NovelToon NovelToon
ILUSI HANGAT

ILUSI HANGAT

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Crazy Rich/Konglomerat / Mengubah Takdir
Popularitas:705
Nilai: 5
Nama Author: zayyana

"Elian sengaja menciptakan neraka, hanya agar ia bisa menjadi satu-satunya surga tempat Lyra bersandar."

Menyembunyikan kecantikan di balik sikap tertutup adalah cara Lyra Anya Cassandra bertahan hidup di SMA Elit Gava. Statusnya sebagai siswi yatim piatu penerima beasiswa menuntutnya untuk tidak terlihat.

Namun, sebuah kotak bekal siang yang sederhana menghancurkan seluruh pertahanannya.

Lyra mendadak menjadi target perundungan yang kejam. Di tengah keputusasaan itu, hanya Elian cowok paling berpengaruh di sekolah yang bersedia menjadi pelindungnya.

Lyra mengira itu keberuntungan, tanpa tahu bahwa Elian sendiri yang menyalakan api neraka demi memaksanya datang kepelukan elian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zayyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Aroma Mentega dan Doa Nenek

Langkah kaki Lyra Anya Cassandra terasa begitu ringan saat ia menyusuri trotoar jalanan kota yang mulai dinaungi semburat jingga senja. Map cokelat tebal berisi lembar pengumuman kelulusan beasiswa itu masih dipeluknya dengan sangat erat di dada, seolah benda mati itu adalah bongkahan berlian yang bisa menguap jika terkena embusan angin sore. Setiap kali matanya melirik ujung map tersebut, sebuah senyuman tipis tanpa sadar terukir di bibir manisnya.

Begitu ia berbelok di sebuah tikungan gang yang jalannya sedikit menyempit, indra penciumannya langsung disambut oleh sebuah gelombang aroma yang sangat familier. Aroma manis, gurih, dan pekat dari mentega yang meleleh di dalam oven, beradu sempurna dengan wangi kayu manis serta esens vanila yang hangat. Bagi Lyra, wangi ini adalah wangi terbaik di seluruh dunia. Aroma yang selalu berhasil menghalau segala jenis kabut kesedihan atau rasa lelah dari kepalanya.

Di sanalah rumah sekaligus pelabuhan kecilnya berdiri. Sebuah bangunan satu lantai berarsitektur tua dengan papan nama kayu yang catnya sudah sedikit mengelupas di beberapa sudut, bertuliskan “Toko Kue Tradisional Nenek”. Toko itu memang tidak mewah seperti toko waralaba modern di pusat perbelanjaan, namun etalase kaca besarnya selalu dibersihkan hingga berkilau tanpa noda. Di dalam etalase tersebut, berjejer rapi baki-baki berisi kue sus dengan isian vla yang penuh, bolu gulung cokelat yang lembut, hingga kue-kue tradisional berwarna-warni yang menggugah selera.

Tring!

Bunyi lonceng kuningan kecil yang menggantung di atas pintu berdenting nyaring saat Lyra mendorong pintu kaca toko tersebut.

Di balik etalase, seorang wanita tua dengan rambut yang seluruhnya telah memutih dan disanggul rapi ke belakang sedang sibuk. Kedua tangan tuanya yang tampak sedikit gemetar dengan cekatan menata beberapa potong kue bolu ke dalam kotak kardus kemasan. Garis-garis keriput yang dalam di sekitar matanya sama sekali tidak meredupkan binar mata yang selalu memancarkan keteduhan luar biasa. Wanita tua itu mengenakan celemek kain bermotif bunga-bunga kecil yang warnanya sudah agak memudar akibat terlalu sering dicuci. Dialah Nenek, satu-satunya sosok orang tua, pelindung, dan jangkar hidup yang Lyra miliki di dunia ini setelah kedua orang tuanya tiada dua tahun yang lalu.

"Nenek! Lyra pulang!" panggil Lyra dengan nada suara yang sengaja dinaikkan satu oktav, tidak mampu lagi membendung letupan rasa bahagia yang sedari tadi bergejolak di dalam dadanya.

Nenek seketika mendongakkan kepalanya, menghentikan aktivitas melipat kardus kue yang sedang dilakukannya. Sebuah senyuman hangat dan tulus langsung merekah di wajah sepuhnya yang letih saat melihat cucu kesayangannya telah kembali. "Eh, cucu Nenek yang paling cantik sudah pulang rupanya," ucap Nenek dengan nada suara yang lembut memanjakan, sambil menyeka sisa peluh di dahinya menggunakan ujung celemek kainnya. "Bagaimana acaranya di sekolah tadi, Sayang? Ramai?" tanyanya kemudian.

