Wu Xuan telah mencapai puncak alam surgawi dan hanya selangkah lagi naik ke alam dewa. Namun saat ia mencoba kembali ke Bumi demi menebus hutang karma kepada kedua orang tuanya, tubuh fananya justru terhempas ke tengah badai kehampaan dimensi.
Dan ketika ia membuka matanya kembali…
Bumi yang ia kenal telah berubah menjadi dunia dungeon dan para hunter.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EGGY ARIYA WINANDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nama Yang Membekukan
Di tengah ruangan bedah berlapis baja titanium yang kini dipenuhi bau ozon terbakar dan keheningan mencekam, retakan setipis rambut pada kristal es itu memantulkan cahaya merah dari alarm darurat.
Empat lengan robotika dengan bor laser plasma tingkat militer itu kini mati total. Bukan karena suhu es yang terlalu dingin, melainkan karena sebuah fluktuasi energi tak kasat mata yang baru saja menyerap energi listrik mesin-mesin tersebut dalam radius lima meter.
Di dalam sangkar esnya, wujud Wu Xuan benar-benar terlelap dalam koma yang teramat dalam. Matanya tertutup rapat, napasnya tidak terlihat, dan secara fisik ia tampak seperti mayat yang diawetkan dengan sempurna. Kesadarannya masih terputus, mengambang di dalam kehampaan gelap tanpa batas akibat pemutusan paksa dari kesadaran tertingginya.
Ia sama sekali tidak tahu apa yang terjadi di sekelilingnya.
Kerusakan mesin-mesin canggih itu bukanlah hasil dari kalkulasi strategis atau manipulasi sadarnya, melainkan murni reaksi pasif dari sel-sel di dalam tubuhnya.
Sel-sel itu bertindak berdasarkan insting pertahanan, melahap ancaman energi apa pun demi melindungi organ di dalamnya.
Di balik kaca pelindung observasi, napas Prof. Zhu Liang terengah-engah.
Keringat dingin membasahi kerah jas putihnya. Matanya yang memancarkan pendar keemasan dari kemampuan deteksi alami menatap liar ke arah meja bedah. Ia baru saja melihat anomali yang membantah seluruh hukum fisika dan sihir yang ia pelajari seumur hidupnya. Empat mesin pemotong yang dirancang untuk membelah sisik naga tingkat S, mati total hanya karena menyentuh permukaan es itu.
"Apa yang terjadi? Apa mungkin lonjakan mana?!" teriak Zhu Liang pada layar monitor yang berkedip merah.
Seorang bawahan berseragam hazmat putih yang bertugas di konsol kendali mengetik dengan tangan gemetar. "T-Tidak ada fluktuasi mana, Profesor! Mesinnya tidak dimatikan oleh energi... mesinnya mati karena listrik di dalamnya dihisap langsung dalam satu mikrodetik! Es itu... es itu memakan listrik pada mesin-mesin kita!"
Zhu Liang menelan ludah yang terasa setajam silet. Ia adalah pria arogan, tapi ia bukan orang bodoh yang ceroboh. Sesuatu yang bisa menetralisir energi listrik tanpa memancarkan mana adalah fenomena tingkat spesial. Ia tidak berani lagi menggunakan kekerasan pada balok es tersebut.
Namun, mata ilmuwannya yang serakah menangkap sebuah detail kecil.
Di dekat retakan setipis rambut yang baru saja terbentuk, ada sebuah serpihan es mikroskopis yang terlepas dan jatuh ke atas meja baja. Ukurannya tidak lebih besar dari butiran debu, namun memancarkan pendar kebiruan yang sangat murni.
"Ambil serpihan itu," perintah Zhu Liang dengan suara tertahan, menunjuk dari balik interkom. "Gunakan pinset isolasi gravitasi. Jangan sentuh dengan tangan kosong. Masukkan ke dalam Spektrometer Kuantum. Aku ingin tahu usia dan komposisi material ini. Segera!"
Bawahan itu mengangguk panik. Dengan sangat hati-hati, memakan waktu hampir sepuluh menit yang terasa seperti neraka, ia memindahkan butiran debu es itu ke dalam mesin analisis raksasa di sudut ruangan.
Mesin itu berdengung halus. Layar holografik mulai memproses data, mencari kecocokan karbon, radiasi mana, dan peluruhan partikel. Zhu Liang berjalan mondar-mandir, menggigit ibu jarinya. Ia berharap menemukan bahwa es ini berasal dari era kuno, mungkin pusaka dari Tower yang telah ada sejak ribuan tahun lalu dan tidak sengaja menelan manusia malang ini.
Ting.
Mesin analisis selesai memproses. Sebuah deretan angka muncul di layar utama.
Prof. Zhu Liang melangkah cepat, menyesuaikan letak kacamatanya. Ia membaca baris pertama. Matanya menyipit. Ia membaca baris kedua, lalu membacanya ulang tiga kali. Tiba-tiba, ia memegang tepi meja agar tubuhnya tidak jatuh.
