NovelToon NovelToon
Bukan Inginku Jadi MADUMU

Bukan Inginku Jadi MADUMU

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak / Single Mom
Popularitas:11k
Nilai: 5
Nama Author: Dewi Risnawati

"Kamu harus tahu diri. Kamu wanita yang tidak pernah di inginkan oleh mas Yusuf. Jangan sesekali meminta perhatian darinya. ingatlah, mas yusuf menikahimu hanya ingin bertanggung jawab pada bayi itu!" tekan Nora.

"Aku tahu, Mbak. Maaf jika sikapku sudah membuat mbak nora tidak nyaman," jawab Siti hajar dengan wajah menunduk.

Kejadian yang tak terduga membuat Siti harus mengandung anak dari majikannya. Menjadi orang ketiga, dan di nikahi secara siri tidaklah membuat gadis malang itu bahagia. ia harus menerima segala hujatan dari nora istri sah Yusuf.

Bagaimana kisah selanjutnya? yuk ikuti ceritanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Risnawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pijitan bentuk tanggung jawab

Sore itu, sinar matahari sore menerobos masuk lewat celah jendela ruang tengah, menyinari sudut ruangan yang kini terasa jauh lebih tenang dibandingkan hari-hari sebelumnya. Sejak percakapan hati ke hati dengan Bu Aminah dan Pak Harun tiga hari yang lalu, perubahan sikap Nora benar-benar terasa nyata. Wanita itu tak lagi memasang tembok tinggi di antara Yusuf dan Siti. Ia tak lagi menyela atau mengalihkan perhatian suaminya saat Yusuf hendak melakukan hal-hal kecil yang bersifat kemanusiaan dan kewajiban sebagai suami.

Nora kini duduk di kursi goyang dekat jendela, ditemani Bu Aminah yang sedang merajut. Sesekali Nora ikut tertawa mendengar cerita ibu mertuanya, meski di dasar hatinya rasa cemburu itu belum sepenuhnya hilang, setidaknya ia sudah berhasil mengendalikannya dengan kedewasaan yang patut diacungi jempol. Pak Harun sendiri sedang duduk di beranda depan, asyik mengobrol dan mengajari Haikal membuat layangan baru.

Di sisi lain ruangan, di atas bangku panjang beralaskan tikar empuk, Siti duduk bersandar pada bantal penyangga. Wajahnya tampak menahan rasa sakit, keningnya sesekali berkerut, dan tangannya berusaha mengelus perlahan kedua kakinya yang kini terlihat makin bengkak besar, berwarna kemerahan, dan terasa kaku. Kandungannya yang sudah masuk usia sembilan bulan itu memang memberinya beban berat. Tulang panggulnya sering nyeri, punggungnya terasa pegal luar biasa, dan kakinya... rasanya seperti tertusuk-tusuk setiap kali harus menumpu berat badan atau bahkan saat diam saja.

Yusuf yang baru saja masuk dari luar membawa segelas air hangat, langsung menangkap raut wajah kesakitan itu. Tanpa menunggu dipanggil, ia berjalan mendekat ke arah Siti.

"Sakit sekali, Siti?" tanyanya lembut, suaranya rendah agar tidak mengganggu obrolan di sisi ruangan lain.

Siti mengangguk pelan, menahan desah napas panjang. "Iya, Mas. Kakinya... rasanya pegal sekali, panas, dan nyeri sampai ke betis. Mau digerakkan saja susah."

Yusuf meletakkan gelas air itu di meja kecil di sampingnya, lalu tanpa ragu lagi ia berlutut di lantai di hadapan Siti. Ia menatap wanita muda itu lekat-lekat, penuh perhatian. "Biarkan Mas yang bantu. Mungkin karena berat badanmu bertambah banyak, aliran darahnya jadi terhambat. Kalau dipijat pelan-pelan sedikit, mungkin agak berkurang rasanya."

Siti tertegun sejenak, menatap Nora sekilas dengan ragu. Ia takut istri pertama Yusuf itu akan tersinggung atau merasa cemburu lagi. Namun saat pandangannya bertemu dengan Nora, wanita itu hanya mengangguk pelan, memberikan isyarat tenang dan mempersilakan. Di sebelahnya, Bu Aminah tersenyum tipis, matanya memancarkan rasa lega melihat anak laki-lakinya bertindak tepat dan bertanggung jawab.

Mendapatkan izin tak terucap itu, hati Siti sedikit lega, namun rasa gugupnya justru makin bertambah. Ia menatap kembali pada Yusuf yang kini sudah mulai melonggarkan posisi kakinya agar lebih mudah dijangkau.

"Maaf ya, Mas... merepotkan terus," ucap Siti lirih, matanya mulai berkaca-kaca. Rasanya sungguh tidak enak hati, tapi rasa sakit itu tak bisa ia pungkiri lagi.

"Jangan bicara begitu. Kamu istriku. Apa pun yang jadi hak dan kewajiban Mas, akan Mas lakukan. Anggap saja... ini bentuk tanggung jawab Mas atas kamu dan anak ini," jawab Yusuf lembut namun tegas. Tangannya yang besar, hangat, dan berurat kuat itu perlahan menyentuh pergelangan kaki Siti.

