NovelToon NovelToon
ISTRI SALIHAH TITIPAN KAKEK

ISTRI SALIHAH TITIPAN KAKEK

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Pengantin Pengganti
Popularitas:25.3k
Nilai: 5
Nama Author: Uswatun Kh@

Safa adalah gadis cantik nan penurut yang tampaknya selalu dimusuhi takdir. Sejak kecil, ia tak pernah mencecap manisnya kasih sayang keluarga, bahkan dari ibunya sendiri. Kesalahan di masa lalu yang bukan kehendaknya membuat Safa dilabeli sebagai "anak pembawa sial" dan dibenci seumur hidup. Puncaknya, ia dipaksa menikah dengan seorang kakek demi menyelamatkan bisnis keluarga yang nyaris bangkrut.

Namun, kenyataan tak seburuk dugaannya. Sang kakek ternyata hanya perantara, ia mencarikan istri untuk cucu laki-lakinya yang bertemperamen kaku, cuek, dan dingin. Di rumah barunya, Safa yang terbiasa disisihkan justru mulai merasakan hangatnya kasih sayang dari keluarga sang suami yang memperlakukannya dengan sangat baik. Sayangnya, benteng es di hati suaminya sendiri tetap tak tergoyahkan.

Mampukah Safa memenangkan hati pria yang menikahinya hanya karena amanah sang kakek? Ataukah pernikahan "titipan" ini akan hancur dan berakhir dengan perceraian?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uswatun Kh@, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

34. Riana Yang Tak Mau Menyerah

Safa meninggalkan ruangan Arlan dengan hati yang gundah. Ingin rasanya ia berteriak bahwa lelaki itu adalah suaminya. Namun, ia tahu hal itu sangat tidak mungkin.

Begitu keluar dari toilet, sang kakak ternyata sudah menunggu di depan pintu dengan tatapan tidak sabar. Riana langsung menyambar kasar tangan Safa dan menariknya menuju tangga darurat.

Suasana kembali menegang. Riana menatap Safa tajam dari ujung kepala sampai ujung kaki, seolah sedang menilai penampilan gadis kecil di hadapannya itu.

"Oh! Mentang-mentang sekarang bisa bergaya dengan pakaian mahal, kau berani menggoda Pak Arlan, hah? Memang tidak tahu malu ya kau ini!" sentak Riana sambil mendorong bahu Safa.

Safa sedikit terhuyung hingga tubuhnya membentur tembok.

Riana bersedekap angkuh. "Ingat ya, Safa. Di mana pun kau berada, kau itu tetap pembawa sial. Hidupmu itu penuh kesialan! Kau pikir sampai sekarang ada hal yang bisa membuatmu bahagia, hah?"

Riana terus mengintimidasi. Melihat wajah gadis di depannya yang sok lugu benar-benar membuatnya muak. Dulu Dimas, dan sekarang adiknya ini bahkan berani mendekati bosnya. Riana sungguh tidak rela.

Kedua tangan Riana mengepal kuat. Dengan cepat, ia mengangkat tangan, siap melayangkan tamparan ke wajah Safa.

Tap!

Tangan Safa bergerak cepat menahan pergelangan tangan sang kakak. Ia mencengkeramnya begitu erat hingga Riana kesulitan menariknya kembali.

Wush!

Safa mengempaskan tangan itu dengan kuat hingga tubuh Riana terpelanting ke belakang. Kedua mata Riana membelalak tidak percaya. Gadis lugu dan bodoh yang biasanya pasrah itu kini berani melawannya. Ini adalah pertama kalinya bagi Riana.

"Kau berani sama Mbak, hah?" pekik Riana geram.

Safa membalas dengan sorot mata yang menghunjam tajam. Tatapan itu begitu penuh intimidasi hingga membuat nyali Riana sedikit gentar.

Safa melangkah maju, satu, dua langkah, hingga Riana terpojok dan punggungnya menyentuh dinding. Seakan ingin meledak, Safa mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Namun, tepat saat tangannya nyaris mendarat di wajah sang kakak, ia mendadak berhenti.

"Ingat ini baik-baik, Mbak. Aku tidak pernah merebut apa pun darimu. Tapi memang kamu saja yang tidak pantas mendapatkannya," desis Safa.

Ia mengibaskan tangannya dengan kasar, lalu berjalan pergi meninggalkan Riana begitu saja. Riana mematung di tempatnya. Ia syok. Siapa yang mengira kalau Safa bisa semenakutkan itu saat marah? Dengan kesal, Riana menyentakkan kakinya ke lantai.

