NovelToon NovelToon
Undefined: The Guardian Dog

Undefined: The Guardian Dog

Status: sedang berlangsung
Genre:Dark Romance / Mafia / Romansa
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: hrarou

🌶️ WARNING!!🌶️

Mengandungi ***** ****** yang mungkin tidak sesuai untuk semua pembaca.
.
.
.
Dalam dunia gelap yang dipenuhi darah, senjata, dan pengkhianatan, Seravina dikenal sebagai wanita sempurna yang tidak pernah gagal.

Cantik. Elegan. Mematikan.

Tidak ada yang tahu bahwa di balik wajah anggunnya, tersembunyi monster dingin yang tidak ragu membunuh siapa pun yang membuatnya jijik.

Hingga suatu malam, pencarian anjing baru membawanya ke arena pertarungan underground.

Dan di sanalah dia bertemu Viktor—pria yang bertarung bukan demi uang atau kemenangan, tetapi demi merasakan sesuatu yang bahkan tidak dia pahami.

Satu kehilangan diri karena trauma.

Satu lagi hidup tanpa pernah benar-benar memilikinya.

Ketika dua manusia yang sama-sama rusak dipertemukan, siapa yang akan hancur lebih dulu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hrarou, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mau Bertarung

Malam telah larut, suasana di mansion pribadi Seravina terasa mencekam. Viktor berdiri di dekat pintu samping, sudah mengenakan jaket hitam taktisnya. Ia baru saja hendak melangkah keluar saat suara dingin yang sangat ia kenali menghentikannya.

"Mau ke mana?"

Seravina berdiri di balik bayang-bayang lorong, menyandarkan tubuhnya di dinding sambil menyilangkan tangan. Matanya yang tajam menatap Viktor dari ujung kaki hingga ujung kepala.

Viktor berhenti, ia tidak berbalik sepenuhnya. "Bertarung," jawabnya singkat, suaranya berat dan datar seperti biasanya.

Malam ini adalah jadwal rutinnya di arena bawah tanah—tempat satu-satunya yang ia tahu untuk menyalurkan insting membunuhnya sekaligus mengumpulkan uang.

"Tidak perlu pergi ke sana lagi," ucap Seravina, langkahnya mendekat hingga ia berdiri di bawah cahaya lampu temaram.

Viktor mengernyitkan dahi, kepalanya sedikit miring karena bingung. "Hah?"

"Kau tidak dengar? Aku bilang, tidak perlu pergi," ulang Seravina dengan nada memerintah yang tidak bisa dibantah. "Kau sudah menjadi anjingku sekarang. Semua waktumu, tenagamu, dan nyawamu adalah milikku. Aku tidak sudi melihat milikku dipukuli atau disentuh oleh sampah-sampah di arena itu hanya untuk hiburan orang lain."

Viktor terdiam sejenak, menatap tangannya yang dibalut handwrap di balik saku jaketnya. "Ini caraku hidup, Nona. Tanpa bertarung, aku tidak punya apa-apa. Bagaimana aku bisa bertahan?"

Seravina berjalan mendekat, memperkecil jarak hingga ia bisa mencium aroma maskulin Viktor. Ia mendongak, menatap mata kosong pria itu dengan senyum tipis yang merendahkan.

"Kau pikir aku memeliharamu hanya untuk membiarkanmu mati konyol di lubang tikus itu?" Seravina mengulurkan tangan, merapikan kerah jaket Viktor dengan gerakan yang posesif. "Mulai sekarang, aku yang akan memenuhi semua kebutuhanmu. Makanmu, tempat tinggalmu, hingga alasanmu untuk tetap bernapas... semuanya berasal dariku."

Ia menatap Viktor lekat-lekat, memberikan penekanan pada setiap katanya.

"Kau tidak butuh arena itu lagi, Viktor. Karena mulai detik ini, satu-satunya pertarungan yang boleh kau lakukan adalah bertarung demi nyawaku. Mengerti?"

Viktor terpaku. Logika sederhananya merasa tergoncang. Ia merasa seperti baru saja dirantai sepenuhnya.

Matanya yang gelap menatap lurus ke arah pintu, menghindari tatapan Seravina yang mengunci.

"Aku harus pergi," ucap Viktor. Suaranya rendah, nyaris seperti geraman yang tertahan di tenggorokan.

