SMA Aexdream adalah sekolah elit yang hanya diisi oleh murid-murid dari kalangan keluarga terpandang, jenius, dan berbakat di berbagai bidang. Di sini, aturan dan gengsi adalah segalanya, apalagi bagi para pengurus OSIS yang dianggap sebagai “raja dan ratu” di lingkungan sekolah. Di antara mereka, ada satu pasangan yang selalu jadi sorotan: Mark, Ketua OSIS yang dingin, perfeksionis, dan sering dibilang kayak “robot nggak punya hati”, serta Gisel, Wakil Ketua OSIS yang cerdas, tegas, tapi punya mulut tajam dan gampang kesal kalau lihat kelakuan Mark yang sok sempurna.
Sejak awal menjabat, Mark dan Gisel selalu bertentangan. Mulai dari rapat yang berakhir debat panas, proker yang nggak pernah satu pendapat, sampai hal sepele kayak pemilihan tema acara sekolah—semua jadi ajang adu argumen. Bagi Gisel, Mark itu cuma cowok sombong yang ngira dia paling benar, sedangkan bagi Mark, Gisel cewek yang terlalu keras kepala dan susah diatur. “Dasar bossy cat! Paling seneng deh bikin aku pusing!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Viana18, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Setelah Jeno dan Karina resmi jadian, lengkap sudah empat pasangan utama yang jadi idola satu sekolah. Di antara kebahagiaan teman-temannya, ada satu pasangan lagi yang selalu jadi sorotan, selalu berisik, selalu saling ledek, tapi tak pernah benar-benar menyatakan perasaan: Chenle dan Miyeon.
Chenle, cowok yang percaya diri setinggi langit, julukan "Merak" karena selalu bangga diri, cerewet, dan suka jadi pusat perhatian. Di sebelahnya selalu ada Miyeon, cewek cantik, cerdas, tenang, dan punya senyum yang bisa bikin siapa saja luluh. Mereka berdua selalu bareng, saling melengkapi, tapi hubungan mereka selama ini cuma sebatas "teman akrab yang suka berdebat". Chenle selalu membanggakan dirinya sendiri, bilang dia paling hebat, paling keren, paling segalanya. Dan Miyeon? Dia cuma senyum, menertawakan kelakuan Chenle, sesekali mengomentari dengan nada ketus, tapi selalu ada di sisi cowok itu.
Pagi itu, di halaman belakang sekolah yang dipenuhi bunga-bunga taman, Chenle sedang berdiri dengan dada dibusungkan, bercerita heboh tentang prestasi terbarunya dalam lomba sains tingkat kota. Di sekelilingnya, teman-teman yang lain sudah duduk santai sambil tersenyum menghibur, tahu betul sifat cowok itu.
"Dan gue bilang sama juri itu, 'Tentu saja hasilnya sempurna! Siapa lagi yang bisa bikin penelitian sekeren ini kalau bukan gue?'. Mereka semua tepuk tangan heboh tau! Memang gue emang jenius, keren, dan luar biasa. Kalian beruntung banget punya temen sehebat gue ya!" seru Chenle dengan nada penuh percaya diri, matanya berbinar bangga.
Di sebelahnya, Miyeon duduk di bangku taman, memetik kelopak bunga pelan sambil tersenyum geli. "Iya iya, paling hebat, paling jenius, paling segalanya. Udah ya, mulutnya sampai ke langit tau. Coba sekali aja jadi rendah diri dikit, nggak ada matinya kok."
Chenle langsung berbalik badan, menatap Miyeon dengan gaya sok dramatis. "Miyeon sayang... lo nggak ngerti kan? Kebesaran gue ini anugerah! Wajar kalau gue bangga. Lagian... kalau gue nggak hebat, nggak bakal ada cewek secantik dan sekeren lo yang mau nemenin gue terus-terusan dari dulu sampai sekarang, kan?"
Miyeon terdiam sejenak, pipinya sedikit memerah. Dia membuang muka pura-pura melihat ke arah lain. "Dasar narsis. Siapa juga yang nemenin lo? Gue cuma kasihan aja, kalau nggak ada gue, lo pasti kesepian banget nggak ada yang dengerin omongan lo yang nggak ada habisnya itu."
Teman-teman yang lain saling pandang sambil menahan tawa.
"Wih... makin lama makin kelihatan nih perasaannya. Chenle emang paling jago nyelipin kode di antara kata-kata sombongnya," bisik Haechan pelan sambil merangkul Ningning.
Ningning mengangguk setuju. "Iya banget. Chenle itu sombong ke semua orang, tapi kalau sama Miyeon, sombongnya berubah jadi cara dia cari perhatian. Dan Miyeon... dia satu-satunya orang yang bisa ngadepin sifat Chenle, satu-satunya yang ngerti kalau di balik sifat pamer itu ada hati yang tulus banget."
Mark menatap mereka berdua sambil tersenyum tenang. "Mereka berdua unik banget. Cinta mereka itu lucu, ceria, dan penuh canda. Udah saatnya juga sih. Sekarang tinggal mereka berdua aja yang belum resmi. Nanti nggak lengkap dong pasangan 'Elit' kita kalau belum ada Chenle dan Miyeon."
