Selama sepuluh tahun, Nana tumbuh sebagai manusia di desa nelayan — tanpa tahu bahwa dirinya adalah putri mahkota kerajaan Siren Aequoria. Setiap malam, ia mendengar lagu misterius dari dasar laut, memanggilnya dengan nama.
Jeno, Siren penjaga perairan selatan, telah mengawasinya sejak bayi. Tugasnya sederhana: lindungi Nana sampai waktunya kembali. Tapi sepuluh tahun mengamati dari kejauhan membuatnya jatuh cinta pada lagu dalam darah Nana — dan pada Nana sendiri.
Ketika Nana berubah menjadi Siren untuk pertama kalinya, tak ada jalan kembali. Ia harus belajar mengendalikan kekuatannya, menghadapi bibinya yang merebut takhta, dan memilih antara dunia yang ia kenal — atau cinta yang selama ini menunggu di dasar laut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Keivanya Huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27: Pertemuan dengan Dewi Laut
Nana berangkat ke Palung Hitam sendirian.
Jeno tidak bisa mengikutinya. Ia harus menjaga Aequoria. Tapi matanya — mata biru pucat itu — menatap Nana dengan campuran khawatir dan pasrah.
"Kau kembali," kata Jeno. Bukan pertanyaan. Perintah.
"Aku kembali," jawab Nana.
Mereka berdua terdiam. Tidak ada pelukan. Tidak ada ciuman. Hanya tatapan yang bertukar janji.
Nana berbalik dan berenang ke selatan.
Palung Hitam berbeda dari yang Nana bayangkan.
Ia mengira tempat itu akan dipenuhi sisa-sisa kegelapan Aramis — darah, tulang, dan sihir hitam yang meracuni air.
Tapi Palung Hitam sepi.
Terlalu sepi.
Tidak ada ikan. Tidak ada rumput laut. Tidak ada karang. Hanya air hitam pekat yang bergerak pelan, seperti raksasa yang sedang tidur.
Nana berenang lebih dalam. Jantung Aequoria di dadanya berdenyut — pelan, waspada.
"Zara?" panggilnya. Suaranya menggema di kehampaan, tidak ada yang menjawab.
"Zara, kau di sini?"
Tidak ada jawaban.
Nana berenang lebih dalam lagi. Air hitam itu semakin dingin, semakin berat. Seperti ada tangan-tangan tak terlihat yang mencoba menahannya.
Lalu dia melihat cahaya.
Cahaya biru — redup, berkedip — di dasar palung. Sama seperti cahaya yang ia lihat di Teluk Hantu dulu. Tapi kali ini, cahayanya lebih besar. Lebih terang. Lebih hidup.
Nana mendekat.
Di tengah cahaya itu, sesosok mengambang.
Bukan Siren. Bukan manusia. Tapi wujud — terbuat dari cahaya dan air, tidak padat, tapi juga tidak tembus pandang.
Dewi Laut.
Nana membeku. "Kau... kau Dewi Laut yang di Teluk Hantu?"
"Bukan," suara itu menggema di kepala Nana, tidak di telinga. "Aku Dewi Laut yang sesungguhnya."
"Tapi yang di Teluk Hantu—"
"Ilusi. Ujian. Untuk melihat apakah kau pantas."
"Pantas untuk apa?"
Dewi Laut mendekat. Wajahnya — jika itu bisa disebut wajah — tidak memiliki fitur yang jelas. Tapi matanya... matanya biru. Biru yang sama dengan Jantung Aequoria.
"Pantas menjadi Ratu Aequoria," jawab Dewi Laut. "Pantas memiliki Jantung Aequoria. Pantas... menyatukan dua dunia."
"Dua dunia?"
"Darat dan laut. Manusia dan Siren. Kau lahir di darat, tapi darahmu laut. Kau jembatannya, Nanara."
Nana terdiam.
"Zara ada di mana?" tanyanya akhirnya.
"Zara selamat. Ia ada di ruang sebelah. Tidur. Lelah. Tapi selamat."
"Boleh aku melihatnya?"
"Nanti. Sekarang... ada yang harus kau ketahui."
Dewi Laut mengangkat tangannya. Dari telapak tangannya, cahaya biru menyebar — membentuk gambar-gambar di air.
Gambar tentang asal usul Jantung Aequoria.
"Jantung Aequoria bukan batu biasa," kata Dewi Laut. "Ia adalah hati seorang Siren kuno — Siren pertama yang lahir di samudra ini. Namanya Aequoria. Kerajaan dinamai darinya."
Nana menatap gambar itu — seorang Siren perempuan dengan rambut panjang, bersisik biru keemasan, mata berwarna seperti pelangi.
"Ia mengorbankan dirinya untuk menyelamatkan tujuh samudra dari kekacauan. Hatinya menjadi batu. Dan batu itu memilih pemiliknya berdasarkan hati, bukan darah."
"Jadi Aramis tidak pernah pantas?"
"Tidak. Hatinya gelap. Terlalu gelap."
"Dan ibuku?"
Dewi Laut tersenyum. "Ratu Ruenna... hatinya murni. Itu sebabnya Jantung Aequoria memilihnya."
"Dan aku?"
"Kau campuran. Darah manusia dari ibumu di darat. Darah Siren dari ibumu di laut. Kau tidak murni. Tapi jantung tidak melihat darah. Jantung melihat hati."
Dewi Laut menatap Nana lama.
"Dan hatimu... bersih, Nanara. Itu sebabnya kau pantas."
Nana tak tahu harus mengatakan apa