🍃🍃🍃

Jam makan siang tiba. Safa bersama beberapa anak magang lainnya berjalan beriringan menuju kantin.

Berbagai menu berjejer rapi di area meja prasmanan. Safa memilih tumis daging, cah sayur, sepotong semangka, dan sekotak jus. Setelah nampannya terisi penuh, ia mengedarkan pandangan untuk mencari tempat duduk. Di ujung kantin dekat jendela, ada satu meja kosong. Ia berjalan ke sana dan duduk dengan santai.

Sebelum menyantap makanannya, Safa menundukkan kepala untuk berdoa. Dengan rasa syukur, ia menyuap sesendok nasi ke dalam mulutnya.

Namun, baru saja ia akan mengambil suapan kedua ...

Prangk!

Sebuah nampan berisi penuh makanan tumpah tepat di atas tubuhnya. Safa tersentak kaget dan langsung berdiri.

"Aduh, maaf ya, Safa. Saya tidak sengaja. Tiba-tiba saja kakiku tersandung sesuatu," tutur Riana dengan nada yang dibuat-buat.

'Drama apa lagi ini?' batin Safa jengah.

Sontak kejadian itu menarik perhatian seisi kantin. Orang-orang menoleh ke arah Safa dengan pandangan kasihan melihat kondisinya yang berantakan.

Tiba-tiba, tatapan Safa beralih pada Dimas yang kebetulan sedang berjalan ke arah mereka. Namun, bukannya membantu, Dimas justru melintas begitu saja seolah tidak melihat apa-apa.

Riana merasa heran sekaligus puas melihat sikap cuek Dimas. Padahal, dulu lelaki itu begitu mengelu-elukan Safa, tapi sekarang malah bersikap tak kenal. Dengan penuh kepura-puraan, Riana mendekat dan mencoba menyeka baju Safa dengan sapu tangannya.

"Makanya, jadi orang jangan belagu. Lihat, kan? Bahkan Dimas yang dulu memujamu saja sekarang ogah melihat mukamu," bisik Riana dengan nada sangat sinis.

Safa mendorong tubuh Riana agar menjauh. "Cukup! Tidak perlu membantu saya. Saya bisa membersihkannya sendiri."

Safa segera menyambar ponselnya di atas meja dan berlalu pergi dari sana. Sementara teman-teman magang yang baru saja ingin bergabung hanya bisa mematung menatap kepergiannya.

Tidak ada air mata. Safa sudah terlalu terbiasa dengan perlakuan buruk kakaknya. Namun, tepat saat ia hendak melangkah masuk ke dalam toilet, sebuah tangan tiba-tiba menyambar pergelangan tangannya. Safa tersentak kaget dan refleks mengepalkan tangan untuk memukul. Begitu tahu siapa pelakunya, ia langsung menurunkan tangannya kembali.

"Ikut Mas!" ajak Arlan. Tanpa menunggu jawaban, ia langsung menarik tangan Safa menuju ruangannya.

Sesampainya di dalam, Safa melepaskan genggaman Arlan dengan pelan.

"Safa ... Jangan keras kepala! Lihat dirimu, kamu sudah seperti rendang berjalan tahu, tidak? Tunggu di sini," perintah Arlan. "Aku sudah meminta Siska untuk mengambilkan pakaian ganti. Gantilah dulu baju kotor itu."

Safa akhirnya mengalah dan menerima usulan Arlan.

"Buka jilbab dan bajumu. Kamu tidak mau masuk angin, kan?"

Safa menatapnya sinis, curiga kalau lelaki di hadapannya ini sedang mencari kesempatan dalam kesempitan. Ia tidak menjawab dan malah memalingkan wajah.

Melihat kekeraspalaan istrinya, Arlan hanya bisa menggelengkan kepala pasrah. "Ingat, aku ini suamimu, Safa. Apa iya aku tega berbuat kurang ajar kepadamu?"

Safa terdiam. Apa yang dikatakan Arlan ada benarnya. Lagipula, tubuhnya memang sudah terasa sangat lengket dan berbau amis.

Perlahan, Safa membuka jilbabnya. Rambut indahnya tampak lepek. Begitu ia melepas ikat rambutnya, helaian rambut hitam yang panjang dan berkilau itu langsung tergerai jatuh.

Arlan seketika tertegun. Sungguh, gadis di hadapannya ini terlihat sangat menggemaskan. Namun, saat Arlan sedang asyik menikmati pemandangan indah itu, mereka berdua dikejutkan oleh suara pintu yang tiba-tiba dibuka dari luar.

"Bos!" teriak Egar lantang.