Siang itu, jadwal mereka untuk menyiapkan dekorasi panggung acara pensi yang tinggal beberapa minggu lagi. Cuaca sedang cerah, tapi tiba-tiba langit berubah mendung gelap, angin bertiup kencang, dan hujan deras turun tiba-tiba tanpa aba-aba. Semua orang berlarian mencari tempat berteduh, membawa barang-barang penting agar tidak basah.
Chenle sedang memegang tumpukan kain hiasan yang mahal dan penting. Dia berlari secepat mungkin menuju gudang kecil di sudut lapangan, tapi karena terlalu fokus menjaga kain itu, dia tidak melihat ada selang air yang tergeletak di tanah. Kakinya tersandung, tubuhnya oleng, dan dia hampir jatuh ke genangan air berlumpur.
Tapi sesosok tangan cepat menangkap lengannya, menariknya ke belakang hingga tubuh Chenle jatuh bersandar pada sosok itu. Kain-kain di tangannya aman, tidak basah sedikit pun.
"Dasar ceroboh! Awas dong jalannya, kalau sampai barang ini rusak, lo yang ganti tau!"
Suara itu... suara yang sangat dia kenal. Chenle mengangkat kepala, dan tepat di depannya ada Miyeon, napasnya sedikit terengah karena berlari, rambutnya sedikit basah terkena rintik hujan, tapi tatapannya tajam dan cemas. Mereka berdua kini berada di bawah atap kecil gudang, berteduh dari hujan deras yang mengguyur sekitar. Jarak mereka sangat dekat, hampir bersentuhan.
Jantung Chenle berdegup kencang sekali. Bukan karena kaget hampir jatuh, tapi karena rasa hangat yang menjalar dari tangan Miyeon yang masih memegang lengannya.
"Lo... lo nggak apa-apa kan? Sakit nggak?" tanya Miyeon lagi, nadanya melembut seketika saat melihat lutut Chenle yang sedikit tergores dan kotor kena tanah. Dia melepaskan pegangannya, lalu berjongkok sebentar membersihkan debu di celana cowok itu dengan sapu tangan kecilnya.
Chenle diam terpaku. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, dia kehilangan kata-kata. Dia yang biasanya paling banyak bicara, paling bangga diri, tiba-tiba merasa dirinya kecil dan tak berdaya di hadapan perhatian cewek ini. Dia sadar, selama ini dia sibuk memuji dirinya sendiri, sibuk menunjukkan betapa hebatnya dia, padahal orang yang paling hebat, paling tulus, dan paling berharga sudah ada tepat di sampingnya sejak dulu.
"Miyeon..." panggil Chenle pelan, suaranya berubah serius, jauh berbeda dari biasanya.
Miyeon berhenti mengelap, mengangkat wajah menatapnya. "Kenapa? Sakit ya? Sabar dikit ya, nanti diobatin."
Chenle menggeleng pelan. Dia menghela napas panjang, lalu duduk berjongkok di depan Miyeon agar posisi mereka sejajar. Hujan di luar masih deras, membuat suasana di gudang kecil itu sunyi, hangat, dan intim.
"Gue... gue selalu bilang kalau gue paling hebat, paling keren, paling jenius, paling segalanya," mulai Chenle, matanya menatap lurus ke manik mata Miyeon yang indah. "Gue selalu bangga sama diri gue sendiri, selalu mau jadi nomor satu, selalu mau dilihat orang lain. Tapi tau nggak, Miyeon? Semua kebanggaan itu, semua pencapaian itu, semuanya jadi nggak ada harganya kalau nggak ada lo di sebelah gue."
Miyeon terdiam, matanya membelalak sedikit, kaget dengan nada bicara Chenle yang tulus dan serius itu.
"Gue hebat di depan orang lain, tapi di depan lo... gue sadar gue cuma cowok biasa yang suka pamer biar lo ngelirik gue, biar lo ngomel sama gue, biar lo ngobrol sama gue," lanjut Chenle, suaranya makin lembut namun tegas. "Gue sombong, gue narsis, gue cerewet... tapi semua itu cuma cara gue nutupin rasa takut gue. Takut kalau gue diam, kalau gue biasa aja, lo bakal nggak nganggap gue ada, lo bakal pergi ke orang lain yang lebih tenang, lebih dewasa, lebih baik dari gue."
Dia menjeda sejenak, tangannya gemetar pelan saat berusaha menyentuh tangan Miyeon yang ada di atas lutut.
"Miyeon... dari dulu sampai sekarang, cuma lo satu-satunya orang yang bisa ngadepin sifat gue yang nyebelin ini. Cuma lo satu-satunya yang tau kalau di balik semua kesombongan gue, gue sebenernya cuma pengen diperhatiin sama lo. Cuma lo satu-satunya yang bikin semua kemenangan dan kebanggaan gue jadi berarti. Gue nggak butuh dipuji orang banyak, gue cuma butuh dipuji sama lo. Gue nggak butuh dilihat orang banyak, gue cuma butuh dilihat sama lo."
