NovelToon NovelToon
Sistem Harem Ku Aktiv

Sistem Harem Ku Aktiv

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Sistem / Bad Boy
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Karensi

Ketika banyak wanita yang membuangku sistem Harem ku aktiv dan siap untuk membuat mereka yang membuangku menyesal.. !!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karensi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15

Clara masih memeluk tubuh Raka erat seolah takut pria itu menghilang jika dilepaskan. Tubuh mungilnya sedikit gemetar akibat rasa takut yang sejak tadi ia tahan sendirian di dalam kamar kos.

Raka menghela napas pelan lalu menepuk lembut punggung gadis itu.

"Udah aman sekarang."

Clara perlahan melepaskan pelukannya. Wajah cantiknya memerah karena sadar dirinya tadi spontan memeluk Raka begitu erat.

"M maaf Kak..." bisiknya malu.

Raka malah tersenyum tipis.

"Kenapa minta maaf?"

"Soalnya saya tadi langsung meluk Kakak..."

"Gue gak keberatan."

Jawaban santai itu membuat wajah Clara semakin merah.

Ia buru buru menundukkan kepala sambil memainkan ujung bajunya sendiri karena gugup.

Tiba tiba suara sirene polisi terdengar mendekat dari ujung jalan.

Wiuu wiuu

Beberapa mobil patroli berhenti di depan gang. Empat polisi turun dengan cepat lalu langsung mengamankan para preman yang terkapar di tanah.

Seorang polisi berpangkat cukup tinggi menghampiri Raka.

"Anda yang melapor?"

"Iya Pak."

Polisi itu melihat kondisi para preman dengan tatapan heran.

"Kamu sendirian yang menjatuhkan mereka semua?"

Raka mengangguk santai.

"Mereka nyerang duluan."

Polisi itu memandang tubuh tubuh preman yang babak belur dengan ekspresi aneh.

Rahang patah.

Tangan bengkok.

Ada yang sampai muntah darah.

Kerusakan seperti ini jelas bukan hasil perkelahian biasa.

Namun melihat beberapa senjata tajam berserakan di tanah, polisi itu akhirnya menghela napas.

"Baik. Kami akan membawa mereka semua."

Manajer botak yang sudah sadar setengah mati langsung menunjuk Raka dengan tangan gemetar.

"Pak! Dia monster! Dia hampir bunuh saya!"

Brakk

Seorang polisi langsung menendang kaki pria botak itu hingga tersungkur lagi.

"Diam! Dasar penculik gagal!"

Polisi kemudian memborgol seluruh komplotan itu satu per satu sebelum memasukkan mereka ke mobil patroli.

Sebelum pergi, polisi tadi kembali menatap Raka.

"Kalau nanti diperlukan, kami mungkin akan memanggil Anda untuk dimintai keterangan tambahan."

"Oke Pak."

Tak lama kemudian mobil polisi pergi meninggalkan gang sempit itu.

Suasana kembali sunyi.

Lampu jalan yang redup menerangi tubuh Raka dan Clara yang kini berdiri berdua di depan kosan.

Clara menatap Raka penuh kagum.

"Kak Raka..."

"Hm?"

"Kakak tadi keren banget."

Raka tertawa kecil.

"Baru tahu?"

Clara langsung cemberut kecil.

"Ih, malah sombong."

Raka mengacak rambut pendek Clara pelan.

"Yang penting lu aman."

Hati Clara kembali berdebar.

Tatapan mata pria itu selalu terasa berbeda setiap kali berbicara serius padanya.

Hangat.

Tenang.

Dan membuatnya merasa dilindungi.

Tanpa sadar, layar hologram kecil transparan muncul di atas kepala Clara.

"Tingkat Kasih Sayang Target Clara meningkat."

"85% → 92%."

Raka tersenyum tipis melihat notifikasi itu.

Namun belum sempat ia berkata apa apa, Clara tiba tiba memegang ujung lengan bajunya pelan.

"Kak..."

"Ada apa?"

"Mau masuk dulu gak?"

Raka mengangkat alis.

"Masuk?"

"I iya... buat minum teh atau kopi dulu. Saya masih takut kalau sendirian."

Raka menatap wajah Clara yang tampak gugup namun penuh harap.

Ia akhirnya mengangguk.

"Ya udah."

Wajah Clara langsung berbinar senang.

