"Ini apa maksudnya? Bisa jelaskan padaku ...aku mohon!"
"Hari ini akan diadakan acara pernikahanmu sayang dan Tuan 💙 lah yang akan membeli sekaligus bersedia meminangmu menjadi Istrinya. Bersiaplah! Ini demi kebaikan kamu."
Bagai diterpa badai di siang bolong. Alih-alih mendapatkan kesempatan untuk bahagia, ia malah dijerumuskan dalam lembah jurang yang sangat dalam oleh Papa kandungnya sendiri, tak percaya dan mengharapkan semua ini hanyalah mimpi namun nyatanya yang terjadi sungguhlah nyata.
"Usap air mata kamu! Kamu lupa tinggal menghitung menit ijab kabul akan segera dilaksanakan, jadi berhentilah menangis!" perintah Papanya tanpa memikirkan kehancuran sang Putri.
"Kenapa Papa setega ini sama Cantika? Kenapa Papa tidak membiarkan Cantika untuk mati daripada harus menikah dengan pria itu, dia pria yang sama sekali tidak Cantika kenal. Bahkan pria itu sudah memiliki istri! Kenapa Papa membiarkan semua ini terjadi, kenapa Pa?" tegas Cantika dengan menangis semakin menjadi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Fatimah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14 [ Pura-pura Penyakitan ]
Setelah takdir mempertemukan Cantika dengan keluarga yang begitu tulus dan menyayanginya... Akhirnya ada semangat baru dalam diri Cantika, jika dulunya ia tak memiliki semangat hidup, kini semangat baru itupun muncul, Cantika menghela napas, sejak ia dinikahkan paksa ia mengira tak akan ada senyuman lepasnya yang akan kembali terukir diwajah Cantiknya tapi ternyata...
"Terima kasih Tuhan... Terima kasih engkau sudah mempertemukan aku dengan keluarga yang bisa mengerti akan kondisi dan derita yang aku alami... Terima kasih."
Kaki jenjangnya sudah berada dihalaman rumah yang kini menjadi tempat tinggalnya yang baru, biarpun ia harus kembali dikediaman Suami yang sama sekali tak menganggap keberadaannya... Ia yakin jika tekad dan semangatnya kuat untuk bertahan ia pasti bisa melewati semua rintangan ini.
Ia melangkahkan kakinya kedalam, sampai diambang ruang tamu pasang mata memandang kearahnya dengan tatapan sinis layaknya kedatangannya hanyalah benalu, lalu langkah seseorang tergesa-gesa menghampirinya.
"Cantika... Ini rambut kamu kenapa? Apa yang terjadi?" Keperdulian Monika nampak jelas, tapi tak bisa dimengerti apakah itu murni peduli atau hanya sekedar cari sensasi.
"Kamu ngapain peduli dengannya?"tegur Adrian tak suka, wajah kecutnya jelaslah tanda.
"Mas, kamu kok setega itu sih? Katakan apa yang sebenarnya terjadi? Aku ingat terakhir kali kamu pergi bersama Cantika... Lalu kamu pulang duluan dan kenapa sekarang Cantika kondisinya jadi seperti ini?"
"Sudahlah apapun yang terjadi dengannya tidak usah kamu pedulikan, ini hukuman dari seorang Wanita pembunuh! Belum lagi apa yang terjadi dengannya itu juga akibat kesalahannya sendiri."
"Akibat kesalahannya sendiri maksudnya?"
"Tidak usah diteruskan, benar ini salahku... Tapi dari kejadian ini aku mulai terbuka dan sadar jika sosok Wanita itu seseorang yang paling mudah dibohongi... Sosok Wanita jugalah yang mudah tertipu akan janji manis, tapi Kak Monika tidak usah cemas aku tidak apa-apa kok, benar ini kesalahan aku, aku tidak masalah, aku juga sudah sadar." Adrian kupingnya terasa terganggu ia memutuskan untuk pergi dan acuh.
"Baiklah sekarang kamu kembalilah ke kamar kamu perlu istirahat,"
"Terima kasih, Kak ya sudah aku masuk dulu."
"Silahkan."