Chenle menggenggam tangan Miyeon pelan namun erat, menatapnya dalam-dalam dengan mata berbinar penuh rasa sayang yang selama ini tersembunyi di balik tingkah lakunya.
"Gue suka sama lo, Miyeon. Bukan cuma suka... gue sayang banget sama lo. Lebih dari apapun, lebih dari kebanggaan diri gue sendiri, lebih dari semua prestasi yang pernah gue raih. Gue mau jadi cowok lo. Gue mau semua kehebatan gue, semua kemampuan gue, semua kebanggaan gue, semuanya jadi milik lo doang. Biar gue bangga bukan cuma karena diri gue sendiri, tapi karena gue punya lo di sisi gue. Mau nggak lo jadi pacar gue, cewek paling cantik, paling pintar, dan paling hebat sedunia?"
Di luar gudang, teman-teman mereka yang berteduh di dekat sana diam-diam mengintip dari balik dinding. Semuanya menahan napas, terharu mendengar pengakuan itu.
"Wah... gue kira Chenle bakal ngomong yang aneh-aneh, ternyata dalem banget ya cintanya," bisik Jaemin sambil mengusap mata yang sedikit berkaca-kaca.
Winter tersenyum tipis, mengangguk pelan. "Dia emang unik. Cintanya dia ungkapin lewat kebanggaan diri, karena dia pengen jadi yang terbaik buat ceweknya. Romantis banget dengan caranya sendiri."
Di dalam gudang, air mata bahagia mengalir pelan di pipi Miyeon. Dia menatap cowok di depannya—cowok yang sering bikin dia kesal, sering bikin dia geleng-geleng kepala, tapi selalu bikin dia tersenyum dan merasa aman. Dia selalu tau ada rasa lebih di antara mereka, tapi dia menunggu sampai Chenle sendiri yang sadar dan berani mengatakannya.
Miyeon tersenyum, senyum terindah yang pernah dilihat Chenle, senyum yang penuh kasih sayang dan kelembutan. Dia meremas genggaman tangan cowok itu, lalu mengangguk perlahan.
"Dasar cowok aneh... nembak aja masih nyebut diri sendiri hebat segala," ucap Miyeon pelan sambil tertawa kecil di sela isak tangis bahagianya. "Tapi... gue suka. Gue suka cara lo yang unik, cara lo yang berisik, cara lo yang selalu pengen jadi yang terbaik, cara lo yang sebenernya perhatian banget walaupun ngomongnya ketus. Gue tau kok... gue tau semua perasaan lo dari dulu. Gue cuma nunggu lo sadar aja, nunggu lo berani ngomong."
Dia menatap mata Chenle dalam-dalam, suaranya lembut dan tegas.
"Iya, Chenle. Gue mau jadi pacar lo. Gue mau jadi satu-satunya orang yang dapet semua kebanggaan, semua kehebatan, dan semua cinta dari lo. Karena tau nggak? Buat gue... lo emang cowok paling hebat, paling keren, dan paling berharga sedunia, apa adanya lo. Gue juga sayang banget sama lo... udah dari lama banget."
Detik itu juga, suara sorakan meledak kencang sekali dari luar gudang. Pintu terbuka lebar, teman-teman mereka berlarian masuk meski hujan masih rintik-rintik, berteriak gembira seolah merekalah yang baru saja jadian.
"HUJAN BERHENTI, CINTA DATANG! LENGKAP SUDAH SEMUA! PERFECT FIVE COUPLES NIH SEKARANG!" teriak Haechan paling keras sambil melompat kegirangan.
"AKHIRNYA SI 'MERAK' KITA JUGA KETEMU 'RATUNYA'! BAGUS BANGET, INDAH BANGET!" seru Yuqi sambil bertepuk tangan sampe merah, matanya basah kuyup karena terharu dan bahagia.
Mark, Gisel, Jeno, Karina, Jaemin, Winter, semuanya tersenyum lebar, merangkul bahu Chenle dan Miyeon dengan bangga dan senang.
"Selamat ya, Chenle. Akhirnya kebanggaan lo punya tujuan juga ya," kata Mark sambil tertawa, menepuk bahu temannya itu.
Gisel mengangguk setuju, menatap pasangan baru itu dengan mata berbinar. "Iya banget. Pasangan yang paling seru, paling ceria, dan paling cocok. Semoga bahagia terus ya kalian berdua."
Chenle berdiri tegak, dadanya dibusungkan lagi, tapi kali ini bukan karena sombong diri sendiri, melainkan karena bangga memiliki Miyeon di sampingnya. Dia merangkul bahu ceweknya erat sekali, menatap teman-temannya dengan senyum paling bahagia yang pernah ada.
"Tentu aja dong! Emang harusnya gini kan? Gue emang paling hebat, jadi dapet cewek paling hebat juga! Kami emang pasangan paling sempurna sedunia, just like us!" seru Chenle penuh semangat, bikin semua orang tertawa bahagia.
Miyeon hanya tersenyum malu-malu, merangkul pinggang cowoknya, merasa sangat beruntung dan bahagia.