NovelToon NovelToon
Kau Milikku Sayang

Kau Milikku Sayang

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / CEO / Single Mom
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: ewie_srt

"siapa namamu?"
xavier menatap lekat bocah 5 tahun itu yang melotot marah kepadanya, bocah laki-laki dengan rambut gondrong ikal sebahu, memegang sebuah rubrik di tangannya.
mata bocah itu mengingatkan xavier pada wanita itu, wanita sialan yang pergi begitu saja.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ewie_srt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

dua puluh dua

Diandra terduduk kelelahan, ia baru saja selesai membersihkan rumah peninggalan ayahnya. Matanya menatap puas, sudah 3 hari dia berkutat membersihkan rumah tua itu.

Diandra melihat dipan panjang di depannya, putranya tertidur kelelahan juga.

Rasa bersalah kembali menerobos hatinya tanpa ampun, seharusnya putranya itu dibesarkan dalam gelimangan harta, namun karena keegoisannya killian harus hidup menderita dengannya di rumah tua yang reot ini.

Diandra memutuskan membuat warung kecil di depan rumah, bagaimanapun tabungannya mulai menipis. Sementara dia dan killian butuh makan dan lainnya.

Kemarin diandra sudah berbelanja bahan untuk membuat teokbokki, diandra berencana menjual makanan korea itu yang sedang diminati banyak orang.

Apalagi sekitar rumah tua milik papanya itu, ada beberapa lokasi tempat nongkrong anak-anak muda.

Diandra hendak bangkit, tiba-tiba killian menggeliatkan tubuhnya, bocah itu mengucek matanya.

"mama, lian lapar" lapor bocah itu dengan suara serak bangun tidurnya.

Diandra menggendong tubuh gempal killian, "makan sendiri yah sayang, mama repot!, tapi lian mandi dulu, boleh?"

Bocah tampan berambut gondrong itu mengangguk, kedua tangannya memeluk leher diandra yang menggendongnya.

Diandra masih terlihat sibuk, namun matanya tak henti mengamati killian yang bermain di dalam kamar yang diandra biarkan terbuka.

Senyum manis sesekali terbit di ujung bibirnya, walau harus melarikan diri dari pria itu, hidup begini pun tak masalah baginya, asal killian selalu bersamanya.

Killian, baginya adalah segalanya. Kenangannya kembali ke masa itu, masa saat ia akan melahirkan killian.

Diandra berjuang antara hidup dan mati, ia sampai menggadaikan rumah papanya ini, agar bisa melahirkan dengan baik, saat itu diandra tak memiliki uang sepeserpun.

Ujung mata diandra basah, teringat saat-saat menyakitkan itu. Ia dihina para tetangganya, yang mengatakan dirinya perempuan nggak jelas, hamil tanpa suami.

Dan syukurnya, ternyata tetangga sekitar rumah papanya sekarang sudah berbeda. Entah kemana mereka, namun kini lingkungannya juga sudah berubah.

"mama...!" teriak killian menyadarkan diandra dari lamunannya.

"mobil yang om xavi beli untuk lian, dimana?"

Diandra mendatangi putranya yang terlihat panik, membongkar boks mainannya.

"kemarin lian letak dimana?"

Kepala bocah itu menggeleng kalut, wajahnya sudah memerah hampir menangis.

"lian ingat-ingat dulu, nak!"

Suara bocah itu sudah bergetar, air matanya sudah jatuh ke pipinya yang gempal.

Diandra berlutut di depan ranjang kayu itu, mengintip kolongnya, bibirnya tersenyum.

Ia meraba sedikit, dan menarik mobilan itu dengan tenang, menyodorkan ke wajah putranya yang langsung cerah.

Mata biru indah milik killian berpendar indah, diandra terkesiap sesaat. Mata biru itu, senyum indah dan rambut ikal putranya, mengingatkan pada pria itu lagi.

Diandra mengibasi lututnya, ia berdiri dan hendak beranjak dari sana, setelah memastikan kalau killian sudah tenang.

"lian main sendiri yah, mama siapin buat jualan kita besok"

Putra baiknya itu hanya mengangguk, lagi-lagi hati diandra terenyuh.

"maafkan keegoisan mama, nak" gumamnya lirih, matanya sendu dan berkaca-kaca.

Diandra dengan cepat memalingkan wajahnya, ia tak mau killian melihat air matanya.

"hhhhhhhhh" desah nafas diandra lega, matanya menatap puas. gerobak jualannya juga terlihat cantik, tadi pagi diantar tukang yang diandra pesan dan sudah diletakan di teras rumahnya.

Bahan-bahannya juga sudah tertata rapi, besok selesai subuh, diandra akan mempersiapkan bumbunya, berarti sekitar jam 10 an, jualannya sudah beres semua.

