Dikhianati oleh keluarga yang seharusnya menjadi tempat pulang, Arunika kehilangan segalanya dalam satu malam. Difitnah sebagai anak pembawa sial, diusir dari rumah, dan dirampas hak warisnya demi ambisi mereka. Tak ada yang percaya pada tangisnya, bahkan pria yang pernah ia cintai pun memilih berpaling.
Saat hidupnya berada di titik terendah, takdir mempertemukannya dengan Kael Adrian, seorang CEO muda yang dingin, berkuasa, dan ditakuti banyak orang. Di balik sikapnya yang sulit ditebak, Kael justru menjadi satu-satunya orang yang berdiri di sisi Arunika ketika seluruh dunia meninggalkannya.
Namun, cinta mereka tidak datang tanpa harga.
Rahasia besar tentang kelahiran Arunika mulai terungkap. Pengkhianatan keluarganya ternyata hanyalah awal dari konspirasi yang telah disusun selama puluhan tahun. Orang-orang yang dulu membuangnya kini ingin merebutnya kembali, bukan karena penyesalan, melainkan karena sebuah warisan yang mampu mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Winna Yun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab - 13 Cinta di Balik Rahasia
Adrian terdiam beberapa saat setelah mengucapkan kalimat terakhirnya.
Ruangan kembali dipenuhi kesunyian.
Hanya suara angin malam yang menyelinap dari celah jendela dan detak jam dinding yang terdengar pelan.
Tatapan Adrian tidak lagi setajam seorang direktur yang terbiasa memberi perintah. Untuk pertama kalinya, sorot matanya dipenuhi kelembutan yang selama ini ia sembunyikan rapat-rapat.
Ia menarik napas panjang.
"Arunika..."
Suaranya rendah, namun begitu tulus.
"Selama bertahun-tahun aku selalu meyakinkan diriku bahwa tugasku hanya melindungimu."
"Tidak lebih."
"Aku berkata pada diriku sendiri bahwa semua yang kulakukan hanyalah tanggung jawab."
Ia tersenyum tipis, lalu menggeleng pelan.
"Ternyata aku sedang berbohong kepada diriku sendiri."
Arunika menatapnya tanpa berkedip.
Air mata masih membasahi pipinya.
Adrian melangkah mendekat, menjaga jarak yang sopan, seolah tidak ingin membuat Arunika merasa tertekan.
"Aku melihatmu tumbuh."
"Aku melihat bagaimana kamu belajar tersenyum meski sering menyimpan luka."
"Aku melihat bagaimana kamu memilih memaafkan ketika dunia memperlakukanmu dengan tidak adil."
"Dan setiap kali melihatmu bangkit..."
"Aku semakin kagum."
Ia menundukkan kepala sesaat.
"Aku tidak tahu sejak kapan perasaan itu berubah."
"Mungkin saat pertama kali melihatmu tersenyum tanpa beban."
"Atau mungkin saat aku sadar bahwa hal pertama yang selalu kupastikan setiap pagi adalah keselamatanmu."
Adrian mengangkat pandangannya kembali.
"Yang kutahu..."
"Namamu selalu menjadi doa yang diam-diam kupanjatkan."
Arunika menggigit bibirnya pelan.
Tangannya masih menggenggam liontin phoenix di lehernya.
"Aku bukan seseorang yang pandai mengungkapkan perasaan."
"Selama hidupku, aku lebih sering berbicara dengan keputusan daripada kata-kata."
"Tetapi malam ini..."
"Aku tidak ingin lagi menyembunyikannya."
Senyumnya terlihat begitu hangat.
"Arunika."
"Aku mencintaimu."
"Bukan karena siapa orang tuamu."
"Bukan karena masa lalumu."
"Bukan karena rahasia yang selama ini menyelimutimu."
"Aku mencintaimu karena kamu adalah dirimu sendiri."
"Perempuan yang tetap memilih menjadi baik ketika hidup memberinya begitu banyak alasan untuk berubah."
"Perempuan yang masih percaya pada ketulusan meski berkali-kali dikecewakan."
"Perempuan yang tanpa sadar telah mengubah hidupku."
