"Sepuluh tahun tanpanya adalah sunyi yang menyiksa. Tapi kepulangannya adalah badai yang tak terduga."
Dulu, Alea hanyalah gadis kecil yang menangis tersedu-sedu saat Uncle Bima—sahabat termuda ayahnya—memilih pergi ke luar negeri. Janji untuk memberi kabar ternyata menjadi kebohongan besar selama satu dekade penuh.
Kini, di usia 18 tahun, Alea bukan lagi "burung kecil" yang lemah. Namun, tepat saat ia akan memulai lembaran baru di bangku kuliah, pria yang pernah menghancurkan hatinya itu kembali muncul. Bima kembali bukan sebagai paman yang lembut, melainkan sosok pria dewasa yang posesif, penuh teka-teki, dan gemar melontarkan godaan yang membuat jantung Alea berpacu tidak keruan.
Terpaut usia 15 tahun, Bima tahu ia seharusnya menjaga jarak. Namun, melihat Alea yang kini begitu memesona, "paman" nakal ini tidak ingin lagi sekadar menjadi sahabat ayahnya.
"Sst, little bird... kau sudah cukup bersinar. Sekarang, waktunya pulang ke sangkarmu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29.Batas Yang Mengabur
Malam pasca-makan malam menegangkan di kediaman baru Bima menyisakan gemuruh yang tak kunjung usai di dada Alea. Sesampainya di rumah, ia langsung mengunci diri di kamar. Bayangan bagaimana kaki Bima merayap di balik gaunnya tepat di hadapan Daddy masih membuat bulu kuduknya meremang—bukan karena takut, melainkan karena sensasi ngeri yang berjalin dengan gairah yang begitu pekat. Alea menatap pantulan dirinya di cermin kamar mandi. Wajahnya masih menyisakan rona merah yang samar. Ia tahu dirinya sudah melangkah terlalu jauh, hingga batasan antara moralitas dan adiksi kini telah mengabur sepenuhnya.
Ia mengembuskan napas panjang, lalu berjalan lunglai menuju tempat tidur. Saat meraih ponselnya, sebuah notifikasi berita lokal muncul di layar utama.
> **"Kasus Korupsi dan Penyelundupan Pelabuhan: Aset Milik Pengusaha Utama di Menteng Resmi Disita."**
Alea membaca artikel singkat itu dengan saksama. Di sana tertulis bahwa seluruh operasional perusahaan ayah Revan dihentikan total, dan pihak kepolisian tengah mendalami keterlibatan anggota keluarga lain dalam aliran dana ilegal tersebut. Tidak ada nama Bima di sana. Pria itu benar-benar bersih, bergerak seperti hantu yang mengendalikan hukum dari balik bayangan.
Alea melempar ponselnya ke atas kasur. Ada secercah rasa iba yang sempat melintas untuk Revan, namun perasaan itu langsung tenggelam oleh egoisme yang diadopsinya dari Bima. *“Siapa yang memegang kendali, dia yang mendikte permainan,”* kalimat Bima tempo hari kini bergema di kepalanya bagai sebuah kebenaran mutlak.
Keesokan paginya, suasana rumah keluarga Baskara terasa lebih hangat namun menyimpan kepalsuan yang dingin. Daddy duduk di meja makan sembari menikmati kopi paginya, sementara Bi Ijah sibuk merapikan area dapur.
"Alea, kemarin malam makan malamnya sangat menyenangkan, bukan?" tanya Baskara saat melihat putrinya turun dengan pakaian kuliah yang rapi. "Daddy senang melihat kau dan Bima semakin akrab. Di dunia bisnis yang keras ini, Daddy tenang tahu kau memiliki paman seperti Bima yang bisa menjagamu jika suatu saat Daddy sedang tidak ada."
Alea tersenyum manis, sebuah senyuman terlatih yang menyembunyikan kebusukan di dalam jiwanya. "Iya, Dad. Uncle Bima sangat baik. Dia banyak membantuku memahami hal-hal yang tidak diajarkan di kampus."