Seravina menyipitkan mata, merasa otoritasnya ditantang. "Aku sudah memberi perintah. Apa telingamu sudah tidak berfungsi?"

Viktor akhirnya menoleh, menatap Seravina dengan wajah datarnya yang kaku, ada sesuatu yang berkecamuk di balik tatapan kosong itu.

"Tidak bisa," sahutnya pendek. "Aku butuh... rasa sakit. Cuma itu..." Ia menjeda sejenak, seolah mencari kata-kata yang tepat untuk menjelaskan kekosongan di dalam dirinya. "Cuma itu satu-satunya cara agar aku merasa tetap hidup."

Bagi Viktor, arena bawah tanah bukan sekadar tempat mencari uang. Di sana, saat tulang berderak dan darah membasahi lantai, ia bisa merasakan eksistensinya. Tanpa rasa sakit yang menyiksa tubuhnya, ia merasa seperti mayat berjalan yang tidak memiliki fungsi.

"Kalau tidak pergi, aku akan gila," lanjut Viktor lagi, suaranya sedingin es, penuh dengan keputusasaan yang tersembunyi.

Ia tidak butuh belas kasihan, dan ia tidak butuh jaminan hidup mewah. Yang ia butuhkan adalah kehancuran yang bisa membuatnya merasa bahwa saraf-saraf di tubuhnya masih bekerja.

Seravina terdiam, memperhatikan napas Viktor yang mulai memberat. Ia menyadari satu hal: pria di depannya ini bukan sekadar pengawal yang haus darah, melainkan seorang pecandu rasa sakit yang sudah rusak total.

"Jadi kau lebih memilih dipukuli orang asing daripada patuh padaku?" Seravina melangkah maju, tangannya terangkat untuk menyentuh rahang keras Viktor, memaksanya untuk terus menatapnya. "Kau ingin merasa hidup, Viktor? Kau ingin rasa sakit?"

Seravina mencengkeram rahang itu dengan kuat, kuku-kukunya yang terawat sedikit menekan kulit Viktor.

"Kalau begitu, tetap di sini. Aku bisa memberimu rasa sakit yang jauh lebih indah daripada yang bisa diberikan sampah-sampah di arena itu."

......................

Suasana di dalam gudang tua itu terasa pengap. Cahaya bulan hanya mampu menyelinap melalui celah-celah atap seng yang berlubang, menyinari tumpukan besi tua, rantai berkarat, dan kontainer kosong yang terbengkalai. Langkah kaki mereka bergema, menciptakan suara logam yang saling beradu.

Viktor berhenti di tengah ruangan, matanya yang tajam memindai kegelapan di sekeliling mereka. Ia tetap berdiri di depan Seravina, tangannya perlahan mengepal.

"Tempat apa ini?" tanya Viktor tanpa menoleh. Suaranya datar, namun kewaspadaannya sudah di titik tertinggi.

Seravina berdiri dengan tenang di belakang punggung lebar Viktor, jemarinya mengusap sarung tangan hitamnya dengan santai seolah ia sedang berada di pesta dansa, bukan di gudang maut.

"Sekarang tugasmu sederhana," bisik Seravina dingin. "Lindungi aku."

Tepat setelah kata-kata itu terucap, bunyi kokangan senjata dan langkah kaki berat muncul dari balik tumpukan besi. Satu per satu, sekelompok pria dengan wajah bengis dan bersenjata tajam mulai keluar dari kegelapan, mengepung mereka dari segala penjuru.

Salah satu dari mereka, pria dengan bekas luka di wajah yang tampak seperti pemimpin, maju selangkah sambil menyeringai lebar. Ia menatap Seravina dengan tatapan lapar seolah melihat tumpukan uang berjalan.

"Sepertinya hari ini keberuntungan benar-benar berpihak pada kita," ucap si pemimpin dengan tawa serak yang menjijikkan. "Siapa sangka mangsa yang kita cari justru menyerahkan kepalanya sendiri ke sarang serigala? Ini yang namanya rezeki nomplok."

Pria lain di sampingnya tertawa meremehkan, mengarahkan pisau lipatnya ke arah mereka. "Mungkin dia bosan hidup kaya raya dan ingin mati di tempat kumuh seperti ini. Cantik, tapi sayang otaknya sudah geser."

