Di dunia tempat takdir manusia tercatat dalam sebuah Arsip, seorang pemuda terbangun tanpa data apa pun tentang dirinya.
Saat rahasia dunia mulai terbuka, ia menjadi satu-satunya orang yang tidak seharusnya ada.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sena himura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35 — Di Persimpangan Ribuan Jalan
Archive Zero
Bab 35 — Di Persimpangan Ribuan Jalan
Setelah meninggalkan dunia kelabu yang kini berubah cerah itu, Ren, Anya, dan Kai kembali melayang di hamparan luas ruang angkasa, tempat bintang-bintang berkelap-kelip bagai debu permata yang tak terhitung jumlahnya. Di sini, di tengah keheningan yang agung itu, jalan-jalan menuju masa depan terbentang di hadapan mereka, bercabang ribuan arah, masing-masing bersinar dengan warna dan cahaya yang berbeda, masing-masing membawa janji petualangan, keajaiban, dan kisah baru.
Mereka berhenti sejenak di sebuah tempat yang menjadi titik temu segala arah, tempat di mana aliran waktu dari ribuan dunia bertemu dan berkelindan. Di bawah kaki mereka, terbentang pemandangan luar biasa: ribuan, jutaan gambaran kecil dunia-dunia yang berbeda, masing-masing berputar dalam lintasannya sendiri. Ada dunia yang sedang lahir, ada dunia yang sedang tumbuh makmur, ada yang sedang menghadapi bahaya, dan ada pula yang sedang merayakan kemenangan.
Kai berputar perlahan di tempatnya, matanya berbinar penuh kekaguman dan rasa ingin tahu yang tak pernah padam. Ia menunjuk ke arah salah satu cahaya yang berdenyut cepat dan berwarna merah terang.
"Lihat yang itu!" seru Kai antusias. "Dunia yang penuh dengan energi api! Di sana, para penghuninya menganggap api sebagai sumber kehidupan dan semangat. Mereka sedang bersiap merayakan festival besar untuk menghormati keseimbangan alam. Pasti sangat meriah!"
Ia lalu menunjuk ke arah cahaya lain yang berwarna biru tua dan tenang.
"Dan lihat yang ini! Lautan raksasa yang menutupi seluruh permukaan planet. Makhluk-makhluk di sana hidup di dalam air, membangun kerajaan indah di kedalaman samudra. Katanya, mereka menyimpan rahasia tentang asal mula aliran air di seluruh alam semesta."
Belum selesai Kai berbicara, Anya sudah menatap ke arah sebuah titik cahaya yang sangat redup, hampir tak terlihat, yang bergetar pelan seolah sedang takut. Cahaya itu berwarna hijau pucat, terisolasi di sudut yang jauh.
"Dan yang itu..." bisik Anya lembut, suaranya penuh perhatian. "Dunia yang sangat muda, sangat kecil, dan sangat rapuh. Kehidupan di sana baru saja mulai tumbuh, tapi mereka sedang terancam oleh bencana alam besar. Mereka belum punya kekuatan apa pun, belum punya pengetahuan, dan mereka sangat takut. Mereka memanggil kita dengan sekuat hati, meski belum tahu siapa kami."
Ren berdiri di tengah-tengah kedua sahabatnya, menatap ribuan pilihan yang ada di depan mereka. Ia merasakan setiap getaran, setiap doa, dan setiap panggilan yang datang dari jutaan dunia itu. Hatinya penuh, karena ia sadar betapa luasnya tanggung jawab dan betapa besarnya kasih sayang yang bisa mereka berikan.
"Jalan mana pun yang kita pilih, semuanya penting," ucap Ren pelan namun tegas, suaranya terdengar jelas di tengah keheningan ruang angkasa. "Setiap dunia memiliki kisahnya sendiri, setiap makhluk memiliki haknya sendiri untuk bahagia dan aman. Kita tidak bisa ada di semuanya sekaligus, tapi kita bisa hadir sepenuhnya di mana pun kita berada."