Langkahnya perlahan masuk kekamar, tatapan dan keperdulian Monika yang tadinya nampak sangat mencemaskan kini berubah menyeringai.
"Adrian sudah menunjukkan ketidak ketertarikannya kepada istri kedua... Ini semakin bagus maka tidak akan ada seorang pun yang akan bisa memindahkan posisiku dalam hatinya Adrian, biarpun Cantika menjadi istri keduanya... Hanya tetap aku yang akan menjadi prioritas utama Adrian... Dan aku sangat suka itu, sekarang saatnya menjalankan rencana kedua."
******
"Kak, Monika!"
Teriakan histeris seketika memenuhi ruangan, Adrian berlari seusai nama sang Istri yang ia dengar, langkah dan ekspresinya dikejutkan setelah melihat Monika sudah dalam kondisi terkapar dilantai dalam keadaan tak sadarkan diri.
"Monika!"
Ia langsung panik setengah mati, Cantika ikut keluar ia sudah mendapati anggota keluarga ini mengerubungi Monika, Adrian memangkunya seketika kecemasan menyelimuti ruangan ini.
DI RUMAH SAKIT.
Keheningan dan kecemasan terdapat diruangan tunggu rumah sakit. Tak hanya Adrian, tapi Cantika ikut menunjukkan kecemasannya tentang apa yang sebenarnya terjadi pada Monika.
Menunggu beberapa menit, namun Dokter didalam tak kunjung keluar. Mereka seketika terbelalak kaget mendengar jeritan sekaligus tangisan Monika yang berada didalam ruangan rawat sana, spontan mereka gelagapan masuk tanpa menunggu keluarnya Dokter.
"Tidak! Ucapan Dokter itu tidaklah benarkan? Aku tidak mungkin terkena Kanker! Yang barusan Dokter katakan tidak benar, kan?" Suara keras terdengar dari dalam ruangan dimana ada Monika disana.
"Harus saya katakan ucapan saya tidaklah bohong. Anda diagnosa terkena kanker otak, yang bisa dikatakan kanker ini sangatlah berbahaya apalagi jika kondisinya sudah memasuki stadium 3, jarang orang yang bisa sembuh total, harus saya katakan anda banyaklah bersabar ...anda bersabarlah ..."
Kata-kata Dokter yang tak hanya mengejutkan Monika. Akan tetapi ketiga orang dihadapannya ikut tak berkedip, tak bisa terucap biarpun hanya se'ucap kata.
"Tidak! Ini tidak mungkin? Mama ... katakan pada Monika ini semua bohong kan? Monika tidak mungkin menderita penyakit yang sangat mematikan inikan? Ini bohong kan, Ma?"
Yang bisa Wanita itu ucapkan hanyalah menangis. Wanita itu hanya mampu membekap tubuh putrinya, sama-sama tak bisa berbuat apa-apa kesedihan terlihat menyelimuti ruangan ini.
Adrian tubuhnya mematung, ia bahkan seperti tak memiliki tenaga seusai mendengar kabar ini.
"Mas ... katakan ini tidaklah benarkan? Aku ... tidak mungkin mengidap penyakit inikan?"
Adrian sendiri tak memberikan balasan, tangan kekarnya seketika merangkul pundak sang istri dan mendekapnya dalam dekapan hangatnya.
Cantika tak ingin merusak suasana ia memutuskan akan akan pergi, tapi Monika terlebih dahulu mengatakan sesuatu, kata yang membuat langkah Cantika terhenti dalam sekejap, Cantika lalu memberanikan diri menghampiri mereka.
Sesampainya Cantika disamping Monika, Adrian membuang muka dan tak sudi menatap Wanita berstatus Istri keduanya.
Tangan Cantika digenggam olehnya, diletakkan diatas telapak tangan Adrian berulang-ulang kali ia menolak, tapi Monika memaksanya, tak dimengerti juga maksud utama kenapa wanita ini melakukan ini semua.
"Kak?"
Iya! Cantika memangil Monika dengan sebutan Kak. Terpaut Hampir 3 tahun usia mereka sudah sepantasnya Cantika memangil wanita yang lebih tua dari umurnya dengan sebutan itu.