Safa yang sedang merapikan rambutnya langsung panik. Arlan, dengan mata melotot karena terkejut, spontan melompat ke arah Safa. Ia menarik tubuh sang istri ke dalam pelukannya, menyembunyikan kepala dan tubuh Safa di balik jas lebar yang dipakainya.

Pintu terbuka lebar. Egar sempat bingung melihat posisi punggung Arlan yang menegang. Namun, begitu ia menyadari siapa yang sedang disembunyikan bosnya dalam pelukan erat itu, senyum jahil langsung mengembang di wajahnya.

Sementara itu, di balik dada Arlan, Safa merasa jantungnya seperti mau meledak. Debaran di dadanya berpacu tak karuan. Saking dekatnya jarak mereka, Safa bahkan bisa mendengar dengan sangat jelas detak jantung suaminya yang berirama sama cepatnya.

Di dalam dekapan itu, Arlan semakin mempererat pelukannya. Ia menunduk, menatap Safa yang tenggelam di dadanya, lalu mengulas sebuah senyum simpul yang manis.

1
🌸🍾⃝ sᴀͩᴋᷞᴜͧʀᷡᴀͣ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ⍣⃝🦉
pasti pesan dari mama safa n kakak nya
🌸🍾⃝ sᴀͩᴋᷞᴜͧʀᷡᴀͣ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ⍣⃝🦉
bagus safa
🌸🍾⃝ sᴀͩᴋᷞᴜͧʀᷡᴀͣ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ⍣⃝🦉
semoga ada cctv di rumah safa biar bs jd bukti
🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦Fhˢ⍣⃟ₛᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©☠️⃝🦐
idihhh sekarang ngaku2
🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦Fhˢ⍣⃟ₛᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©☠️⃝🦐
biarin aja Safa, mereka pantas menerima nya
🌸🍾⃝ sᴀͩᴋᷞᴜͧʀᷡᴀͣ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ⍣⃝🦉
thor baru juga hidup bahagia safa dan ada aja cobaannya
ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©Luo Yi⧗⃟☕︎⃝❥: begitulah hidup aunty🤧
total 1 replies
🌸🍾⃝ sᴀͩᴋᷞᴜͧʀᷡᴀͣ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ⍣⃝🦉
bagus safa, ini baru wanita🫶🤣
🌸🍾⃝ sᴀͩᴋᷞᴜͧʀᷡᴀͣ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ⍣⃝🦉
😂😂😂 kasian riana, iri ya
🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦Fhˢ⍣⃟ₛᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©☠️⃝🦐
mampussss.. mampuusss🤣🤣🤣
🌸🍾⃝ sᴀͩᴋᷞᴜͧʀᷡᴀͣ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ⍣⃝🦉
itu belum seberapa riana, apalagi klo sampe kamu tau klo safa istri arlan🤣
🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦Fhˢ⍣⃟ₛᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©☠️⃝🦐
nahh kan udah aku duga kelana itu si Arlan🤭
neny
cerita nya bagus,,mengandung bawang,,top pokok nya,, sukses selalu kak othor
neny: sama2 kak 🙏
total 2 replies
Suren
benar dugaan sy klw Arlan pengagum rahasia Safa. syukurlah ternyata Arlan. luar biase🥰👍
🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦Fhˢ⍣⃟ₛᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©☠️⃝🦐
iya.. buat dia hidup segan mati tak mau/Angry//Angry//Angry//Angry//Angry/
🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦Fhˢ⍣⃟ₛᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©☠️⃝🦐
aaaaaa thorr aku ikutan mewekkk😭
🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦Fhˢ⍣⃟ₛᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©☠️⃝🦐
memang semua krna Safa keras kepala, tapi yg namanya ajal pasti akan datang
🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦Fhˢ⍣⃟ₛᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©☠️⃝🦐
astaghfirullah aku bacanya sambil nahan napas😬😬😬
ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©Luo Yi⧗⃟☕︎⃝❥: Aku yg nulis aja gedeg banget buk🤧🤧🤧
total 1 replies
🌸🍾⃝ sᴀͩᴋᷞᴜͧʀᷡᴀͣ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ⍣⃝🦉
dan kenapa sih masih mau kembali ke rumah it
🌸🍾⃝ sᴀͩᴋᷞᴜͧʀᷡᴀͣ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ⍣⃝🦉
ishh bener bener, safa juga sih mau di temanin sama arlan malah g mau
🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦Fhˢ⍣⃟ₛᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©☠️⃝🦐
aduhh bahaya.. Hendra datang dan Safa sendiri😬😬😬
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!