NovelToon NovelToon
Pita Hitam Kala Senja

Pita Hitam Kala Senja

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Persahabatan / Trauma masa lalu
Popularitas:107
Nilai: 5
Nama Author: Shourizzz BP

Semua sudah berakhir. Aku yang sulit dalam bergaul, pasti akan mudah dilupakan oleh orang – orang. Tidak dekat dengan siapapun, mau itu teman atau bahkan keluarga, pasti membuat kematianku sama seperti angin yang berlalu. Tidak dikenang oleh siapapun. Hanya kesendirianan yang tersisa. Akhir yang pantas bagi orang sepertiku. Seharusnya begitu, tapi …,
Kenapa aku bisa merasakan tetesan air mata?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shourizzz BP, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DEEP TALK

Aku kenal Awan saat berada dikelas 11. Sekolahku selalu mengacak murid – muridnya setiap kenaikan kelas. Kebetulan aku sekelas dengan Awan saat itu, meski aku belum mengenalnya, tapi disitulah awal mula pertemuanku dengannya. Sama seperti saat kelas 10, aku yang tidak lagi bersama Dimas, kembali menjadi penyendiri. Tidak ada yang kukenal dikelas, begitu juga sebaliknya. Beberapa hari kulalui sendiri tanpa memperdulikan apapun, sampai pada suatu saat terdapat pelajaran yang mengharuskanku untuk bekerja bersama, tugas kelompok.

Kelompok hanya terdiri dari 2 orang. Anggotanya langsung ditentukan oleh guru, yaitu teman sebelah. Kebetulan orang yang duduk disebelahku adalah Awan. Kami secara otomatis satu kelompok. Waktu yang diberikan untuk mengerjakan tugas adalah 1 minggu, tapi selama itu dia tidak pernah menghubungiku, membicarakannya disekolah pun tidak. Sebenarnya tidak ada yang pernah kami bicarakan, walaupun tempat duduk kami bersebelahan. Aku juga tidak ada niatan untuk mengajaknya mengerjakan bersama, jadi kukerjakan saja sendiri. Aku sudah biasa mengerjakan tugas kelompok, sendiri. Tapi, bukan berarti aku akan mengerjakan tugas orang lain. Aku hanya mengerjakan tugas yang didalamnya tertulis namaku.

Hari pengumpulan tiba. Kelompok kami disuruh maju dan mempresentasikan hasil tugas yang dikerjakan. Awan terlihat kebingungan saat namanya disebut. Dia menatapku seperti ingin mengajak bicara, tapi ragu karena kami tidak pernah berkomunikasi sebelumnya. “Ayo maju!” Dia masih bingung saat kuajak bicara. “Udah selesai. Tinggal presentasi.” Kujelaskan bagian mana saja yang perlu dia baca, tentu saja aku menyuruhnya membaca bagian yang panjang. Presentasi selesai dan kami mendapat nilai yang lumayan. Awan berterimakasih padaku, juga meminta maaf tidak ikut membantu mengerjakan.

Dikemudian hari, ada tugas kelompok lain. Berbeda dengan sebelumnya, kelompok boleh pilih sendiri. “Ayo satu kelompok!” Awan dengan sukarela mengajakku. Pikirku dia hanya ingin memanfaatkanku, tapi aku tetap menerimanya. Lagipula tidak ada bedanya dikelompok manapun. “Nanti sore ya!” Dia mengajakku untuk mengerjakan bersama setelah pulang sekolah, aku mengiyakan saja karena mungkin dia hanya basa – basi.

Waktunya tiba. Aku datang ke perpustakaan sekolah sesuai arahan Awan. Tidak kulihat seorang pun berada diruangan. Benar dugaanku, dia tidak datang. Kuputuskan untuk tetap bertahan dan mengerjakan sendiri. “Sorry telat!” Tidak lama aku duduk, Awan datang menghampiriku. “Nih ambil!” Dia bahkan memberikanku minuman. Ternyata dia benar - benar datang. Kami pun mengerjakan tugas bersama. Pikiranku soal dia yang memanfaatkanku langsung hilang, karena justru dia yang berkotribusi lebih besar daripadaku. Sejak saat itu, Awan sering melibatkan dirinya denganku. Entah itu berkaitan dengan tugas atau diluar itu.

Dari dulu aku selalu mikir. Dia selalu baik padaku. Dia selalu mengajakku bicara, membantuku dalam beberapa hal, bahkan sekarang dia juga menolongku. Dia selalu memberikan yang bisa dia berikan. Sendangkan aku? Terkadang ucapan yang Awan berikan, aku hiraukan. Tidak membantu atau menolongnya balik. Tidak ada keuntungan dari hubungan yang dibentuk. Kira – kira, alasan apa yang Awan miliki sehingga bertahan denganku. “Boleh nanya?”

 “Kenapa? Tumben.”

 “Apa arti teman buatmu?”