"Apa yang kak Monika lakukan?"tanya Cantika.
"Kamu tau sendiri apa yang sebenarnya terjadi padaku... Aku mau diakhir hidupku nanti, aku ataupun kamu kita sama-sama akur dan bisa sama-sama kompak, biarpun kita hidup dalam satu suami yang sama. Aku juga mau diakhir hidupku nanti, kamu menjadi penggantiku bisa mencintai Adrian dengan sepenuh hati. Dan kalian bisa saling mencintai agar pernikahan kalian bisa saling melengkapi satu sama lain, kalian bersedia?"titah Monika dengan mata yang berkaca-kaca.
"Tidak!"
Adrian sontak melepaskan paksa genggaman tangan mereka, wajahnya memerah amarahnya tak terkendali seusai sang istri mengatakan kata-kata yang sangat tidak ia suka bahkan sangat ia benci.
"Kamu gila menyerahkan aku kepada Wanita yang sudah membunuh anak-anak kita? Itu tidak akan pernah terjadi, aku tidak akan sudi!"tegas Adrian dengan raut wajah tegangnya.
"Mas, aku mohon... Kamu mau diakhir hidupku aku akan mati dengan hati nelangsa karena tidak bisa memberimu keturunan? Kamu mau diakhir hidupku aku kan terus-menerus berlarut dalam kesedihan karena tidak bisa menjadi Istri yang sempurna... Kamu mau?"
Adrian tak menjawab, ia memilih pergi dan mengacuhkan permintaan gila sang istri, Mama mertuanya ikut pula kesal ia memutuskan keluar dari ruangan ini dan jangan meninggalkan mereka.
"Kenapa Kak Monika melakukan ini semua? Bukankah Kak Monika tau sendiri Suami kita sangat tidak menginginkan akan kehadiranku dirumah tangga kalian? Dendam tetap dendam dan tidak akan bisa merubah! Apalagi bisa sampai menaruh perasaan kepadaku itu sangat mustahil!?"tanya balik Cantika.
"Aku sadar kondisiku sudah sangatlah jauh berbeda. Dulu aku terbilang mampu entah dalam hal menjadi Istri yang patuh untuk suami entah dalam hal urusan batin, tapi sadar kondisiku yang penyakitan, aku takut akibat diriku yang sekarat aku mengorbankan kebahagiaan Suamiku yang tidak bisa setiap hari memenuhi batinnya. Aku sekarang minta kamu jadilah pengantiku yang bisa menjadi istri entah dalam hal tugas istri Sholeha, entah termasuk dalam hal melayaninya... Kamu bersedia?"titah Monika memohon.
"Terus dengan Kak Monika sendiri apa tidak keberatan? Aku takut jika kedekatan kita yang berakhir akan saling mencintai? Takutnya Kak Monika yang malah akan semakin terluka?"
Lagi-lagi Cantika menunjukkan aka keraguan atas permintaan Wanita itu.
"Jika aku tidak menemukan sosok penggantiku yang bisa menjaga dan mencintai Suamiku... Tanpa memandang harta hal itulah yang akan tambah menyiksaku."
"Baiklah aku akan belajar untuk bisa menerimanya biarpun aku sendiri tau ini akan sulit. Aku juga bakal berusaha menjadikannya Suamiku biarpun aku sendiri tau hatinya akan tetap menjadi milik Kak Monika... Aku janji."
"Terima kasih Cantika ...terima kasih, aku berhutang banyak sama kamu, maafkan aku selama ini aku sudah banyak membuat kesalahan, sekali lagi maafkan aku, maafkan aku, boleh aku memelukmu?"
"Silahkan Kak."
Cantika dan Monika untuk pertama kalinya berpelukan dengan mesra. Keduanya seperti tak memiliki dendam dan permusuhan sadar mereka sama-sama istri dari Lelaki yang sama.
Tidak dipungkiri ada keraguan dalam diri Cantika sadar ini seperti mimpi dan tak masuk akal ada seorang Istri yang merelakan suaminya untuk mencari Istri baru lagi, ia pula bingung semua ini hanya sekedar rencana atau kah permintaan Monika sungguh murni karena keinginannya.
BERSAMBUNG