Ia menoleh ke arah Anya, lalu ke arah Kai, tersenyum lebar dengan semangat yang sama persis seperti saat mereka pertama kali berangkat dari Elarion.
"Jadi, kawan-kawan... ke mana kita melangkah selanjutnya? Ke pesta api yang meriah? Ke kedalaman samudra yang penuh rahasia? Atau ke dunia kecil yang rapuh itu, yang sangat membutuhkan uluran tangan?"
Kai menggaruk kepalanya yang tidak gatal, tertawa kecil sambil melihat ke sana-sini dengan bingung tapi gembira.
"Wah, susah memilihnya! Semuanya terdengar seru dan menarik. Tapi... kau tahu, aku selalu merasa lebih tertarik pada hal yang paling sulit dan paling membutuhkan bantuan. Lagipula, kita dulu juga pernah menjadi dunia kecil dan rapuh seperti itu, kan? Kita tahu rasanya takut sendirian."
Anya langsung mengangguk setuju, matanya sudah tertuju lekat-lekat pada cahaya hijau pucat yang bergetar itu.
"Aku setuju dengan Kai. Ke mana lagi kita harus pergi kalau bukan ke tempat yang paling membutuhkan kita? Kita adalah Penjaga, kan? Tugas kita ada di sana, di sisi mereka yang sedang berjuang bertahan hidup."
Ren tertawa gembira, mengangkat kedua tangannya ke atas seolah memberi hormat.
"Keputusan sudah bulat! Menuju dunia kecil yang berwarna hijau itu! Kita akan pastikan benih kehidupan di sana tumbuh kuat, aman, dan bahagia. Dan siapa tahu... kelak dari sana akan lahir kisah indah lain yang akan dikenang sepanjang masa."
Dengan satu gerakan serentak, ketiga berkas cahaya indah itu melesat membelah ruang hampa, meluncur kencang menuju titik kecil yang bergetar itu. Semakin dekat mereka, semakin jelas mereka merasakan suasana dunia itu.
Dunia itu sangat kecil, hampir tak terlihat dibandingkan raksasa-raksasa alam semesta lainnya. Permukaannya tertutup hutan lebat berwarna hijau zamrud dan padang bunga yang tak berujung. Udara di sana sangat bersih, airnya sangat jernih, dan energinya sangat murni. Namun, ada ancaman besar yang mengintai: sebuah gumpalan energi gelap yang bergerak perlahan namun pasti mendekat, sisa dari ledakan bintang di masa lalu, yang akan menghantam dunia kecil itu dan memusnahkan segala kehidupan di sana jika tidak dicegah.
Di permukaan dunia itu, penghuninya adalah makhluk-makhluk kecil yang lembut dan damai. Mereka memiliki wujud yang mirip tumbuhan, berjalan tegak dengan akar-akar halus, berbicara dengan suara gemerisik daun, dan hidup bersatu dengan alam di sekitar mereka. Mereka tidak tahu cara bertarung, mereka tidak tahu cara menggunakan kekuatan besar, mereka hanya tahu cara tumbuh, mekar, dan memberi manfaat bagi lingkungan.
Kini, seluruh penghuni dunia itu berkumpul di tempat tertinggi, menatap langit dengan takut dan sedih, melihat gumpalan gelap itu semakin besar dan semakin dekat. Mereka berpegangan satu sama lain, menyanyikan lagu doa yang sederhana namun penuh harap, memohon kepada alam semesta agar kehidupan mereka diizinkan terus tumbuh.
"Kehidupan kami masih muda..." bisik pemimpin mereka, sesosok makhluk tua yang batang tubuhnya besar dan kokoh, namun dahan-dahannya sudah mulai kering. "Kami belum sempat melihat keindahan penuh dunia kami. Kami belum sempat memberi manfaat sepenuhnya. Jika kami harus hilang... biarlah kami hilang dengan damai."
