NovelToon NovelToon
Kabur Dari Tuan Muda

Kabur Dari Tuan Muda

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Reinkarnasi / Balas Dendam
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Nana

Rania terlahir kembali ke lima tahun sebelum tragedi dalam hidupnya terjadi. Di masa depan setelah ia menikah dengan Arya, Rania dijebak oleh Salsa dan dibunuh tepat di malam pertamanya. Di kesempatan kedua ini, ia akan menghindar dari pernikahan itu agar tidak mengalami nasib yang sama.

Berhasilkah ia kabur dari genggaman sang Tuan Muda dan menghindari takdir kematiannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14. Perubahan Alur

Suasana pesta berubah menjadi tidak terkendali saat Rania dan Feli terjatuh ke dalam kolam secara bersamaan. Yang paling mengkhawatirkan adalah, kolam itu sedalam dua hingga tiga meter dan keduanya terlihat tidak bisa berenang.

Arya yang berdiri di samping kolam belum mengetahui siapa yang terjatuh, ia langsung menceburkan dirinya dan menolong gadis yang paling dekat jaraknya. Setelah meraihnya, Feli tersenyum ke arah Rania karena Arya lebih memilih untuk menolongnya. Rania melihat itu dan merasa kesal, tapi lebih penting untuk selamat terlebih dahulu. Namun tidak ada seorangpun yang turun untuk menolongnya. Kakinya tiba-tiba mengalami kram dan sangat sakit untuk bergerak, tangannya sudah lemas dan beberapa kali ia sudah menghirup air kolam.

Setelah Arya sampai di tepi kolam dan memastikan Feli sudah aman, Ia melihat ke arah gadis yang satunya lagi dan tidak melihat seorang pun.

"Rania tenggelam!" teriakan seseorang membuat Arya menjadi panik. Itu artinya dirinya telah mengabaikan Rania demi menyelamatkan gadis lain.

Dengan segera ia berenang kembali, kali ini ia sedikit menyelam dan di sana Rania perlahan jatuh ke dasar dengan mata yang tertutup dan tubuh yang tidak bergerak sedikitpun. Arya meraih tangan Rania lalu menariknya ke dalam dekapannya, lalu bergegas naik ke permukaan. Tapi gadis itu sudah kehilangan kesadaran sepenuhnya.

Setelah berhasil membawa Rania naik ke atas, Salsa berusaha memberikan pertolongan pertama. Arya pun langsung meraih kunci mobil dan ponselnya.

"airnya sudah keluar tapi kenapa dia masih belum sadar juga?" tanya Salsa kepada Arya yang berjongkok hendak mengangkat Rania.

"bawa barangnya."

Salsa langsung mengambil tas Rania dan mengikuti Arya ke rumah sakit terdekat. Di belakang sana, Dona terlihat mengepalkan tangannya. Namun ia sedikit tersenyum dan berharap Rania tidak akan bisa membuka matanya lagi selamanya.

Saat yang lain hendak pulang karena pesta sudah kacau dan pemilik vila juga sudah pergi, tiba-tiba muncul beberapa penjaga dan melarang mereka pergi. Mereka diarahkan untuk beristirahat di dalam kamar yang tersedia. Sementara Feli nasibnya lebih malang karena setelah merasa di atas awan, kini ia jatuh ke tanah lebih cepat dan lebih keras dari bayangannya. Ia dilarang masuk dan harus menunggu di halaman belakang sampai ada perintah lebih lanjut. Suhu di puncak jauh lebih dingin dari suhu di kota, ditambah gaunnya yang basah kuyup cukup membuatnya beku kedinginan.

.

Di rumah sakit, Arya dan Salsa duduk di kursi tunggu.

"kenapa dia bisa jatuh ke kolam?"

"aku tidak tau, tadi aku meninggalkannya sebentar ke kamar mandi."