"Ini... ini tidak mungkin. Mesinnya pasti rusak," gumam Zhu Liang, wajahnya berubah seputih kertas.
"Ada apa, Profesor?" tanya bawahannya, melangkah mendekat.
Zhu Liang menunjuk layar holografik itu dengan jari telunjuk yang gemetar hebat. "Usia peluruhan isotop... kepadatan radiasi mana... es ini bukan berasal dari era kuno. Umur es ini... persis lima belas tahun!"
Ruangan itu hening. Hanya ada suara dengungan pendingin ruangan.
"Lima... lima belas tahun?" ulang bawahan itu, suaranya dipenuhi ketidakpercayaan.
Zhu Liang mencengkeram rambutnya sendiri. Otaknya menolak menerima logika ini. "Jika es ini baru tercipta lima belas tahun lalu... ia tidak punya otoritas pembekuan instan... lalu bagaimana pemuda di dalamnya bisa berada di sana?! Tidak ada Awakening alami maupun buatan yang bisa membekukan diri mereka sendiri selama lima belas tahun! Sel-selnya seharusnya sudah mati, otaknya seharusnya sudah hancur! Bagaimana pemuda ini masih bisa bernapas?!"
Ini bukan lagi penemuan ilmiah. Ini adalah ketidaknormalan biologis. Seseorang membeku, melintasi waktu selama satu setengah dekade, tanpa nutrisi, tanpa aliran darah yang lancar, namun vitalitasnya tetap utuh.
"Profesor..."
Suara bawahan yang satu lagi, yang bertugas memindai wajah pemuda di dalam es itu dengan database Aliansi, tiba-tiba memecah kepanikan Zhu Liang. Suaranya tidak hanya bergetar, tapi terdengar seperti orang yang baru saja melihat hantu.
Bruk!
Bawahan itu tersandung kursinya sendiri, jatuh terduduk di lantai logam dengan wajah yang dilanda ketakutan. Tangannya menunjuk ke arah layar monitor tempat hasil facial recognition (pengenalan wajah) global baru saja menyelesaikan pemindaian.
Prof. Zhu Liang memutar tubuhnya dengan kasar. "Ada apa?! Jangan menakutiku di saat seperti ini! Apa kau menemukan identitas mayat hidup itu?!"
Bawahan itu mencoba berbicara, namun giginya bergemeretak. Ia menelan ludah berulang kali sebelum akhirnya memaksakan suara keluar dari tenggorokannya yang mengering.
"Wajah pria ini... Profesor... lihat layarnya..." bisiknya dengan nada putus asa. "Bukankah dia sangat mirip dengan anak dari Hunter Wu Jiang yang hilang lima belas tahun lalu?"
Deg.
Seketika, detak jantung Zhu Liang terasa ingin berhenti berdetak. Paru-parunya seolah dikosongkan dari udara. Darahnya membeku lebih cepat dari es yang ada di atas meja bedah itu.
Wu Jiang.
Nama itu bukan sekadar nama manusia di era Hunter ini. Nama itu adalah sebuah institusi. Sebuah kerajaan berdarah.
Di era ini, ketika negara-negara lama runtuh dan hukum digantikan oleh kekuatan Dungeon, elit masa lalu harus beradaptasi atau mati. Ayah Wu Xuan, sang mantan pemimpin konglomerat nomor satu di Tiongkok pada era lama, tidak mati. Ia justru berevolusi menjadi monster yang jauh lebih menakutkan. Menggunakan kekayaan, relasi politik, dan otak bisnisnya yang mengerikan, pria itu membangun sebuah dinasti baru di atas abu peradaban lama: Wu Imperial Guild.
Mereka bukan sekadar kelompok hunter yang membersihkan Dungeon dan Tower. Mereka adalah penguasa yang memonopoli sumber daya, menguasai lelang artefak global, dan memiliki tentara pribadi berisi Awakening alami dengan bakat tier A hingga S yang siap membantai siapa pun atas perintah sang ketua.
Dan lima belas tahun yang lalu, tepat ketika era Tower dimulai, putra tunggal dari Wu Jiang, sang pewaris Wu Jiang Grup, menghilang tanpa jejak di tengah kekacauan dimensi.
Tragedi itu membuat Wu Jiang mengalami kesedihan yang begitu dalam, mendorongnya melakukan pencarian gila penuh amarah ke berbagai tempat, bahkan melakukan pekerjaan kotor demi informasi keberadaan anaknya.
"Minggir!" teriak Prof. Zhu Liang, kehilangan seluruh keanggunan intelektualnya.
Ia berlari, mendorong bawahannya yang masih terduduk di lantai, lalu mencengkeram tepi meja monitor. Matanya yang membesar menatap layar holografik. Di sisi kiri layar, terdapat foto Wu Xuan saat berusia dua puluh empat tahun, foto terakhir sebelum ia menghilang lima belas tahun lalu. Di sisi kanan layar, adalah hasil pemindaian langsung dari wajah pemuda yang tertidur di dalam es.