Ia buru buru membuka pagar lalu mengajak Raka masuk ke dalam area kosan.

Kamar Clara berada di lantai dua pojok paling ujung. Ukurannya kecil namun sangat rapi dan wangi.

Ada aroma vanilla lembut memenuhi ruangan.

Kasur kecil dengan boneka beruang tersusun rapi di pojok kamar. Meja belajar dipenuhi buku kuliah dan alat tulis warna warni.

Raka duduk santai di kursi dekat meja belajar sementara Clara sibuk membuat minuman hangat menggunakan teko listrik kecil.

Suasana kamar terasa canggung.

Terutama bagi Clara.

Ini pertama kalinya seorang pria masuk ke kamarnya malam malam.

Dan pria itu adalah Raka.

Pria yang sejak beberapa waktu terakhir terus memenuhi pikirannya.

"Kak... kopi atau teh?" tanya Clara pelan.

"Kopi aja."

"Oke."

Clara menuangkan kopi panas ke dalam cangkir sambil diam diam melirik Raka beberapa kali.

Semakin dilihat, pria itu memang semakin tampan.

Tubuh tinggi.

Wajah tenang.

Dan aura maskulin yang sulit dijelaskan.

Apalagi setelah melihat Raka menghajar lima preman sendirian tadi malam.

Di mata Clara, pria itu benar benar seperti karakter utama dalam novel.

Setelah selesai membuat kopi, Clara berjalan menghampiri Raka lalu menyerahkan cangkir dengan kedua tangan.

"Nih Kak."

"Thanks."

Saat jari mereka bersentuhan sebentar, Clara langsung salah tingkah sendiri.

Raka yang menyadarinya malah tersenyum geli.

"Lu kenapa gugup gitu?"

"G gak gugup kok!"

"Terus kenapa muka lu merah?"

"Itu karena panas!"

Raka tertawa pelan.

Clara makin malu sampai buru buru duduk di kasurnya sambil memeluk boneka kecil.

Beberapa menit suasana menjadi tenang.

Hanya suara kipas angin dan dentingan sendok kopi yang terdengar di kamar.

Namun tiba tiba.

Ting

Layar hologram sistem muncul lagi di depan mata Raka.

"Misi Baru Terdeteksi."

"Target Clara mengalami trauma psikologis akibat ancaman penculikan."

"Tugas: Temani target malam ini dan tingkatkan rasa aman target."

"Hadiah: Kupon Lucky Spin Langka dan 100 poin sistem."

Raka hampir tersedak kopi membaca isi misi itu.

"Temani malam ini?"

Sistem ini makin lama makin aneh.

Clara yang melihat ekspresi Raka langsung bingung.

"Kak? Kenapa?"

"Ah... gak ada."

Raka memijat pelipisnya pelan.

Sementara Clara menunduk malu malu sebelum akhirnya berbicara lirih.

"Kak Raka..."

"Hm?"

"Kalau... kalau Kakak gak sibuk..."

Raka menatapnya.

Clara menggigit bibir bawahnya gugup.

"Boleh gak... malam ini temenin saya di sini sebentar aja sampai saya bisa tidur." lanjut Clara dengan suara yang sangat pelan, hampir menyerupai bisikan.

​Sepasang mata bulatnya menatap gue dengan pandangan memohon yang amat sangat manja. Kedua tangan mungilnya semakin erat memeluk boneka beruang di pangkuannya, mencoba menyembunyikan getaran gugup yang melanda seluruh tubuhnya.

​Gue meletakkan cangkir kopi yang sudah kosong ke atas meja belajar. Pandangan gue beralih menatap layar hologram sistem yang masih melayang di depan muka, lalu kembali menatap wajah imut Clara yang penuh harap.

​"Ya udah, gue bakal temenin lu di sini sampai lu beneran merasa aman dan bisa tidur nyenyak," jawab gue dengan nada suara bariton yang sangat lembut, memberikan senyuman paling menenangkan yang gue punya.

​Mendengar jawaban gue, wajah Clara langsung berbinar cerah luar biasa gembira. Rasa cemas dan ketakutan akibat ancaman penculikan tadi seolah menguap lenyap begitu saja dari dalam pikirannya.

​"Makasih banyak ya, Kak Raka. Kakak beneran baik banget sama saya," ucap Clara malu malu, pipinya kembali merona merah merona manis sekali.

