NovelToon NovelToon
Rahasia Pangeran Pecundang

Rahasia Pangeran Pecundang

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Epik Petualangan / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:13.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ebez

Mapanji Wijaya seorang pangeran muda dari Istana Wuwatan terkenal dengan sifatnya yang manja, pengecut, suka foya-foya dan gemar berbuat seenaknya. Sebagai putra raja yang seharusnya memiliki sifat mengayomi dan melindungi masyarakat Kerajaan Medang, Mapanji malah menampilkan sifat yang sebaliknya.



Bahkan sampai Nararya Candrawulan, perempuan yang dijodohkan dengan nya, memohon agar perjodohan dengan Mapanji Wijaya dibatalkan saking bejatnya sang pangeran.


Tetapi di balik semua itu, ada sebuah rahasia besar yang ia simpan rapat-rapat hingga tak seorangpun yang tahu. Apakah itu? Temukan jawabannya dalam kisah Rahasia Pangeran Pecundang, hanya di Noveltoon kesayangan kita.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ebez, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Cerita Malam di Anjuk Ladang

AAAAAAAARRRRRRGGGHHHH...!!!

Rombongan Pangeran Mapanji Wijaya pun segera melanjutkan perjalanan ke arah Kota Anjuk Ladang. Sebanyak 20 prajurit yang menjadi pengawal terbunuh dalam pertarungan antara mereka dengan Empat Setan Goa Siluman dan sepuluh orang lainnya cedera. Sebelum berangkat, Pangeran Mapanji Wijaya memerintahkan kepada para prajurit lainnya untuk menguburkan jasad kawan seperjuangan mereka. Yang luka segera diobati dan setelah mereka rampung berbenah, perjalanan pun dilanjutkan.

Dengan kereta kuda yang hancur, mereka memasuki kota ini. Empat penjaga gapura kota langsung menghentikan mereka.

"Berhenti...!! Yang mau masuk kota harus diperiksa lebih dulu.. ", ucap salah satu penjaga gapura kota dengan lantang.

Tumenggung Rengga yang berkuda paling depan langsung menunjukkan lencana perak bergambar burung garuda yang menjadi simbol Kerajaan Medang pada masa Sri Isyana Tunggawijaya. Tahulah para penjaga gapura kota Anjuk Ladang bahwa orang-orang yang baru datang ini adalah prajurit Kotaraja Watugaluh.

"Pimpin jalan ke Istana Anjuk Ladang. Malam ini kami ingin menginap disana.. ", perintah Tumenggung Rengga yang membuat sang prajurit membungkuk hormat.

Sang Pamgat Anjuk Ladang, Rakryan Mpu Sima, tergopoh-gopoh menyambut kedatangan rombongan Pangeran Mapanji Wijaya.

" Mohon ampun Gusti Pangeran Mapanji Wijaya..

Hamba tidak tahu bahwa Gusti Pangeran yang mulia akan datang kesini. Mohon Gusti Pangeran berkenan menerima hormat hamba ", ucap Rakryan Mpu Sima sembari menyembah.

" Memang kurang baik sambutan mu, Sang Pamgat..

Tetapi karena kau sudah mengakui kesalahan, aku ampuni. Malam ini sediakan tempat bermalam untuk ku dan para pengawal ku. Jangan sampai mereka kecewa sebab jika mereka mengadu pada ku kau tahu sendiri akibatnya ", perintah bernada ancaman terlontar dari mulut Pangeran Mapanji Wijaya.

" Baik, hamba laksanakan.. ", Sang Pamgat Anjuk Ladang kembali menghormat sebelum mempersilahkan sang pangeran Watugaluh beristirahat.

Malam itu Istana Anjuk Ladang menjadi sibuk. Para dayang dan pelayan memasak banyak makanan. Termasuk memanggang seekor kambing dan puluhan ekor ayam untuk jamuan pada tamu kehormatan mereka.

Malam beranjak naik ke arah puncak. Suasana dingin menyelimuti. Bulan separuh menggantung di langit malam yang kelam. Beberapa gumpalan awan berarak pelan di angkasa di hembus angin tenggara yang sepoi-sepoi.

Juru Mandhasiya, Ki Bekel Pancala dan Tumenggung Rengga sudah mabok berat setelah menenggak beberapa bumbung twak yang disediakan oleh Rakryan Mpu Sima.

"Dasar payah, minum sedikit saja sudah mabok!!

Ludaka! Tuangkan lagi twak untuk ku..! ", teriak Pangeran Mapanji Wijaya yang setengah teler karena menenggak minuman keras bersama para bawahannya itu.

Ludaka hendak menuangkan lagi arak ke cangkir tapi Warak langsung menggelengkan kepalanya cepat-cepat.

" Sudah cukup. Aku lelah ingin cepat istirahat. Kalau dia tambah lagi, kita yang akan celaka ", bisik Warak yang membuat Ludaka mengangguk mengerti. Dia segera menggeser bumbung twak yang masih penuh dan mengganti nya dengan yang kosong.

