📚 JUDUL: ADIK BUNGSU KESAYANGAN DAN DUA ABANG PENGUASA
(MAFIA KEJAM & CEO DINGIN)
✍️ Penulis: Lestari Visa
Siapa sangka, gadis lembut berhijab ini adalah harta paling berharga bagi dua penguasa besar yang ditakuti banyak orang? 🖤
Satu saudara adalah bos mafia yang kejam dan tak berperasaan, sementara yang lain adalah CEO dingin yang memegang kendali dunia bisnis. Bagi orang lain, mereka adalah sosok yang menakutkan dan sulit didekati. Tapi di hadapan adik bungsu kesayangan mereka, segalanya berubah. Kekejaman dan kedinginan itu lenyap, berganti menjadi kasih sayang yang tak terhingga dan perlindungan mati.
Di mana pun dia berada, dia adalah ratu yang tak tersentuh. Siapa pun yang berani menyakiti hatinya, harus bersiap menghadapi murka kedua abangnya yang tak kenal ampun.
Ikuti kisah manis, menegangkan, dan penuh kasih sayang ini hanya di NovelToon! Klik tautan di bawah untuk mulai membaca 👇
yu baca
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lestari visa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14 : KETENANGAN YANG TERJAGA, KEHIDUPAN YANG BERJALAN
Waktu berlalu dengan cepat, dan kehidupan di sekolah berjalan dengan sangat tertib dan tenang. Tidak ada lagi orang yang berani berbuat semaunya atau menindas sesama siswa — semua orang sudah menyadari bahwa ada batasan yang tidak boleh dilanggar, dan Aisyah adalah alasan utama mengapa suasana sekolah menjadi seperti ini.
Aisyah tetap menjalani harinya seperti biasa, tanpa ada perubahan sama sekali. Dia tetap terlihat dingin, cuek, dan tidak banyak berbicara dengan siapa pun. Ketika ada siswa yang menyapa atau mengajak berbicara, dia hanya menanggapi dengan kata-kata yang singkat dan tidak menunjukkan perasaan apapun. Dia tidak pernah memamerkan kemampuannya, tidak pernah ingin menjadi pusat perhatian, dan tidak peduli dengan apa yang orang lain pikirkan tentang dirinya. Baginya, yang terpenting hanyalah menjalani hidupnya dengan tenang dan melakukan apa yang dia anggap benar.
Nuri selalu berada di sampingnya, dan persahabatan mereka tetap terjalin dengan baik. Meskipun Nuri lebih sering berbicara dan menunjukkan perasaan, Aisyah hanya menanggapi dengan cara yang sederhana — kadang hanya dengan anggukan atau senyum tipis yang tidak terlihat jelas, tapi Nuri tahu bahwa Aisyah tetap menghargai persahabatan mereka.
Suatu hari, saat jam pelajaran selesai dan semua siswa akan pulang, seorang guru mendatangi Aisyah dan Nuri. Wajah guru itu terlihat serius, dan Aisyah bisa langsung merasakan bahwa ada sesuatu yang penting yang akan dibicarakan.
"Aisyah, Nuri, kalian berdua bisa tinggal sebentar," kata guru itu. "Ada hal yang ingin saya sampaikan kepada kalian."
Keduanya berhenti berjalan dan menatap guru dengan tatapan yang tenang. Aisyah hanya menunggu dengan sikap yang tidak berubah, tidak menunjukkan rasa penasaran atau khawatir sama sekali.
"Saya baru saja menerima kabar dari dinas pendidikan," lanjut guru itu. "Ada acara pertemuan antar sekolah yang akan diadakan minggu depan, dan setiap sekolah diundang untuk mengirimkan perwakilan. Acara ini diikuti oleh banyak siswa dari berbagai sekolah, dan ada berbagai kegiatan yang akan diadakan. Kami memutuskan untuk mengirimkan kalian berdua sebagai perwakilan sekolah kita."
Aisyah mengangguk sopan tapi datar, seolah-olah dia sudah mendengar hal yang biasa saja. "Baik. Kami akan mengikuti nya."