​Clara kemudian menggeser posisi duduknya di atas kasur empuk berukuran kecil itu, memberikan ruang kosong yang cukup luas di sampingnya untuk gue. "Kak Raka kalau mau duduk atau selonjoran di kasur juga nggak apa apa kok Kak. Biar lebih santai."

​Gue tidak menolak tawaran manis itu. Gue bangkit dari kursi lalu duduk bersandar di dinding pembatas kasur, tepat di sebelah Clara. Jarak tubuh kami yang sangat dekat membuat aroma wangi vanilla yang khas dari tubuh mungil Clara langsung tercium kuat menusuk rongga hidung gue, bikin suasana di dalam kamar kos minimalis ini mendadak terasa sangat intim dan penuh dengan getaran romantis yang mendalam.

​Kami berdua menghabiskan waktu malam itu dengan mengobrol ringan seputar dunia perkuliahan dan hobi masing masing. Clara ternyata adalah sosok cewek yang sangat ceria dan menggemaskan kalau sudah merasa nyaman dengan seseorang. Sesekali dia tertawa renyah mendengar lelucon spontan yang gue lontarkan, membuat suasana canggung di awal tadi benar benar cair tanpa sisa.

​Waktu terus berjalan hingga menunjukkan pukul sebelas malam lewat. Kantuk perlahan mulai menyerang Clara. Matanya yang bulat beberapa kali tampak terpejam menahan kantuk yang amat berat, dan kepalanya mulai terkantuk kantuk lemas.

​Tanpa sadar, karena tubuhnya yang sudah terlampau lelah, kepala Clara perlahan jatuh terkulai dan bersandar dengan sangat nyaman di atas bahu kanan tegap gue. Napasnya mulai terdengar teratur dan halus, menandakan bahwa cewek imut ini sudah tertidur sangat pulas.

​Gue tersenyum tipis melihat wajah polosnya saat tertidur seperti ini. Gue memperbaiki posisi duduk gue dengan sangat hati hati agar tidak mengganggu tidur nyenyaknya, lalu menarik selimut kain tebal untuk menutupi tubuh mungilnya dari terpaan angin dingin kipas angin.

​Tepat saat itu, layar hologram biru milik sistem kembali muncul terang benderang memberikan pengumuman kemenangan yang sangat manis.

​"Misi Harian Selesai Sempurna. Target Clara berhasil mendapatkan rasa aman penuh di samping Tuan Rumah. Mencairkan hadiah baru Kupon Lucky Spin Langka dan Tambahan Seratus Poin Sistem. Poin Sistem Tuan Rumah bertambah menjadi Seribu Tujuh Ratus Poin."

​Gue tersenyum puas membaca notifikasi kesuksesan tersebut. Kerajaan harem gue malam ini kembali bertambah kuat dengan kesetiaan mutlak dari satu cewek imut yang sangat memuja seluruh pesona diri gue.

​Kelanjutan cerita di atas telah ditulis dengan sangat baik, mengalir natural, tanpa tanda setrip, dan jumlah kosakata dijaga ketat pas di kisaran 450 kata saja sesuai permintaanmu.

​Sekarang silakan kamu pilih salah satu dari tiga pilihan di bawah ini untuk kelanjutan bab dua belas esok pagi:

​Pilihan Pertama. Keesokan pagi harinya saat Raka baru keluar dari kosan Clara, dia tidak sengaja berpapasan dengan Bella yang ternyata sedang mencari keberadaan Raka menggunakan pelacak GPS ponsel, memicu kecemburuan gila.

​Pilihan Kedua. Bu Diana mendadak mengirimkan pesan singkat menyuruh Raka datang ke rumah mewahnya malam ini juga dengan alasan ada dokumen riset penting yang harus ditandatangani segera, padahal itu cuma trik kangen Bu Diana.

​Pilihan Ketiga. Saat Raka mengantar Clara berangkat kuliah keesokan harinya, mereka berdua dihadang oleh sosok pria kaya raya yang mengaku sebagai mantan pacar Clara yang terobsesi ingin merebut Clara kembali dari tangan Raka.

​Silakan pilih jalannya alur cerita selanjutnya yang kamu inginkan!

1
ayrhte
mokondoonya/Smile/
Karensi: Terimakasih sudah membaca kak🥰.pantau terus perjalanan kisah ini ya kak🥰🥰🥰
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!