"Baguslah," Baskara melirik jam tangannya, lalu berdiri. "Hari ini Daddy harus ke kantor pusat untuk rapat dengan investor baru. Kau langsung pulang setelah kelas selesai, ya? Akhir-akhir ini Jakarta sedang tidak aman dengan berita-berita kriminalitas."
"Iya, Dad. Hati-hati di jalan," jawab Alea sembari mencium tangan ayahnya.
Begitu pintu depan tertutup dan Daddy berangkat, Alea merasakan getaran di saku celananya. Sebuah pesan singkat dari pemilik sangkar emasnya.
**[Bima]:** *Datang ke rumah sore ini setelah kelasmu selesai. Aku ingin kau memakai gaun satin hitam yang tertinggal di lemari kamarku kemarin. Jangan membuatku menunggu, Little Bird.*
Perut Alea berdesir hebat. Perintah itu bagaikan sengatan listrik yang langsung memicu adrenalinnya. Tanpa berpikir dua kali, ia membalasnya dengan satu kata patuh: *Baik.*
Sore harinya, suasana kampus terasa begitu menjemukan bagi Alea. Sepanjang dosen menjelaskan materi di depan kelas, pikirannya sudah terbang jauh ke sebuah rumah minimalis di pinggiran kota. Namun, saat ia melangkah keluar dari gerbang kampus menuju area taksi, sebuah mobil sedan tua yang tampak asing tiba-tiba berhenti tepat di depannya.
Kaca mobil diturunkan, dan jantung Alea hampir berhenti saat melihat siapa yang berada di balik kemudi.
Itu Revan.
Namun, ia bukan lagi Revan yang dikenal Alea. Rambutnya berantakan, janggut tipis mulai tumbuh di rahangnya yang biasanya bersih, dan matanya tampak cekung dengan lingkaran hitam yang pekat. Aura kecerdasan dan kesombongan anak orang kaya telah menguap, digantikan oleh keputusasaan yang berbahaya.
"Masuk, Alea. Kita perlu bicara," ujar Revan dengan suara parau yang dingin.
Alea mundur selangkah, wajahnya mengeras. "Aku tidak ada urusan lagi denganmu, Revan. Pergilah sebelum aku memanggil keamanan kampus."
Revan tertawa sumbang, sebuah suara yang terdengar mengerikan di telinga Alea. "Keamanan kampus? Kau pikir aku takut? Keluargaku sudah hancur, Alea! Ayahku dipenjara, ibuku syok di rumah sakit, dan semua aset kami disita. Semua karena bajingan yang kau panggil 'Uncle' itu!" Revan mencengkeram kemudi dengan sangat erat hingga buku-buku jarinya memutih. "Aku tahu kau tahu sesuatu. Aku tahu kau sengaja menyembunyikan dokumen audit itu kemarin!"
Alea menatap Revan dengan pandangan dingin, sama sekali tidak tersentuh oleh penderitaan mantan temannya itu. "Kau yang menghancurkan keluargamu sendiri, Revan. Seandainya kau tidak sok tahu dan mencampuri urusanku dengan Bima, semua ini tidak akan pernah terjadi. Kau terlalu bodoh karena mengira kepintaranmu bisa melawan kekuasaannya."
Revan menatap Alea dengan tatapan tidak percaya, matanya memancarkan rasa sakit yang mendalam karena pengkhianatan orang yang dicintainya. "Kau benar-benar sudah menjadi monsternya, Alea. Kau membiarkan dia menghancurkan orang-orang di sekitarmu demi memuaskan nafsu gilanya."
"Pergilah, Revan. Ini peringatan terakhirku," desis Alea, lalu berbalik dan berjalan cepat meninggalkan mobil Revan, mengabaikan teriakan frustrasi pemuda itu yang memanggil namanya di tengah keramaian jalan.
Alea segera menyetop taksi yang lewat, masuk ke dalamnya, dan memberikan alamat rumah Bima. Di dalam taksi, tangannya gemetar, bukan karena takut pada Revan, melainkan karena ia harus segera melaporkan hal ini pada Bima. Revan sudah menjadi ancaman yang tidak bisa diprediksi, dan Bima harus menanganinya sebelum pemuda nekat itu melakukan hal yang bisa mengacaukan segalanya.
