Dibuang dua puluh tahun ke London, Kalea dipaksa pulang hanya untuk menjadi tumbal wasiat kakaknya. Najwa, sang bidadari pesantren yang sedang menjemput ajal, meminta satu hal yang mustahil: Kalea harus menggantikan posisinya sebagai istri Gus Malik.
Kini, si pemberontak berpakaian seksi itu harus terjepit dalam pernikahan "turun ranjang" bersama pria sedingin es yang hanya mencintai kakaknya. Di bawah atap yang sama dengan Najwa yang kian merapuh, sanggupkah Kalea bertahan menjadi bayang-bayang di atas ranjang pria yang menganggapnya penuh dosa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Es Krim dan Getaran yang Tak Terduga
Kepulangan Najwa dari rumah sakit kali ini disambut dengan kewaspadaan tinggi. Meski kondisinya sudah dinyatakan stabil oleh dokter, gurat kelelahan permanen tak bisa disembunyikan dari wajahnya. Namun, di balik fisiknya yang lemah, pikiran Najwa tetap bekerja keras. Ia menyadari bahwa ketegangan antara Malik dan Lea tidak bisa dibiarkan terus-menerus jika ia ingin pergi dengan tenang.
Pagi itu, di meja makan, Najwa memberikan kode kecil pada Arkan yang sedang asyik memakan sereal. Arkan, yang memang sudah merindukan suasana luar, langsung menangkap sinyal ibunya.
"Abi... Arkan mau ke mall. Mau main ke playground yang ada perosotan besarnya," rengek Arkan sambil menarik-narik ujung jubah Malik.
Malik menghentikan aktivitas makannya, menatap putra tunggalnya dengan lembut. "Arkan mau main? Tapi Bunda masih butuh istirahat, Sayang."
"Mas," potong Najwa sambil tersenyum tenang. "Arkan sudah bosan di rumah terus sejak aku sakit. Bawalah dia jalan-jalan sebentar. Tapi aku sepertinya tidak sanggup kalau harus keliling mall, badanku masih agak lemas."
Malik menghela napas, raut kecewa terlihat di wajahnya. "Kalau begitu, kita tunda saja sampai kamu kuat, Humaira."
"Jangan ditunda. Kasihan Arkan," Najwa menoleh ke arah Lea yang sejak tadi hanya diam mengaduk-aduk kopinya. "Kenapa tidak ajak Lea saja? Lea pasti tahu tempat main yang seru di mall, kan? Lagipula, Lea juga pasti butuh udara segar daripada hanya di kamar terus."
Lea tersentak. "Gue? Sama dia?" tunjuknya pada Malik dengan wajah enggan.
"Demi Arkan, Lea. Tolong temani dia," pinta Najwa dengan nada yang sangat halus namun sulit ditolak.
Malik terdiam. Ia ingin menolak, namun melihat binar harapan di mata Arkan dan permohonan di wajah istrinya, ia hanya bisa mengangguk kaku. "Baiklah. Bersiaplah, Arkan."
Suasana di dalam mobil menuju salah satu mall besar di Jakarta Selatan itu terasa sangat canggung. Malik fokus menyetir dengan wajah datar, sementara Lea duduk di kursi belakang bersama Arkan, terus menatap keluar jendela. Hanya celoteh riang Arkan yang mencegah keheningan itu menjadi mencekam.
Sesampainya di mall, mereka langsung menuju area playground. Arkan berlari dengan semangat, sementara Malik dan Lea berdiri di luar pembatas, mengawasi bocah itu dari kejauhan.
"Lo nggak perlu sekaku itu. Gue di sini cuma karena Kak Najwa," ucap Lea memecah keheningan. Ia hari ini memakai tunik panjang yang sopan namun tetap modis, sesuai dengan "perjanjian" mereka untuk tidak mempermalukan nama pesantren.
Malik tidak menoleh. "Saya tahu. Fokus saja pada Arkan."
Setelah hampir dua jam bermain, Arkan keluar dengan keringat yang bercucuran dan wajah merah padam karena senang. "Abi, Onty... Arkan haus. Mau es krim!"
Mereka akhirnya singgah di sebuah kedai es krim premium di lantai yang sama. Arkan memesan rasa coklat, Malik hanya memesan air mineral, sementara Lea memesan *strawberry sundae* dengan saus yang melimpah.
Mereka duduk di meja bundar kecil. Arkan makan dengan lahap, membuat Malik sesekali menyeka dagu putranya dengan tisu. Lea, yang merasa lapar setelah menjaga Arkan, mulai memakan es krimnya dengan cepat. Tanpa ia sadari, saus stroberi dan krim putihnya tertinggal di sudut bibir dan bagian atas mulutnya.
Malik, yang sedang menyesap air mineralnya, tak sengaja melayangkan pandangannya ke arah Lea. Ia terpaku sejenak. Lea nampak begitu berbeda saat sedang makan es krim ia terlihat seperti gadis biasa, bukan wanita pemberontak yang selalu meneriakinya.
"Kalea," panggil Malik pelan.
"Apa?" jawab Lea dengan mulut yang masih penuh es krim.
Malik terdiam. Ia melihat sisa es krim itu cukup banyak dan membuat penampilan Lea berantakan. Secara refleks, tanpa berpikir panjang tentang prinsip "tidak menyentuh" yang selalu ia agungkan, Malik mengulurkan tangannya.
Jari jempol Malik menyentuh sudut bibir Lea dengan sangat lembut.
Lea membeku. Sendok es krimnya menggantung di udara. Ia bisa merasakan hangatnya kulit jempol Malik yang perlahan mengusap noda es krim di bibirnya. Gerakan itu sangat pelan, seolah Malik sedang membersihkan sesuatu yang sangat berharga.
Mata mereka bertemu. Untuk pertama kalinya, tidak ada amarah di mata Malik. Yang ada hanyalah sebuah ketenangan yang dalam, sebuah tatapan yang seolah baru pertama kali benar-benar "melihat" siapa itu Kalea.
Malik mengusap noda itu hingga bersih, lalu perlahan menarik tangannya kembali. Ia sendiri tampak terkejut dengan apa yang baru saja ia lakukan. Ia segera memalingkan wajah, berdehem pelan untuk menutupi kegugupannya.
"Ada... ada bekas es krim di sana. Berantakan," ucap Malik dengan suara yang sedikit bergetar, kembali menundukkan pandangannya ke arah meja.
Jantung Lea berdegup kencang, jauh lebih kencang daripada saat ia berciuman dengan Tom di taman. Ada getaran aneh yang menjalar dari bibirnya ke seluruh tubuhnya. Sentuhan Malik tidak terasa kasar seperti saat insiden hukuman waktu itu; sentuhan ini terasa... melindungi.
"Makasih," bisik Lea pendek, langsung menunduk dalam-dalam menyembunyikan pipinya yang mendadak terasa panas.
Arkan, yang melihat kejadian itu, hanya tersenyum polos sambil terus menjilati es krimnya. "Abi hebat, bisa bersihin Onty kayak bersihin Arkan."
Sisa waktu di mall dihabiskan dalam diam, namun kali ini keheningannya terasa berbeda. Tidak lagi menusuk, melainkan ada rasa hangat yang perlahan menyelinap. Najwa, yang menunggu di rumah, tersenyum saat melihat ketiganya pulang dengan raut wajah yang lebih tenang. Rencananya mulai menampakkan hasil, meski ia tahu, badai yang sesungguhnya mungkin belum benar-benar berlalu.