“Apaan?” Awan tersenyum, dia pikir aku bercanda. Kemudian dia merubah ekspresinya. Mungkin dia sadar kalau aku tidak bercanda. “Biar kupikirkan.” Pertanyaan mendadak yang kuberikan dia pikirkan dengan serius seraya melihat sekeliling. Banyak orang yang berlalu lalang, dia menunjuk salah satunya. “Lihat mereka?” Orang yang sedang duduk bersama ditempat makan. “Menurutmu, mereka temenan?” Kulihat tiga orang dengan pakaian yang senada menyantap makanan bersama, Bukankah artinya mereka berteman? ku anggukkan kepala, mengiyakan pertanyaan Awan. “Tau dari mana?” Dia menanyakan sesuatu yang jawabannya sudah jelas.

“Nebak.”

“Coba lihat itu!” Sekarang Awan menunjuk dua orang yang kelihatannya sedang berdebat akan sesuatu. “Mereka temenan?” Dugaanku mereka hanya orang asing yang sedang berselisih karena tersenggol, disebelah mereka terparkir dua buah motor. Kugelengkan kepala menandakan ketidaksetujuan. “Tau dari mana?” Sekali lagi dia menanyakan hal yang sama.

“Nebak. Aku kan gak kenal mereka!”

 “Itu dia!” Awan menepuk tangannya sendiri. “Kita gak kenal mereka.”

“Lah? Terus buat apa nanya?”

“Mungkin aja orang – orang yang sedang makan itu, mereka temenan. Baju mereka samaan.” Perkataan Awan persis seperti yang aku pikirkan. “Tapi, bisa juga mereka cuman rekan kerja.” Awan kembali menunjuk orang yang terlihat sedang berdebat. “Begitu juga dengan mereka. Bisa temanan, bisa juga nggak. Mungkin mereka lagi kelahi, mungkin juga mereka lagi bahas hal penting. Gak ada yang tau kecuali mereka sendiri.” Awan meminum minuman sebagai penjeda penjelasannya. “Buatku teman itu gak keliatan. Dia gak bisa diliat orang lain. Cuman orang itu sendiri yang bisa ngerasain. Mau sejahat apapun orang disudut pandang yang lain, selama yang bersangkutan menganggapnya temen, berarti ya dia temen. Gitu juga sebaliknya.” Mendengar penjelasan Awan, membuatku melihat perspektif baru. Aku tidak pernah menganggap arti teman seserius itu. Bagiku, teman adalah semacam kontrak, bersama – sama selama memiliki alasan. Ternyata Awan melihatnya dengan cara berbeda. “Kok diam?”

“Aneh! Otakmu jalan waktu kek gini.”

“Anjing!” Meski Awan mengatakan kata kasar, tapi dia tertawa cukup keras. “Ternyata kamu bisa bercanda juga.”

Selama ini aku selalu menahan diri. Aku takut kejadian yang sama seperti Dimas akan terulang. Saat Awan berusaha menjadi lebih dekat dan mengajakku ke suatu tempat, aku selalu menolak. Kenangan buruk soal pertemanan, tanpa sadar membuatku membentuk tembok dalam hubungan kami. Aku tidak membiarkan siapapun untuk menembusnya, sampai dengan sekarang. Awan adalah satu – satunya orang yang bertahan, meski aku tidak menganggapnya. Dia tetap peduli padaku meski aku tidak memberikan balasan. Dia tidak peduli anggapanku padanya. Sekarang aku sadar. Aku yang salah karena terjebak kenangan masa lalu. Mulai sekarang, aku juga akan berpikir seperti Awan, tidak peduli dia menganggapku apa, tapi bagiku dia adalah teman – Sahabat terbaikku. “Emangnya itu candaan?”

“Woy! Jangan bilang kamu serius?”

“Nggak kok. Hehe.”

Ada yang bilang kalau setiap kejadian pasti memiliki makna. Ada juga yang bilang kalau Pelangi akan muncul setelah hujan yang begitu deras. Ada begitu banyak kata kiasan, tapi inti dari semuanya adalah sama. Hal baik pasti akan datang setelah kita melalui hal buruk. Sekarang aku percaya akan kalimat tersebut. Aku merasakan langsung apa yang disebut kebaikan, dalam konteksku kebaikan seorang sahabat. Tanpa adanya kejadian buruk yang terjadi antara aku dan Dimas, tidak mungkin aku bisa dipertemukan dengan Awan.

Aku memang masih tidak tau secara pasti mengapa aku diberikan kesempatan untuk mengulang waktu, tapi aku sedikit bersyukur. Berkat kesempatan tersebut, aku jadi bisa mengetahui makna dari pertemanan, terlebih aku bisa merasakan sendiri makna tersebut. Aku yang sering sendiri, sudah merasa lebih baik setelah ada orang yang begitu berharga dalam hidupku. Kuharap tidak ada penyesalan yang akan tertinggal.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!