Kata orang, dia manipulatif. Jahat. Perusak.
Katanya, dia menghancurkan cinta dan kepercayaan dari dua lelaki yang tulus padanya.
Dia dituduh memecah tiga bersaudara.
Dibilang merusak hubungan orang lain tanpa rasa bersalah.
Tapi hanya dia yang tahu bagaimana rasanya menjadi Bianca.
Tak seorang pun benar-benar paham bagaimana luka, keadaan, dan dunia yang kejam perlahan membentuknya menjadi seorang antagonis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sunflower_Rose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 2
Suara decitan sepatu basket bergesekan dengan lantai kayu di dalam stadion SMA Global Bangsa terdengar nyaring, bagai irama pertempuran yang sedang berlangsung. Angka di papan skor terlihat sangat berdekatan, membuat suasana semakin menegangkan. Gwen, sang kapten yang berkarisma itu hanya butuh satu lemparan jarak jauh lagi untuk mengunci kemenangan di tangan timnya.
"Woy, fokus! Oper ke gue!" teriak Gwen sambil memberi kode dengan tangannya. Keringat mengucur deras di pelipis dan lehernya, justru membuat aura ketampanannya tampak berlipat ganda memikat siapa saja yang melihat.
Di tribun paling depan, Bianca berdiri dengan wajah cemas yang dibuat-buat sempurna. Sesuai rencana yang sudah disepakati, ia harus berada di posisi paling strategis agar segala kejadian bisa terlihat jelas oleh banyak pasang mata. Di belakangnya berdiri Rebecca, memegang gelas besar berisi es kopi sambil tersenyum licik yang tersembunyi rapi.
'Oke, Bianca. Tiga, dua, satu... let's play,' batin Bianca sambil melirik Rebecca lewat pantulan kaca pembatas di pinggir lapangan.
BYUURRR!
"Ups! Sorry, sengaja," ucap Rebecca dengan nada yang sangat menyebalkan dan dibuat-buat.
Cairan cokelat kental itu membasahi seluruh bagian depan seragam putih bersih milik Bianca. Dinginnya cairan itu langsung meresap ke kulit, namun yang jauh lebih penting, kemeja tipis yang ia kenakan kini menjadi tembus pandang. Bianca langsung menundukkan kepala, menutupi dadanya dengan kedua tangan, lalu mulai mengeluarkan isak tangis pelan yang terdengar sangat menyedihkan.
"Duh, makanya kalau punya mata itu dipakai. Jangan cuma buat caper ke cowok orang!" sindir Isabella yang berdiri di samping Rebecca, suaranya sengaja dikeraskan agar terdengar sampai ke seluruh penjuru stadion.
Para penonton mulai berbisik-bisik. Ada yang merasa kasihan, namun jauh lebih banyak yang memilih diam karena takut terlibat masalah dengan Rebecca dan kelompoknya yang berkuasa di sekolah ini.
Di tengah lapangan, Gwen yang baru saja bersiap melakukan gerakan mencetak poin mendadak menghentikan langkahnya seketika. Matanya menangkap pemandangan Bianca yang gemetar dan dipermalukan di pinggir lapangan itu. Fokusnya yang tadinya penuh pada pertandingan langsung buyar sepenuhnya.
"Gwen! Bolanya, b*go!" teriak salah satu anggota timnya saat bola itu dengan mudah direbut lawan akibat kelalaian Gwen.
Namun Gwen sama sekali tidak peduli. Ia seolah tak mendengar suara peluit wasit, dan tak memikirkan apa pun saat tim lawan mencetak angka kemenangan hanya karena ia lengah. Matanya memerah menatap tajam ke arah Rebecca, penuh amarah yang tertahan.
'Brengsek. Dia benar-benar keterlaluan,' maki Gwen dalam hatinya yang sudah mendidih.
Tanpa banyak bicara lagi, Gwen langsung melangkah keluar lapangan, melewati pagar pembatas, lalu menerobos kerumunan penonton yang berdiri di pinggir.
