NovelToon NovelToon
"Aku Kangen, Tapi Tuhan Tau "

"Aku Kangen, Tapi Tuhan Tau "

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Romansa Fantasi / Penyelamat
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Andri Yuliantina

Indry gadis religius yang lembut dan terlalu baik pada semua orang.

Zaki lelaki yang selalu hadir dan memberi namun perbedaan keyakinan selalu menjadi tembok pemisah yang tak terlihat diantara mereka.

pertemuan di stasiun tegal setelah 15 Tahun berpisah, menjadi awal dari kisah yang entah apa ujung nya.

tawa kecil, telfonan larut malam dan rasa nyaman pelan pelan berubah jadi kangen dan terbiasa.

tapi bagaimana jika cinta saja tak cukup?
bagaimana kalau Tuhan punya rencana lain....
dan satu keputusan yang harus dipilih,
melanjutkan.... atau melepaskan....


karna kadang, kangen terbesar adalah kangen yang hanya Tuhan yang tau....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andri Yuliantina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ep 29 : PERSIAPAN PERTUNANGAN – MALAM SEBELUM AKAD ADAT

*Ep 29: PERSIAPAN PERTUNANGAN – MALAM SEBELUM AKAD ADAT

_Hari kedua di Kalimantan. Jam 9 pagi. Matahari belum terlalu panas. Tapi rumah Paman Marsel sudah riuh._

Sejak subuh, motor keluar masuk. Ada yang bawa ketan, ada yang bawa pisang, ada yang cuma bawa badan buat ngobrol.Tapi semua tersenyum ramah.

Rumah Paman Marsel memang salah satu yang paling luas di kampung Bisomu. Halaman bisa muat banyak mobil, dapur panjang, ruang tamu sampai 3 ruang. luas banget gak kayak rumah di kota yang sempit sempit.

jadi sebanyak apa pun warga yang datang, gak sesak sama sekali.

“Indry! Itu calonmu ya? Ganteng!” teriak Bibi Rina dari pagar.

Zaki yang lagi bantu angkat galon langsung kaku. Senyum kaku.

Paman Marsono nyamperin: “Iya Bi, itu Zaki. Orang Tegal. Sabar ya,Bib. Jangan ditanya gaji dulu.”

Semua ketawa.

Interogasi halus ala keluarga Dayak mulai jalan.

Bibi Murni: “Kerja apa, Nak?”

Zaki: “Serabutan, Bi. Yang penting halal.”

Om Yos: “Rumah Tegal besar?”

Zaki: “Kecil, Om. Tapi cukup buat berdua.”

Kakek Laban dari pojok: “Kecil nggak apa. Asal hati besar. Bisa jaga Indry.”

Zaki angguk pelan. Mata agak panas.

Anak-anak SD kampung berkerumun lihat Mr Bule.

“Bang, boleh foto?”

Mr Bule jongkok, senyum malu. “Sure. My name is Alex.”

Meta bangga: “Itu suami gue nanti ya!”

Ogah nyengir: “Masih kalah ganteng sama gue, Kak.”

Semua pecah ketawa.

---

_Pagi tadi, janji ke makam sudah ditepati._

Makam Mama, Ayah, Deoni. Di ujung kampung, bawah pohon beringin. masih di kelilingi pohon pohon besar menjulang. deretan salib yang memang kurang rapi berbaris.

Selesai ziarah, semua mampir ke “Rumah Besar”. Rumah Mama Ayah Indry. Kosong 4 tahun.

Pintu kayu berderit pelan.

Bau debu, bau kenangan. Sudah dibersihkan sama keluarga yang di kampung tapi karna lama gak ditempati tetap bau apek.

Isi rumah masih sama kayak dulu. masih bekas Rumah yang dulu selalu ramai.

Ruang tamu 3, luas. Kursi rotan panjang dan kursi bambu masih sama.

Foto Mama Ayah masih nongkrong di dinding. Senyumnya tenang.

Dapur 2, besar. Kompor minyak lama,deretan kompor gas yang menjadi bukti bahwa rumah ini tempat ngimpul makan dulunya.

wajan hitam. Rak kayu masih berdiri. Dulu pernah penuh gula, sabun, minyak tanah.

Kolam semen kiri kanan, sekarang kering. Dulu adik adik Indry masih kecil suka main di kolam ini, seperti menganggap nya kolam renang.

Lantai atas: ruang keluarga panjang, 2 kamar besar. Teras loteng menghadap kebun belakang. Dulu tempat Indry & Deoni nonton bintang sambil makan jagung bakar.

Di bawah: bekas warung sembako. Rak kayu masih berdiri.

Sampingnya: klinik Ayah. Ranjang pasien masih ditutup kain putih. Meja kerja, stetoskop karatan, rak obat kosong. Buku kedokteran lusuh.