Seketika, sentuhan itu menjalar ke seluruh tubuh Siti. Ada rasa hangat yang begitu dalam merambat dari kaki ke jantungnya. Yusuf mulai mengusap perlahan dari pergelangan kaki, naik ke arah betis yang keras dan bengkak, dengan gerakan memutar yang sangat lembut dan hati-hati. Ia tahu betul, memijat ibu hamil tak boleh sembarangan. Tekanannya harus pas, tidak boleh terlalu keras agar tidak memicu kontraksi dini, tapi cukup kuat untuk melancarkan aliran darah yang tersumbat.

"Kalau sakit, bilang ya. Mas atur lagi tekanannya," ucap Yusuf pelan, matanya fokus melihat perubahan raut wajah Siti.

"Enggak... enak kok, Mas. Rasanya agak lega sedikit," jawab Siti bergetar.

Perlahan namun pasti, rasa nyeri yang semula menyesakkan mulai berkurang digantikan rasa nyaman yang meneduhkan. Di ruangan yang hening itu, hanya terdengar suara angin dan napas mereka berdua. Siti menatap wajah Yusuf yang tertunduk, wajah yang selama ini menjadi sandaran hidupnya, wajah lelaki yang menjadi ayah dari bayi yang dikandungnya.

Di saat-saat seperti ini, saat Yusuf memperlakukannya dengan begitu lembut, begitu penuh perhatian dan kelembutan, dinding pertahanan hati Siti yang selama ini ia bangun kokoh, perlahan runtuh sepenuhnya.

Perhatian ini... kasih sayang ini... sentuhan ini... rasanya begitu indah, begitu membuatnya merasa berharga, merasa dicintai, merasa dilindungi. Namun, di balik keindahan itu, ada rasa sakit yang jauh lebih tajam yang menggerogoti hatinya.

'Sebentar lagi... sebentar lagi semua ini akan berakhir,' batin Siti menjerit dalam diam, menahan tangis yang siap meledak kapan saja. 'Setelah bayi ini lahir, setelah aku pulih... aku akan pergi. Aku akan menjauh dari rumah ini, menjauh dari Mas Yusuf. Kehidupan seperti ini, kebersamaan seperti ini, perlindungan seperti ini... semuanya akan menjadi milik mbak Nora sepenuhnya lagi. Aku hanya tamu sebentar yang kebetulan dibebani tanggung jawab.'

Air mata bening menetes perlahan dari sudut matanya, mengalir turun membasahi pipi yang kini terasa panas. Ia menundukkan kepala dalam-dalam, berusaha menyembunyikan isak tangisnya, berusaha agar Yusuf tidak melihat betapa hancur dan perih hatinya saat ini.

Karena kenyataannya, di tengah semua kekacauan, musibah, dan keadaan yang memaksanya menikah dengan lelaki ini... Siti jatuh hati. Ia jatuh cinta pada Yusuf. Cinta yang tumbuh perlahan karena perhatian, karena perlindungan, karena rasa aman yang diberikan lelaki itu padanya saat dunia seolah memusuhi. Dan rasa cinta itu menjadi racun paling mematikan baginya, karena ia tahu dari awal bahwa ia tidak akan pernah memiliki lelaki itu sepenuhnya. Ia tahu batasnya. Ia tahu akhirnya.

"Kenapa menangis?" suara berat dan lembut Yusuf terdengar tepat di depannya.

Siti tersentak kaget, buru-buru menyeka air matanya dengan punggung tangan kasar. "Ti... tidak apa-apa, Mas. Cuma... kaki ini rasanya lega sekali, jadi terharu saja." Ia berusaha mengarang alasan, meski ia yakin Yusuf pasti tahu itu bukan alasan yang benar.

Yusuf berhenti mengusap sejenak, lalu mendongak menatap mata wanita itu lekat-lekat. Di matanya, Yusuf bisa melihat samar rasa sakit yang jauh lebih besar daripada sekadar sakit kaki. Ia bisa melihat ketakutan, kesedihan, dan kepedihan yang tersembunyi di sana. Yusuf bukan orang yang tidak punya hati. Ia sadar betul posisi Siti. Ia sadar betul bahwa bagi gadis muda seumuran itu, hidup terjebak dalam keadaan rumit seperti ini pasti sangat berat. Ia sadar bahwa perhatian kecil yang ia berikan mungkin menjadi hal terbesar bagi Siti yang tidak punya siapa-siapa lagi.

Dengan gerakan lembut, Yusuf mengusap sisa air mata di pipi Siti menggunakan ibu jarinya. Sentuhan itu begitu hangat, begitu menenangkan, namun justru membuat hati Siti makin berdarah.