Lyra tidak langsung menjawab pertanyaan tersebut. Gadis itu justru berlari kecil memutari meja etalase kaca yang memisahkan mereka, lalu tanpa permisi langsung menghambur memeluk tubuh ringkih Nenek dari arah belakang. Ia menyandarkan dagunya di atas bahu Nenek yang terasa empuk dan selalu terbalut oleh sisa-sisa aroma tepung terigu. "Sangat ramai, Nek! Seragam SMP Lyra sampai habis tak bersisa dicoret-coret menggunakan spidol oleh Nadia, Febby, dan Dhea," jawabnya sambil terkekeh pelan, memejamkan mata menikmati rasa aman yang selalu menguar dari tubuh sang nenek.

Nenek mengusap lembut kedua tangan Lyra yang melingkar erat di dadanya, ikut tertawa kecil mendengarnya. "Dasar anak-anak zaman sekarang, seragam bagus kok malah dikotori," sahut Nenek dengan nada pura-pura mengomeli, walau tangannya terus mengusap punggung tangan cucunya. "Lalu... Nenek perhatikan dari awal masuk pintu tadi, ada yang sedang memeluk erat-erat map cokelat. Kertas apa itu yang dari tadi tidak mau kau lepaskan, hmm?" tanya Nenek lagi dengan nada penuh selidik yang jenaka.

Dengan senyuman lebar yang memamerkan lesung pipit kecil di pipi kirinya, Lyra perlahan melepaskan pelukannya. Ia berjalan memutari Nenek hingga kini mereka berdiri berhadapan, lalu menyerahkan map cokelat tebal itu ke dalam genggaman tangan Nenek. "Buka sendiri dong, Nek. Ini adalah hadiah kelulusan paling spesial yang bisa Lyra berikan untuk Nenek tahun ini," bisiknya penuh rahasia dengan mata yang berbinar-binar penuh kebanggaan.

Jemari Nenek yang mulai kaku dan permukaannya terasa kasar akibat puluhan tahun bekerja keras menumbuk serta menguleni adonan kue, mulai membuka tali pengikat map cokelat tersebut dengan sangat hati-hati. Nenek mengeluarkan selembar kertas putih bersih berkualitas tinggi dari dalamnya. Karena pandangannya yang sudah agak kabur dimakan usia, Nenek terpaksa menjauhkan kertas itu beberapa sentimeter dari wajahnya, lalu menyesuaikan letak kacamatanya agar bisa membaca deretan tulisan yang tertera di sana dengan lebih jelas.

Di bawah pendar lampu toko yang sedikit kekuningan, mata tua Nenek perlahan menyusuri baris demi baris kata yang tercetak tegas di sana. Saat pandangannya berhenti tepat pada susunan kalimat “Dinyatakan Lolos Seleksi Beasiswa Penuh Yayasan Gava Alaric”, gerakan tubuh wanita tua itu mendadak membeku seketika.

Hening menjalar selama beberapa detik di antara mereka berdua. Lyra menatap wajah Neneknya dengan saksama, menanti reaksi yang akan diberikan. Namun, tak berselang lama, bibir tipis Nenek mulai bergetar samar. Sepasang mata teduh yang biasanya selalu memancarkan ketenangan itu kini mulai digenangi oleh air mata yang merebak dengan cepat.

"Nek? Nenek kenapa?" tanya Lyra dengan nada suara yang mendadak berubah menjadi panik. Ia langsung meraih dan menggenggam erat kedua tangan Nenek yang memegang kertas tersebut. "Kenapa Nenek malah menangis? Apa Lyra melakukan kesalahan?" tanyanya lagi dengan dahi yang berkerut cemas.

Nenek menggelengkan kepalanya dengan cepat, mencoba mengusir kekhawatiran di wajah cucunya. Air mata kebahagiaan akhirnya lolos mengalir membasahi pipinya yang berkeriput, jatuh setetes demi setetes di atas lantai toko. Nenek segera meletakkan kertas itu di atas meja, lalu menarik Lyra ke dalam dekapan dadanya, kali ini dengan pelukan yang jauh lebih erat dan emosional dari sebelumnya.

