Akibat tuntutan menikah dari kedua orangtuanya, Yorinka memilih jalan pintas dengan cara menghabiskan malam panas dengan seorang pria misterius.
Yorinka berpikir dengan dirinya hamil, maka kedua orangtuanya tidak akan menyinggung soal pernikahan lagi. Tetapi yang ada Yorinka malah di usir karena hamil tanpa adanya seorang kekasih atau calon suami, pada akhirnya Yorinka memilih untuk hidup berdua dengan bayi yang dikandungnya.
Tetapi pria yang menghabiskan malam panas dengannya tiba-tiba datang ke apartemennya dan menuduhnya telah membawa milik pria itu, lebih parah lagi pria itu adalah seorang Mafia dari klan Cyrillus.
Cyrillus, adalah salah satu klan mafia terbesar saat ini dan tentunya semua tunduk padanya, apa jadinya Yorinka mengandung dari anak dari seorang mafia kejam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riri-can, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Manipulasi Diri
Malam telah mencapai puncaknya ketika iring-iringan mobil hitam mewah klan Cyrillus memasuki pelataran mansion. Zeus turun dari mobil bahkan sebelum Josh, tangan kanannya yang selalu patuh dan tunduk, sempat membukakan pintu untuknya. Ada sesuatu yang mengganjal di dalam dada Zeus sepanjang perjalanan kembali dari luar kota, sebuah perasaan yang membludak, sebuah dorongan posesif yang tidak lagi bisa ia bendung hanya untuk melihat wanita yang telah sah menjadi istrinya.
Josh melangkah dengan tergesa di belakang tuannya, menjaga langkahnya agar tetap penuh hormat.
"Tuan Zeus, semua laporan keamanan malam ini—"
"Tinggalkan saya, Josh. Urus semuanya besok pagi" potong Zeus dengan nada suara formal yang rendah namun mutlak
"Baik, tuan. Saya undur diri" jawab Josh dengan ketundukan penuh
Josh membungkuk dalam-dalam sebelum melangkah mundur ke area paviliun pengawal.
Zeus melangkah masuk ke dalam aula mansion yang sunyi. Langkah kakinya yang berat menggema pelan saat ia menaiki anak tangga menuju kamar utama di lantai atas. Kamar tempat ia mengurung "miliknya" selama lebih dari satu bulan ini. Pria arogan dan dominan itu membuka pintu kamar ganda secara perlahan, meminimalkan suara agar tidak menimbulkan kepanikan yang tidak perlu.
Begitu pintu terbuka, langkah kaki Zeus mendadak terhenti. Di atas ranjang besar yang temaram oleh cahaya lampu tidur, tampak sosok Yorinka yang tengah tertidur pulas dengan posisi menyamping, memeluk perutnya yang kini kian membuncit. Di bawah sisa gurat kecantikannya yang murni, Zeus dapat melihat dengan jelas adanya lingkaran kehitaman di sekitar kantong mata Yorinka, sebuah bukti otentik dari air mata, trauma, dan penderitaan mental yang telah ia timpakan pada wanita itu.
Zeus melangkah mendekat dengan sangat pelan, sesuatu yang jarang sekali dilakukan oleh seorang bos mafia yang kasar dan tega seperti dirinya. Ia duduk di pinggir kasur, menatap intens wajah tidur Yorinka. Sisi dominan dalam dirinya perlahan melunak, digantikan oleh kehangatan asing yang hanya bisa dipicu oleh wanita di hadapannya ini.
Zeus mulai bergumam, mengucapkan kata-kata dengan suara yang sangat lirih, kalimat yang hanya bisa dimengerti oleh dirinya sendiri.
"Kehidupan kita terlalu berbeda, Yorinka" bisik Zeus sambil memindai setiap inci wajah istrinya
"Duniaku adalah kegelapan, penuh dengan tantangan, darah, dan rintangan yang mengharuskan saya untuk menjadi kejam demi bertahan hidup. Sedangkan kamu... kamu adalah makhluk yang seharusnya dipenuhi dengan kebahagiaan, tawa blak-blakan, dan kehangatan yang mencerahkan" gumannya pelan
Zeus menghela napas berat. Ada rasa bersalah yang teramat samar yang ia rasakan, namun tertutup oleh ego nya yang tinggi.