Namun, di antara kerumunan itu, ada satu makhluk kecil yang masih sangat muda, kuncup bunganya belum mekar sempurna. Ia tidak ikut bersedih seperti yang lain. Ia menatap langit dengan penuh keyakinan, daun-daun kecilnya bergetar karena semangat.
"Jangan menyerah!" serunya dengan suara nyaring dan jernih. "Kakek bercerita! Di luar sana, di antara bintang-bintang... ada Pengembara Cahaya. Ada Penjaga yang datang menolong siapa saja yang berjuang untuk kebaikan! Mereka pasti datang! Aku yakin!"
Dan tepat saat kata-kata itu selesai diucapkan, langit di atas mereka yang tadinya berwarna biru cerah tiba-tiba bersinar terang benderang. Tiga cahaya indah berwarna ungu, biru, dan hijau turun perlahan dari angkasa, melayang di udara, berdiri kokoh di antara dunia kecil mereka dan gumpalan gelap yang mengancam.
Ren, Anya, dan Kai memancarkan cahaya yang begitu murni dan kuat, hingga seluruh permukaan dunia itu tersinari kehangatan.
"Kalian berdoa, dan kami mendengarnya," suara Ren bergema lembut namun berkuasa, terdengar hingga ke setiap sudut dunia kecil itu. "Kalian berharap, dan kami datang. Kehidupan yang indah dan damai seperti ini... tidak akan kami biarkan binasa."
Anya mengulurkan tangannya ke arah gumpalan energi gelap yang besar itu. Dengan lembut namun tegas, ia memutar telapak tangannya, dan seketika itu juga, aliran air kehidupan yang raksasa, murni, dan berkilauan keluar dari udara kosong, membentuk pusaran besar yang menyelimuti gumpalan gelap itu. Energi gelap yang tadinya mengancam itu perlahan melembut, berubah warna, dan akhirnya diserap sepenuhnya menjadi energi murni baru yang kemudian disebarkan kembali ke seluruh penjuru dunia itu sebagai pupuk kehidupan yang luar biasa.
Bahaya itu hilang sepenuhnya, diubah menjadi kekuatan yang justru akan membuat dunia itu tumbuh semakin subur dan makmur.
Kai tersenyum, menatap makhluk-makhluk kecil yang kini diam terpukau dan penuh takjub. Ia mengangkat tangannya, dan dari ujung jarinya, turunlah butiran-butiran cahaya kecil yang jatuh seperti hujan. Setiap butiran yang jatuh, membuat bunga-bunga di sana mekar lebih indah, membuat pohon-pohon tumbuh lebih kokoh, dan memberikan pengetahuan baru kepada para penghuninya tentang cara menjaga keseimbangan alam mereka sendiri selamanya.
"Kalian makhluk yang luar biasa," ucap Kai dengan nada kagum. "Kalian hidup tanpa menyakiti siapa pun, kalian hidup memberi manfaat. Itulah kekuatan terbesar yang ada di alam semesta ini. Lebih kuat dari pedang, lebih kuat dari sihir apa pun. Teruslah hidup seperti ini, dan dunia kalian akan menjadi tempat yang paling indah di antara semuanya."
Ren turun perlahan ke tanah, mendarat dengan lembut di samping makhluk kecil yang berani berharap tadi. Ia berjongkok, menatap makhluk kecil itu dengan senyum bangga.
"Terima kasih atas keyakinanmu," kata Ren lembut. "Kaulah yang memanggil kami. Kaulah pahlawan yang sebenarnya hari ini, karena kau tidak membiarkan harapan padam meski semua orang sudah menyerah."
Makhluk kecil itu mekar seketika karena bahagia, warnanya menjadi sangat cerah dan indah. Ia melambaikan daun-daun kecilnya penuh sukacita.
