Dalam gelap kematian, Nayla menemukan cahaya—bukan menuju surga, tapi kembali ke awal. Terlahir sebagai bayi dengan ingatan utuh akan pengkhianatan yang merenggut nyawanya, Nayla bersumpah: sejarah tidak akan terulang.
Andre, suami yang menusuk dari belakang. Vania, sahabat yang racun manis di bibir. Rio, dalang di balik semua fitnah. Mereka semua juga kembali—dan mereka sudah memulai lebih dulu.
Tapi takdir mempertemukan Nayla dengan Rasya. Cowok misterius dengan mata yang terlalu tua untuk usianya. Dia pengagum diam-diam yang tidak pernah berani bicara.
Sekarang, di kehidupan kedua ini, Rasya tidak akan membiarkan apapun menghalangi. Bukan kematian. Bukan takut. Bukan perbedaan kelas.
Kali ini, dia akan menjadi pahlawan dalam cerita Nayla—bukan lagi bayangan di kaca spion.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ashbabyblue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ancaman Baru
Hari Kamis, pukul 08.00. Sekolah. Suasana berbeda.
Bisik-bisik tentang Dinda yang ditangkap sudah menggantikan bisik-bisik tentang fitnahku. Seperti biasa, opini publik berubah secepat angin.
"Katanya Dinda ditangkap karena fitnah."
"Dia sepupu Nayla, ya? Berarti fitnah itu beneran fitnah?"
"Kasihan Nayla. Difitnah sama sepupunya sendiri."
"Iya. Aku kemarin ikut nge-share postingan itu. Sekarang aku nyesel."
Aku berjalan melewati mereka. Tidak marah. Tidak puas. Hanya... lelah.
Sasha berjalan di sampingku, menggenggam tanganku erat. "Nay, kamu dengar? Mereka mulai percaya sama kamu."
"Aku dengar."
"Kamu nggak senang?"
"Senang. Tapi lelah."
Sasha menghela napas. "Pantesan. Kamu udah kayak superhero yang habis bertarung."
Aku tersenyum tipis. "Superhero versi lelah."
---
Pukul 10.00
Handphoneku bergetar di saku rok. Aku melihat layar—Inspektur Widi.
"Maaf, Bu, saya sedang di sekolah—"
"Nayla, dengarkan." Suara Inspektur Widi terdengar tergesa-gesa. "Dr. Hendra menghilang."
Jantungku berhenti berdetak sesaat.
"Menghilang? Maksudnya?"
"Semalam, setelah Dinda ditangkap, Dr. Hendra tidak kembali ke rumahnya. Apartemennya kosong. Kantornya tutup. Handphone-nya mati."
"Kabur?"
"Kemungkinan besar. Kami sudah mengeluarkan peringatan ke semua bandara dan pelabuhan. Tapi Dr. Hendra orang kaya. Dia punya banyak paspor. Banyak identitas palsu."
Aku menggigit bibir.
"Jadi... dia bisa kabur kapan saja?"
"Bisa. Tapi kami akan berusaha menangkapnya sebelum itu. Selama ini, kamu harus hati-hati."
"Saya selalu hati-hati, Bu."
"Lebih hati-hati dari biasanya, Nayla. Orang yang terpojok adalah orang yang paling berbahaya."
---
Pukul 12.00 — Jam Istirahat.
"Dr. Hendra kabur."
Rasya berhenti mengunyah mi ayamnya. Matanya menyipit.
"Apa?"
"Hilang. Rumah kosong. Kantor tutup. Handphone mati."
Rasya meletakkan sendoknya. Wajahnya berubah—menjadi serius, waspada, seperti biasa saat dia memikirkan strategi.
"Ini tidak bagus."
"Aku tahu."
"Orang yang kabur berarti dia panik. Orang yang panik berarti dia bisa melakukan apa pun."
"Termasuk?"
"Termasuk menyuruh anak buahnya untuk..." Rasya berhenti. Tidak melanjutkan kalimat.
Aku tahu maksudnya.
"Membunuh kita," selesaiku.
Rasya menggenggam tanganku di bawah meja. "Kita akan lebih waspada."
"Aku sudah waspada."
"Lebih."
