"Tapi, aku tidak mencintai Papa," ucap Luna bergetar di depan pria yang seharusnya menjadi ayah mertuanya.
"Tidak masalah Luna, Papa yakin lambat laun kamu akan mencintai Papa."
Dikhianati Fauzan di hari pernikahan demi wanita lain membuat Luna hancur di hadapan semua tamu. Namun, saat dunianya runtuh, sang calon ayah mertua Mahendra justru mengulurkan tangan dan mengambil alih posisi mempelai pria. Mampukah pernikahan beda usia 25 vs 50 tahun ini menyembuhkan luka Luna, atau justru menjadi awal dari konflik baru yang lebih rumit?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Sementara itu, jauh dari kemegahan rumah sakit internasional tempat Mahendra dirawat, suasana kontras yang mencekam menyelimuti sebuah rumah kontrakan sempit di pinggiran kota.
Di dalam ruangan yang pengap dan berdinding kusam itu, Ema dan Mila terduduk dengan wajah frustrasi.
Setelah semua rencana mereka berantakan, Ema dan Mila akhirnya memutuskan untuk mengontrak rumah sederhana ini.
Ema benar-benar keras kepala; ia tidak mau lagi kembali ke rumah mantan suaminya yang dulu. Kenangan buruk tentang masa lalu, di mana suaminya sering memukulinya tanpa ampun, membuat Ema lebih memilih hidup luntang-lantung daripada harus kembali ke neraka yang sama.
Mila meremas jemarinya yang gemetar, menatap nanar ke sekeliling ruangan yang jauh dari kata mewah.
Air matanya mulai menetes seiring dengan rasa penyesalan yang membakar dada.
"Tante, bagaimana ini? Kita sudah tidak punya apa-apa lagi sekarang. Mas Fauzan benar-benar memilih meninggalkanku," ucap Mila dengan suara parau dan putus asa.
Harapannya untuk menjadi menantu di keluarga Dirgantara kini hancur lebur setelah Fauzan mengetahui belangnya.
Mendengar ratapan keponakannya, emosi Ema yang sejak tadi ditahannya langsung meledak.
Ia berdiri dan menunjuk wajah Mila dengan tatapan mata yang menghunjam tajam.
"Ini semua kesalahanmu, Mila! Kamu terlalu gegabah memberikan obat perangsang itu kepada Mahendra!" bentak Ema dengan suara melengking, meluapkan seluruh kekesalannya.
"Kalau saja kamu bertindak lebih rapi dan tidak ceroboh di Bandung kemarin, Mahendra tidak akan masuk rumah sakit dan kita tidak akan diusir seperti ini!"
Mila hanya bisa tertunduk, menerima amukan tantenya dengan tubuh yang gemetar.
Ia tahu bahwa rencananya menjebak Mahendra justru menjadi bumerang yang menghancurkan posisi mereka sendiri.
Ema mondar-mandir di ruang tamu yang sempit itu, melipat kedua tangannya di dada sambil otak liciknya terus berputar mencari jalan keluar.
Kehidupan miskin seperti ini bukanlah tempatnya.
Ia sudah terbiasa dengan kemewahan dan tidak akan membiarkan Luna menikmati semua kekayaan itu sendirian.
"Kita tidak boleh menyerah begitu saja," gumam Ema dengan senyum sinis yang perlahan terukir di wajahnya yang mulai berkerut.
Ia menoleh kembali ke arah Mila. "Kita harus mencari cara, bagaimana pun caranya, agar kita bisa kembali masuk ke dalam rumah Kak Mahendra dan merebut apa yang seharusnya menjadi milik kita."
Di dalam ruang perawatan VIP, kesegaran aroma sabun menyeruak setelah Luna baru saja keluar dari kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang semalam terjaga.
Rambut hitamnya yang sedikit basah dibiarkan terurai, memberikan kesan alami yang begitu memikat.
Mahendra yang sedang bersandar di ranjang langsung menegakkan tubuhnya.
Netra matangnya menatap lekat setiap jengkal pergerakan sang istri dengan binar yang mendadak berubah menjadi intens dan penuh riak gairah yang tertahan.
Saat Luna melangkah mendekat untuk merapikan selimutnya, Mahendra dengan cepat meraih pinggang ramping Luna, menariknya lembut hingga posisi wajah mereka menjadi begitu dekat.
"Sayang, kapan aku boleh keluar dari sini?" bisik Mahendra dengan suara bariton yang rendah, serak, dan terdengar sangat seksi di telinga Luna. Jemari kekarnya mulai mengusap pinggang istrinya dengan posesif.
"Aku sudah tidak tahan untuk melakukan 'olahraga malam' lagi bersamamu di kamar kita."
Mendengar godaan frontal dari suaminya yang masih mengenakan pakaian rumah sakit, pipi Luna seketika merona merah padam laksana kepiting rebus.
Ia menepuk dada bidang Mahendra dengan pelan, mencoba menjauhkan wajahnya meski jantungnya sendiri berdegup kencang.
"Mas Mahendra! Tolong ingat penyakit jantungmu!" omel Luna dengan dahi mengkerut, berusaha memasang wajah galak yang justru terlihat sangat menggemaskan di mata suaminya.
"Dokter bilang Mas harus istirahat total dan tidak boleh melakukan aktivitas berat dulu. Jadi, lupakan pikiran mesum itu untuk tiga hari ke depan!"
Melihat reaksi panik dan wajah memerah istri kecilnya, Mahendra tidak bisa menahan diri lagi. Ia tertawa kecil, sebuah tawa bariton yang renyah dan sarat akan kepuasan tersendiri karena berhasil menggoda Luna.
