NovelToon NovelToon
Kebangkitan Meridian Naga

Kebangkitan Meridian Naga

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:7k
Nilai: 5
Nama Author: Ichsan Ramadhan

Di tengah kemegahan Klan Naga Api, Ren hanyalah aib dan sampah masyarakat. Dilahirkan dengan meridian yang tertutup rapat, ia dianggap tidak memiliki bakat sama sekali. Hinaan, pukulan, dan pengkhianatan menjadi makanan sehari-harinya, hingga akhirnya ia diusir dengan kejam dari klannya sendiri, dibiarkan mati di alam liar.

Namun, takdir memiliki rencana lain. Di ambang kematian, darah nenek moyang yang terpendam di dalam tubuhnya akhirnya berdenyut. Meridian yang dianggap cacat itu ternyata adalah Ruang Suci Naga, tempat bersemayamnya kekuatan purba yang telah tertidur ribuan tahun!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichsan Ramadhan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 25: Perpisahan Sementara Harus Menjadi Kuat Demi Dia

Angin malam masih bertiup kencang, membawa debu dan daun kering berputar di tanah yang masih retak bekas ledakan kekuatan mereka tadi. Di kejauhan, bayangan-bayangan hitam sudah mulai terlihat samar bergerak cepat mendekat, disertai hawa dingin berbau darah dan niat membunuh yang semakin pekat.

Pasukan Pemburu Bayangan Klan Naga Api... Mereka sudah sampai.

Ren berdiri tegak di atas tanah yang rata itu, matanya menatap tajam ke arah kedatangan musuh. Di dalam dadanya, kekuatan yang baru saja meledak dan naik tingkatan itu masih bergejolak, meminta untuk dikeluarkan. Namun, di tengah rasa percaya diri yang meluap itu, ada satu rasa cemas yang menusuk jauh di lubuk hatinya.

Ia menoleh ke samping. Xue Ying berdiri di sana, gagah dan siap bertarung, pedangnya sudah terhunus dan memancarkan cahaya putih dingin. Wajah gadis itu tenang, namun Ren bisa merasakan lewat ikatan batin mereka... jantung Xue Ying berdebar kencang bukan karena takut mati, tapi karena takut akan keselamatan Ren.

'Dia berani bertarung sampai mati demi aku...' batin Ren terasa perih sekaligus hangat. 'Tapi musuh yang datang ini bukan sekadar pembunuh biasa. Kakekku sudah gila, dia mengirimkan kekuatan penuh. Kalau kita bertarung bersama di sini... ada risiko dia terluka. Aku tidak akan pernah memaafkan diriku sendiri kalau ada goresan sedikit pun di tubuhnya.'

Ren menarik napas panjang, lalu perlahan memutar tubuhnya sepenuhnya menghadap Xue Ying. Ia menatap wajah kekasihnya lekat-lekat, mengingat setiap lekuknya, setiap sinar di matanya, seolah ingin merekam semuanya selamanya.

"Xue Ying..." panggilnya pelan, suaranya berat dan bergetar.

Gadis itu mengangkat wajah, menatap balik dengan tatapan penuh tanya. "Ada apa, Ren? Mereka sudah dekat. Kita harus bersiap."

Ren menggeleng pelan. Ia mengulurkan tangan, menyentuh pipi halus itu dengan lembut, lalu mengusapnya dengan penuh kasih sayang dan rasa sakit hati.

"Kita... tidak bisa pergi bersama dari sini."

Kalimat itu terdengar pelan, namun seolah guntur yang menyambar telinga Xue Ying. Gadis itu tersentak hebat, matanya membelalak tak percaya.

"Apa maksudmu? Kita sudah berjanji! Di bawah bintang! Bahwa ke mana pun kau pergi, aku ikut! Bahwa kita tidak akan pernah berpisah!" Suara Xue Ying mulai meninggi, bergetar menahan tangis. Ia menggenggam tangan Ren yang ada di pipinya, erat sekali seolah takut pemuda itu akan menghilang.

Ren tersenyum sedih, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. Ia menarik tangan itu, lalu menggenggamnya di kedua telapak tangannya yang besar dan hangat.

"Aku ingat janji itu, Xue Ying. Aku menyimpannya lebih suci daripada nyawaku sendiri. Tapi dengar aku... kali ini berbeda."

Ren menunjuk ke arah selatan, ke arah kerumunan bayangan yang semakin jelas bentuknya.

"Yang datang itu adalah Pasukan Pemburu Bayangan. Di antara mereka ada ahli tingkat Penakluk Langit, bahkan mungkin tetua tingkat lebih tinggi lagi. Mereka datang dengan perintah tegas: bunuh aku, dan siapa pun yang ada di sampingku harus mati juga."

Ren menatap mata Xue Ying dalam-dalam.