"Gwen! Mau ke mana lo?! Woy, pertandingan belum selesai!" teriak sang pelatih sampai urat lehernya terlihat menonjol, namun Gwen menganggap suara itu hanya angin lalu yang lewat.
"Lo apa-apaan sih, Bec?!" bentak Gwen tepat di depan wajah Rebecca. Aura dingin dan mengintimidasi keluar sepenuhnya, membuat Rebecca yang tadinya sombong langsung sedikit ciut nyalinya, meski ia tetap berusaha tampil tenang dan santai.
"Apa sih, Gwen? Gue nggak sengaja. Lagian cuma baju doang, lebay banget," sahut Rebecca sambil memutar bola matanya malas.
"Nggak sengaja kepala lo peyang! Gue lihat semuanya!"
Gwen segera melepas jersey basket kebesarannya, menyisakan kaos dalaman hitam yang memperlihatkan otot lengannya yang kekar, lalu menyampirkan kain tebal itu ke bahu Bianca untuk menutupi tubuhnya yang basah dan terlihat jelas tadi.
"Ikut gue," ucap Gwen singkat sambil menarik lembut tangan Bianca.
"Tapi Kak... pertandingannya..." bisik Bianca dengan mata sembab, aktingnya kali ini benar-benar setara bintang film kelas dunia.
"Bodo amat sama pertandingan. Ayo," Gwen tidak memberi celah sedikit pun untuk gadis itu menolak atau berdebat.
Di area parkiran sekolah, Gwen melihat Wayne yang baru saja hendak mendekati Isabella dan rombongannya.
"Wayne! Sini lo!" panggil Gwen dengan nada tegas dan penuh perintah.
Wayne berlari kecil menghampiri dengan wajah bingung, heran melihat kapten timnya justru meninggalkan pertandingan yang sangat krusial itu. "Gwen, gila lo ya? Pelatih marah besar, tim sekolah kita kalah gara-gara lo kabur-"
"Diem dulu. Lo cari Sunny, suruh dia bawain tas Bianca nanti saat pulang sekolah. Bilang ke dia, Bianca aman sama gue. Paham?"
Wayne terdiam sejenak, menatap Bianca yang masih sesenggukan di balik jersey besar milik Gwen. "Eh... iya, oke. Gue cari Sunny sekarang. Tapi lo benar-benar mau bolos?"
"Keliatannya?"
Gwen langsung masuk ke dalam mobil sportnya, menyalakan mesin dengan suara raungan keras, lalu pergi meninggalkan lingkungan sekolah dengan kecepatan tinggi.
Di dalam mobil, suasana sangat hening dan sunyi. Hanya terdengar suara isakan halus Bianca yang sengaja ia pertahankan agar terus terdengar jelas di telinga Gwen.
'Gila, cowok ini bahkan gak sesuai ekspektasi gue. Padahal gue cuma nargetin dia perlahan, tapi dia malah langsung bawa gue pergi. Skor satu buat gue, keluarga Anderson memang mudah dipancing emosinya,' batin Bianca sinis di balik wajahnya yang terus menunduk.
"Udah, jangan nangis terus. Jelek tau," gumam Gwen dengan suara yang melembut, sangat berbeda jauh saat ia membentak Rebecca tadi.
"Aku... aku malu, Kak. Semuanya melihat aku tadi. Pasti mereka berpikir aku yang cari masalah," Bianca sesenggukan pelan.
"Nggak ada yang mikir begitu. Kalau ada yang berani bicara macam-macam, urusannya sama gue. Sekarang kita cari baju ganti dulu. Gue nggak mau lo masuk angin," kata Gwen sambil tetap fokus menyetir menuju mal terdekat.
****
Sesampainya di Mall Grand, Gwen langsung menarik Bianca masuk ke salah satu butik ternama yang menjual barang mewah. Ia tak berpikir panjang sedikit pun, langsung mengambil beberapa potong gaun cantik dan setelan kasual yang harganya mungkin setara penghasilan buruh selama satu tahun penuh.