"Tapi kau sudah berada di sini, di duniaku. Dan saya tidak akan pernah melepaskan mu" ucapnya penuh penekanan
Tangan kekar Zeus yang biasa memegang senjata perlahan terulur. Dengan kelembutan yang tidak terduga, jemarinya mulai mengelus dahi Yorinka, menyingkirkan beberapa helai rambut yang menutupi wajahnya.
Sentuhan fisik itu, sekecil apa pun, langsung memicu alarm kewaspadaan di dalam otak Yorinka. Tubuhnya yang telah mengalami trauma hebat pasca-kejadian kelam sebulan lalu refleks merespons.
Yorinka membuka matanya, perlahan terbangun dari tidur pulasnya. Begitu kesadarannya terkumpul dan matanya menangkap siluet tinggi besar yang duduk di sampingnya, Yorinka terkejut setengah mati. Jantungnya berdegup kencang bagai ditabuh genderang perang, dan sekujur tubuhnya mendadak gemetar hebat.
Zeus.
Dalam hitungan detik, badai emosi bergejolak hebat di dalam dada Yorinka. Ada rasa takut yang luar biasa, memori malam kejam itu berputar seperti kaset rusak di kepalanya. Ada pula rasa amarah dan kecewa yang membludak karena pria ini telah merenggut kebebasan dan menghancurkan harga dirinya.
Yorinka ingin menjerit, ingin menangis seperti biasanya, dan ingin mengusir pria kasar ini dari kamarnya. Namun, mengingat proses pemulihan mandiri yang telah ia jalani selama sebulan ini, serta pemikiran bahwa dia harus menerima konsekuensi dari keputusannya masuk ke dunia mafia, Yorinka mencoba menahan semua emosi negatif itu. Dia menarik napas dalam-dalam di dalam hati. Dia tahu, menunjukkan ketakutan atau kemarahan di depan serigala dominan seperti Zeus hanya akan memicu sisi kejamnya kembali.
Yorinka memaksakan sebuah senyuman. Dengan susah payah, ia mengubah binar matanya yang ketakutan menjadi lingkaran ekspresi yang tampak ceria, persis seperti Yorinka yang dulu seolah-olah tidak pernah ada kejadian kelam yang menghancurkan mentalnya di kamar ini.
"Eh... Mas Mafia sudah pulang?" sapa Yorinka dengan gaya bahasa santainya yang khas
Meskipun suaranya sedikit bergetar di ujung kalimat. Dia mendudukkan dirinya perlahan sambil bersandar pada kepala ranjang, mengulas senyum hangat yang dipaksakan secara totalitas.
"Lama banget sih proyek senjata barunya? Sampai anak di dalem perut ini hampir lupa sama muka bapaknya yang mirip papan gilasan" ucapnya frontal
Zeus tertegun. Pria arogan itu menatap Yorinka dengan pandangan tidak percaya. Berdasarkan laporan Josh, ia mengira akan disambut oleh histeria, tangisan cengeng, atau tatapan kosong penuh kebencian dari istrinya. Namun, melihat Yorinka yang menyambutnya dengan keceriaan blak-blakan dan senyuman hangat seperti dulu, ego dominan Zeus merasa tersentuh sekaligus bingung. Zeus mencoba membaca apakah ini taktik atau ketulusan.
"Kau... tidak takut pada saya, Yorinka?" tanya Zeus formal
Suaranya terdengar berat. Yorinka tertawa kecil, tawa ceria yang ia ciptakan sebagai tameng pelindung dirinya sendiri.
"Takut kenapa coba? Kan aku udah bilang, dan aku udah mikir. Aku yang frontal nyari masalah di bar malam itu, ya berarti aku harus terima dong dapet paket lengkap sama bos mafianya. Lagian, kalau aku cengeng terus, nanti anak kita ikutan cengeng. Nggak keren ah buat masa depan klan Cyrillus" oceh Yorinka santai
Mendengar penuturan santai dan kehangatan yang dipancarkan Yorinka, benteng pertahanan es di hati Zeus runtuh seketika. Sisi hangatnya yang tersembunyi keluar sepenuhnya. Zeus memajukan tubuhnya, lalu menarik Yorinka ke dalam pelukannya secara perlahan namun erat.
