Di malam hujan yang seharusnya biasa saja, hidup Nayra berubah total setelah ia menerima undangan misterius dari aplikasi bernama “The Game Master.” Awalnya hanya permainan tantangan sederhana berhadiah uang. Namun, setiap level yang berhasil diselesaikan justru menyeretnya semakin dalam ke permainan berbahaya yang tak bisa dihentikan.
Aturannya hanya satu: jangan pernah melanggar perintah permainan.Di tengah usahanya mencari jalan keluar, Nayra bertemu dengan Zavian, pria dingin dan penuh teka-teki yang seolah mengetahui lebih banyak tentang permainan itu. Tapi semakin dekat mereka, semakin Nayra curiga bahwa Zavian mungkin bukan korban… melainkan bagian dari permainan itu sendiri.
Ketika cinta, pengkhianatan, dan kematian mulai bercampur dalam satu arena mematikan, Nayra harus memilih: mempercayai hatinya atau bertahan hidup.
Karena di permainan ini, tidak semua orang bisa keluar hidup-hidup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12 — Saudara yang Seharusnya Mati
Lift mendadak terasa terlalu sempit.
Terlalu dingin.
Dan terlalu sunyi.
Pria itu berdiri di depan pintu lift yang masih terbuka setengah, napasnya tenang seolah ledakan gedung bukan masalah besar.
Wajahnya…
sama persis dengan Zavian.
Bukan mirip.
Bukan seperti saudara jauh.
Tapi benar-benar sama.
Rahang tajam itu.
Tatapan dingin itu.
Bahkan cara berdirinya pun identik.
Nayra langsung menoleh ke Zavian.
Cowok itu membeku.
Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu…
Zavian terlihat benar-benar kehilangan ekspresi.
“Tidak mungkin…” bisiknya pelan.
Pria itu tersenyum kecil.
Dan senyum itu terasa jauh lebih menyeramkan daripada topeng mana pun.
“Halo, adik kecil.”
Deg.
Lift langsung terasa sesak.
—
Arsen langsung mengangkat pistol.
“Jangan gerak.”
Pria itu melirik pistol tersebut sekilas lalu tertawa kecil.
“Kamu masih hidup juga ternyata, Subject Alpha.”
“Sayangnya iya.”
Nayra melirik mereka bergantian.
“Kenapa semua orang di tempat ini saling kenal?!”
Tak ada yang menjawab.
Karena suasana sudah terlalu tegang.
Lift berbunyi.
Pintu perlahan mulai tertutup.
Dan pria itu tetap berdiri santai seolah semua ada dalam kendalinya.
Zavian akhirnya bicara.
Suara rendah.
Nyaris tidak terdengar.
“Kamu mati.”
Pria itu memiringkan kepala sedikit.
“Harusnya begitu.”
Dunia Nayra langsung terasa makin tidak masuk akal.
“Kamu… kakaknya Zavian?”
Pria itu menatap Nayra.
Dan matanya berubah sedikit lebih lembut.
“Kamu pasti Subject 07.”
Nayra langsung merinding.
Ia benci dipanggil begitu.
“Aku Nayra.”
Pria itu tersenyum tipis.
“Nama yang bagus.”
Zavian langsung maju satu langkah.
“Apa yang mereka lakukan ke kamu?”
Hening.
Lift mulai bergerak naik perlahan.
Suara logam berdecit memenuhi ruang sempit itu.
Pria itu akhirnya menjawab—
“Mereka menyelamatkanku.”
Arsen langsung mendecih kesal.
“Cuci otak total. Bagus.”
“Aku lebih suka menyebutnya… pencerahan.”
Nayra langsung tidak suka cara pria itu bicara.
Terlalu tenang.
Terlalu kosong.
Mirip orang-orang organisasi itu.
—
“Aku lihat kamu masih emosional, Zavian.”
Tatapan pria itu turun tipis.
“Masih belum bisa lepas dari rasa bersalah.”
Rahang Zavian mengeras.
“Jangan ngomong seolah kamu tahu apa yang aku rasain.”
“Aku tahu.”
Senyum kecil itu muncul lagi.
“Karena aku juga pernah merasakannya.”
Nayra memperhatikan wajah Zavian diam-diam.
Cowok itu terlihat marah.
Tapi bukan cuma marah.
Takut.
Dan itu baru pertama kali Nayra melihatnya.
“Aku pikir aku lihat kamu mati,” suara Zavian akhirnya keluar lagi.
“Aku memang mati.”
Lift mendadak terasa lebih dingin.
Pria itu menyender santai ke dinding lift.