Arya sudah menghubungi asistennya untuk mengambil rekaman di kolam. Tapi ia belum berniat membuka videonya sebelum mendengar kabar Rania yang kini tengah ditangani oleh dokter.

Beberapa saat kemudian, dokter keluar dan membuka maskernya.

"kondisinya stabil, tidak ada masalah serius. Cukup beristirahat dengan baik, besok sudah bisa keluar."

"terimakasih dokter," ucap Salsa sementara Arya langsung masuk.

Di sana Rania masih terpejam. Ia masih betah tertidur lelap. Wajahnya putih pucat dan bibirnya juga sama. Infus terpasang di tangannya membuat Arya merasa ngilu sendiri. Ia ingat, Rania paling takut dengan rasa sakit. Tapi hari ini ia mengalami kejadian yang begitu menyakitkan.

"pasti sakit ya?" tanyanya dengan begitu lembut, khawatir Rania akan terganggu oleh suaranya.

Arya mengusap rambutnya lalu mengecup dahinya sebelum ia pergi. Dia menitipkan Rania ke Salsa lalu pergi kembali ke vila untuk mengurus orang-orang di sana. Yang jelas siapapun yang bersalah pasti akan berakhir buruk, karena saat pergi wajahnya terlihat sangat serius. Ekspresinya terlihat sama persis setiap kali ia akan pergi untuk menghabisi lawan bisnisnya.

Malam semakin larut dan cuaca semakin dingin. Feli di tepi kolam hanya bisa memeluk dirinya sendiri. Wajahnya sudah pucat pasi dan bibirnya membiru, beberapa kali ia juga terdengar bersin-bersin. Ia berulang kali memohon kepada penjaga untuk dibiarkan masuk, namun mereka tidak bergerak sama sekali. Lalu beberapa saat kemudian terdengar suara mesin mobil di luar vila. Feli mengintip jam dinding di dalam dan ternyata waktu sudah menunjukkan pukul tiga dini hari.

Mulai dari suara mesin mobil mati, pintu mobil yang terbuka lalu tertutup lagi. Hingga suara langkah kaki yang terus mendekat membuat jantung Feli semakin berdebar. Lalu ia melihat sepasang sepatu yang berhenti tepat di depan pintu. Pintu geser menuju kolam terbuat sepenuhnya dari kaca bening.

Feli mengangkat kepalanya dan melihat wajah Arya yang terlampau dingin. Dengan tergesa ia bangun lalu berjalan tertatih menuju pintu. Ia berharap Arya akan segera membuka pintu lalu memaafkannya. Lagipula dalam pikirannya Arya mahasiswa yang sama dengan lainnya. Tidak mungkin juga pemuda itu akan bersikap terlalu kejam kepada orang lain. Apalagi negara ini ada hukum yang melindungi rakyatnya.

Tapi Arya hanya menatapnya lalu mengeluarkan ponselnya dengan santai. Membuka file video yang tadi sudah dikirim kepadanya. Lalu memutarnya dengan volume penuh.

Sejak ia datang, teman yang lain terbangun semua dan mengintip dari celah pintu kamar tanpa berani keluar karena melihat penjagaan yang begitu ketat. Tentu saja mereka semua bisa mendengar rekaman yang diputar oleh Arya. Bahkan Feli yang berada di luar pun mendengarnya juga.

Setelah itu, ia mematikan ponsel dan memasukkan kembali ke dalam saku. Berjongkok melihat raut wajah Feli yang ketakutan.

"karena dia sangat suka bermain air, masukkan lagi saja ke dalam kolam."

Kalimat itu terdengar begitu tenang namun sangat mengerikan. Dengan sigap, dua orang yang menjaga pintu menuju kolam pun langsung membuka pintu dan keluar untuk menyeret Feli ke dalam kolam. Melemparnya begitu saja bak karung berisi pasir. Karena dilempar dengan cukup kuat, jaraknya kini cukup jauh dari tepi. Ditambah dirinya tidak bisa berenang sama sekali. Kaki dan tangannya bergerak begitu kuat berusaha agar bisa bertahan tanpa tenggelam. Tapi karena suhu yang sudah terlalu dingin dan tubuhnya sudah lemah, ia kehilangan tenaga dan mulai tenggelam secara perlahan.

