Setara untuk segala bibit, bebet, bobot dan kedudukan adalah aturan tak tertulis namun paten dalam pernikahan para bangsawan.
Kerajaan memiliki aturan ketat soal pernikahan, selain harus setara maka hubungan pernikahan harusnya memiliki keuntungan untuk kerajaan. Seperti memperkuat wilayah kerajaan atau membangun relasi yang lebih luas.
Tapi apa jadinya, jika pangeran mahkota memilih calon istrinya sendiri demi memperkuat kekuatan kedudukannya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnaDww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cinta Pertama
Noah melangkah santai menyusuri aula yang mulai sepi. Sudut bibirnya terangkat tipis.
Ekspresi Lilly tadi benar-benar menghiburnya.
“Wah… sudah lama aku tidak melihat Pangeran Noah tersenyum seperti itu.”
Suara perempuan itu membuat langkah Noah berhenti.
Viviane berdiri bersandar di salah satu pilar aula. Gaun satin ungu pastel masih membalut tubuh rampingnya dengan elegan. Rambut hitam panjangnya terurai rapi, kontras dengan kulit pucat bak porselen. Tujuh tahun berlalu, tetapi Viviane tetap menjadi salah satu wanita paling memikat yang pernah Noah kenal.
“Kapan kau kembali?” tanya Noah datar.
“Belum seminggu.” Viviane mendekat perlahan. “Dan aku langsung disambut berita paling mengejutkan tahun ini.”
Noah sudah bisa menebak arah pembicaraannya.
Viviane menyunggingkan senyum tipis.
“Pangeran Mahkota Vardoria akan menikahi rakyat jelata.”
Noah malas menanggapi. Ia kembali berjalan, tetapi Viviane tetap mengikutinya.
“Atau lebih tepatnya…” lanjut gadis itu santai, “menikahi cinta pertamanya yang dulu menolaknya mentah-mentah.”
Langkah Noah terhenti sepersekian detik.
Viviane terkekeh kecil penuh kemenangan.
“Aku masih ingat wajahnya. Mata hazel, rambut berantakan, kacamata bulat itu…” Ia memiringkan kepala pelan. “Lillyane Jones ternyata berubah cukup cantik.”
Noah melirik tajam.
“Kau masih membencinya karena Frankie?”
Senyum Viviane langsung memudar.
“Itu tidak perlu dibahas.”
“Frankie yang menyukai Lilly, bukan sebaliknya.”
“Dan itu tetap menyebalkan.”
Noah tertawa kecil.
Entah kenapa, setelah bertemu Lilly lagi malam ini, semuanya terasa seperti kembali ke masa sekolah.
Viviane ikut bersandar di sampingnya. Aula megah yang tadi dipenuhi musik kini sunyi. Para pelayan sudah membereskan meja dan dekorasi pesta, meninggalkan gema langkah kaki mereka di ruangan luas itu.
“Aku sungguh tidak menyangka dia ada di sini,” gumam Noah pelan.
“Mungkin tuntutan pekerjaan.” Viviane mengangkat bahu. “Berbeda dengan kita yang hidup nyaman sebagai bangsawan.”
Nada suaranya terdengar ringan, tetapi Noah tahu Viviane selalu membenci hidup dalam kandang emas.
“Kenapa kau masih di sini?” tanya Noah.
“Ayah dipanggil Raja.” Viviane memutar bola matanya malas. “Kurasa karena ulah kalian berdua.”
Noah menghela napas pelan.
“Lilly tidak sengaja.”
“Tentu saja.” Viviane mendengus. “Mana mungkin Lillyane Jones sengaja mencium Putra Mahkota di depan seluruh bangsawan Vardoria.”
Noah terkekeh pelan.
Ia tahu itu benar—Lilly bukan gadis seperti itu.
“Jadi?” Viviane menoleh padanya. “Apa rencanamu sekarang?”
Noah diam beberapa detik sebelum menjawab singkat,
“Aku akan menikahinya.”
Viviane langsung tertawa.
Bukan karena terkejut.
Lebih seperti seseorang yang akhirnya mendengar jawaban yang sudah ia duga sejak awal.
“Dan kau pikir ayahku akan diam saja?” tanyanya pelan.
Noah menyunggingkan senyum tipis.
“Kurasa tidak.”
“Ayah sudah merencanakan pernikahan politik kita sejak lama.” Viviane mendecakkan lidah. “Dan jujur saja, aku benar-benar tidak mau menikah denganmu.”
“Kita sepakat soal itu.”
Viviane dan Noah terlalu mengenal satu sama lain untuk menjadi pasangan. Semenjak kecil aturan kebangsawanan membuat keduanya saling mengenal, bisa disebut seluruh hidup mereka. Mereka sering berhadapan sebagai kawan dan lawan daripada pasangan.
Noah terlalu terikat pada kerajaan.
Sementara Viviane selalu ingin hidup bebas.
“Kalau begitu semoga kau siap perang dengan para menteri besok pagi.” Viviane mendorong tubuhnya menjauh dari dinding. “Karena mulai malam ini, Lillyane Jones resmi menjadi masalah kerajaan.”
Langkah kaki lain terdengar mendekat. Yuan Albert— Ayah Viviane. Berada di sisi lain sisi lorong depan keduanya. Suara gema sepatu pantofelnya terdengar nyaring.
Pria berkumis itu memberi hormat singkat sebelum menatap Noah dengan senyum diplomatis yang terlalu sempurna. Tak ada yang pernah bisa menebak pria berkumis itu.