“Orang yang kamu kenal dulu sudah mati.”
Deg.
“Terus kamu siapa?” tanya Nayra pelan.
Pria itu menatap lurus ke matanya.
“Player 01.”
Hening.
Bahkan alarm gedung terasa jauh sesaat.
Arsen langsung memaki pelan.
“Tentu saja.”
Nayra mengerutkan dahi.
“Player 01 kenapa?”
Arsen menatapnya.
“Pemain pertama yang bertahan hidup.”
Tatapan pria itu berubah bangga.
“Dan yang terbaik.”
Zavian menatap kakaknya tanpa berkedip.
“Kakakku nggak akan pernah kerja buat mereka.”
“Karena kamu masih hidup di masa lalu.”
Nada suaranya dingin sekarang.
“Dunia nggak sesederhana itu, Zavian.”
—
Lift berguncang keras tiba-tiba.
DUARR!
Ledakan dari bawah membuat lampu berkedip liar.
Timer kecil di panel lift menunjukkan:
00:38
Kurang dari satu menit.
“Aku nggak mau mati di lift,” gumam Nayra panik.
“Tenang,” kata Player 01 santai. “Lift ini anti-ledakan.”
Nayra langsung menatapnya.
“Kenapa kamu ngomong kayak review hotel?!”
Arsen hampir tertawa.
Hampir.
—
Anak kecil di samping Nayra terus diam sejak tadi.
Tatapannya tertuju pada Player 01.
Lalu ia bicara pelan—
“Kamu bau darah.”
Suasana langsung berubah aneh.
Player 01 menatap anak itu beberapa detik.
“Original Subject 07.”
Tatapannya menyipit sedikit.
“Mereka benar-benar membangunkanmu.”
Anak itu memiringkan kepala.
“Kamu takut?”
Player 01 tersenyum kecil.
“Aku tidak takut apa pun.”
“Bohong.”
Jawaban cepat itu membuat lift hening lagi.
Dan anehnya…
Player 01 tidak membantah.
—
Lift akhirnya berhenti keras.
DING!
Pintu terbuka.
Lorong panjang menyambut mereka.
Tapi ini bukan bagian gedung tua tadi.
Tempat ini berbeda.
Modern.
Bersih.
Putih.
Dan penuh kamera.
Nayra langsung sadar.
“Kita di mana?”
Player 01 berjalan keluar duluan.
“Pusat permainan.”
Deg.
Arsen langsung siaga.
“Kita belum sampai sini tadi.”
“Karena kalian masuk dari bawah.”
Player 01 menoleh sedikit.
“Selamat datang di jantung organisasi.”
—
Lorong itu sangat sunyi.
Tidak ada orang.
Terlalu bersih sampai terasa tidak manusiawi.
Langkah kaki mereka menggema pelan.
Nayra berjalan dekat Zavian sekarang.
Entah kenapa ia merasa lebih aman begitu.
Walaupun Zavian sendiri terlihat tegang.
“Kamu percaya dia?” bisik Nayra pelan.
“Enggak.”
“Terus kenapa kita ikut?”
Tatapan Zavian lurus ke depan.
“Karena dia sengaja membawa kita ke sesuatu.”
Nayra langsung merinding.
“Apa?”
“Aku belum tahu.”
Dan itu tidak menenangkan sama sekali.
—
Mereka akhirnya sampai di ruangan besar berbentuk lingkaran.
Puluhan layar raksasa memenuhi dinding.
Dan di semua layar…
ada permainan.
Orang-orang berlari.
Menangis.
Saling bunuh.
Memohon ampun.
Nayra langsung menahan napas.
“Ya Tuhan…”
Arsen mengepalkan tangannya.
“Mereka punya banyak game…”
“Seluruh dunia,” jawab Player 01 tenang.
Nayra menoleh cepat.
“Apa?”
“Ini bukan cuma satu kota.”
Layar berubah cepat.
Negara berbeda.
Bahasa berbeda.
Permainan berbeda.
Dan semua sama-sama mengerikan.
“Kalian sakit…” bisik Nayra.
Player 01 malah tersenyum tipis.
“Kamu tahu berapa banyak orang menonton semua ini?”
Nayra langsung merasa mual.
“Orang-orang nonton beginian?”
“Orang kaya bosan selalu mencari hiburan baru.”
Tatapannya turun ke salah satu layar.
“Ketakutan manusia selalu menarik.”
Zavian langsung berjalan mendekatinya.
“Kamu menikmati ini?”
Player 01 menatap adiknya lama.
Lalu menjawab pelan—
“Awalnya tidak.”
Deg.
“Apa maksudmu?”