Guru itu terlihat sedikit terkejut dengan tanggapan Aisyah yang begitu sederhana, tapi dia melanjutkan pembicaraannya. "Kegiatan yang diadakan termasuk lomba cerdas cermat, lomba seni, dan juga pertemuan untuk berbagi pengalaman antar siswa. Kami berharap kalian bisa mewakili sekolah dengan baik. Aisyah, karena kalian dikenal sebagai siswa yang cerdas dan bisa menyelesaikan masalah dengan baik, kami berharap kalian bisa berperan dalam kegiatan yang membutuhkan ketegasan dan kebijaksanaan."
Aisyah hanya menatap guru dengan tatapan yang dingin tapi sopan . "Saya akan melakukan yang terbaik sekolah harapan bangsa ini kata asiyah dan nuri secara barengan apa ada lagi buk kata aisyah dengan sopan tapi muka datar
"tidak ada lagi," jawab guru itu. "Kalian bisa lansung pulang sekarang. Terimakasih dan hati hati di jalan,kata gurunya itu."aisyah dan nuru tidak lupa pamitan dan mengucapakan salam." assalamualaikum kata nuri dan aisyah secara bersamaan.
Setelah guru itu pergi, Nuri menatap Aisyah dengan mata yang berbinar. "Wah, Aisyah! Kita akan pergi ke acara antar sekolah! Pasti seru sekali! Kita bisa bertemu dengan banyak siswa baru dari sekolah lain!"
Aisyah berjalan maju dengan langkah yang santai, tidak menoleh ke arah Nuri. "Biasa saja. Hanya acara biasa."
"Tapi ini kesempatan yang bagus lho! Kita bisa menunjukkan bahwa sekolah kita memiliki siswa yang hebat!" kata Nuri lagi, berusaha membuat Aisyah menunjukkan perasaan yang lebih.
Aisyah hanya mengangguk sedikit, tidak menanggapi lebih lanjut. Bagi dia, pergi ke acara seperti itu hanyalah tugas yang harus dijalankan, bukan hal yang menyenangkan atau istimewa. Dia hanya akan melakukan apa yang diminta, dan kemudian kembali ke kehidupan yang tenang seperti biasa.
Hari acara tiba, dan Aisyah serta Nuri berangkat ke tempat pertemuan bersama dengan beberapa guru. Saat mereka tiba, tempat itu sudah penuh dengan siswa dari berbagai sekolah. Suasana terlihat ramai dan berisik, dengan banyak orang yang berbicara dan tertawa bersama. Aisyah berjalan di samping Nuri dengan wajah yang tetap datar, tidak terganggu dengan keramaian di sekitarnya sama sekali.
Selama acara berlangsung, Aisyah hanya melakukan tugasnya dengan tenang. Ketika ada kegiatan yang membutuhkan keputusan atau penanganan masalah, dia melakukan semuanya dengan cara yang tegas dan efektif, tapi tetap tidak menunjukkan perasaan apapun. Dia tidak berusaha berkenalan dengan banyak orang, tidak berusaha menarik perhatian, dan hanya melakukan apa yang harus dilakukan.
Suatu hari, saat kegiatan istirahat, terjadi masalah di salah satu tempat berkumpul. Beberapa siswa dari dua sekolah berbeda mulai berdebat, dan perdebatan itu berubah menjadi pertengkaran yang memanas. Mereka saling berteriak dan mendorong satu sama lain, dan beberapa orang sudah mulai marah dan siap untuk berkelahi.
Banyak siswa yang berkumpul untuk menonton, tapi tidak ada yang berani mendekat atau menghentikan mereka — mereka takut akan terlibat dalam masalah dan tidak berani mengambil risiko. Guru-guru yang ada di tempat itu juga sibuk menangani hal lain, sehingga tidak ada yang segera bisa mengatasi masalah ini.
Aisyah yang melihat hal itu berhenti berjalan. Dia menatap ke arah kelompok yang sedang bertengkar dengan tatapan yang dingin dan tajam. Dia tidak menunjukkan rasa khawatir atau marah, hanya melihat dengan tenang sebelum berjalan maju menuju tempat pertengkaran itu.
