Pada malam ketika sebuah bintang jatuh menghantam bumi, takdir sebuah kerajaan berubah selamanya.
Ditemukan di dalam bola perak misterius dan dibesarkan sebagai pangeran, ia dianggap sebagai kegagalan karena tak memiliki mana di dunia yang menjadikan sihir sebagai segalanya.
Namun, di balik kelemahan itu tersembunyi kekuatan kosmik yang jauh melampaui sihir.
Kini, ia hanya ingin hidup normal sebagai siswa Akademi Sihir. Sayangnya, ketika kegelapan mengancam dunia yang telah menjadi rumahnya, pemuda dari bintang-bintang itu tak punya pilihan selain melepaskan kekuatan sejatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dorin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5 – Ritual Terlarang.
Semakin mereka melangkah masuk ke dalam hutan, efek miasma terasa menguat secara drastis. Berbagai bangkai hewan, baik yang berukuran kecil maupun sedang, tampak tergeletak mengenaskan di mana-mana. Kemungkinan besar mereka mati akibat terpapar racun pekat dari kabut tersebut.
Tidak lama kemudian, sebuah mulut gua dengan atmosfer yang teramat mencekam terpampang jelas di hadapan mereka.
Persis seperti apa yang dikatakan oleh Edward sebelumnya.
Bukan hanya itu, kabut miasma berwarna ungu kehitaman terlihat mengalir keluar bagai air, menyelimuti mulut gua dan disinyalir telah memenuhi seluruh bagian dalamnya.
Seorang prajurit terbelalak tidak percaya. “I-ini....”
“Sebuah Dungeon.” potong Jenderal Vermont dengan wajah serius. “Sepertinya tempat ini baru saja terbentuk belum lama ini.”
“J-jadi maksud anda Jendral....”
Jendral Vermont mengangguk pelan. “Ini adalah Dungeon liar.”
Dungeon.
Sebuah tempat terlarang yang dipenuhi oleh monster-monster mengerikan dan berbahaya. Area ini dikenal luas sebagai tempat pembiakan monster secara alami. Fenomena ini terjadi akibat adanya anomali wilayah yang ditenagai oleh Inti Kegelapan.
Inti ini berwujud energi hidup yang bersifat parasit. Ia akan menjadikan sebuah wilayah atau bangunan sebagai inangnya, lalu mengorosi tempat tersebut menggunakan miasma.
Kebanyakan Dungeon terbentuk di dalam gua atau bangunan terbengkalai, meski ada beberapa kasus langka di mana mereka muncul di area terbuka. Dari Inti Kegelapan inilah, monster-monster agresif terus tercipta tanpa henti.
Meskipun merupakan sarang monster, bagi sebuah negara, Dungeon sebenarnya adalah salah satu pilar penopang ekonomi terbesar.
Tempat tersebut merupakan penyuplai mineral berharga yang tak terbatas, gudang harta karun kuno, serta komoditas bisnis yang sangat menguntungkan—khususnya dalam kerja sama dengan Guild Petualang.
Oleh karena alasan finansial itulah, kebanyakan negara lebih memilih untuk memelihara dan menjinakkan Dungeon, daripada harus memusnahkannya.
Namun, keberadaan mereka tetap mendapatkan pengawasan yang sangat ketat di bawah payung undang-undang antar-benua.
Aturannya sangat mutlak.
Tingkat kesulitan Dungeon yang dipelihara sama sekali tidak boleh melebihi Tingkat A.
Selain itu, tempat tersebut harus dibersihkan minimal dua minggu sekali. Hal ini bertujuan agar miasma dan monster di dalamnya tidak meluber keluar dari pintu masuk.
Jika tidak ada Petualang yang membersihkannya dalam kurun waktu dua minggu, maka pihak negara wajib turun tangan langsung untuk menyisirnya.
Dan yang paling krusial, kuota kepemilikan resmi sebuah negara dibatasi maksimal hanya boleh mempunyai tiga Dungeon saja.
Namun, ada kalanya sebuah Dungeon mendadak muncul tanpa peringatan. Kasus inilah yang biasa disebut sebagai Dungeon liar.
Jika ada Dungeon liar yang terdeteksi, negara wajib mengirimkan pasukan militer atau menyewa Guild Petualang untuk segera memusnahkannya secara total.
Akan tetapi, aturan pemusnahan itu hanya berlaku wajib jika negara tersebut sudah memenuhi kuota maksimal 3 Dungeon. Bagi negara yang slot kepemilikannya masih di bawah kuota tersebut, mereka diperbolehkan menyimpannya untuk kemudian dijinakkan menjadi aset baru.
“Apa yang akan kita lakukan, Jenderal? Dilihat dari banyaknya miasma yang keluar, Dungeon ini bukan Dungeon liar biasa,” ucap seorang prajurit dengan nada cemas.
“Kemungkinan besar berada di Tingkat A, atau bahkan bisa lebih tinggi dari itu,” sahut sang Jenderal pelan.
Ia memandang ke arah seluruh prajuritnya. Mustahil untuk membawa mereka masuk ke dalam sana. Saat ini saja, sudah ada beberapa orang yang wajahnya semakin bertambah pucat, padahal efek dari sihir perlindungan suci masih melekat erat pada tubuh mereka.
“Kalian semua, dengarkan aku. Sebagian dari kalian segera laporkan hal ini kepada Yang Mulia untuk mengirimkan pasukan bantuan, dan sebagian lagi evakuasi warga di desa terdekat.”