Aku menghela napas. "Baik. Lebih."
---
Pukul 15.00 — Pulang Sekolah.
"Ayah dengar Dr. Hendra kabur," kata Ayah Budi begitu aku masuk ke mobil.
"Ayah tahu dari mana?"
"Dari teman Ayah di kepolisian." Ayah Budi menstarter mobil. "Mulai hari ini, Ayah akan jemput dan antar kamu ke sekolah. Jangan naik motor sama Rasya dulu."
"Tapi, Yah—"
"Ini untuk keamanan kamu, Nak."
Aku menghela napas. "Baik, Yah."
"Rasya juga Ayah pesan untuk hati-hati. Dia pun bisa menjadi target."
"Iya, Yah. Aku sudah bilang."
Ayah Budi mengangguk. "Ayah juga sudah perintahkan satpam perumahan untuk patroli ekstra."
"Ayah hebat."
"Ayah tidak hebat. Ayah hanya ayah yang takut kehilangan anaknya."
---
Pukul 19.00 — Makan Malam
"Bunda dengar Dr. Hendra kabur," kata Bunda sambil meletakkan sup ayam di atas meja.
"Iya, Bun."
"Bunda minta kamu istirahat di rumah dulu. Jangan ke sekolah besok."
"Bun, aku nggak bisa bolos. Besok ada ulangan matematika."
"Nilaimu sudah bagus. Nilai satu ulangan tidak akan menentukan hidupmu."
"Tapi—"
"Nayla." Bunda menatapku—matanya berkaca-kaca. "Bunda tidak mau kehilangan kamu."
Aku terdiam.
Ayah Budi mengusap punggung Bunda. "Bu, dia tidak bisa bersembunyi selamanya."
"Tapi—"
"Kita lindungi dia tanpa menghentikan hidupnya." Ayah Budi menatapku. "Nak, kamu boleh ke sekolah. Tapi janji sama Ayah."
"Janji apa, Yah?"
"Janji bahwa kamu akan selalu bersama teman-temanmu. Jangan ke mana-mana sendirian."
"Aku janji, Yah."
---
Pukul 21.00 — Chat dengan Rasya, Sasha, Kayla
Rasya (21.05): "Dr. Hendra kabur."
Sasha (21.05): "WHAT?!"
Kayla (21.06): "Aku dengar. Rio cerita dari penjara."
Nayla (21.06): "Rio tahu?"
Kayla (21.07): "Dia dengar dari temannya di dalam. Dr. Hendra sudah merencanakan kabur sejak minggu lalu."
Sasha (21.07): "Kenapa nggak ditangkap dari dulu?!"
Rasya (21.08): "Karena polisi butuh bukti. Dan bukti itu baru kita berikan kemarin."
Kayla (21.08): "Dia licik. Dia selalu punya rencana cadangan."
Nayla (21.09): "Sekarang gimana?"
Rasya (21.10): "Kita jaga diri. Kita pantau lingkungan sekitar. Kita curiga pada siapa pun yang mencurigakan."
Sasha (21.10): "Termasuk guru?"
Rasya (21.11): "Termasuk guru. Termasuk satpam. Termasuk teman sekelas."
Kayla (21.11): "Astaga. Kita jadi paranoid."
Nayla (21.12): "Lebih baik paranoid daripada mati."
Sasha (21.12): "Setuju."
---
Pukul 22.00
Aku berbaring di tempat tidur, menatap lampu tidur berbentuk bintang—hadiah dari Ayah Budi waktu aku kelas 4 SD.
Di kehidupan sebelumnya, aku mati di usia 27. Dikhianati. Difitnah. Dilupakan.
Di kehidupan ini, aku baru 15. Dan aku sudah menghadapi lebih banyak bahaya daripada di kehidupan sebelumnya.
Tapi aku juga memiliki lebih banyak orang yang melindungiku.
Bunda. Ayah Budi. Rasya. Sasha. Kayla (mungkin). Pak Bambang. Inspektur Widi.
Aku tidak sendirian.
Aku tidak akan pernah sendirian.
Aku memejamkan mata. Dan untuk pertama kalinya dalam beberapa hari, aku tidur dengan tenang.