NovelToon NovelToon
STH: Beyond Immortal

STH: Beyond Immortal

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Fantasi Timur / Sistem
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: RA.AM

Genre: Sistem, Fantasi Timur, Reinkarnasi, Fanfiction, Over Power 🔥🔥


Li Yao mati, lalu sistem memberinya lima tubuh sekaligus di dunia Shrouding the Heavens, kemudian pergi begitu saja. Dengan satu jiwa dan lima takdir, ia harus berkembang dalam diam dan menyatukan kelimanya saat menembus ranah Four Pole. Zona Terlarang, makhluk tertinggi, bahkan para Kaisar Agung? Mereka semua akan berlutut, karena seorang penguasa sejati telah lahir! Li Tiandi:

"Zaman dan Era telah berubah."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RA.AM, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 5 — Warisan Kaisar Agung WuShi?

Di jantung Tanah Suci Yao Chi, tersembunyi di balik kabut yang tidak pernah sirna sepanjang tahun, berdiri sebuah batu.

Batu itu tidak besar, tidak megah, tidak memancarkan cahaya atau aura yang mencolok. Ia hanya duduk diam di tengah wilayah terlarang, permukaannya kasar, warnanya kelabu, seolah tidak lebih dari sebongkah batu biasa yang tersapu lumpur waktu. Namun semua orang di Yao Chi tahu—batu itu bukanlah sembarang batu.

Ia adalah peninggalan Kaisar Agung Wu Shi.

Ratusan ribu tahun yang lalu, ketika Kaisar Wu Shi masih melangkah di dunia ini, ia memiliki hubungan erat dengan Yao Chi. Beberapa mengatakan ia adalah sekutu, yang lain berbisik tentang cinta yang tak pernah terselesaikan. Tidak ada yang tahu pasti. Yang jelas, batu itu ditinggalkan di sini, dan sejak saat itu, tidak ada yang pernah mampu menembus rahasianya.

Batu itu telah menyaksikan generasi demi generasi lahir dan mati. Ia telah melihat jenius-jenius Yao Chi mencoba memahaminya, memaksanya, memohon padanya—semuanya gagal. Ia hanya diam, seperti rahasia yang terlalu berat untuk diungkap.

Tapi hari ini, batu itu bergetar.

Getarannya samar, hampir tidak terasa. Namun di wilayah terlarang yang sunyi tanah suci Yao Chi, getaran sekecil apa pun adalah guntur. Kabut di sekitarnya mulai bergerak, bukan karena angin, melainkan karena tarikan tak terlihat. Energi spiritual di area itu berubah—menjadi lebih stabil, lebih dalam, seperti air yang tiba-tiba berhenti mengalir dan mulai meresap ke dalam tanah.

Seorang tetua yang berjaga di kejauhan langsung berdiri. Matanya menyipit.

"Formasi perlindungan Pagoda Emas terganggu?"

Tetua itu tidak menunggu lebih lama. Dengan satu lambaian tangan, sinyal bahaya melesat ke langit. Dalam hitungan napas, bayangan-bayangan mulai berkumpul dari berbagai penjuru tanah suci Yao Chi. Para tetua senior, para penjaga kuno, semua datang dengan ekspresi tegang.

Namun di antara mereka, satu sosok berjalan paling depan.

Sosok itu adalah pemimpin Yao Chi—Ibu Suri Barat, seorang wanita yang tidak lagi muda namun tidak pula tua, dengan rambut disanggul rapi disematkan peniti batu giok. Jubahnya biru pucat, sederhana, tanpa ornamen. Namun langkahnya tenang, stabil, dan di matanya terdapat ketajaman yang hanya dimiliki oleh mereka yang telah hidup cukup lama untuk memahami bahwa keheningan sering kali lebih berbahaya dari badai.

Ibu Suri Barat tidak bertanya. Matanya langsung tertuju ke batu itu.

Dan di saat yang sama, batu itu retak.

Retakan pertama muncul di permukaan kelabunnya—tipis, panjang, seperti urat yang mengalir dari puncak ke dasar. Dari dalam retakan itu, cahaya lembut keluar, bukan cahaya yang menyilaukan, melainkan cahaya yang tenang, stabil, seolah membawa aroma awal mula dunia.

