—
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sobat Van, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
Setelah diperlihatkan berbagai tempat di desa, Pak Ranu mengantarkannya kembali ke penginapan. Mereka pun berterima kasih dengan kebaikan Pak Ranu yang sabar menghadapi kelompok mereka.
Selepas kepergian Kepala Desa. mereka duduk leyeh-leyeh karena masih capai setelah mengelilingi desa. Dan mereka sepakat akan memulai kegiatannya besok pagi.
"Ada air hangat gak nih?" tanya Rizky yang sudah siap dengan teh tubruknya.
"Kayaknya gak ada, harus masak air dulu." jawab Rifki
"Yaudah mana airnya?" Rizky kembali bertanya dengan wajah kesalnya.
"Tuh di sumur," tunjuk Rizal pada sumur yang berada di belakang rumah.
"Lo tau ada sumur di belakang? siapa yang mau ambil?"
"Entah." jawab Rizal
"Gua yang ambil," ucap Affan.
Ketika dia berjalan mendekati sumur. dia bertemu dengan pak kepala desa yang sedang berdiri dengan tatapan kosong.
"Eh, ada pak Ranu. ngapain di sini pak?" tanya Affan. namun pak Ranu hanya terdiam tidak menjawab ucapan Affan.
"Tumben diem." batinnya.
Affan sedikit merasa aneh di dekat Pak Ranu, karena dia melihat wajah pak Ranu yang begitu pucat. namun dia berpikir positif dan mungkin Pak Ranu sedang kecapean.
Dia melanjutkan mengambil air di sumur dan langsung kembali ke dalam rumah. sesaat dia mendengar orang berbicara. dan ternyata ada pak kepala desa yang sedang datang mengobrol bersama ketiga temannya.
"Loh Pak Ranu di sini?" batin Affan yang terkejut.
"Kenapa fan. kok muka lo kek orang yang abis lihat penampakan?" tanya Rizal.
Dengan tenang Affan pun duduk di kursi dekat Pak Ranu. dia juga menanyakan maksud kedatangan Pak Ranu dan dia bertanya juga tentang pakaian yang dipakainya.
Karena ketika dia mengambil Air di sumur. Pak Ranu memakai baju putih yang penuh noda lumpur, namun sekarang pakainya sudah di ganti dan itu membuatnya terkejut karena cepat sekali Pak Ranu mengganti pakaiannya.
"Pak Ranu. ada apa ya datang ke sini? oiya cepat sekali bapak ganti bajunya." ucapan Affan membuat Pak Ranu bingung karena dirinya tak pernah merasa berganti pakaian.
"Ganti baju? saya dari pagi pakai baju ini." jawabnya yang membuat Affan terheran dan sedikit kebingungan.
"Kalau pak Ranu gak ganti baju dan ada di sini, yang tadi gua liat di belakang siapa?" batinnya.
Prraanngg!!!
Suara piring yang terjatuh ke lantai itu membuat seluruh penghuni rumah terkejut.
Dengan cepat, Nisa dan kedua temannya langsung datang menghampiri Mifta di dapur. Mereka melihat Mifta yang termenung dengan mata yang terus menatap ke piring yang jatuh.
"Mifta?" Ketiga temannya itu menepuk pundak Mifta yang membuatnya tersadar.
"Ah iya?" Mifta yang langsung menatap wajah teman-temannya.
"Kenapa Mif?" Tanya Zakiya.
"Emm ... gak ada, cuma piring jatuh, tadi tangan ku licin, hehehe." Mendengar jawaban itu membuat ketiga temannya bernapas lega.
Mifta pun langsung membersihkan pecahan piring yang jatuh di bantu Nisa juga kedua temannya.
Mifta masih bingung kenapa dirinya tadi melamun dan ketika dirinya melamun dia tidak mendengar suara apapun.
"Tadi kenapa ya?" batinnya.
Pagi Harinya
Mereka telah berkumpul di tengah lapangan dan segera memulai kegiatannya. Dengan perantara doa, mereka langsung berjalan menuju sekolah dasar yang tak jauh dari lapangan itu.
"Kita ke sekolah dasar dulu nih?" tanya Zakiya.
"Iya. setelah ini kita pergi ke rumah pembuatan gerabah dan lahan pertanian." jawab Rifki yang kembali melihat buku catatan.
Ketika sampai di sana. mereka langsung disambut dengan senyuman hangat dari siswa-siswi dan guru, dan setelah berkenalan mereka langsung ikut mengajar di sana.
"Ini lagi belajar apa?" tanya Zakiya dengan suara besarnya.
"IPS tentang ASEAN kak!" jawab mereka dengan penuh semangat.
"Coba kakak tanya. Negara apa saja yang masuk ASEAN?" ucap Mifta dengan tenang.
"Indonesia ... Malaysia, Singapura ... Jepang!" Seketika semua siswa langsung tertawa mendengar jawaban dari salah satu temannya.
"Sejak kapan Jepang masuk ASEAN?" Rizal yang ikut tertawa mendengar jawaban itu.
"Jepang itu Asia Timur ya, bukan Asia Tenggara." jelas Rifki yang membuat siswa tadi cengar-cengir sembari menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal.
Canda dan tawa pun hadir mengiringi mereka di setiap waktu kegiatan. hingga tak terasa Bel istirahat berbunyi.
Menandakan jam pelajaran telah berakhir. mereka berdelapan langsung ikut pergi bersama siswa-siswi ke luar dan istirahat di kantin.
"Fan. nih minumannya," Affan pun langsung mengambil minuman di tangan Mifta, sesaat dia terpikirkan akan sesuatu.
"Tunggu diakan habis demam, jangan minum es dulu." batin Affan.
Secepat kilat, dia langsung merebut minuman dingin dari tangan Mifta, karena mengingat Mifta yang baru saja sembuh dari demam.
"Fan. aku mau minum, kembalikan!" kesal Mifta.
"Kau baru saja sembuh. dan ingat ... kau punya alergi dingin, kalau kau sakit sekarang, aku yang repot," jelasnya yang membuat Mifta terdiam.
"Memang apa hubungannya dengan lo fan?" tanya Rizal.
"Ya karena dia is ...." ucapannya langsung terhenti mengingat dirinya hampir keceplosan.
"Is apa?" tanya Zakiya dan Syurlina.
Duh ... gua jawab apa?
sad ending ya😢
semangat yah....
jangan lupa mampir balik🙏
lima like kak
salam
Pasangan Terbaikku 😁