Adrian menghela napas perlahan.
"Selama bertahun-tahun aku hidup hanya untuk pekerjaan."
"Aku terbiasa menghadapi ancaman, mengambil keputusan sulit, dan memikul tanggung jawab yang berat."
"Aku mengira hidupku akan selalu seperti itu."
"Sampai akhirnya aku mengenalmu."
"Kamu membuatku menyadari bahwa ada alasan lain untuk pulang."
"Ada seseorang yang ingin kulihat tersenyum setiap hari."
"Ada seseorang yang kebahagiaannya menjadi lebih penting daripada kebahagiaanku sendiri."
Matanya mulai berkaca-kaca.
"Aku tidak akan memintamu menjawab malam ini."
"Aku tidak ingin cintaku menjadi beban."
"Aku hanya ingin kamu mengetahui satu hal."
"Apa pun yang terjadi setelah ini..."
"Aku akan tetap berada di sisimu."
"Bukan karena kewajiban."
"Bukan karena sebuah misi."
"Melainkan karena hatiku telah memilihmu."
"Aku ingin menjadi tempatmu pulang ketika dunia terasa melelahkan."
"Aku ingin menjadi orang pertama yang menghapus air matamu dan orang yang paling bahagia melihatmu tersenyum."
"Jika suatu hari nanti kamu bersedia membuka pintu hatimu..."
"Aku akan menjaganya dengan seluruh hidupku."
"Bukan dengan janji-janji yang indah."
"Tetapi dengan kesetiaan yang akan kubuktikan setiap hari."
Keheningan kembali memenuhi ruangan.
Arunika menatap Adrian dengan mata yang dipenuhi haru.
Air mata yang kali ini jatuh bukan lagi karena kebingungan.
Melainkan karena ia dapat merasakan ketulusan di setiap kata yang baru saja diucapkan pria di hadapannya.
Dan untuk pertama kalinya, malam itu, senyum tipis yang hangat perlahan menghiasi wajahnya.
Arunika menundukkan kepala.
Jemarinya masih menggenggam liontin phoenix yang menggantung di lehernya, seolah mencari kekuatan dari benda yang selama ini menemaninya.
Keheningan kembali menyelimuti ruangan.
Adrian tidak memaksa.
Ia hanya berdiri tenang, menunggu apa pun yang ingin Arunika katakan.
Beberapa saat kemudian, Arunika mengangkat wajahnya.
Matanya masih basah, tetapi kini sorotnya jauh lebih tenang.
"Pak Adrian..."
Suaranya lirih.
"Terima kasih."
Adrian tersenyum tipis.
"Karena sudah jujur."
"Karena sudah menyampaikan semua ini kepadaku."
Arunika menarik napas panjang sebelum melanjutkan.
"Tapi... aku belum bisa menjawab perasaan Bapak."
Kalimat itu terdengar lembut.
Tidak ada penolakan yang menyakitkan.
Tidak pula ada harapan yang diberikan secara mudah.
Hanya sebuah kejujuran.
"Aku bahkan baru mengetahui siapa diriku malam ini."
"Duniaku seperti baru saja berubah."
"Aku masih berusaha memahami semuanya."
Ia menatap Adrian dengan mata yang sedikit bergetar.
"Dan... sejujurnya..."
"Aku juga belum benar-benar mengenal Bapak."
"Aku tahu Bapak selalu muncul di saat-saat penting."
"Aku tahu Bapak selalu melindungiku."
"Tapi aku belum mengenal siapa Adrian... sebagai seorang manusia."
"Bukan sebagai direktur."
"Bukan sebagai orang yang selalu terlihat kuat."
"Melainkan... Adrian yang sesungguhnya."
Adrian terdiam.
Ia memahami setiap kata yang diucapkan Arunika.
Tidak ada sedikit pun rasa kecewa yang terpancar di wajahnya.
Justru senyum tipis kembali menghiasi bibirnya.
"Itu jawaban yang sangat adil."
Arunika menggeleng pelan.
"Aku tidak ingin menerima seseorang hanya karena sedang rapuh."
"Aku juga tidak ingin menolak seseorang yang mungkin benar-benar tulus."