“Kamu pikir aku langsung jadi seperti sekarang?”
Tatapannya berubah kosong sesaat.
“Mereka menghancurkanmu perlahan.”
Hening.
Dan untuk pertama kalinya…
Nayra melihat sedikit manusia dalam diri Player 01.
Sedikit.
Sangat sedikit.
—
Tiba-tiba seluruh layar mati bersamaan.
BLANK.
Lampu ruangan meredup.
Dan suara tepuk tangan terdengar dari atas.
Pelan.
Pelan sekali.
Nayra langsung menoleh.
Di balkon lantai dua…
seseorang berdiri.
Pria tua berjas hitam.
Rambutnya memutih rapi.
Dan matanya…
dingin.
Sangat dingin.
“Menarik.”
Suara pria itu tenang.
“Tiga Subject dan dua Player terbaik berkumpul di satu tempat.”
Arsen langsung mengangkat pistol.
“Direktur.”
Pria tua itu tersenyum kecil.
“Aku lebih suka dipanggil Founder.”
Nayra langsung tahu.
Ini orang paling atas.
Monster utama di balik semuanya.
Dan entah kenapa…
ia terlihat biasa saja.
Itu justru yang paling menyeramkan.
—
Founder berjalan turun perlahan melalui tangga melingkar.
Langkahnya santai.
Seolah tidak ada gedung yang akan meledak.
“Atas nama organisasi…”
Tatapannya jatuh ke Nayra.
“…aku senang melihatmu kembali, Subject 07.”
Nayra langsung muak.
“Berhenti panggil aku begitu!”
Founder tertawa kecil.
“Masih penuh emosi.”
Tatapannya berubah puas.
“Eksperimen berhasil.”
Zavian langsung berdiri di depan Nayra.
“Kalau mau ngomong, ngomong ke aku.”
Founder memperhatikan Zavian beberapa detik.
Lalu tersenyum tipis.
“Kamu mirip kakakmu dulu.”
Player 01 tidak bereaksi.
Dan itu membuat Nayra semakin sedih entah kenapa.
Seolah pria itu benar-benar sudah kehilangan dirinya.
—
“Kalian mau apa sebenarnya?” bentak Nayra akhirnya.
Suara gadis itu menggema di ruangan besar.
“Apa tujuan semua ini?!”
Founder berhenti berjalan.
Lalu menjawab dengan santai—
“Menciptakan manusia sempurna.”
Nayra langsung tertawa tidak percaya.
“Kalian bunuh orang buat itu?!”
“Pengorbanan selalu diperlukan.”
“Kalian gila.”
Founder tersenyum kecil.
“Semua kemajuan besar lahir dari kegilaan.”
Arsen mendecih jijik.
“Dan kalian menyebut diri kalian penyelamat dunia.”
“Kami mempercepat evolusi manusia.”
Founder menatap Nayra.
“Dan kamu adalah hasil terbaik kami.”
Nayra langsung merasa marah lagi.
“Aku bukan hasil eksperimen!”
“Tubuhmu mungkin menyangkal.”
Tatapannya tajam.
“Tapi genmu tidak.”
Hening.
Lalu Founder mengucapkan sesuatu yang membuat seluruh ruangan membeku.
“Karena kamu bukan manusia biasa, Nayra.”
Deg.
Napas Nayra tercekat.
“Apa…?”
Founder tersenyum pelan.
“Subject 07 dibuat menggunakan DNA yang tidak seharusnya ada.”
Arsen langsung menegang.
Zavian mengernyit tajam.
Player 01 tetap diam.
Dan Nayra…
merasa jantungnya hampir berhenti.
“Apa maksudmu…”
Founder menatapnya lurus.
“Kamu diciptakan dari Project Lazarus.”
Nama itu terdengar asing.
Tapi entah kenapa…
kepala Nayra langsung sakit hebat saat mendengarnya.
Potongan ingatan muncul lagi.
Ruangan gelap.
Tabung kaca.
Dan simbol aneh berbentuk lingkaran hitam.
“AARGH—”
Nayra jatuh berlutut.
Zavian langsung menahannya.
“Nayra!”
Founder memperhatikan dengan puas.
“Memorinya mulai kembali.”
“Diam!” bentak Zavian.
Tapi Founder tetap tenang.
“Project Lazarus adalah proyek untuk menciptakan manusia yang bisa bertahan dari kematian.”
Sunyi total.
“Apa…?”
Founder tersenyum tipis.
“Dan Subject 07…”
Tatapannya perlahan berubah dingin.
“…adalah satu-satunya yang berhasil hidup kembali.”