“Kedokteran Umum Jilid 2” halaman terakhir masih ada lipatan.

Indry pegang gagang pintu klinik. Lutut lemas.

Indry: “Dulu Ayah suka duduk sini. Pasien antri sampai luar. Mama suka bantu bikinin teh.”

Zaki di belakang, peluk pinggang pelan. Nggak ngomong. Cuma ada.

Meta nangis kejer. “Gue kebayang Mama Ayah kalian masak bareng, Deoni lari-lari bawa ikan... rumah ini dulu pasti rame banget.”

Mr Bule sibuk foto: lampu gantung tua, timbangan obat, kalender 2006 yang berhenti di bulan Desember. “This is… history,” katanya pelan.

Mama Zaki ngusap mata. “Rumah sebesar ini… sepi banget ya, Nak. Kalau ada suara anak, pasti hidup lagi.”

Carel cerita Deoni demam tinggi malam itu, nggak ada dokter jaga.

Paul cerita Ayah meninggal di ranjang klinik itu, masih pakai baju kerja.

Mauba cerita Mama terakhir masak sayur pakis buat mereka berempat sebelum jatuh sakit.

Siang itu, rumah penuh tawa dulu, jadi penuh tangis sekarang.

Album foto dibuka. Halaman lusuh.

Foto Mama nggendong Ogah bayi. Foto Ayah senyum pegang stetoskop. Foto Deoni pegang ikan gabus besar. Foto Indry masih SMA, Mama Ayah berdiri di belakang.

Zaki liat semua. Hafalin satu-satu. Nama, wajah, ekspresi. “Aku nggak kenal mereka waktu hidup... tapi aku akan jaga anaknya. Aku akan jaga semua ini.”

Ogah buka laci meja Ayah. Ada surat. Tulis tangan Ayah.

“Untuk anak-anakku, kalau Ayah nggak ada… jaga Mama baik-baik. Jaga satu sama lain. Keluarga itu nggak boleh putus.”

Ogah baca keras. Suara pecah. Semua nangis lagi.

Jam 3 sore baru semua balik ke rumah Paman Marsel. Keluarga udah nunggu.

Paman Marsel: “Gimana rumahnya?”

Indry cuma angguk. Nggak kuat ngomong. Zaki yang jawab: “Rumah yang penuh cinta, Paman. Kami akan jaga.”

---

_Sore, kampung makin ramai._

Ibu-ibu bawa ayam kampung. Bapak-bapak bawa ikan sungai. Anak-anak bawa pisang dan ubi.

“Buat besok!” kata mereka. “Buat tamu dari Tegal!”

Paman Marsel ngatur: “Yang ayam buat panggang. Yang ikan buat pepes. Yang nggak makan babi, kita pisahin kompornya. Hormat kita jaga.”

Mama Zaki bantu-bantu di dapur. Ngajarin Bibi Rina cara bikin bakpau Tegal.

“Biar ada rasa Tegal di Kalimantan,” katanya.

Nenek Maria ngajarin Indry cara bikin kue cucur. “Nanti kalau nikah, harus bisa bikin ini buat suami.”

Indry malu-malu. Zaki yang nguping dari luar ketawa.

Kakek Laban duduk di kursi kayu, ngawasin semua.

“Bagus,” katanya pelan. “Keluarga ketemu. Nggak ada tembok. Nggak ada ragu.”

---

_Malamnya, acara panggang-panggang._

Halaman belakang jadi arena. Api arang menyala. Asap wangi kayu ulin.

Ayam kampung ditusuk bambu. Ikan sungai dibalut daun pisang. Jagung, ubi, pisang. Bakpau Tegal jadi rebutan.

“Ehh enak! Manis!” kata Om Yos sambil makan 2 sekaligus.

Keluarga Tegal makan pisah, pakai piring sendiri. Nggak ada yang tersinggung. Semua hormat.

Anak-anak lari kejar kunang-kunang. Musik Dayak dari speaker kecil.

Paman Ikra pakai pakaian adat lengkap: kalung taring, ikat kepala. Dia ajak semua nari.

Meta duluan maju. Goyang heboh. Mr Bule ikutin, kaku tapi semangat.

“BABE JANGAN MALU!” teriak Meta.

Zaki dan Indry cuma senyum dari sudut.

Pak Ustadz goyang kalem. “Yang penting niatnya baik,” katanya.

Mauba nggak lupa dokumentasi. “Buat Pak Donatur! Lihat nih, Kakek! Menantu Tegal disambut tari Dayak!”

Kakek Rahmat VC dari Tegal, matanya berkaca-kaca. “Jaga baik-baik, Nak. Mereka keluarga kita sekarang.”

Di sudut dapur, Zaki lagi kipas ayam. Indry potong bawang.