"Aku ingin membuat keputusan ketika hatiku sudah tenang."
Air mata kembali menggenang di pelupuk matanya.
"Bisakah..."
Ia berhenti sejenak.
Lalu menatap lurus ke mata Adrian.
"Bisakah Bapak menungguku?"
"Beri aku waktu."
"Waktu untuk mengenal diriku."
"Dan..."
"Mengenal Bapak."
Ruangan kembali sunyi.
Adrian memejamkan mata sejenak sebelum mengembuskannya perlahan.
Ketika membuka mata, tatapannya dipenuhi kehangatan.
"Tentu."
"Aku akan menunggu."
"Selama yang kamu butuhkan."
"Bukan karena aku yakin akan diterima."
"Tetapi karena menurutku, perasaan yang tulus memang tidak seharusnya terburu-buru."
Arunika tersenyum kecil.
Untuk pertama kalinya malam itu, senyum itu tidak dipenuhi kepedihan.
Melainkan secercah harapan.
Adrian mengambil satu langkah mundur.
"Kalau begitu..."
"Istirahatlah."
"Besok akan menjadi hari yang panjang."
Ia berbalik menuju pintu.
Tangannya sudah menyentuh gagang ketika suara Arunika menghentikannya.
"Pak Adrian..."
Adrian menoleh.
Arunika tersenyum tipis.
"Terima kasih..."
"Bukan hanya karena telah menyelamatkanku."
"Tetapi karena sudah bersedia menunggu."
Adrian mengangguk pelan.
"Itu sebuah janji."
Klik.
Pintu kamar tertutup perlahan.
Arunika berdiri memandang pintu yang kini telah kembali sunyi.
Tanpa disadarinya, jemarinya menyentuh bibirnya sendiri, mengingat setiap kata yang baru saja diucapkan Adrian.
Di sisi lain lorong, Adrian berjalan perlahan.
Namun sebelum mencapai ujung koridor, langkahnya mendadak terhenti.
Earphone komunikasi di telinganya menyala.
Suara Raka terdengar tergesa-gesa, nyaris tertutup deru gangguan sinyal.
"Direktur... mereka bergerak lebih cepat dari perkiraan."
Adrian langsung menghentikan langkahnya.
Raut hangat yang tadi menghiasi wajahnya lenyap seketika, digantikan ketegasan yang selama ini dikenal semua orang.
"Apa yang terjadi?" tanyanya pelan.
"Tiga kendaraan hitam baru saja memasuki area. Target mereka diduga Arunika. Tim Delta sudah bersiap, tapi..." suara Raka terputus sesaat.
"...kami menemukan lambang phoenix hitam di lokasi."
Mata Adrian menyipit tajam.
"Itu tidak mungkin..."
Belum sempat ia memberi perintah, alarm darurat di seluruh gedung tiba-tiba berbunyi, memecah keheningan malam.
Di dalam kamar, Arunika terkejut saat liontin phoenix di lehernya mendadak memancarkan cahaya merah.
kurang penekanan emosi yang mendalam
konflik dan kelanjutan bagus tapi kurang di bedakan
ada beberapa kata yang kurang baku
tidak ada poin unik yang langsung menonjol di awal
Dikhianati oleh orang yang seharusnya melindunginya, Arunika kehilangan segalanya dalam satu malam. Difitnah pembawa sial, diusir ke jalanan, dirampas hak warisnya demi ambisi keluarga—bahkan orang yang dicintainya pun berpaling tanpa belas kasih.
Di titik terendah hidupnya, ia bertemu Kael Adrian: CEO muda yang dingin, berkuasa, ditakuti semua orang, namun satu-satunya yang berdiri teguh di sisinya saat dunia meninggalkannya.
Namun cinta mereka tak mudah. Rahasia kelahiran Arunika yang terungkap perlahan membongkar konspirasi puluhan tahun tersembunyi. Orang yang dulu membuangnya kini kembali mengejarnya—bukan karena menyesal, melainkan demi warisan luar biasa yang tersembunyi dalam darahnya.
Akankah ia bangkit dan membalas setiap tetes air mata serta pengkhianatan itu?