"Hanya olahraga ringan, Sayang, tidak akan membuat jantungku kolaps. Justru melihatmu seperti ini yang membuat jantungku berdetak terlalu cepat," gurau Mahendra.
Ia semakin mengeratkan pelukannya di pinggang Luna tanpa memedulikan selang oksigen yang masih menempel di hidungnya.Luna hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah suaminya. Ia mencubit pelan hidung Mahendra dengan gemas.
"Suamiku ini memang paling pintar bicara kalau sedang menggoda istrinya," cibir Luna, meski seulas senyum manis tidak bisa disembunyikan dari bibirnya.
Tok! Tok! Tok!
Pintu ruangan terbuka, memutus kemesraan mereka.
Seorang perawat berseragam putih masuk dengan senyum ramah, mendorong troli yang membawa nampan berisi menu makan siang rumah sakit lengkap dengan beberapa butir obat di dalam wadah kecil.
"Permisi Bapak Mahendra, waktunya makan siang dan minum obat," ujar perawat itu sopan seraya meletakkan nampan di atas meja dorong khusus ranjang.
Begitu penutup piring dibuka dan aroma makanan tercium, rahang tegas Mahendra langsung mengatup rapat.
Ia menatap mangkuk di hadapannya dengan tatapan tidak suka.
"Apa tidak ada makanan yang lainnya? Dari tadi menunya bubur saja. Rasanya hambar," keluh sang Titan Bisnis dengan dahi mengkerut dalam, seolah bubur itu adalah musuh besar perusahaannya.
Luna menghela napas, menatap suaminya dengan berkacak pinggang.
"Mas, kamu ini pasien yang paling cerewet tahu tidak? Di mana-mana orang sakit ya makannya bubur hambar agar pencernaannya tidak bekerja terlalu keras," omel Luna, beralih mengambil alih mangkuk bubur tersebut dari tangan perawat.
Luna mengaduk bubur itu perlahan, lalu menyendoknya sedikit dan meniupnya agar tidak terlalu panas.
Ia mengarahkan sendok itu ke depan bibir Mahendra.
"Dan sekarang, ayo aku suapi. Jangan membantah, habiskan makanan ini setelah itu langsung minum obat."
Melihat ketegasan di wajah istri kecilnya, Mahendra yang biasanya ditakuti di dunia bisnis seketika bertekuk lutut.
Ia membuka mulutnya dengan pasrah menerima suapan dari Luna, namun sepasang netra matangnya tetap menatap Luna dengan binar jahil yang belum padam.
"Iya, suster cantikku," sahut Mahendra patuh sebelum mengunyah bubur hambarnya, membuat perawat yang berjaga di sudut ruangan hanya bisa tersenyum simpul melihat bagaimana seorang raksasa bisnis bisa menjadi begitu penurut di tangan istrinya sendiri.
Mahendra menelan suapan terakhir buburnya dengan patuh, lalu meminum air hangat yang disodorkan Luna hingga kandas.
Setelah menelan beberapa butir obat dari dokter, pria paruh baya itu kembali bersandar di bantalnya. Namun, jemari kekarnya dengan cepat menahan pergelangan tangan Luna, mencegah sang istri menjauhkan nampan makanan.
"Sayang..." panggil Mahendra.
"Hm?" Luna menyahut malas-malasan sambil meletakkan nampan kosong di meja nakas, lalu kembali duduk di kursi samping ranjang.
"Kalau aku sudah sehat, kita bulan madu ya," ajak Mahendra.
"Kita pergi berdua saja, ke tempat yang jauh dari urusan kantor dan gangguan orang lain."
Mendengar ajakan yang begitu tulus dari suaminya, sudut bibir Luna perlahan terangkat membentuk senyuman manis.
Segala kepedihan, kesalahpahaman semalam, dan ketakutan saat melihat tubuh Mahendra ambruk di atas aspal seketika membekas menjadi rasa syukur yang luar biasa di dalam dadanya.
Luna menganggukkan kepalanya pelan. Ia memajukan tubuhnya, lalu dengan penuh kasih sayang, jemari lentiknya bergerak lembut mengelus pipi matang suaminya yang kini mulai kembali hangat.
"Mas..." bisik Luna lirih.
"Ada apa, Sayang?" tanya Mahendra, membiarkan pipinya bersandar pada telapak tangan hangat istrinya.
"Terima kasih, untuk semuanya," ucap Luna dengan mata yang perlahan kembali berkaca-kaca.
Rasa terima kasih karena pria itu telah memilihnya, menjaganya, dan berjuang untuk sembuh demi pernikahan mereka.
Melihat setitik air mata mulai menggenang di sudut mata indah Luna, Mahendra tidak bisa lagi menahan diri.
Dengan sebelah tangannya yang bebas dari selang infus, ia menarik tengkuk Luna lembut, membawa tubuh ramping istrinya ke dalam dekapan dadanya yang bidang dan hangat.
Mahendra memeluk erat tubuh istrinya, membiarkan dagunya bertumpu di pucuk kepala Luna, menghirup dalam-dalam aroma segar rambut sang istri yang menenangkan.
"Sudah, jangan menangis lagi," bisik Mahendra lembut, mengusap punggung Luna dengan gerakan menenangkan.
"Ini sudah menjadi kewajibanku untuk melindungimu dan membahagiakanmu, Sayang. Karena kamu adalah istriku, milikku selamanya."
terimakasih thor dah double up 🙏❤️
bener" y si Kunti mil", beuh gertakkan doang ga kena, liat aja ntar klo Mahendra sehat ....abis kau.
kan sudah buang Azura anda faizan
biar duo Kunti, satu kuyang tdk meremehkan mu lagi