NovelToon NovelToon
Olaf & Cyntaf

Olaf & Cyntaf

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Cinta Seiring Waktu / Romantis
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

"Orang lama menang karena sejarah, tapi orang baru menang karena masa depan."

Azeant Apolo-valerio kehilangan cintanya, namun menemukan kembali harga dirinya. Kata "Putus" dari Claudia Astor seharusnya menjadi akhir, namun bagi pewaris tunggal keluarga Valerio ini, itu hanyalah sebuah awal dari pembebasan.

Apolo adalah pria yang hidup dalam presisi rumus teknik, namun ia gagal menghitung variabel ego seorang wanita yang hanya haus akan validasi.

Segalanya berubah saat sebuah notifikasi dari aplikasi kencan masuk, membawa nama Veronica Brooklyn.
Gadis itu adalah anomali; dia tidak memuja ketampanan Apolo, malah menantangnya dengan kejujuran yang Brutal.

Veronica hadir bukan untuk mengisi kekosongan yang ditinggalkan Claudia, melainkan untuk menciptakan standar baru yang tak pernah Azeant Apolo-valerio bayangkan sebelumnya.

Apolo belajar bahwa terkadang, orang yang datang paling akhir adalah satu-satunya yang layak menjadi yang pertama.

🦋
Selamat Membaca 🌷

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#14

Matahari pagi New York yang pucat menerobos masuk melalui jendela besar apartemen di Tribeca, membiaskan cahaya pada seprai sutra yang kini berantakan dan terasa dingin.

Azeant Apolo-Valerio membuka matanya perlahan, tangannya secara refleks meraba sisi ranjang di sebelahnya.

Kosong. Hanya ada keheningan yang menyesakkan dan aroma lavender yang mulai memudar, tertinggal sebagai hantu dari malam yang baru saja lewat.

Apolo terduduk, menyandarkan punggungnya pada headboard ranjang. Rambutnya berantakan, dan di lehernya masih ada bekas cakaran tipis—tanda gairah yang semalam meledak namun diputus secara paksa oleh kebekuan hati seorang wanita.

"Rupanya dia memang benar-benar tidak tertarik memiliki hubungan," gumam Apolo pada ruangan yang sepi. Suaranya terdengar serak, ada nada getir yang ia sendiri tidak suka mendengarnya.

Ia teringat bagaimana Veronica—Vea-nya—melepaskan diri tepat saat ia menawarkan perlindungan.

Bagi kebanyakan wanita di New York, tawaran dari seorang Valerio adalah tiket emas menuju kehidupan tanpa cela. Namun bagi Vea, tawaran itu terdengar seperti lonceng kematian bagi kebebasannya.

Apolo tertawa pendek, sebuah tawa kering yang sarkas. Ia, Seorang Valerio yang selama ini selalu dikejar, kini justru merasa seperti pria buangan yang ditinggalkan sebelum "urusan" mereka benar-benar selesai.

"Sial," umpatnya sambil menyibak selimut dan berjalan menuju kamar mandi, menatap cermin besar di mana semalam mereka merekam gairah itu. Cermin itu kini hanya memantulkan bayangannya sendiri yang tampak kesepian di tengah kemewahan.

Beberapa jam kemudian, atmosfir di kampus NYU tampak seperti biasa—sibuk, ambisius, dan penuh kepura-puraan. Namun bagi Apolo, semuanya terasa berbeda.

Setiap kali ia melihat warna cokelat rambut seseorang dari kejauhan, jantungnya berdegup tidak beraturan.

Di koridor utama menuju gedung Fakultas Teknik, langkah Apolo terhenti sesaat.

Dari arah berlawanan, serombongan mahasiswa Manajemen sedang berjalan sambil berdiskusi. Di tengah-tengah mereka, Veronica Brooklyn melangkah dengan dagu terangkat, memegang beberapa buku tebal di dekapan tangannya. Ia mengenakan jaket denim yang sedikit kebesaran, tampak sangat berbeda dari dress musim gugur yang semalam ia lepaskan di lantai apartemen Apolo.

Mata mereka bertemu selama dua detik yang terasa seperti keabadian.

Apolo menahan napas, menunggu sebuah tanda, sebuah senyuman tipis, atau setidaknya kilatan pengakuan di mata hazel itu.

Namun, Veronica hanya menatapnya dengan pandangan yang benar-benar asing—sebuah tatapan yang biasa ia berikan kepada orang asing yang lewat di jalanan Manhattan. Tidak ada kerinduan, tidak ada kemarahan, hanya kekosongan yang profesional.