<<<<<<<<>>>>>>>>

Xavier menghembuskan nafasnya berulangkali, dan terdengar sangat berat. Sudah hampir seminggu, namun belum ada kabar dari orang-orang suruhan roy.

Omanya tadi pagi juga misuh-misuh nggak karuan di rumah. Oma wina bersikeras kalau nanti diandra ketemu, apapun caranya killian harus tinggal bersama mereka.

Sepertinya oma juga sakit hati karena diandra menghilang begitu saja.

Kemarin xavier mencoba peruntungannya lagi, pergi ke rumah itu, namun malah sudah dihuni orang lain.

Xavier kecolongan, pemilik rumah, wanita paruh baya bertubuh tambun itu mengatakan kalau diandra baru sehari yang lalu datang menjemput semua barangnya.

Kesalnya tak terkira sebenarnya, namun xavier harus tenang. Dia tak boleh ceroboh, atau nanti malah kehilangan mereka selamanya.

Barusan xavier mendapat kabar, kalau orang suruhan roy menemukan petunjuk baru. Kalau tak ada kendala mungkin 3 atau 4 hari ini, alamat tepat diandra akan ditemukan.

Xavier sedikit tersentak, ponsel yang baru ia letakkan di atas meja berdering. Matanya memicing, membaca nama yang tertera di layar ponsel.

"aldine.."

Tangannya meraih ponsel itu dan menggulir panggilan ke mode terima.

"ya hallo!"

["xavi..."]

"heumm" sahut xavier mengerutkan keningnya, suara wanita itu terdengar serak.

["aku sakit!"]

Kening xavier semakin berkerut, sejak malam itu sudah seminggu lebih mereka tak lagi bertukar kabar apapun, kenapa tiba-tiba wanita ini meneleponnya dan merengek begini.

["aku tak bisa tidur dan makan sejak itu xavi!"] terdengar suara tangisan yang tertahan.

["aku nggak mau kita putus, aku nggak bisa..."]

"aldine..." panggilnya hati-hati, suara wanita itu di seberang semakin terdengar pilu.

"aku tak bisa menjanjikan apapun padamu, semoga kamu menemukan pria yang—"

["tidaaak..."] teriak wanita itu histeris, suara tangisnya sudah pecah.

["aku nggak mau pria lain, aku maunya kamu, xaviiii"]

Xavier menghela nafasnya, gimana ini caranya membujuk wanita itu, yang sedang menangis histeris.

Masalahnya sudah banyak, kepalanya sedang buntu memikirkan diandra dan killian. Ditambah lagi wanita ini, malah semakin histeris suara tangisannya.

"aldine..." panggilnya lagi, suaranya lembut membujuk.

"bagaimana bisa kita lanjutkan hubungan ini, kalau hatiku pada wanita lain"

["kau kejam, xavi. Kau kejam"] teriak wanita itu, suaranya semakin serak terdengar.

["tak bisakah, kamu mencobanya, kumohon...!"]

"maaf aldine..." geleng xavier pelan, "aku tak bisa"

Panggilan itu diputus sepihak, xavier menatap layar ponselnya lama.

Kasihan sebenarnya, namun apa yang bisa ia lakukan. Hatinya telah dimiliki wanita lain, yang sekarang entah dimana.

"hhhhhhhh" desahnya berat.

"kamu dimana di?"

Xavier menyandarkan tubuhnya di kursi kerja empuk itu, matanya memandangi langit-langit kantornya yang tinggi.

Baru seminggu, namun terasa lebih lama dari 6 tahun rasanya.

"bagaimana kalau diandra pergi, karena perempuan itu tidak menyukai aku?"

Tiba-tiba xavier menegakkan tubuhnya, keningnya berkerut lagi.

"kalau sampai diandra ternyata tak menerima perasaanku ini, bagaimana pun caranya, aku akan mengambil hak asuh killian dari tangannya, aku tak mungkin membiarkan putraku dibesarkan oleh pria lain" gumamnya, perlahan xavier bangun dan berjalan lambat.

Berdiri dengan kedua tangan di saku celananya, menatap langit yang siang itu mendung kelabu, sekelabu hati xavier.

Sejujurnya ia berharap, perasaan yang ia punya ini berbalas. Xavier memiliki keyakinan kalau wanita itu, diandra, juga memiliki perasaan yang sama dengannya.

Semoga saja, diandra di manapun saat ini wanita itu berada, baik-baik saja.

"tunggu aku, di. Aku akan menghampirimu dan memohon maafmu jika perlu"

Bersambung...

1
Sri S
lanjut
Sri S
suka
Sri S
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!