Seravina tidak menunjukkan rasa takut sedikit pun. Ia justru melirik Viktor dari balik bahunya.

"Kau bilang kau butuh adrenalin dan rasa sakit agar merasa hidup, kan?" Seravina tersenyum tipis, sebuah senyuman yang sangat indah namun mematikan. "Habisi mereka semua."

Viktor menarik napas dalam, aroma besi tua dan keringat lawan mulai memicu saraf-sarafnya. Rahangnya mengeras, dan untuk pertama kalinya malam itu, tatapan matanya yang kosong mulai berkilat penuh kegilaan.

"Semuanya?" tanya Viktor singkat.

"Semuanya," jawab Seravina tegas.

Tanpa peringatan, Viktor melesat maju seperti peluru yang lepas dari selongsongnya, menerjang kerumunan pria itu dengan kecepatan yang tidak masuk akal.

Viktor menerjang pria terdekat secepat kilat. Sebelum pria itu sempat menarik pelatuk senjatanya, tinju raksasa Viktor sudah menghantam telak tulang hidungnya hingga amblas ke dalam. Tanpa jeda, Viktor menangkap lengan pria kedua, memelintirnya hingga bunyi krak yang memuakkan bergema, lalu merebut parang dari tangan lawan yang kini melolong kesakitan.

"Sialan! Habisi dia!" teriak si pemimpin sambil mundur ketakutan.

Dua orang maju bersamaan dengan pisau terhunus. Viktor tidak menghindar. Ia justru maju menabrakkan bahunya yang sekeras beton ke dada salah satu lawan hingga terpental menghantam tumpukan besi tua. Dalam gerakan berputar yang presisi, ia menyabetkan parang di tangannya, merobek dada lawan lainnya hingga darah segar menyemprot ke lantai semen yang kusam.

Viktor bertarung seperti monster yang baru saja dilepas dari rantai. Gerakannya brutal, efisien, dan tanpa belas kasihan. Ia tidak menggunakan teknik bela diri yang indah; ia menggunakan kekuatan murni untuk menghancurkan apa pun yang ada di depannya.

Seorang pria bertubuh besar mencoba mengunci leher Viktor dari belakang, namun Viktor hanya mendengus. Ia membenturkan kepalanya ke belakang—jedug!—membuat tengkorak lawan itu retak. Sambil tetap memegang kepala pria itu, Viktor membantingnya ke meja besi terdekat hingga meja itu melengkung.

Darah mulai membasahi kemeja hitam Viktor, namun matanya yang tadi kosong kini berkilat penuh kegilaan yang haus. Inilah adrenalin yang ia cari. Inilah rasa sakit yang membuatnya merasa nyata.

Sementara itu, Seravina tetap berdiri tenang di tengah badai kekerasan itu. Ia tidak bergerak satu inci pun, bahkan saat beberapa percikan darah mendarat di ujung sepatunya. Ia mengamati Viktor dengan tatapan seorang penilai seni yang sedang melihat mahakarya yang sangat memuaskan.

"Belakangmu, Viktor," ucap Seravina dengan nada suara yang tenang, hampir seperti sedang mengobrol biasa.

Seorang pembunuh mencoba mengendap-endap dengan kapak di tangan, hendak menghantam punggung Seravina. Tanpa menoleh, Viktor melempar parang di tangannya dengan akurasi mematikan. Logam tajam itu menancap tepat di tenggorokan pria tersebut sebelum kapaknya sempat mengayun.

Pria itu tumbang, kejang-kejang di dekat kaki Seravina. Seravina hanya melirik mayat itu dengan jijik, lalu kembali menatap Viktor yang kini sudah dikepung oleh sepuluh orang terakhir yang mulai gemetar ketakutan.

Viktor menyeka darah di pipinya dengan punggung tangan, lalu meretakkan lehernya. Senyum tipis yang mengerikan muncul di wajah datarnya—sebuah tanda bahwa ia baru saja memulai "pemanasan".

"Selanjutnya," desis Viktor rendah, suaranya parau karena gairah bertarung yang memuncak.