Veronica terus melangkah melewati Apolo tanpa mengurangi kecepatannya. Wangi lavender yang samar sempat menyentuh indra penciuman Apolo, namun gadis itu tetap berjalan lurus seolah-olah pria di sampingnya hanyalah pilar beton kampus yang tak bernyawa.

Apolo mengepalkan tangannya di dalam saku celana. Hebat. Dia benar-benar melakukannya, batinnya geram.

"Pol! Kenapa melamun di tengah jalan?" suara riuh Ailen membuyarkan lamunan Apolo.

Apolo menoleh dan mendapati Ailen berjalan mendekat dengan langkah yang sangat ringan, wajahnya cerah seolah baru saja memenangkan lotre triliunan dolar.

Di sampingnya, Theana berjalan sambil merangkul lengan Ailen, meskipun wajah gadis itu masih tampak malu-malu, ia tidak lagi menghindar.

"Kalian... sudah berbaikan?" tanya Apolo datar, mencoba mengalihkan rasa sesak di dadanya.

Ailen tertawa lebar, merangkul bahu Apolo dengan akrab. "Berbaikan? Itu kata yang terlalu sederhana, Brother. Kami lebih dari sekadar berbaikan. Kami melakukan re-negosiasi kontrak cinta," ucap Ailen dengan nada penuh kemenangan.

Theana mencubit pinggang Ailen. "Berhenti bicara omong kosong, Ai! Ayo cepat, kita ada kelas."

"Sebentar, Sayang. Aku harus bicara sebentar dengan pria paling kaku di Teknik ini," goda Ailen.

Setelah Theana berjalan lebih dulu menuju kelasnya, Ailen mendekatkan wajahnya ke telinga Apolo, suaranya berubah menjadi bisikan penuh kebanggaan.

"Semalam kami menyelesaikan semuanya, Pol. Benar-benar semuanya. Di atas ranjang, dari jam dua sampai subuh. Tidak ada lagi rahasia, tidak ada lagi tuduhan selingkuh. Semuanya tumpah di sana. Aku merasa seperti pria paling hidup di dunia hari ini," Ailen terkekeh, matanya berbinar.

Apolo terdiam. Kalimat Ailen seperti garam yang ditaburkan di atas luka yang masih terbuka. Ailen dan Theana menyelesaikan konflik mereka dengan kehangatan di ranjang, sementara ia dan Vea justru berakhir di titik nadir tepat saat gairah mereka sedang berada di puncak. Mereka berakhir saat sedang panas-panasnya—bukan karena lelah, tapi karena rasa takut yang tiba-tiba menyerang.

"Baguslah untukmu, Ai," jawab Apolo singkat, suaranya sedikit kaku.

Ailen mengerutkan kening, menyadari perubahan aura sahabatnya. "Kenapa wajahmu seperti orang yang baru saja kehilangan saham satu perusahaan, Pol? Bukankah semalam kau juga bersama 'Vea'-mu itu? Jangan bilang kau juga berakhir dengan drama?"

Apolo menatap koridor tempat Veronica menghilang tadi. "Kami tidak berakhir dengan drama, Ai. Kami berakhir dengan keheningan. Dan itu jauh lebih menyakitkan."

"Apa maksudmu?"

"Dia meninggalkanku saat aku mengatakan ingin bertanggung jawab. Dia membenci kata itu, Ai. Dia membenci hubungan," Apolo menghela napas panjang, menepuk bahu Ailen dan mulai melangkah pergi. "Selamat atas kembalinya cintamu. Setidaknya salah satu dari kita ada yang waras hari ini."

Ailen menatap punggung Apolo dengan rasa prihatin. Ia tidak menyangka sang Bangsawan yang memiliki segalanya bisa terlihat serapuh itu hanya karena seorang gadis misterius yang menolak untuk dimiliki.

Di sisi lain koridor, di dalam toilet wanita, Veronica menyandarkan punggungnya di pintu bilik yang tertutup. Napasnya terengah-engah, tangannya mencengkeram pinggiran wastafel hingga buku-buku jarinya memutih. Tatapan asing yang ia berikan pada Apolo tadi hanyalah akting terbaik yang pernah ia lakukan seumur hidupnya.