"Sabar ya, Siti... Semuanya akan baik-baik saja nanti. Kamu wanita hebat. Kamu kuat sekali menanggung semua ini sendirian sampai sejauh ini," ucap Yusuf pelan, nadanya penuh rasa iba dan kekaguman tulus. "Mas tahu... berat sekali rasanya jadi kamu. Tapi percayalah, apa pun yang terjadi nanti, Mas akan selalu ada untuk anak ini, dan untuk kamu sebagai saudara dan tanggung jawab Mas sampai kapan pun."

Kata 'saudara' itu menusuk tepat di ulu hati Siti. Ya, hanya sebatas itu. Tanggung jawab. Bukan cinta. Bukan pasangan hidup. Hanya kewajiban.

Siti mengangguk lemah, tersenyum getir di balik air matanya. "Iya, Mas. Aku tahu. Terima kasih... terima kasih untuk semuanya. Untuk kebaikan Mas, untuk perlindungan Mas. Aku... aku tidak akan pernah lupa sama sekali."

Di sudut ruangan lain, Bu Aminah melihat pemandangan itu dengan mata berkaca-kaca. Ia menghela napas panjang, hati wanitanya begitu paham apa yang dirasakan kedua anak muda itu. Ia paham perasaan Siti, dan ia paham posisi Yusuf. Begitu juga Nora. Nora diam, menatap ke arah mereka dengan pandangan yang sulit diartikan. Ada rasa sakit, ada rasa lega, tapi kini ada rasa mengerti perlahan. Nora sadar, perhatian Yusuf pada Siti bukanlah cinta asmara yang merebut, melainkan pelukan kasih sayang seorang manusia lain yang sedang berusaha meringankan beban sesama manusia yang sedang sakit dan terluka.

Yusuf kembali melanjutkan pijatannya, kali ini lebih pelan lagi, berusaha menenangkan hati wanita itu sekaligus kakinya. Bagi Siti, momen itu terasa begitu singkat namun begitu berharga. Ia meresapi setiap detiknya, menyimpan setiap sentuhan itu di memori hatinya yang paling dalam.

Karena ia tahu, waktu yang ia miliki bersama Yusuf, di bawah atap rumah ini, sebentar lagi akan habis. Dan saat saat itu tiba, ia harus berjalan pergi dengan hati yang penuh luka namun penuh rasa syukur, membawa serta kenangan manis dan perih tentang lelaki yang pernah menjadi suaminya sebentar, lelaki yang memberinya anak, dan lelaki yang tanpa sadar telah mencuri hatinya sepenuhnya.

Sore itu, matahari perlahan tenggelam, menyisakan cahaya jingga yang redup, persis seperti kisah mereka yang indah namun tak bisa bertahan selamanya.

Bersambung.....

1
Naufal Affiq
istrimu di tempat selingkuhan nya yusuf
Jetva
si Siti ga kerja..??
Jetva
Lah Siti ogeb....ga pux harga diri....
Dewi Habibah
endingnya sudah bisa di tebak🤭
Dewi Habibah
gimana Nora tidak mencari kebahagiaannya sendiri , suami yg di cintai si Yusuf itu memendam cita pada Siti dan Nora di abaikan , lebih baik Nora cari kebahagiaan sendiri la
❀∂я🌹WIDYA⒋ⷨ͢⚤
lanjut kak 👍
Naufal Affiq
kasihan aku lihat kamu yusuf,masih saja kau pikir kan perasaan istrimu yang tukang selingkuh di belakang mu
Tri Hastuti
mudah2an mereka bersatu,, nora tinggalin j
Naufal Affiq
nikahin siti yusuf,karena istri mu sudah selingkuh di belakang mu
❀∂я🌹WIDYA⒋ⷨ͢⚤
mau lihat reaksi nora gimana nanti 🤧
Suanti
nora sdh selingkuh yusuf tinggal cerai kan nora baru nikah lgi sm siti 🤭
❀∂я🌹WIDYA⒋ⷨ͢⚤: gampang sekali ya kak /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 1 replies
Meri Meri
♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️
Sasikarin Sasikarin
bolak balik g up juga... kecewa sangat
❀∂я 𝗗𝗘𝗪𝗜 𝗥⒋ⷨ͢⚤ : Bentar ya kak, lagi nulis🤗
total 1 replies
Naufal Affiq
yusuf berusaha kuat lagi untuk mencari siti dan dafa,mereka ada di Kalimantan lho
Tri Hastuti
biarin j nora selingkuh, nti siti sama yusuf j 😂
❀∂я🌹WIDYA⒋ⷨ͢⚤
tapi kabar buruk dari ibumu Haikal , dia selingkuh 😭😭😭😅
❀∂я🌹WIDYA⒋ⷨ͢⚤
ini ada maunya raka 🙄
Suanti
semoga secpt nya yusuf ketemu siti dan daffa
untung nora semoga aja ank nya haikal sendri yg nampak mama nya selingkuh sm raka 🤣🤣🤣
❀∂я🌹WIDYA⒋ⷨ͢⚤
salah jalan kamu nora pelampiasan sama suami orang 🙄🤧
❀∂я🌹WIDYA⒋ⷨ͢⚤
ujungnya jadi selingkuh kalian 🙄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!