"Nenek tidak menangis karena sedih, Lyra... Nenek tidak sedih sama sekali, Sayang," ucap Nenek dengan suara yang parau, tercekat oleh rasa haru yang luar biasa besar yang mendesak di tenggorokannya. "Nenek hanya... Nenek sangat, sangat bangga padamu. Rasanya dada Nenek sampai sesak karena terlalu bahagia," tambahnya lagi sambil mengusap rambut hitam panjang Lyra yang halus.

Nenek melepaskan pelukannya sedikit, lalu menatap wajah Lyra dengan pandangan mata yang berkaca-kaca namun dipenuhi rasa syukur yang tak terhingga. "Ayah dan ibumu di atas sana pasti sedang tersenyum lebar melihat anak gadis mereka tumbuh menjadi anak yang tidak hanya cantik, tapi juga sangat pintar dan berbakti," lanjut Nenek lagi, suaranya masih bergetar hebat.

Mendengar nama mendiang kedua orang tuanya disebut, mata bulat Lyra ikut memanas. Setitik air mata mulai mengambang di pelupuk matanya, namun ia buru-buru mengulas senyum terbaiknya agar Nenek tidak semakin larut dalam tangis. "Ini semua juga berkat doa-doa Nenek yang tidak pernah putus. Berkat Nenek yang selalu bangun jam tiga subuh setiap hari untuk memanggang kue demi membiayai Lyra," balas Lyra dengan nada tulus, mengeratkan genggaman tangannya pada jemari hangat Nenek.

"Sekarang, Nenek sudah bisa bernapas lega," sambung Lyra lagi, binar matanya memancarkan tekad yang kuat. "Nenek tidak perlu lagi memikirkan dari mana harus mencari biaya untuk membayar uang pangkal atau uang SPP bulanan SMA Lyra yang mahal. Mulai sekarang, uang dari hasil penjualan kue sus dan bolu gulung kita bisa Nenek simpan sendiri untuk keperluan Nenek, atau ditabung untuk masa tua Nenek. Lyra tidak akan merepotkan Nenek lagi soal biaya sekolah," jelasnya panjang lebar dengan nada penuh kelegaan.

Nenek menangkup kedua pipi Lyra dengan kedua telapak tangannya yang terasa hangat dan beraroma tepung, lalu mengecup dahi cucunya dengan penuh kasih sayang. "Anak pintar, cucu kesayangan Nenek yang paling baik," puji Nenek lembut, menyeka sisa air mata di sudut matanya sendiri.

Namun, setelah itu, raut wajah Nenek perlahan berubah menjadi lebih serius. Tatapan matanya menembus langsung ke dalam manik mata jernih milik Lyra. "Tapi, Lyra... dengarkan pesan Nenek baik-baik ya, Sayang?" ucap Nenek dengan intonasi suara yang mendalam dan penuh penekanan, layaknya seorang tetua yang sedang memberikan wejangan hidup yang sangat krusial.

"Ada apa, Nek?" tanya Lyra, memasang telinga dengan saksama.

"SMA Gava Alaric itu bukan sekolah sembarangan," tutur Nenek pelan namun tegas. "Nenek sering mendengar cerita dari para pelanggan toko kita yang merupakan orang-orang terpandang. Sekolah itu adalah tempat berkumpulnya anak-anak dari kalangan elit, kaum kelas atas. Isinya adalah anak-anak pejabat, pengusaha kaya raya, dan orang-orang yang memiliki kekuasaan besar di kota ini. Kehidupan di sana pasti akan sangat berbeda dengan lingkungan SMP mu yang lama," jelas Nenek menjabarkan dugaannya.

Nenek menghela napas pendek sejenak sebelum melanjutkan, "Nenek hanya ingin berpesan, di sana nanti kau harus selalu menjaga diri dengan baik. Tetaplah menjadi Lyra yang rendah hati, jujur, dan tidak usah ikut-ikutan menonjolkan diri. Jangan pernah merasa kecil hati atau minder hanya karena kita tidak memiliki harta melimpah seperti mereka. Kita memang miskin harta, Lyra, tapi kita tidak miskin harga diri dan kehormatan. Ingat itu baik-baik, ya?"