Melihat pemandangan itu, Arya tersenyum miring merasakan kepuasan membalaskan dendam Rania. Ia berbalik lalu pergi dari vila itu.

"angkat kalau sudah pingsan," perintahnya sebelum melangkah pergi.

Tapi langkahnya kembali terhenti dan menoleh ke salah satu penjaga di sana, "kalau keburu mati, buang saja mayatnya. Di sekitar sini ada banyak jurang dan binatang buas."

Sebuah vonis untuk Feli sekaligus sebagai peringatan untuk semua orang yang menyaksikannya. Tidak ada satupun di antara mereka yang tau kalau Arya bisa bersikap sekejam ini. Setelah Arya pergi, mereka yang berada di dalam kamar kembali masuk dan menutup pintu dengan rapat. Sementara itu Dona terlihat begitu gelisah di balik pintu dan terus menggigit kuku jarinya. Ia takut kalau nantinya Arya akan mengetahui siapa dalang asli dibalik kejadian hari ini. Kalau sampai ketahuan, mungkin nasibnya bisa jauh lebih buruk dari Feli.

Sementara itu di rumah sakit, Rania terbangun dan ia mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Ruangan serba putih dan bau obat yang cukup khas. Lalu tangannya yang diinfus kembali mengingatkannya dengan kejadian yang dulu. Tapi kali ini bedanya adalah, Salsa yang berada di sini menemaninya.

Salsa tertidur di sofa dan terlihat begitu lelap. Saat matahari mulai muncul dan sedikit cahaya menerobos masuk ke dalam ruangan, Salsa mulai menggeliat lalu membuka matanya. Ia melihat Rania duduk di ranjang rumah sakit dan juga sedang memandangnya.

"kamu sudah bangun?" tanyanya dengan begitu terkejut. Ia langsung bangun dan hampir saja terjatuh karena tubuhnya tidak seimbang.

"sudah, siapa yang membawaku ke sini?"

"Arya yang membawamu ke sini," jawab Salsa sambil berjalan mendekat lalu memencet tombol di atas ranjang untuk memanggil dokter atau perawat.

"bukannya dia menolong Feli ya?"

"kan aku sudah bilang kalau dia itu cinta mati sama kamu. Setelah tau kalau kamu yang tenggelam, dia langsung berubah seperti orang kesurupan," ucapnya dengan begitu antusias menceritakan kejadian semalam. Ia mengambil kursi dan duduk di samping ranjang.

"kali ini kita berhasil mengubah takdir, tapi ada kabar buruk juga."

"Feli?"

"ya, Feli meninggal dunia tadi pagi. Aku bertanya langsung ke temanku yang masih tertahan di vila. Katanya ia melihat penjaga membawa mayatnya untuk dibuang ke hutan."

Rania menjadi semakin berfikir keras mengapa efeknya menjadi seperti ini. Terlihat seperti ia menumbalkan orang lain untuk menyelamatkan dirinya sendiri.

"apa aku jahat?"

"tidak, kamu tidak jahat! memang inilah kemungkinan yang akan terjadi jika alurnya berubah. Bukan kamu yang menyebabkan mereka mati, tapi takdir yang mempermainkan kita."

Salsa mengusap punggung tangan Rania.

"diluar dari takdir yang begitu aneh, yang jelas ini juga hasil dari perbuatan mereka sendiri. Mereka meninggal, bukan tanpa alasan. Ada sebab dan ada akibatnya. Paham?"

Rania mengangguk sebagai jawaban untuk Salsa. Lalu dokter beserta perawat masuk dan mulai mengecek kondisi Rania secara keseluruhan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!