Ting.
Sistem mengeluarkan suara konfirmasi mekanis yang terdengar seperti lonceng kematian bagi Zhu Liang.
[Pencocokan Biometrik Wajah: 99.9% Akurat.]
[Pencocokan Struktur Tulang: 100% Akurat.]
[Identitas Terkonfirmasi: Wu Xuan. Status: Hilang/Dinyatakan Meninggal.]
Kaki Zhu Liang lemas. Ia bersandar pada konsol, napasnya tersengal-sengal menatap balok es di tengah ruangan.
Pemuda tampan berambut hitam yang tertidur di dalam peti mati es itu... bukan eksperimen acak. Dia adalah putra dari monster paling mengerikan di dataran ini.
Jika saja... jika saja bor laser plasma tadi berhasil menembus es itu dan melukai kulit pemuda ini. Jika Zhu Liang benar-benar membedahnya seperti niat awalnya untuk mengambil sampel sel...
Zhu Liang bisa membayangkan pasukan Wu Imperial Guild turun, meratakan fasilitas riset ini menjadi debu, dan menyiksa setiap ilmuwan di sini hingga mereka memohon untuk dibunuh. Bahkan Asosiasi Hunter Pusat tidak akan berani mengangkat satu jari pun untuk melindunginya dari kemarahan seorang Wu Jiang.
"Untung saja..." bisik Zhu Liang, suaranya nyaris seperti isakan lega yang menyedihkan. Ia memegang dadanya yang berdetak tidak karuan. "Untung saja laserku mati sebelum menyentuhnya. Jika tidak... kepalaku sudah dibekukan besok pagi."
Ia menatap kembali ke arah balok es tersebut. Pandangan arogannya kini sepenuhnya tergantikan oleh rasa takut yang mendalam. Rahasia bertahan hidup di balik es itu sangat menggoda. Pemuda ini selamat dari pembekuan waktu selama lima belas tahun! Ilmuwan mana pun akan rela membunuh untuk meneliti keajaiban biologis ini.
Zhu Liang mengatupkan rahangnya kuat-kuat, melawan keserakahan di dalam dirinya dengan realisme yang pahit. "Bocah ini bisa bertahan hidup lima belas tahun di dalam es... rahasia di dalam darahnya mungkin bisa menciptakan Awakening tier S baru. Sayang sekali... sayang sekali aku tidak bisa menelitinya."
Ia tidak bisa. Meneliti tubuh ini sama saja dengan menelan granat aktif dan berharap granat itu tidak meledak di dalam lambung.
Zhu Liang berbalik tiba-tiba, wajahnya kembali tegang dan memancarkan otoritas panik. "Hentikan semua instrumen! Matikan semua kamera observasi di ruangan ini! Jangan ada satu pun yang berani mengambil sampel apa pun dari tubuh bocah itu!"
Para bawahannya bergerak kalang kabut, menekan tombol demi tombol, mengunci ruangan bedah dalam mode isolasi pasif.
"Kau!" Zhu Liang menunjuk bawahannya yang masih pucat. "Tinggalkan penelitiannya! Buka saluran komunikasi tingkat satu. Hubungi Wu Imperial Guild langsung ke divisi elit mereka. Laporkan bahwa kita telah menemukan putra mereka dalam keadaan darurat medis yang membeku!"
"B-Baik, Profesor! Apa yang harus saya tulis dalam laporan kondisinya?" tanya bawahan itu tergagap.
"Tulis dengan sangat hati-hati! Katakan kita menemukannya secara kebetulan dan segera mengamankannya tanpa melakukan tindakan invasif apa pun!" Zhu Liang berjalan mondar-mandir, mengusap keringat di lehernya. "Pastikan menulis laporan dengan baik. Gunakan kata-kata yang memuji keajaiban bertahannya sang tuan muda! Aku tidak mau laboratoriumku dibekukan oleh orang gila itu!"
Sementara kepanikan dan histeria melanda para ilmuwan di luar kaca pelindung, di dalam kristal es yang dingin dan hening, Wu Xuan tetap tidak bergerak.
Ia tidak mendengar suara kepanikan Prof. Zhu Liang. Ia tidak tahu bahwa bumi telah berubah menjadi dunia yang berlumuran darah, atau bahwa ayahnya kini telah bermutasi menjadi tiran yang menguasai sebagian Tiongkok. Kesadarannya masih terhanyut dalam tidur panjang, dengan sel-sel tubuh yang perlahan melemah menahan lapar.
Namun, di situlah letak ironi yang paling mengerikan.
Bahkan dalam keadaan koma yang tak berdaya, tanpa mengucapkan satu patah kata pun, tanpa harus mengangkat tangannya atau merancang satu strategi pun... hanya dengan sebuah identitas masa lalu yang terukir di layar monitor, pemuda yang tertidur itu telah membuat fasilitas penelitian paling elite di Beijing bertekuk lutut dalam teror.
Bersambung...