" Sudah habis Gusti Pangeran. Sudah waktunya Gusti Pangeran beristirahat.. ", bujuk Ludaka yang membuat Mapanji Wijaya menoleh ke arah bumbung twak kosong.

"Ehmmmmm...

Hiks baiklah, antar aku ke kamar tidur. Cepat, k

epala ku pusing ini... "

Ludaka dan Warak segera memapah majikannya ke arah tempat peristirahatan yang disediakan oleh Rakryan Mpu Sima Sang Pamgat Anjuk Ladang. Dengan terseok-seok Pangeran Mapanji Wijaya yang mabok meninggalkan tempat acara minum.

Setelah menidurkan majikannya pada ranjang, Ludaka dan Warak segera pergi meninggalkan kamar tidur Pangeran Mapanji Wijaya. Mereka yang kelelahan ingin cepat-cepat beristirahat.

Setelah Ludaka dan Warak pergi, sesosok perempuan menyelinap masuk ke dalam kamar tidur Pangeran Mapanji Wijaya. Perempuan itu segera menutup pintu kamar tanpa menguncinya.

Dengan berjingkat, ia membuat langkah kaki nya nyaris tanpa suara sedikitpun. Begitu sampai di dekat ranjang pembaringan Pangeran Mapanji Wijaya, dia duduk di tepi ranjang sambil menatap lekat-lekat wajah tampan sang pangeran kedua Kerajaan Medang itu. Tangannya perlahan mengelus wajah Pangeran Mapanji Wijaya yang teler karena minuman keras.

"Tampan sekali...

Benar-benar pria pujaan hati ku. Dalam keadaan mabok begini pun masih saja mempesona", gumam perempuan berbadan semok yang tak lain adalah Subadra.

Perlahan Subadra mendekatkan bibir nya ke bibir Pangeran Mapanji Wijaya dan mulai mencium nya dengan lembut. Dalam keadaan teler pun, Pangeran Mapanji Wijaya masih bisa merasakan lembutnya bibir. Dia segera mengalungkan lengannya ke leher Subadra yang membuat Subadra terkejut setengah mati. Ia awalnya hanya ingin mencuri ciuman saat Pangeran Mapanji Wijaya mabok malah terjebak dalam pelukan sang pangeran.

Subadra mulai panik saat ciuman Pangeran Mapanji Wijaya mulai memaksa membuka mulutnya hingga lidah sang pangeran bisa menjelajahi mulut sang gadis montok. Awalnya Subadra berusaha meronta mencoba melepaskan diri tetapi rasa nikmat ciuman sang pangeran membuat nya pasrah dan akhirnya menikmati ciuman panas sang putra kedua Ratu Isyana Tunggawijaya itu.

"Uhhhh... ummmmmmm.....

Eihhhh uhhhhhhh.... "

Desahan Subadra semakin menjadi-jadi kala jari jemari tangan Pangeran Mapanji Wijaya menyelusup ke dalam kemben nya dan mulai meremas gundukan gunung kembar besar miliknya. Satu persatu pakaian mereka lepas dari badan.

Tanpa sadar, tangan Subadra bergerak ke bawah perut Pangeran Mapanji Wijaya, memaksa masuk ke dalam celana pendek selutut sang pangeran dan menemukan kelelakian nya yang sudah mengembang sempurna. Tangan Subadra pun mulai mengelus senjata sang pangeran.

Mendapatkan serangan ini, Pangeran Mapanji Wijaya tak mau kalah dengan memasukkan tangannya ke dalam celana selutut murid Resi Mpu Kumbayana ini dan mulai beraksi di pangkal paha Subadra.

"Uhhhh Gusti Pangeran uhhhh.... !! ", lengguh Subadra yang merem melek mendapatkan serangan balik dari Pangeran Mapanji Wijaya.

Sang Pangeran segera membalikkan posisi Subadra setelah kelelakian sudah dalam tahap sempurna. Dia pun segera melakukan tugasnya sebagai seorang lelaki dewasa.

Suara lengguh dan erangan Subadra terdengar memenuhi seluruh ruangan itu. Tubuh semok nya basah kuyup oleh keringat bersama dengan gerakan sang pangeran Medang.

Hampir sepenanak nasi waktu yang dibutuhkan untuk mencapai puncak sebelum Pangeran Mapanji Wijaya menggeram melepaskan kepuasan surga dunia nya. Tubuhnya ambruk diatas tubuh semok Subadra yang juga mencapai puncak kenikmatan.

Belum selesai Subadra menikmati kenikmatan yang telah ia terima dari Pangeran Mapanji Wijaya, tiba-tiba...

Thoookkk thhooookkkkk!!!

Dua ketukan pada pintu kamar tidur membuat Subadra terkejut dan buru-buru meraih pakaiannya yang berserakan.

"Gusti Pangeran, sudah tidur belum? Ada yang ingin aku tanyakan..", suara Nararya Candrawulan terdengar di sana.