"Jangan lemah, Veronica. Dia seorang Valerio. Kau hanyalah angka di dalam beasiswa. Jangan biarkan tanggung jawabnya menghancurkan mimpimu," bisiknya pada bayangannya di cermin.

Namun, air matanya jatuh juga. Ia merindukan sentuhan itu, ia merindukan bagaimana Azeant memanggil namanya semalam. Ia merasa sangat haus, tapi ia tahu bahwa meminum air dari gelas emas milik Apolo hanya akan membuatnya tersedak oleh status sosial yang tak akan pernah bisa ia gapai.

Pagi itu, di koridor NYU yang dingin, dua hati sedang beradu dalam diam. Yang satu ingin menggenggam, yang satu takut untuk dimiliki. Dan gairah yang semalam menggantung nanggung, kini berubah menjadi bara api yang siap membakar siapa pun yang berani mendekatinya.

1
Xiao Ling Yi
Dia itu perwakilan perempuan paling nyebelin sedunia
Ros 🍂: hihi🤭
total 1 replies
ren_iren
semangatt kak nulisnya, ceritamu selalu tak tunggu 🤗
Ros 🍂: ma'aciww ya kak. author tunggu masukannya 🫶
total 1 replies
Wifasha
kok gk da,ngulang lg nih bca nya dri awal
Ros 🍂: Maaf ya kak 🫶 cerita nya sudah direvisi, Dan mulai dari awal lagi. dan dengan cerita yang berbeda 🙏🏼🥰
total 1 replies
❥␠⃝ ͭ🍁YW💋🆂🆄🅼🅰🆁🅽🅸👻ᴸᴷ
Bagus lh, ngaku sendiri 🤣🤣🤣
Ros 🍂: Reader silent Silent 🤣🤣🤭
total 3 replies
❥␠⃝ ͭ🍁YW💋🆂🆄🅼🅰🆁🅽🅸👻ᴸᴷ
B.... ehhh ini aja, Ade, lebih manis, Pemain 🤣🤣🤣
❥␠⃝ ͭ🍁YW💋🆂🆄🅼🅰🆁🅽🅸👻ᴸᴷ: Logan, 2 kali kena Karma ya, De 🤣🤣🤣
total 2 replies
❥␠⃝ ͭ🍁YW💋🆂🆄🅼🅰🆁🅽🅸👻ᴸᴷ
wkwkwk menang di 'card' juga sih 🤣🤣🤣
❥␠⃝ ͭ🍁YW💋🆂🆄🅼🅰🆁🅽🅸👻ᴸᴷ: 'Black', yg keluar, auto kalah smua y, De, temen² Apolo itu 🤣🤣🤣
total 2 replies
❥␠⃝ ͭ🍁YW💋🆂🆄🅼🅰🆁🅽🅸👻ᴸᴷ
Kiwww Kiwww Visual di lempar ke 'Arena' ini 🤣🤣🤣
❥␠⃝ ͭ🍁YW💋🆂🆄🅼🅰🆁🅽🅸👻ᴸᴷ: Hi hi Fav ya, De 🤣🤭🥳
total 2 replies
❥␠⃝ ͭ🍁YW💋🆂🆄🅼🅰🆁🅽🅸👻ᴸᴷ
Ht², jgn sampe hangus 🤣🤣🤣
❥␠⃝ ͭ🍁YW💋🆂🆄🅼🅰🆁🅽🅸👻ᴸᴷ: Hi hi 🤣🤣🤣
total 4 replies
❥␠⃝ ͭ🍁YW💋🆂🆄🅼🅰🆁🅽🅸👻ᴸᴷ
Biasaa, cwo msh kudu dgetok martil dulu baru sadar-sesadarny 🤦🤦🤦
Ros 🍂: Mari kita getok Bersama Kak 🤭🤣🤣🫣
total 1 replies
❥␠⃝ ͭ🍁YW💋🆂🆄🅼🅰🆁🅽🅸👻ᴸᴷ
Awas y, jgn nyesel udh putusin Apolo
Ros 🍂: iyaa kak 🫶🥰
total 3 replies
ren_iren
selalu menyukai debaran tulisan yg kau ciptakan kak.... serasa diriku masuk ke ceritanya liat adegan2 mereka yg malu2 meowwww... 😂🤣
Ros 🍂: ma'aciww ya kak 🫶😍 semoga suka cerita nya🥰
total 1 replies
ren_iren
gasssss bacaa bacaaa....... 🤗
ren_iren: always kak 🤗
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!