Semua orang yang melihatnya terkejut. Mereka tahu siapa Aisyah, dan mereka tahu bahwa dia memiliki kemampuan yang luar biasa, tapi mereka tidak tahu apakah dia akan campur tangan dalam masalah ini atau tidak. Beberapa orang berbisik-bisik satu sama lain, menunggu apa yang akan dilakukan Aisyah.
Aisyah berhenti tepat di tengah-tengah kelompok yang sedang bertengkar. Dia menatap mereka satu per satu dengan tatapan yang dingin dan menuntut, tidak ada rasa takut atau ragu yang terlihat di matanya. Suaranya terdengar jelas dan tegas, cukup keras untuk didengar oleh semua orang yang ada di sekitarnya.
"Berhenti," katanya dengan suara yang datar dan tidak ada perasaan.
Suaranya yang tegas membuat semua orang yang ada di tempat itu terdiam sejenak. Mereka menatap Aisyah dengan pandangan yang berbeda — ada rasa takut, ada rasa hormat, dan ada rasa penasaran.
Salah satu laki-laki yang sedang bertengkar menatap Aisyah dengan marah. "Kau siapa? Jangan ikut campur urusan kami! Ini masalah antara kami berdua, jangan kau masuk!"
"Ini bukan hanya masalah kalian berdua," jawab Aisyah dengan suara yang tetap dingin. "Kalau kalian terus bertengkar, masalah ini akan menjadi lebih besar dan akan mempengaruhi banyak orang lain. Kalian tidak akan mendapatkan apa-apa dari pertengkaran ini, dan hanya akan membuat masalah yang lebih besar. Berhenti sekarang."
"Kau pikir kau bisa mengatur kami? Kau hanya gadis dari sekolah lain, jangan terlalu berani!" seru laki-laki itu, lalu dia berusaha mendorong Aisyah.
Tapi Aisyah tidak bergerak mundur sedikitpun. Dia menahan tangan laki-laki itu dengan kuat, dan dengan gerakan yang cepat dan terlatih, dia menghentikan usahanya untuk mendorongnya. Tangannya terasa sangat kuat, dan laki-laki itu tidak bisa bergerak sama sekali.
"Kau pikir mendorong orang akan membuatmu terlihat hebat?" tanya Aisyah dengan tatapan yang tetap dingin. "Kamu hanya terlihat seperti orang yang tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri. Kalau kamu ingin menyelesaikan masalah, lakukan dengan cara yang baik dan bijaksana, bukan dengan kekerasan."
Laki-laki itu terlihat terkejut dan takut. Dia mencoba melepaskan diri, tapi tidak bisa. Dia menatap Aisyah dengan pandangan yang penuh rasa takut dan malu, dan akhirnya dia berhenti berusaha.
Aisyah melepaskan pegangannya secara perlahan, lalu menatap semua orang yang ada di sekitarnya. "Setiap masalah bisa diselesaikan dengan cara yang baik. Tidak perlu menggunakan kekerasan atau berteriak-teriak. Kalau kalian memiliki pertanyaan atau masalah, bicarakan dengan cara yang sopan. Itu adalah satu-satunya cara yang benar."
Semua orang yang mendengarnya terdiam dan mengangguk setuju. Tidak ada yang berani menentang atau berbicara lagi. Orang-orang yang sedang bertengkar itu menundukkan kepala, menyadari bahwa mereka telah melakukan hal yang salah.
"Maaf," kata salah satu dari mereka dengan suara yang pelan. "Kami tidak seharusnya bertengkar seperti ini. Terima kasih karena sudah memberitahu kami."
Aisyah hanya menatap mereka dengan tatapan yang tetap dingin. "Jangan ulangi lagi. Sekarang kembali ke tempat kalian masing-masing."
Setelah itu, semua orang mulai bergerak dan kembali ke aktivitas mereka seperti biasa. Tidak ada lagi keributan atau pertengkaran di tempat itu. Semua orang yang melihat kejadian itu menatap Aisyah dengan pandangan yang penuh rasa hormat, tapi Aisyah tidak peduli. Dia hanya berjalan kembali ke tempat Nuri dan guru-guru, seolah-olah apa yang baru saja terjadi hanyalah hal yang sederhana dan tidak berarti apa-apa baginya.
