Menikahi pria paling berkuasa di kota ini adalah mimpi buruk bagi semua orang, tapi bagi Nara, ini adalah tambang emas untuk novelnya."
Nara adalah seorang penulis berbakat yang sedang terjebak dalam krisis kreatif. Demi mendapatkan riset nyata untuk novel terbarunya, ia nekat masuk ke dalam kehidupan Aris, sang pewaris tunggal kerajaan bisnis yang dikenal dingin dan tak tersentuh.
Sebuah tawaran pernikahan kontrak selama satu tahun menjadi pintu masuk yang sempurna bagi Nara. Di mata dunia, Nara adalah istri yang patuh dan penuh cinta. Namun di balik pintu kamar, Nara diam-diam mencatat setiap detail perilaku Aris—mulai dari cara pria itu menatapnya dengan tajam hingga sisi rapuh yang tak pernah diperlihatkan kepada siapa pun—lalu menerbitkannya sebagai bab baru di aplikasi novel yang viral.
Keadaan menjadi rumit ketika novel fiksi Nara meledak di pasaran dan para pembaca mulai menyadari kemiripan karakter utamanya dengan sang CEO legendaris. Di sisi lain, Aris mulai merasa ada
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ruang_Magenta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perayaan Kecil untuk Langkah Pertama
Waktu punya cara yang aneh untuk berjalan. Ketika kamu sedang berada di tengah masalah, satu hari rasanya seperti satu tahun lamanya. Tapi ketika kamu sedang bahagia, satu tahun rasanya seperti kedipan mata. Tanpa kami sadari, Laksamana kini sudah menginjak usia sebelas bulan. Dia bukan lagi bayi merah yang hanya bisa menangis dan telungkup di dada papanya. Dia sudah menjelma menjadi makhluk kecil yang aktif, gemar merangkak secepat kilat ke segala sudut rumah, dan punya hobi baru: menarik ujung gorden ruang tamu sampai relnya berderit pasrah.
Pagi ini, suasana di rumah Sentul kami terasa sedikit lebih sibuk. Kami sedang mempersiapkan acara kecil-kecilan. Bukan pesta mewah dengan katering hotel berbintang lima seperti yang biasa diadakan keluarga Wijaya dulu, melainkan hanya acara potong tumpeng sederhana untuk merayakan Laksamana yang... ya, dia baru saja bisa berdiri sendiri tanpa pegangan selama sepuluh detik penuh kemarin sore.
Bagi seorang ayah baru seperti Bimo, sepuluh detik itu setara dengan memenangkan piala dunia.
"Nara, balon yang warna kuning ditaruh di sebelah kiri saja atau di tengah?" tanya Bimo sambil memegang pompa balon manual. Wajahnya serius sekali, seolah-olah penempatan balon ini akan memengaruhi masa depan geopolitik dunia.
Saya yang sedang menata piring-piring kecil di meja makan hanya bisa menggelengkan kepala sambil tersenyum. "Bim, Laksamana itu belum paham estetika dekorasi. Dia cuma bakal senang kalau melihat balon itu meletus atau digigit. Taruh di mana saja, yang penting jangan sampai dia jangkau."
Bimo mendengus pelan, tapi tetap memindahkan balon itu ke sudut yang lebih tinggi. "Ini namanya dedikasi seorang ayah, Nara. Aku mau setiap dokumentasi foto di buku memorarmu nanti kelihatan sempurna. Biar dia tahu kalau papanya ini punya selera yang bagus."
Dari arah teras, terdengar suara langkah kaki yang diseret pelan, diikuti tawa renyah yang sangat familier. Ayah Hendra datang, dibantu oleh Panji yang memegangi lengan beliau. Tapi hari ini, Ayah Hendra tidak mau pakai kursi roda elektriknya. Beliau bersikeras ingin berjalan kaki dari rumah panti yang jaraknya hanya beberapa ratus meter dari rumah kami.
"Lihat ini, Nara, Bimo... kakeknya Laksamana masih kuat jalan tanpa roda!" seru Ayah Hendra bangga, meskipun napasnya sedikit terengah-engah.
"Eyang Hendra!" Laksamana yang sedang bermain balok kayu di karpet langsung berteriak cadel begitu melihat kakeknya. Dia merangkak dengan kecepatan penuh, lalu dengan bertumpu pada lutut Ayah Hendra, dia menarik dirinya untuk berdiri.