Yorinka sempat membeku sesaat di dalam dekapan dada bidang Zeus. Rasa takutnya berteriak untuk melepaskan diri, namun sifat penurut yang sedang ia bangun membuatnya memilih untuk diam dan perlahan membalas pelukan itu, menyandarkan kepalanya di bahu Zeus sembari menahan air mata yang hampir jatuh.
"Bagus jika kau sudah memahaminya, sayang" bisik Zeus mengecup puncak kepala Yorinka dengan posesif yang mendalam
"Tetaplah seperti ini. Tetaplah menjadi Yorinka yang ceria di sisiku, dan saya berjanji tidak akan ada lagi rasa sakit yang akan menyentuhmu" ucapnya dalam
Keesokan paginya, atmosfer di mansion berubah drastis dari sebulan terakhir. Gorden beludru tebal di kamar utama akhirnya dibuka sepenuhnya atas perintah Zeus, membiarkan cahaya matahari pagi masuk menerangi ruangan.
Pintu kamar terbuka, dan bi Maria melangkah masuk membawa sarapan pagi yang jauh lebih mewah dari biasanya. Bi Maria, yang kini sangat perhatian dan hangat kepada Yorinka, tersenyum lebar saat melihat pemandangan di depannya. Zeus sedang duduk di kursi dekat jendela sembari membaca berkas klan, sementara Yorinka duduk di ranjang dengan dress kuning cerahnya yang tampak segar.
"Selamat pagi, tuan Zeus, nyonya Yorinka" sapa Bi Martha dengan nada hangat yang tulus
"Ini sarapan spesial untuk nyonya dan calon penerus klan. Saya membuatkan sup ayam herbal favorit anda" ucap bi Maria semangat
"Wah, bi Maria emang yang terbaik! Sini-sini, aku udah laper banget dari subuh" sahut Yorinka ceria dengan melambaikan tangan dengan ramah pada kepala pelayan itu
Bi Maria menaruh nampan tersebut di atas pangkuan Yorinka, memberikan tatapan penuh rasa sayang dan kehangatan yang mendalam sebelum membungkuk hormat pada Zeus dan melangkah keluar kamar.
Zeus menutup berkasnya, lalu berjalan mendekati ranjang. Sisi dominan dan kejamnya tampak melunak sempurna saat ia mengambil sendok dari tangan Yorinka.
"Biar saya yang menyuapimu hari ini" ucap Zeus dengan nada formal yang kini terdengar jauh lebih lembut
Yorinka tersenyum lebar, menyembunyikan getaran ketakutan kecil yang masih tersisa di sudut hatinya.
"Asyik, disuapin bos mafia besar. Jangan mahal-mahal ya tarif suapannya, mas Zeus" gurau Yorinka
Melihat respons ceria istrinya, Zeus mengulas senyum tipis, sebuah senyuman tulus yang sangat langka di dunia hitam Cyrillus. Di luar tembok kamar ini, Arzeus mungkin masih menjadi monster yang kasar, kejam, dan tega membantai siapa saja yang menghalangi jalannya. Namun di dalam kamar ini, di hadapan kehangatan yang coba dihidupkan kembali oleh Yorinka, Zeus memilih untuk meletakkan senjatanya sejenak.
Perjalanan Yorinka sebagai istri seorang mafia memang masih sangat panjang dan penuh misteri, namun dengan topeng keceriaan yang ia pakai demi bertahan hidup, dan kehangatan posesif yang mulai ditunjukkan oleh Zeus, dinamika kehidupan baru mereka di mansion Cyrillus baru saja dimulai dengan babak yang berbeda.
💣💣💣
Semoga kalian suka ya, jangan lupa untuk tinggalkan komentar kalian.
gak perlu jujur sama yang lain
menguras waktumu az Zeus
padahal sebanarnya dia lah musuh yang sebenarnya