"Surga..." seorang tetua bergumam. "Apakah ini..."

Tidak ada yang menyelesaikan kalimatnya.

Karena retakan itu terus melebar, dan dari dalamnya, tekanan mulai keluar. Bukan tekanan yang menghancurkan—tidak. Ini adalah tekanan yang menekan jiwa, yang membuat lutut terasa lemas, yang membuat napas terasa berat, namun bukan karena ketakutan—melainkan karena hormat. Seolah batu itu sedang melahirkan sesuatu yang tidak berhak disentuh oleh tangan-tangan duniawi.

Para tetua bergerak mundur selangkah, dua langkah. Wajah mereka pucat.

Hanya pemimpin Yao Chi yang tidak bergerak.

Ia berdiri di tempatnya, jubahnya berkibar lembut, matanya tertuju pada batu yang terus pecah. Tidak ada rasa takut di wajahnya. Hanya rasa penasaran yang dingin—dan mungkin, sedikit harapan.

Batu itu terbuka seperti bunga.

Tidak meledak, tidak hancur berantakan. Ia terbelah secara perlahan, dengan anggun, seperti tangan-tangan tak terlihat sedang membuka tirai panggung paling sakral di dunia. Dan di dalamnya, di tengah serpihan batu yang mulai memudar cahayanya...

Sebuah bayi?

Bayi itu mungil, kulitnya bersih tanpa noda, rambutnya hitam pekat, matanya terpejam rapat. Ia tidak menangis, tidak bergerak, hanya terlelap dalam keheningan sempurna, seolah baru saja keluar dari mimpi yang berlangsung ribuan tahun.

Para tetua terdiam.

Udara terasa beku.

Ibu Suri Barat Yao Chi melangkah maju, satu langkah, dua langkah, hingga ia berdiri tepat di depan bayi itu. Ia menunduk, menatap wajah kecil yang tidur dengan damai. Lalu perlahan, ia mengulurkan tangan, jemarinya yang ramping menyentuh pipi bayi itu.

Kulitnya hangat.

Halus.

Dan saat jemarinya menyentuh kulit itu, ia merasakan sesuatu yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Bukan energi yang meluap, bukan aura yang menekan—hanya keheningan yang mutlak. Seolah bayi ini tidak memiliki awal dan tidak memiliki akhir. Seolah ia hanya ada, dan itu sudah cukup.

"Sejak zaman Kaisar Wu Shi..." bisik pemimpin Yao Chi pelan, "batu ini tidak pernah bergerak."

Ia terdiam sejenak, jemarinya masih menyentuh bayi itu.

"Hari ini, ia melahirkanmu." Ibu Suri Barat tersenyum lembut, matanya berkilau seperti seorang ibu memandang buah hatinya.

Bayi itu perlahan membuka mata.

Sepasang mata hitam pekat menatap langit-langit kabut tanah suci Yao Chi, tidak dengan kebingungan, tidak dengan ketakutan, hanya dengan ketenangan yang terlalu sempurna untuk seorang bayi. Dalam benak Ibu Suri Barat, sebuah keyakinan aneh muncul—keyakinan bahwa anak ini bukan sekadar bayi dari batu biasa.

Anak ini mungkin adalah jawaban atas sesuatu yang bahkan para Kaisar Agung tidak pernah temukan.

"Li Yao," katanya akhirnya, nama itu keluar dari bibirnya tanpa rencana.

Ia mengangkat bayi itu perlahan, memangku tubuh kecil itu dengan hati-hati, dan berbalik menghadap para tetua yang masih membeku di tempat mereka.

"Anak ini," suaranya tenang, namun tidak bisa dibantah, "akan tinggal di Yao Chi."

Tidak ada yang berani membantah.

Langit di atas Yao Chi perlahan cerah, kabut mulai merapat kembali, sementara di dalam pelukan Ibu Suri Barat, seorang bayi dengan masa depan yang tidak dapat diprediksi mulai mengukir awal dari takdirnya sendiri.

1
Eza Bae
tes
Eza Bae
test
Eza Bae
tes
T28J
saya mampir Thor 👍👍
Fajar Fathur rizky
update yang banyak thor semangat thor
SnowEdge: test ombak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!