Momen itu membuat kami semua terdiam sejenak. Dua generasi yang sempat dipisahkan oleh konspirasi dan kebohongan masa lalu, kini berdiri tegak, saling berpegangan di sebuah rumah yang penuh dengan cahaya matahari.
Surat yang Tersesat dari Masa Lalu
Di tengah acara makan tumpeng yang santai, Panji tiba-tiba merogoh tas ranselnya dan mengeluarkan sebuah amplop cokelat berukuran besar yang tampak agak kusam di bagian ujungnya. Dia menyerahkannya kepada saya dengan ekspresi yang sedikit ragu.
"Mbak Nara, maaf kalau saya merusak suasana perayaan hari ini. Tapi surat ini baru saja sampai di kantor yayasan kemarin sore. Dikirim dari sebuah lembaga pemasyarakatan wanita di Jawa Tengah," kata Panji pelan.
Jantung saya berdegup sedikit lebih kencang. Dari lapas wanita? Hanya ada satu orang yang saya kenal yang saat ini berada di tempat seperti itu.
Ratih Wijaya. Meskipun dia sempat dipindahkan ke rumah sakit di Swiss karena kondisi kesehatannya, rupanya sebelum kesadarannya menurun drastis, dia sempat dipindahkan kembali ke Indonesia atas permintaannya sendiri untuk menjalani sisa masa hukumannya di tanah air, sebelum akhirnya beliau dinyatakan koma beberapa bulan lalu. Surat ini tampaknya adalah surat yang ditulisnya jauh-jauh hari, namun tertahan oleh proses birokrasi pemeriksaan lapas.
Bimo yang melihat perubahan ekspresi di wajah saya langsung meletakkan piring tumpengnya. Dia duduk di samping saya, menggenggam tangan saya di bawah meja. "Mau dibuka sekarang? Atau mau aku yang baca duluan?"
Saya menarik napas panjang. "Nggak apa-apa, Bim. Biar kita baca sama-sama."
Saya merobek amplop itu dengan hati-hati. Di dalamnya ada selembar kertas bergaris dengan tulisan tangan yang tidak lagi rapi. Huruf-hurufnya gemetar, mencerminkan kondisi fisik penulisnya yang sudah digerogoti penyakit saraf saat menulisnya.
Untuk Bimo dan Nara.
Jika kalian membaca surat ini, mungkin aku sudah tidak bisa lagi melihat dunia, atau mungkin aku sudah berada di tempat yang jauh lebih sunyi dari sel tahanan ini. Aku tidak menulis ini untuk meminta maaf. Aku tahu kata 'maaf' dari mulutku adalah sesuatu yang murah dan tidak akan bisa mengembalikan Adrian atau menghapus tiga puluh tahun penderitaan Hendra.
Aku hanya ingin memberi tahu kalian satu hal. Selama puluhan tahun aku menguasai Wijaya Group, aku selalu berpikir bahwa aku adalah orang paling kuat karena bisa mengatur hidup semua orang lewat uang dan kontrak. Tapi di sini, di dalam ruangan empat kali empat meter ini, aku menyadari satu hal yang paling mengerikan: aku tidak pernah benar-benar memiliki apa pun.
Andra tidak pernah mencintaiku, dia hanya takut padaku. Dan orang-orang di dewan komisaris yang dulu mencium tanganku, langsung berbalik meludahiku begitu aku jatuh. Satu-satunya hal yang nyata dalam hidupku adalah kebencian yang kupelihara sendiri.
Bimo... aku bangga kamu berani memutus rantai kutukan keluarga Wijaya. Jangan pernah menjadi sepertiku. Dan untuk Nara... anakmu adalah pemilik sah dari seluruh sisa royalti yang dulu kucuri. Gunakan itu untuk membangun apa yang dulu ingin kuhancurkan. Biarkan nama Adrian hidup, dan biarkan namaku terlupakan bersama debu.
Setelah membaca kalimat terakhir, ruangan tengah kami menjadi sangat hening. Bahkan anak-anak panti yang biasanya ribut pun seolah-olah ikut merasakan beratnya atmosfer di ruangan itu.
Bimo mengambil surat itu dari tangan saya, melipatnya dengan rapi, lalu memasukkannya kembali ke dalam amplop. Dia menatap saya dengan mata yang sangat tenang. "Ini adalah titik terakhir dari kalimat panjang yang ditulis oleh ibuku, Nara. Dia sudah mengaku kalah. Bukan kalah oleh hukum atau penjara, tapi kalah oleh kenyataan bahwa cinta kita jauh lebih kuat daripada seluruh ambisinya."