Satu per satu lawan bertumbangan seperti kayu yang ditebas. Viktor menerjang kerumunan itu, setiap pukulannya menghasilkan suara bugh yang berat dan dalam, diikuti dengan teriakan kesakitan yang segera terputus. Dalam waktu kurang dari sepuluh menit, gudang yang tadinya penuh dengan ancaman kini berubah menjadi ladang pembantaian yang sunyi.

Hanya ada suara deru napas Viktor yang berat dan tetesan darah yang jatuh ke lantai.

Viktor berdiri di tengah tumpukan tubuh yang tak lagi bergerak, pakaiannya basah kuyup oleh darah orang lain. Ia berbalik perlahan, menatap Seravina dengan tatapan liar yang belum padam sepenuhnya.

"Sudah... semuanya," ucap Viktor, suaranya bergetar karena adrenalin yang masih mengalir deras.

Seravina melangkah dengan anggun melewati genangan darah dan tubuh-tubuh yang tak lagi bernyawa. Sepatu hak tingginya berdenting di atas lantai semen, satu-satunya suara yang memecah keheningan mencekam di dalam gudang itu.

Ia berhenti tepat di depan Viktor. Bau besi yang menyengat dari darah segar menyelimuti mereka, namun Seravina tidak menjauh. Ia justru mengulurkan tangannya yang halus, mendaratkan telapak tangannya tepat di atas dada kiri Viktor yang bidang.

Kemeja hitam Viktor basah kuyup dan terasa panas. Di bawah telapak tangan Seravina, jantung Viktor berdegup dengan sangat kencang—seperti mesin yang dipacu hingga batas maksimal.

"Luar biasa..." bisik Seravina. Matanya berkilat kagum saat merasakan ritme liar itu. "Jantungmu berdetak seolah-olah ingin melompat keluar dari dadamu, Viktor."

Viktor menunduk, menatap Seravina dengan napas yang masih tersengal. Adrenalin yang meledak-ledak di dalam pembuluh darahnya membuat pupil matanya melebar, dan suhu tubuhnya meningkat drastis. Sentuhan dingin tangan Seravina di dadanya terasa seperti es yang menyentuh besi panas.

"Mau..." Viktor menjeda, suaranya terdengar sangat parau dan dalam. "...bibir."

Wajahnya yang datar tetap tidak menunjukkan emosi, namun tatapannya mengunci bibir merah Seravina dengan intensitas yang lebih berbahaya daripada saat ia bertarung tadi. Baginya, ciuman Seravina adalah satu-satunya hadiah yang sebanding dengan nyawa yang baru saja ia pertaruhkan.

Seravina menatap Viktor sejenak, memberikan harapan kecil lewat tatapan matanya, sebelum akhirnya ia menarik tangannya kembali dan memberikan senyum tipis yang penuh kendali.

"Tidak," sahut Seravina tenang.

Viktor membeku. Rahangnya mengeras, tampak jelas ia tidak puas dengan jawaban itu. "Kenapa?"

"Karena kau kotor. Bau darah ini menyengat," Seravina berbalik, berjalan menuju pintu keluar gudang tanpa sedikit pun rasa bersalah telah menolak 'anjingnya' yang baru saja bekerja keras. "Ayo pulang."

Viktor berdiri mematung di tengah kegelapan selama beberapa detik, menatap punggung Seravina yang menjauh. Meskipun ditolak, rasa haus di dalam dirinya justru semakin menjadi-jadi. Ia segera melangkah menyusul di belakang Seravina, menjaga jarak yang tepat seperti bayangan yang setia namun kelaparan.

1
meimei
seru😎
meimei
lanjut thor hhehehehe,, seru
meimei
makasih sudah up thor hihihi
meimei
nyimak
meimei
Novel nya bagus, alurnya seru dan bikin penasaran hehehhe...
semoga novel ini bisa di up dan banyak orang yang tau ttg novel ini
meimei: semangat kak🥺🥺
total 2 replies
meimei
thor novel ini apakah akan dilanjutkan? seruu tau thorr😭😭😭
meimei
mari kita liat pertempuran ini😎😎😎
meimei
lanjut👍
meimei
bener dua duanya sama gila🤣😭
meimei
wah ternyata banyak banget ya sodara seravina😭
meimei
i like the quotes..
meimei
lanjutt
meimei
lanjut thor menarik😎😎
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!