"Pilih mana yang lo suka. Buruan ganti," perintah Gwen sambil menyerahkan tumpukan baju itu ke tangan Bianca.
"Kak, ini kemahalan... aku nggak punya uang buat ganti-"
"Siapa yang menyuruh lo bayar? Udah, cepat masuk fitting room atau gue yang gantiin?" ancam Gwen dengan nada bercanda namun tetap tegas, membuat Bianca pura-pura kaget dan segera masuk ke ruang ganti.
Sambil menunggu, Gwen duduk santai di sofa butik itu dengan kaki disilangkan. Ia tahu ponselnya pasti penuh dengan notifikasi dari pelatih, anggota tim, bahkan mungkin dari Kiyo yang akan marah besar mendengar kabar ia membawa Bianca pergi begitu saja. Namun anehnya, hati Gwen terasa sangat puas. Ada rasa bangga yang memenuhi dadanya karena bisa menjadi sosok pelindung bagi gadis serapuh Bianca.
Tak lama kemudian, Bianca keluar mengenakan gaun warna pastel yang sangat pas dan indah melekat di tubuh mungilnya. Penampilannya begitu mempesona, membuat Gwen sulit mengalihkan pandangan.
"Gimana... Kak? Aneh ya?" tanya Bianca malu-malu sambil memutar tubuhnya sedikit.
'Sial, dia cantik banget. Kiyo benar-benar punya selera bagus, tapi sayang, gue nggak akan biarin dia menang kali ini,' batin Gwen penuh ambisi dan semangat bersaing.
"Bagus. Cocok di lo. Udah, yuk cabut," Gwen langsung membayar di kasir menggunakan kartu kreditnya tanpa perlu melihat nominal harganya.
Perjalanan menuju tempat tinggal Bianca berlangsung lebih santai dan tenang. Gwen sesekali melirik ke arah gadis itu yang hanya diam menatap pemandangan jalanan di luar jendela.
"Lo tinggal di mana? Biar gue antar sampai depan pintu," tanya Gwen.
"Di apartemen daerah Kuningan, Kak. Tapi turunin di lobi aja nggak apa-apa," jawab Bianca.
"Gue bilang sampai depan pintu, Bianca. Jangan membantah."
Beberapa menit kemudian, mobil Gwen sampai di depan lobi apartemen itu. Bianca segera membuka pintu mobilnya. "Makasih banyak ya, Kak Gwen. Maaf gara-gara aku, Kakak jadi kalah tanding dan bolos..."
"Santai aja. Pertandingan bisa diulang, tapi melihat lo dipermalukan seperti tadi? Gue nggak bisa diam aja," Gwen menatap Bianca lekat-lekat. "Besok jangan telat sekolah. Kalau Rebecca macam-macam lagi, langsung telepon gue."
"Iya, Kak..."
Bianca turun dan berjalan masuk ke lobi gedung.
Begitu ia yakin mobil Gwen sudah menjauh dan hilang dari pandangan, ekspresi wajahnya langsung berubah drastis menjadi dingin dan tanpa perasaan. Ia melempar kantong belanjaan berisi baju mahal itu ke lantai dengan kasar dan penuh rasa jijik.
"Cowok b*go. Gampang banget dimainin," gumam Bianca sambil tersenyum miring penuh kemenangan.
Ia mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya. Ada sepuluh panggilan tak terjawab dari nomor Kiyo, dan satu pesan singkat bertuliskan:
'Gwen bawa lo ke mana? Jawab atau gue bakal hancurin seisi sekolah besok.'
Bianca hanya tertawa pelan membaca pesan itu. Ia sama sekali tidak berniat membalasnya. Ia sengaja membiarkan Kiyo semakin gila dan tersiksa oleh rasa cemburu yang membakar hatinya.
'Target kembali terkunci. Sekarang tinggal menunggu mereka saling menggigit,' batinnya puas sambil melangkah masuk ke dalam lift.