Nggak ada lampu romantis. Cuma lampu teplok dan api arang.

Tapi rasanya romantis banget.

Zaki: “Capek nggak ,sayang?” Cup. di rambut. Cup. di kening. Cup. di bibir. Cope Cope dikit, Yang... Pes pes.... (bahasa bisomu)

Indry: “ bisa aja kamu. belajar dari siapa pes pes..Capek. sayang, Tapi bahagia. Rumah Mama Ayah tadi... kayak dikunjungi lagi. Kayak mereka masih ada.”

Zaki: “Besok kita tunangan. Udah nggak sabar.”

Indry: “Tahan, Zak. Masih 1 malam lagi.”

Zaki senyum. “Tahan lagi. Demi yang halal.”

Indry lempar bawang. Zaki ketawa kena muka.

Indry: “Kamu serius ya mau nikah sama aku? Keluarga aku berantakan.”

Zaki: “Justru karena berantakan, aku mau bantu rapiin. Keluarga itu bukan yang sempurna. Keluarga itu yang nggak saling ninggalin.”

Indry diem. Mata berkaca. Angguk.

Di luar, Mama Zaki ngobrol sama Nenek Maria.

Nenek: “Anakmu sabar ya, Bu. 15 tahun nunggu.”

Mama: “Dilatih Tuhan, Nek. Biar ketemu yang tepat.”

Dua ibu ketawa. Peluk.🫂

---

begitulah malam itu semua bahagia. keluarga di Tegal yang slu tunggu gambar online juga bahagia. setelah makan bersama semua pada istirahat.

_Jam 11 malam. Semua tumbang._

Kamar Paman Marsel penuh kasur tikar. kamarnya memang ada banyak... di loteng juga...

keluarga yang dari kampung menginap tidur rame rame di ruang tamu.

Paman Marsono & Pak Haji Ustman di kamar atas.

biar bisa enak sholat besok. Mereka Ngobrolin teknis besok: jam berapa datang, berapa talam, siapa yang bawa.

Paul, Mauba, Dara VC dari Malang. “Kirim foto Zaki pas nangis ya!”

Ibu & Carel sekamar. Ibu elus kepala Carel. “Kak bahagia ya, Le.”

Ogah & Mr Bule sekamar. Ogah tidur duluan, ngorok. Mr Bule masih foto langit bintang lewat jendela. “Beautiful,” bisiknya.

Meta, Indry, Zaki 1 kamar. Meta di tengah.

Meta: “Jangan gerak ya kalian berdua. Gue nggak mau jadi saksi nikah siri!”

Zaki & Indry ketawa pelan. Tidur punggung ke punggung, dipisah Meta.

Zaki bisik: “Besok kita resmi, Sayang.”

Indry bisik balik: “belum donk, kan masih tunangan”

"lansung akad aja, sayang... gak tahan aku... "

Meta, "WOOOIIIII GUE DISINI. KUPING GUE GAK PERAWAN KENA KALIAN, DASAR BUCIN GILAAAA... INDRY SINI LU.... ANGGAP AJA GUA HANTU KAGAK KELIATAN. GUE IJININ KALIAN SELINGKUH DARI GUE MALAM INI.!!!! " lalu nimpa meta biar bisa baring paling pinggir.

jadilah Zaki-Indry bobo sambil pelukan.

Di luar, anjing kampung menyalak.

Di langit, bintang banyak banget. Nggak ada polusi. Bima Sakti kelihatan jelas.

Ogah pernah bilang: “Kak, kalau kita sedih, liat bintang. Itu Mama Ayah lagi ngawasin.”

Indry terbangun menangani wajah Zaki yang lelap. Cup. kecup kening. lalu bangkit berdiri buka jendela pelan. Liat bintang.

“Tuhan… makasih. Rumah Mama Ayah udah nggak sepi lagi. Keluarga udah ketemu. Aku nggak takut lagi.”

Zaki dari kasur, pelan:

“Aku juga, Sayang. Aku pulang. Pulang ke kamu. Pulang ke keluarga kamu. Pulang ke rumah.”

Di sudut, Kakek Laban yang nggak tidur, senyum.

“Bagus,” katanya pelan. “Besok nupat ara. Besok seserahan masuk. Besok, Zaki resmi jadi anak kampung Bisomu.”

Malam makin dalam. Api arang tinggal bara.

Semua tidur. Lelah. Bahagia.

Besok hari ketiga. Besok pertunangan.

Besok, jembatan keluarga benar-benar nyambung.

Aku siap. Tuhan tau

1
Aiko Yuki
air mataku ikut netes kak 😭
AnYu: terima kasih sudah membaca... ini karya pertama ku... masih tahap nulis blm d revisi mungkin masih banyak typo
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!