Nuri mendekatinya dengan wajah yang terlihat kagum. "Aisyah... kau benar-benar hebat! Kau bisa menghentikan mereka dengan begitu mudah! Aku tidak pernah menyangka bahwa kau bisa melakukan hal itu dengan begitu tenang!"
Aisyah berjalan maju dengan langkah yang santai, menatap ke depan dengan tatapan yang datar. "Hanya melakukan apa yang harus dilakukan. Tidak ada yang istimewa."
Guru-guru yang melihat kejadian itu mendatangi Aisyah dan menatapnya dengan pandangan yang penuh kekaguman. "Aisyah, kau benar-benar siswa yang luar biasa. Kau bisa menyelesaikan masalah dengan cara yang baik dan bijaksana, tanpa harus menggunakan kekerasan yang berlebihan. Kami bangga memiliki siswa sepertimu."
Aisyah hanya mengangguk sedikit sebagai tanggapan, tidak menunjukkan rasa bangga atau senang sama sekali. Bagi dia, ini adalah hal yang sederhana — melakukan apa yang benar dan menghentikan hal yang salah. Tidak perlu dibicarakan atau dipamerkan kepada orang lain.
Sisa acara berjalan dengan lancar. Aisyah tetap menjalani harinya seperti biasa, tidak berubah sama sekali. Dia tetap dingin dan cuek, tidak menunjukkan perasaan apapun, dan hanya melakukan apa yang dia anggap benar. Ketika acara selesai dan mereka akan pulang, dia juga berjalan dengan langkah yang santai, seolah-olah perjalanan ini hanyalah perjalanan biasa yang tidak memberikan perubahan apapun dalam hidupnya.
Setelah kembali ke sekolah dan rumah, kehidupan Aisyah kembali ke keadaan semula. Tidak ada perubahan dalam sikap atau kebiasaan dia. Dia tetap belajar dengan giat, berteman dengan baik, dan menjalani hidupnya dengan tenang. Bagi dia, semua hal yang terjadi — baik yang baik maupun yang buruk — hanyalah bagian dari kehidupan yang harus dijalani dengan kepala tegak dan hati yang tenang.
Dan orang-orang di sekitarnya mulai menyadari bahwa di balik sikapnya yang dingin dan cuek, ada seorang gadis yang memiliki hati yang baik, pikiran yang bijaksana, dan kekuatan yang luar biasa. Dan mereka semua menghormatinya, meskipun Aisyah sendiri tidak pernah meminta atau peduli dengan penghormatan itu.
📖 SAMPAI JUMPA DI BAB SELANJUTNYA! 🤗🩷
Terima kasih banyak sudah meluangkan waktu untuk membaca cerita ini! Semoga kalian menikmati setiap halaman dan setiap momen kebahagiaan, tawa, bahkan emosi yang terasa dalam setiap babnya ya. 🥰
Jangan lupa tinggalkan komentar dan berikan suka pada setiap bab yang kalian baca, ya! Jika kalian menyukai ceritaku, silakan tuliskan pendapat kalian — misalnya "Lanjutkan dong, ceritanya keren banget!" atau "Ceritanya bagus dan menyentuh hati!" — karena setiap kata dukungan dari kalian akan menjadi semangat terbesarku untuk terus menulis dengan lebih baik lagi. 🩷🌷
Kalau kalian ingin melihat gambaran visual dari semua tempat dan tokoh dalam cerita ini, kalian bisa mengunjungi
akun TikTokku:( lisalestari310)
akun Instagramku:( Lisa Lestari)
Jangan lupa untuk mengikuti dan memberikan komentar di sana juga ya, aku sangat menantikannya! 🤗🌷
Sekali lagi terima kasih banyak atas perhatian dan dukungannya. Sampai jumpa lagi di bab selanjutnya ya! Selamat membaca dan sampai bertemu kembali! 👋👋🤗🌷
buat teman teman aku saranin coba baca dari awal di jamin seruuuu 😍🔥