Lyra mengangguk dengan gerakan yang mantap, tidak ada keraguan sedikit pun di dalam sorot matanya. "Iya, Nenek sayang. Lyra akan selalu ingat semua pesan Nenek. Lyra berjanji tidak akan macam-macam di sana. Sejak awal, niat Lyra masuk ke sekolah itu murni hanya untuk menuntut ilmu, menjaga agar nilai-nilai Lyra tetap stabil supaya beasiswanya tidak dicabut, dan setelah itu segera lulus dengan nilai terbaik. Rencana Lyra sangat sederhana: Lyra hanya akan menjadi murid biasa yang duduk diam dan tidak terlihat di pojok kelas," jawabnya meyakinkan sang nenek dengan seulas senyuman manis yang tulus.

"Bagus kalau begitu. Nenek percaya pada cucu Nenek yang mandiri ini," ucap Nenek akhirnya, raut wajahnya kembali melunak dan dipenuhi rasa lega yang masif. "Oh iya, sampai hampir lupa karena terlalu asyik mengobrol! Hari ini kan hari yang sangat spesial untukmu, jadi Nenek juga sudah menyiapkan sesuatu yang tidak kalah spesial di dapur," tambah Nenek dengan kedipan mata yang penuh teka-teki.

"Sesuai apa, Nek?" tanya Lyra penasaran, sepasang alisnya bertaut.

"Masuklah ke dapur dan lihat sendiri," tantang Nenek sambil terkekeh pelan, mendorong pelan bahu cucunya agar melangkah ke area belakang toko.

Lyra segera melangkahkan kakinya menuju area dapur pembuatan kue yang terletak tepat di balik pintu kayu pembatas toko. Begitu tirai penutup dapur disibakkan, mata Lyra langsung melebar sempurna. Di atas meja kayu besar tempat biasanya Nenek menguleni adonan, sudah tersaji sebuah loyang bulat berisi apple pie yang baru saja matang. Permukaan kulit kuenya yang berwarna cokelat keemasan tampak begitu cantik dengan pola anyaman yang rapi, mengeluarkan uap tipis yang membawa aroma buah apel segar, gula karamel, dan kayu manis yang sangat pekat menyeruak ke seluruh penjuru ruangan.

"Apple pie? Wah, Nenek sengaja membuatkan ini untuk Lyra?!" seru Lyra kegirangan, menoleh ke arah Nenek yang berjalan menyusul di belakangnya.

Kue pai apel adalah makanan paling favorit bagi Lyra semenjak ia masih kecil. Namun, karena harga buah apel impor yang berkualitas cukup mahal di pasar, Nenek biasanya hanya bersedia membuatkan kue tersebut satu atau dua kali saja dalam setahun, yaitu saat perayaan hari raya atau momen-momen yang benar-benar dianggap penting.

"Tentu saja. Ini adalah hadiah perayaan kecil-kecilan dari Nenek untuk merayakan keberhasilan cucu Nenek yang hebat ini," sahut Nenek sambil mengambil sebuah pisau pemotong kue dan menyerahkannya kepada Lyra. "Ayo, potong kuenya selagi masih hangat, lalu kita makan bersama di meja makan."

Malam itu, suasana di dalam rumah sederhana di balik toko kue tersebut terasa jauh lebih hangat dan dipenuhi oleh kebahagiaan yang meluap-luap jika dibandingkan dengan hari-hari biasanya. Di bawah pendar lampu ruang makan yang berwarna kuning temaram, Lyra duduk berhadapan dengan Neneknya menikmati potongan demi potongan kue pai apel yang terasa begitu manis dan lumer di dalam mulut.

Sambil membantu Nenek membersihkan sisa-sisa piring kotor di wastafel dapur setelah makan malam usai, Lyra melemparkan pandangannya ke arah punggung Nenek yang kini tampak mulai sedikit membungkuk saat berjalan. Di dalam keheningan malam yang damai itu, sebuah sumpah suci diam-diam terukir di dalam lubuk hati paling dalam milik Lyra.

Ia berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia akan menjaga kedamaian dan kebahagiaan hidup mereka berdua dengan taruhan apa pun. Ia bersumpah akan belajar dengan sangat keras di SMA Gava Alaric nanti, menepis segala bentuk rintangan yang ada, lulus dengan predikat terbaik, dan kelak jika sudah sukses, ia akan membelikan Nenek sebuah toko kue yang jauh lebih besar, megah, dan modern di pusat kota agar Nenek tidak perlu lagi kelelahan menguleni adonan kue dari subuh hingga malam hari.

Lyra merasa dunianya saat ini sudah sangat aman, utuh, dan sempurna di bawah perlindungan doa dan kehangatan toko kue kecil milik Neneknya ini.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!