“A-Anda sendiri bagaimana, Jenderal?”
“Aku akan masuk ke dalam. Seseorang harus segera menyelesaikan ini sekarang juga. Jika dibiarkan begitu saja, miasma ini akan terus menyebar lebih luas,” ujar Jenderal Vermont tegas.
“I-itu tidak mungkin! Kami tidak bisa meninggalkan Anda seorang diri di tempat seperti ini!”
“Diam! Ini adalah perintah! Segera laksanakan apa yang baru saja kuperintahkan, kalian paham?!” gertak sang Jenderal, suaranya menggelegar.
Seluruh prajurit seketika terbungkam.
Meski ada gurat keengganan untuk pergi, perintah dari atasan mereka adalah sesuatu yang mutlak. Lagipula, mereka sadar jika memaksakan diri untuk ikut pun, mereka hanya akan berakhir menjadi beban bagi Jenderal Vermont.
Dengan sangat terpaksa, mereka menuruti keinginan sang Jenderal. Sembari saling menatap satu sama lain, barisan itu segera berbalik dan melangkah pergi, meninggalkan sang Jenderal di belakang.
Jenderal Vermont lalu mengalihkan pandangannya ke arah Edward. “Anda juga, Yang Mulia. Sebaiknya Anda cepat pergi dari sini. Situasinya jauh lebih berbahaya daripada yang kita duga sebelumnya.”
“Apa yang kau bicarakan? Tentu saja aku akan ikut masuk bersamamu,” ucap Edward tiba-tiba.
“Yang Mulia, tolong dengarkan saya!”
Sang Jenderal meninggikan suaranya, napasnya memburu di balik armor yang ternoda debu.
“Lihatlah apa yang ada di hadapan kita... Ini bukan sekadar labirin biasa. Energi sihir sepekat ini... besar kemungkinan ini adalah Dungeon Tingkat S!”
Ia mengepalkan tangannya rapat-rapat, menatap sang penguasa dengan tatapan penuh desakan.
“Justru karena itulah saya menyuruh mereka kembali ke ibu kota untuk meminta bantuan pasukan utama! Tempat seperti ini... terlalu berbahaya untuk Anda, Yang Mulia!”
“Berbahaya atau tidak... aku bisa menilainya sendiri.”
Edward terkekeh pelan, menyandarkan tubuhnya dengan gaya terkesan santai.
“Lagi pula, ancaman sekelas ini masih sangat sanggup kukendalikan dengan mudah. Ketimbang itu, aku justru lebih cemas memikirkan kondisi tubuhmu sendiri, Duke Vermont.”
Senyum tipis di bibirnya memudar dalam sekejap. Dalam sepersekian detik, aura di sekitarnya berubah drastis—dingin dan tajam, menusuk hingga ke tulang.
“Lagi pula... aku mendengar suara teriakan manusia dari dalam sana.”
“S-suara manusia? Itu mustahil, Pangeran. Dengan kabut miasma yang begitu pekat seperti ini, tidak mungkin ada manusia yang bisa bertahan hidup di dalam sana,” sanggah Jenderal Vermont.
“Karena itulah kita harus segera menyelidikinya. Dari nada suaranya saja aku sudah bisa menebak... suara itu dipenuhi oleh niat jahat yang menjijikkan.”
“T-tapi—”
“Sudahlah, ayo masuk. Jika kau takut akan dimarahi oleh Ayahanda nanti, biar aku sendiri yang akan maju untuk memberitahunya,” potong sang Pangeran, yang kemudian melenggang masuk begitu saja dengan santai ke dalam gua yang gelap.
“Argh, sial! T-Tuan Muda, tunggu...!”
Jenderal Vermont hanya bisa berdecak kesal sembari mengacak rambutnya sendiri. Anak dan ayah benar-benar sama saja kalau sudah menyangkut keras kepala.
Tanpa membuang waktu lagi, ia pun segera berlari menyusul Edward yang sudah melangkah jauh ke dalam gua.
***
Di area terdalam gua—tepat di bagian tengah labirin yang merupakan ruang bos—sebuah ritual terkutuk tengah dilangsungkan.
Sebuah lingkaran sihir yang terbuat dari genangan darah segar tampak terlukis besar di atas lantai berbatu. Berbagai macam lilin hitam dan dupa tampak mengelilingi sebuah tumbal pengorbanan berupa mayat seorang lelaki yang sudah terbujur kaku.
Pada bagian perut dan dada mayat tersebut, terdapat pula lukisan lingkaran sihir yang rumit dengan bahan pembuat yang sama.
Seorang lelaki misterius tampak berdiri di sana, merapalkan berbagai bait mantra terlarang dengan suara yang mendayu-dayu. Tato bersimbol aneh dan kuno memenuhi seluruh bagian punggung dan dadanya yang telanjang.
Wush...
Hembusan angin dingin mendadak berembus dari kegelapan, menyapa jilatan api lilin-lilin di sana hingga membuat ruangan remang-remang itu terasa berkedip sesaat.
Lelaki bertato itu seketika terdiam. Ia menghentikan rapalan mantranya, seakan-akan baru saja menyadari suatu presensi yang asing.
Perlahan, sebuah seringai menyeramkan terukir lebar di wajahnya yang pucat pasi.
“Heh, ada tikus yang berani menyelinap rupanya... Waktu yang sangat tepat untuk menguji mainan baruku. Heihehehe....”
Jangan lupa ke naskah aku juga ya