat😉