"Kekuatan kita memang baru saja melonjak dahsyat. Kita berdua sangat kuat. Tapi kalau kita tetap bersama di satu tempat... kita menjadi sasaran empuk. Kalau kita bertarung berdampingan, satu kesalahan kecil saja, satu serangan tak terduga saja... dan aku bisa kehilanganmu. Aku tidak mau mengambil risiko itu, Xue Ying. Aku tidak sanggup membayangkan apa yang akan terjadi kalau kau terluka karenaku."

Xue Ying menggeleng kuat, air matanya mulai menetes membasahi pipi.

"Aku tidak peduli risikonya! Aku tidak takut mati! Aku lebih takut berpisah denganmu! Biarkan mereka datang! Kita bunuh mereka semua bersama-sama! Bukankah kita satu jiwa? Kalau kau mati, aku ikut mati! Kalau kau hidup, aku ikut hidup!"

Kalimat itu menusuk jantung Ren sampai ke ulu hati. Ia memeluk gadis itu erat-erat, menempelkan kepalanya di bahu Xue Ying, membiarkan air matanya jatuh membasahi kain jubah gadis itu.

"Xue Ying... percayalah, rasanya sama sakitnya bagiku. Rasanya aku ingin saja menggendongmu dan kabur ke ujung dunia, atau berdiri di sini dan mati bersamamu."

Ren melepaskan pelukan, lalu menangkup wajah kekasihnya dengan kedua tangan. Matanya menyala penuh tekad yang tak tergoyahkan.

"Tapi kalau kita mati di sini... semuanya berakhir. Klan Naga Api akan menang. Ayahku mati sia-sia. Darah Kaisar di tubuhku akan musnah. Dan cintaku padamu hanya akan menjadi kisah sedih yang terlupakan."

"Kita tidak boleh mati di sini. Kita harus hidup. Kita harus menjadi kuat, sangat kuat, sampai kita bisa menginjak kepala semua musuh kita, sampai tidak ada satu pun makhluk di dunia ini yang berani mengancam kita lagi."

Ren menunjuk ke arah utara, ke jalan setapak yang membelok ke balik gunung.

"Kau akan pergi ke arah sana. Di balik gunung itu ada cabang sekte pedang tempat ayahmu dulu pernah berkunjung. Aku sudah mendengar ceritanya. Pergilah ke sana. Di sana aman, dan kau bisa berlatih serta mengasah kemampuanmu di tempat yang penuh sumber daya."

"Dan aku..." Ren menunjuk dirinya sendiri, lalu menunjuk ke arah musuh yang datang. "Aku akan menarik mereka semua ke arah selatan, masuk ke hutan belantara yang lebat dan berbahaya. Di sana aku bisa bergerak bebas, menggunakan semua yang aku miliki, dan menghabisi mereka satu per satu. Aku akan menggunakan pengetahuan Leluhur dan kekuatan Batu Prasejarah untuk bertahan hidup dan menjadi lebih kuat di tengah bahaya."

Xue Ying terisak, tangannya memegang erat lengan Ren.

"Berapa lama? Berapa lama kita harus berpisah? Aku tidak sanggup, Ren..."

Ren menghapus air mata gadis itu dengan lembut, lalu tersenyum manis meski hatinya hancur berkeping-keping.

"Tidak akan lama. Ikatan Batin kita sudah terbentuk, ingat? Di mana pun kita berada, berapa pun jauhnya jarak, aku bisa merasakanmu, dan kau bisa merasakanku. Aku akan selalu ada di hatimu, dan kau selalu ada di hatiku. Kita berdua akan saling mengirimkan kekuatan lewat ikatan ini. Kita berdua akan tumbuh semakin kuat secara terpisah, sampai hari tiba..."

Ren berhenti sejenak, suaranya menggelegar penuh janji agung.

"Sampai hari tiba di mana kita bertemu kembali. Dan saat itu... kita berdua bukan lagi sekadar pendekar muda. Kita akan datang dengan kekuatan yang cukup untuk menaklukkan kerajaan, menghancurkan sekte, dan menguasai seluruh benua ini."

"Xue Ying... aku harus berpisah sementara waktu... karena aku harus menjadi kuat demi dia. Demi kamu. Agar saat kita bertemu lagi, aku tidak perlu lagi lari, tidak perlu lagi bersembunyi, dan aku bisa melindungimu sepenuhnya selamanya."

Di dalam alam batin Ren, suara Leluhur Naga Emas bergema, kali ini penuh rasa haru dan hormat.

Pilihan yang berat, tapi paling bijaksana, cucuku. Perpisahan ini adalah ujian terbesar. Siapa yang bisa menaklukkan rasa rindu, dialah yang akan mencapai puncak kekuatan sejati. Hati yang terbakar rindu... adalah bahan bakar terbaik untuk menjadi dewa.