“Yang Mulia Pangeran.”
“Tuan Albert.”
Tuan Albert tersenyum tipis. Ia terlalu tenang untuk ukuran pria ambisius. Pandangan mereka bertemu dengan senyum yang tipis penuh kesopanan.
“Saya hanya ingin mengingatkan…” suara pria itu tenang, “berhati-hatilah dalam mengambil keputusan.”
Noah membalas tatapannya tanpa gentar. Senyumnya samar penuh kesopanan juga.
“Aku selalu berhati-hati.”
“Bagus.” Tuan Albert tersenyum tipis. “Karena satu keputusan gegabah dapat menghancurkan banyak hal.”
Noah hampir tertawa kecil. Tak ada ancaman terang-terangan. Tetapi pria itu memang selalu pandai menyembunyikan pisau di balik tutur kata sopan.
“Hati-hati di jalan, Tuan Albert,” ucap Noah santai. “Malam kadang terlihat tenang… sampai kita menyadari ada lubang di depan.”
Mata keduanya bertemu sesaat. Lalu Tuan Albert tersenyum tipis.
“Akan saya ingat, Yang Mulia. Kami undur diri," pamitnya sopan.
Setelah mereka pergi, Noah akhirnya kembali ke kamarnya.
Ruangan luas bernuansa putih dan emas itu terasa terlalu sunyi malam ini.
Langkah Noah berhenti di dekat jendela besar yang tertutup gorden keemasan.
Di sana, di atas meja kecil dekat tirai keemasan, sebuah buket mawar kering tersimpan rapi dalam tabung kaca.
Noah memandangnya lama.
Sangat lama.
Bunga itu berasal dari hari terbodoh sekaligus paling berani dalam hidupnya. Hari ketika ia menyatakan cinta pada Lillyane Jones.
Dan ditolak.
2017
Musim panas di Diamond High selalu berisik.
Sorakan para siswi memenuhi lapangan basket, bercampur suara sepatu yang berdecit di atas lantai kayu. Nama Noah berkali-kali diteriakkan dari tribun penonton.
Noah tidak terlalu peduli.
Ia sudah terbiasa menjadi pusat perhatian sejak kecil.
“Lihat itu,” salah satu temannya menyenggol bahu Noah sambil tertawa. “Para penggemarmu makin menggila.”
Noah mengikuti arah pandang mereka.
Beberapa gadis memegang huruf besar membentuk namanya.
N — O — A — H.
Norak.
Tetapi yang membuat Noah memperhatikan justru bukan gadis-gadis bangsawan itu.
Melainkan seorang gadis berkacamata bulat yang berdiri paling pinggir sambil memegang huruf N dengan wajah datar.
Lillyane Jones.
Noah mengenalnya.
Gadis penerima beasiswa yang terlalu serius, terlalu tenang, dan selalu menghindari keramaian.
Aneh.
Karena Lilly terlihat seperti dipaksa berada di sana.
Begitu pertandingan selesai, gadis itu langsung meletakkan huruf karton di kursi penonton lalu pergi begitu saja.
Noah bahkan belum sempat minum ketika langkahnya refleks mengikuti Lilly.
“Yang Mulia! Air minumnya!”
Ia mengabaikan suara teman-temannya.
Langkah Lilly membawanya ke taman belakang sekolah.
Tempat favorit gadis itu.
Noah sudah hafal.
Lilly selalu duduk di sana sepulang sekolah sambil membaca atau sekadar memandangi langit sore.
Dan entah sejak kapan…
Noah mulai memperhatikan kebiasaan kecil itu.
“Pangeran, bunganya.”
Seorang pelayan kerajaan menyerahkan buket mawar merah yang tadi Noah pesan diam-diam.
Jujur saja, Noah tidak pernah melakukan hal seperti ini sebelumnya. Ia bahkan merasa sedikit bodoh.
"Pergilah."
Tetapi ketika melihat Lilly duduk sendirian di bawah pohon musim panas itu… keberanian Noah muncul begitu saja.
“Lillyane.”
Gadis itu menoleh cepat lalu buru-buru berdiri.
“Salam, Yang Mulia Pangeran.”
Formal sekali. Dan Noah membenci jarak itu. Ia melangkah mendekat.
Lalu, sebelum sempat kehilangan keberanian—
Noah berlutut di hadapan Lilly. Menyodorkan bunga mawar itu.
“Aku menyukaimu.”
Angin musim panas berhembus pelan. Rok seragam Lilly bergerak tertiup angin.
Tetapi gadis itu diam terlalu lama.
Noah mulai gugup.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya…
ia takut mendengar jawaban seseorang.
“Maaf, Yang Mulia.”
Suara Lilly sangat pelan.
Dan entah kenapa, itu terdengar lebih menyakitkan daripada teriakan.
“Ini tidak sepantasnya.”
Lilly membantu Noah berdiri. Tetapi ia tidak menerima bunganya. Tidak juga tersenyum. Terlalu tenang dan datar untuk ukuran seorang gadis yang baru saja menolak pewaris tahta.
“Permisi.”
Lalu gadis itu pergi begitu saja. Meninggalkan Noah berdiri sendirian dengan buket mawar di tangannya.
Keesokan harinya, Lillyane Jones pindah sekolah. Seolah ingin menghapus segala jejaknya dari Noah. Tanpa memberi kesempatan pada pemuda itu—
kenapa.
***