Gerimis mulai membasahi kaca taksi saat Alea tiba di kediaman mewah milik Bima. Ia melangkah cepat membelah halaman, membuka pintu jati besar yang sudah tidak lagi asing baginya, dan langsung menuju ke lantai atas.
Di dalam kamar utama, Bima sedang duduk di sofa kulit hitam sembari membaca beberapa dokumen di tabletnya. Aroma tembakau mahal menguar di udara, menciptakan atmosfer dominan yang langsung menenangkan kepanikan Alea.
"Kau tampak terburu-buru, *Little Bird*," ujar Bima tanpa mengalihkan pandangannya dari layar.
Alea berjalan mendekat, menjatuhkan tasnya ke lantai, dan langsung berlutut di depan Bima. Ia meletakkan kedua tangannya di atas lutut pria itu, mendongak dengan tatapan cemas. "Revan mendatangi kampusku tadi, Bima."
Gerakan jemari Bima di atas layar tablet berhenti seketika. Mata elangnya perlahan turun, mengunci pandangan Alea dengan kehangatan yang mendadak membeku menjadi sedingin es. "Apa yang dilakukan tikus kecil itu?"
"Dia menungguku di depan gerbang. Penampilannya sangat kacau, dan dia menuduhmu menghancurkan ayahnya karena masalah kami. Dia... dia juga tahu kalau aku mengantarkan dokumen itu ke sini kemarin," adu Alea, suaranya bergetar karena emosi. "Dia tampak frustrasi dan berbahaya, Bima. Aku takut dia akan nekat melakukan sesuatu pada Daddy atau pada kita."
Bima meletakkan tabletnya di meja kecil, lalu mengulurkan tangannya untuk mencengkeram rahang Alea, menarik wajah gadis itu agar semakin dekat. Sebuah senyuman miring yang meremehkan terukir di bibirnya yang tebal.
"Kau takut, Alea? Atau kau merasa bersalah padanya?" tanya Bima dengan nada menyelidik yang tajam.
Alea menggeleng kuat-kuat, membiarkan cengkeraman Bima menekan kulit pipinya. "Aku tidak peduli padanya! Aku hanya tidak ingin ada orang yang mengusik kita. Aku tidak ingin Daddy tahu, dan aku tidak ingin kau terluka karena kecerobohan bocah itu."
Mendengar jawaban itu, binar kepuasan kembali memancar dari mata Bima. Ia melepaskan cengkeramannya di rahang Alea, lalu beralih mengusap rambut gadis itu dengan kelembutan seorang pemilik yang bangga pada peliharaannya yang patuh.
"Anak pintar," bisik Bima rendah. "Kau tidak perlu khawatir tentang tikus yang sudah patah kakinya. Revan hanya sedang menggeliat sebelum kematian sosialnya benar-benar datang. Aku sudah memastikan semua jalurnya tertutup. Jika dia berani melangkah satu kali lagi mendekatimu atau Baskara, aku sendiri yang akan memastikan dia mendekam di sel yang sama dengan ayahnya."
Bima berdiri, menarik tubuh Alea ikut bangkit bersamanya. Ia menuntun Alea menuju lemari besar di sudut kamar, membukanya, dan memperlihatkan gaun satin hitam tipis yang sudah dipersiapkan di sana.
"Sekarang, lupakan bocah bodoh itu. Pakai gaun ini, dan tunjukkan padaku seberapa besar rasa cintamu yang kau katakan kemarin," perintah Bima dengan nada manis namun mutlak tak terbantahkan.
Alea menatap gaun di hadapannya, lalu menatap Bima. Di dalam kamar yang terisolasi dari kejamnya dunia luar ini, Alea melepaskan kemeja kuliahnya satu per satu, menjatuhkannya ke lantai bersama dengan sisa-sisa hati nuraninya. Di bawah tatapan lapar Bima, Alea melangkah masuk ke dalam dekapan sang predator, memilih untuk tenggelam lebih dalam ke dalam dosa terlarang yang kini menjadi satu-satunya tempat yang ia sebut sebagai rumah.