Xue Ying menarik napas panjang, berusaha menahan isak tangisnya. Ia menatap mata Ren lekat-lekat, lalu perlahan mengangguk. Ia mengerti. Ia tahu Ren melakukan ini bukan karena ingin pergi, tapi karena cinta yang terlalu besar.

"Baiklah... aku mengerti," suara Xue Ying parau namun tegas. Ia merogoh saku bunganya, lalu mengeluarkan sebilah kecil belati indah yang berkilauan, di gagangnya terukir pola naga dan burung hong.

"Ini adalah belati pusaka keluargaku, Perisai Jiwa. Ia akan melindungimu dari bahaya maut. Bawalah. Dan ingat... setiap tetes darah yang keluar dari tubuhmu, aku akan merasakannya. Setiap kali kau menang atau kuat, aku akan bangga karenanya."

Ren menerima belati itu dengan hormat, lalu menggantungkannya di pinggangnya. Ia juga mengeluarkan sepotong batu kecil yang bersinar keemasan, pecahan dari Batu Prasejarah yang ia bentuk khusus.

"Dan ini. Batu Sinyalku. Selama benda ini bersinar, berarti aku masih hidup dan sehat. Kalau redup... berarti aku dalam bahaya. Tapi jangan khawatir... ia tidak akan pernah padam sampai napas terakhirku."

Mereka berdua saling pandang lagi, tidak ada kata yang cukup untuk mengungkapkan rasa sayang dan rasa sakit saat ini. Ren mendekat, memberikan ciuman terakhir di kening, di mata, dan terakhir di bibir kekasihnya. Ciuman yang penuh perpisahan, penuh janji, dan penuh rasa rindu yang akan datang.

"Pergilah sekarang, Xue Ying. Segera! Semakin cepat kau pergi, semakin aman kau, dan semakin leluasa aku bertindak."

Xue Ying mundur selangkah demi selangkah, matanya tidak pernah lepas dari wajah Ren. Air matanya mengalir deras, tapi senyumnya tetap terukir indah.

"Jaga dirimu baik-baik, Ren. Jadilah yang terkuat. Aku akan menunggumu di puncak tertinggi."

"Pergilah..." Ren membalikkan badan, menatap tajam ke arah kedatangan musuh agar tidak terlihat betapa hancur hatinya.

Xue Ying berbalik, berlari cepat menghilang di balik kegelapan jalan utara. Angin malam membawa suara isak tangisnya yang perlahan menjauh.

Saat sosoknya benar-benar hilang dari pandangan, Ren berbalik kembali.

Wajahnya yang sedih dan lembut berubah seketika menjadi dingin, ganas, dan mengerikan. Aura emas merah meledak keluar, jauh lebih dahsyat dari sebelumnya, didorong oleh rasa rindu, rasa sakit, dan api dendam yang berkobar menjadi satu.

Ia mengeluarkan teriakan panjang yang mengguncang bukit itu, teriakan yang berisi segala tekadnya.

"Datanglah, kalian semua! Pasukan pembunuh! Musuh-musuhku! Aku di sini!"

Ren melangkah maju sendirian, menyambut ribuan musuh yang datang. Di dadanya, hanya ada satu tujuan, satu alasan untuk hidup dan bertarung:

Aku harus menjadi kuat. Lebih kuat dari siapa pun. Demi dia. Demi hari pertemuan kembali nanti, di mana aku akan memeluknya lagi... dan tidak akan pernah melepaskannya selamanya.

Perjalanan berpisah pun dimulai. Dua jalur berbeda, satu tujuan sama: Kekuatan Mutlak.

1
Jade Meamoure
😍😍😍
Jade Meamoure
novel yg bagus...moga kedepannya anda tetap berkarya
Jade Meamoure
kisah percintaan d balut kultivasi tp aq salut Krn tk ada adegan yg vulgar hanya d novel anda lho Thor 👍👍👍 sukses n sehat selalu
Didit Nur
terlalu sombong dan terlalu pamer kekuatan
Didit Nur
MC nya terlalu sombong dan terlalu pamer kekuatan, biasanya air beriak tanda tak dalam. harusnya seperti laut yg tenang Namum memiliki ombak yg ganas
Cahya Laela Tsaniya
kata keren kayaknya kurang pas 🙏🏾🙏🏾🙏🏾mungkin kata luar biasa sedikit cocok.
.🙏🏾🙏🏾🙏🏾 maafkan saya sedikit sok tau🤭
Cahya Laela Tsaniya
terdengar aneh kata Mbak 🙏🏾🙏🏾,mungkin kata Mbak diganti Nona ,biar enak didengar🤭
Cahya Laela Tsaniya
semangat Thor 💪💪💪
Cahya Laela Tsaniya
Kayaknya ada yg terlewat / tidak terbaca ya🤔🤔🤔🤔??? Tingkatan kultivasi apa saja Thor??
Cahya Laela Tsaniya
semangat Thor 💪💪💪!!!!
T28J
semangat thor✍️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!