Ayah Hendra mengusap air mata yang tiba-tiba menetes di pipinya. Beliau menepuk bahu Bimo. "Sudah, Nak. Jangan ada lagi dendam. Hari ini kita merayakan Laksamana. Masa lalu biarlah menjadi pelajaran, masa depan adalah apa yang sedang kita pegang sekarang."
Malam harinya, setelah rumah kembali sepi dan Laksamana sudah tidur nyenyak di kamarnya—setelah kelelahan karena mencoba berjalan seharian—saya kembali ke meja kerja saya. Studio menulis saya malam ini terasa sangat lapang. Angin malam Sentul yang sejuk masuk membawa aroma bunga melati yang kami tanam di dekat pagar.
Saya membuka laptop dan mulai mengetik bab 29 ini dengan perasaan yang sangat ringan, seolah-olah ada sebuah batu besar yang baru saja menggelinding jatuh dari dada saya.
Hari ini saya belajar tentang esensi dari sebuah akhir. Akhir yang sejati dari sebuah permusuhan bukanlah ketika musuhmu hancur berkeping-keping di bawah kakimu, melainkan ketika musuhmu mengirimkan surat dari balik jeruji besi, bukan untuk mengutukmu, melainkan untuk mengakui bahwa jalan yang kamu pilih adalah jalan yang benar.
Ratih Wijaya akhirnya menemukan kesunyiannya. Dan di dalam kesunyian itu, dia justru menemukan kejujuran yang selama ini dia sembunyikan di balik kemewahan palsunya. Suratnya tidak mengubah apa pun yang sudah terjadi di masa lalu, tapi surat itu memberikan satu hal yang sangat berharga bagi kami: sebuah penutupan.
Kini, nama Wijaya tidak lagi membawa beban kutukan. Melalui Laksamana, nama itu akan ditulis ulang. Bukan lagi sebagai lambang keserakahan korporasi, melainkan sebagai lambang sebuah kemenangan—kemenangan dari dua orang manusia biasa yang menolak untuk dihancurkan oleh takdir dan memilih untuk saling menggenggam tangan di tengah badai.
Bimo masuk ke studio sambil membawa dua gelas susu hangat madu. Dia meletakkan satu gelas di samping laptop saya, lalu duduk di kursi kecil di sebelah saya, memperhatikan deretan kalimat yang baru saja saya ketik.
"Judul bukumu sudah fiks kan, Nara? Tinta di Atas Air: Mengalir Pulang?" tanyanya sambil tersenyum.
"Fiks, Bim. Penerbit bilang drafnya sudah bisa masuk proses tata letak minggu depan. Mereka memprediksi buku ini akan menjadi salah satu memoar paling dicari tahun ini," jawab saya sambil menyesap susu hangat itu.
Bimo menyandarkan kepalanya di bahu saya. "Aku nggak peduli seberapa banyak buku itu akan terjual nanti, Nara. Yang aku peduli adalah suatu hari nanti, saat Laksamana sudah bisa membaca... dia akan membuka halaman demi halaman buku ini, dan dia akan tahu bahwa ibunya adalah wanita paling berani yang pernah ada, dan ayahnya... adalah pria paling beruntung karena bisa menjadi bagian dari ceritanya."
Aku tertawa kecil, mencubit hidungnya gemas. "Kamu makin pandai merangkai kata ya sekarang. Ketularan siapa sih?"
"Ketularan penulis novel yang dulu hampir saja aku usir dari kantor karena masalah kontrak pernikahan palsu," balasnya sambil terkekeh manis.
Di luar jendela, malam semakin larut. Bintang-bintang di langit Sentul malam ini bersinar sangat terang, seolah-olah ikut memberikan tepuk tangan atas perayaan kecil langkah pertama Laksamana hari ini. Langkah pertama anak kami, dan langkah pertama kami untuk benar-benar hidup tanpa ada lagi bayang-bayang masa lalu.
Pena saya malam ini berhenti dengan sebuah tanda titik yang sangat tegas. Sebuah tanda titik yang tidak lagi menyisakan pertanyaan, melainkan sebuah kepastian bahwa bab-bab kehidupan kami selanjutnya akan ditulis dengan tinta yang penuh dengan kedamaian. Cerita kami telah menemukan muaranya, dan di muara inilah kami akan membangun dunia kami sendiri yang abadi.