"Aku tahu kalian ada! Aku tahu kisah itu benar! Sekarang... sekarang aku akan menceritakan kisah ini kepada semua orang! Bahwa kami tidak sendirian! Bahwa ada sahabat kami di antara bintang-bintang!"
Matahari bersinar cerah di langit, angin berhembus membawa aroma bunga yang manis, dan seluruh dunia kecil itu bersorak gembira, merayakan keselamatan mereka dan kedatangan sahabat dari bintang.
Ren, Anya, dan Kai berdiri berdampingan, menatap pemandangan indah itu dengan hati yang puas dan bahagia. Mereka tahu, tugas mereka di sini sudah selesai. Dunia ini aman, dan kini memiliki kekuatan serta pengetahuan untuk menjaga dirinya sendiri selamanya.
Namun, sebelum mereka pergi, pemimpin makhluk-makhluk itu maju mendekat, membawa hadiah kecil yang indah: sebuah bunga yang paling indah, paling harum, dan paling kuat dari semuanya, yang tumbuh tepat di jantung dunia itu.
"Ambillah ini," kata pemimpin itu dengan suara gemerisik yang hormat. "Bawalah kenangan tentang kami ke mana pun kalian pergi. Agar setiap kali kalian melihat bunga ini, kalian ingat bahwa di sini, ada dunia kecil yang sangat mencintai dan berterima kasih kepada kalian selamanya."
Anya menerima bunga itu dengan penuh kehati-hatian dan rasa hormat. Bunga itu tidak layu, tidak rontok, melainkan terus mekar dan bersinar indah di telapak tangannya, seolah hidup dan bahagia bisa dibawa kemana saja.
"Terima kasih," ucap Anya tulus. "Ini adalah hadiah terindah yang pernah kami terima. Kami akan menjaganya selamanya, di hati kami."
Perlahan, wujud mereka kembali bersinar, bersiap melesat pergi lagi ke angkasa luas. Penduduk dunia kecil itu melambaikan tangan dan daun-daun mereka, menyanyikan lagu perpisahan yang indah, berjanji akan menjaga kenangan ini dan menceritakannya turun-temurun.
Saat mereka kembali melayang tinggi, menatap ribuan jalan lain yang masih terbentang luas tak berujung di depan mereka, Kai mencium bunga indah itu yang kini mengapung di udara di antara mereka bertiga.
"Lihatlah," kata Kai riang. "Setiap kali kita pergi dari satu tempat, kita pulang membawa kebahagiaan dan kenangan baru. Koleksi kisah indah kita semakin banyak, dan semakin indah."
Ren menatap ke depan, ke arah cakrawala tak berujung yang penuh misteri dan keajaiban.
"Dan ini baru permulaan, kawan-kawan," ucap Ren penuh semangat. "Selama masih ada kehidupan, selama masih ada kebaikan, dan selama kita bertiga bersama... perjalanan ini tidak akan pernah berakhir."
Anya tersenyum, merangkul lengan kedua sahabatnya, dan menatap masa depan yang cerah.
"Ke mana pun angin bintang membawa kita... kita akan selalu ada. Menjadi cahaya, menjadi harapan, menjadi sahabat bagi siapa saja yang membutuhkan."
Dengan senyum yang tak pernah luntur, mereka bertiga kembali melesat, menembus ruang dan waktu, siap menyapa dunia-dunia baru, menulis kisah-kisah baru, dan menaburkan jejak abadi kebaikan ke seluruh penjuru alam semesta.
Di mana pun ada kehidupan... di situ akan ada kisah mereka.
Di mana pun ada harapan... di situ akan ada jejak mereka.
Di mana pun ada persahabatan... di situ akan ada Ren, Anya, dan Kai.
Perjalanan terus berlanjut. Kisah selalu bersambung...
BERSAMBUNG
jangan lupa berkunjung ke novelku mas judulnya "Ovrien"