Subadra dengan panik mengenakan pakaian nya. Nararya Candrawulan yang melihat pintu kamar tidur tidak di kunci, segera mendorong daun pintu sementara Subadra dengan cepat bersembunyi di kolong ranjang.

Dalam keremangan cahaya lampu sentir, Nararya Candrawulan mendekati ke ranjang Pangeran Mapanji dan terkejut melihat tubuh sang pangeran. telanjang bulat tanpa mengenakan pakaian. Dengan sedikit malu, ia mengambil selimut dan berusaha menutupi tubuh polos sang pangeran namun sialnya tangan pangeran Mapanji Wijaya lebih dulu mencekal nya dan menarik nya ke atas ranjang.

"Gusti Pangeran, apa yang sedang kau lakukan? ", teriak Nararya Candrawulan yang panik setengah mati. Dia berusaha untuk melepaskan diri tetapi tenaga Pangeran Mapanji Wijaya begitu besar hingga ia tak bisa lepas dari cumbuan sang pangeran.

Satu persatu pakaian Nararya Candrawulan dipreteli Pangeran Mapanji Wijaya yang masih mabok berat.

Saat Nararya Candrawulan dalam dekapan Pangeran Mapanji Wijaya, Subadra pelan-pelan merangkak keluar dari kolong ranjang. Begitu berhasil sampai di pintu, dia menoleh ke arah Nararya Candrawulan dan Pangeran Mapanji Wijaya yang sedang bergelut diatas ranjang. Senyuman tipis tersungging di wajah cantik Subadra.

"Sekarang gantian kau, Wulan.. Aku tidak mampu jika Gusti Pangeran minta lagi. Selamat bersenang-senang.. ", gumam Subadra sembari menutup pintu kamar tidur Pangeran Mapanji Wijaya.

Seperti halnya Subadra, Nararya Candrawulan yang semula menolak paksaan sang pangeran kedua Medang akhirnya tak kuasa menerima cumbuan Pangeran Mapanji Wijaya dan memilih pasrah melayani nafsu birahi calon suaminya itu. Sepanjang malam itu, Nararya Candrawulan dipaksa untuk mendesah dan menjerit keenakan berulang kali. Entah berapa kali Pangeran Mapanji Wijaya mengajaknya berlayar ke lautan cinta hingga pagi menjelang tiba.

Kokok ayam jantan bersahutan menjadi penanda bahwa pagi akan segera tiba di kawasan Kota Anjuk Ladang. Pangeran Mapanji Wijaya terlelap nyenyak tanpa busana. Nararya Candrawulan yang sempat tertidur sebentar terjaga mendengar kokok ayam jantan, perlahan beringsut turun dari ranjang pembaringan sang pangeran.

Dia mengenakan pakaian nya asal-asalan. Begitu rampung, dia meletakkan selimut di tubuh sang pangeran yang polos tanpa sehelai benang pun. Sebuah senyuman tersungging di wajah cantik nya yang pucat karena lelah saat ia menatap wajah tampan Pangeran Mapanji Wijaya yang lelap tertidur.

Sambil berjalan tertatih karena sakit pada pangkal pahanya, dia menuju ke arah pintu kamar tidur sambil berkata,

"Kau sudah mengambil keperawanan ku, Gusti Pangeran Mapanji Wijaya.

Awas saja jika kau berani tidak menikahi ku.. "

1
🗣Aku 😆🇲🇨🦅
biasa aja dong kagetnya nanti @🐼𝒫𝒶𝓃𝒹𝒶𝓃𝒲𝒶𝓃𝑔𝒾 🏡s⃝ᴿ lagi bobok keberisikan 😅
Mujib
/Good//Good//Good//Good//Good//Good//Good//Good/
Mujib
/Pray//Pray//Pray//Pray//Pray/
Mujib
/Rose//Rose//Rose//Rose//Rose/
Mujib
/Wilt//Wilt//Wilt//Wilt//Wilt/
Mujib
/Sun//Sun//Sun//Sun//Sun/
Mujib
/Heart//Heart//Heart//Heart//Heart/
Mujib
/Drool//Drool//Drool//Drool//Drool/
Mujib
/Angry//Angry//Angry//Angry//Angry/
Mujib
/CoolGuy//CoolGuy//CoolGuy//CoolGuy//CoolGuy/
Mujib
/Casual//Casual//Casual//Casual//Casual/
Mujib
/Frown//Frown//Frown//Frown//Frown/
Mujib
/Smile//Smile//Smile//Smile//Smile/
Mujib
🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Mujib
/Coffee//Coffee//Coffee//Coffee//Coffee/
Idrus Salam
Ajian yang dahsyat tentu perlu penyelarasan dengan kesiapan tubuh pengguna dan naluri dalam penggunaannya perlu dilatih.
Mujib
😅😅😅😅😅
Mujib
👀👀👀👀👀
Mujib
🤔🤔🤔🤔🤔
Mujib
🖕🖕🖕🖕🖕
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!