NovelToon NovelToon
Duda Pemuas Hasrat

Duda Pemuas Hasrat

Status: sedang berlangsung
Genre:Berondong / Duda / Playboy / Cerai
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Pena Lullaby

Arlan Pramudya adalah seorang arsitek sukses yang hidupnya terukur seperti penggaris siku. Baginya, ketidakteraturan adalah musuh. Sejak kehilangan istrinya tiga tahun lalu, Arlan mengunci diri dalam rutinitas kerja yang kaku dan peran sebagai ayah tunggal yang terlalu protektif bagi putrinya, Mika (6 tahun). Rumah mereka megah, namun terasa dingin dan sunyi—sebuah monumen kesedihan yang tak kunjung usai.

Masalah muncul ketika Mika, yang mewarisi sifat keras kepala ayahnya, menolak semua guru privat yang didatangkan Arlan. Hingga akhirnya, muncul Ghea Anindita, mahasiswi pendidikan yang datang dengan tawa renyah, sepatu kets kotor, dan metode belajar yang jauh dari kata "formal".

Awalnya, Arlan skeptis. Ghea terlalu berisik dan sering melanggar batas-batas "profesional" yang ia tetapkan. Namun, Ghea adalah satu-satunya orang yang berhasil meruntuhkan tembok pertahanan Mika. Perlahan, kehadiran Ghea tidak hanya mengisi kekosongan di meja belajar Mika

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena Lullaby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Langkah Menuju Penyatuan Kembali

Setelah pertemuan yang menegangkan itu selesai, ruang koridor di lantai atas mulai tenang. Arlan berdiri kaku di dekat dinding kaca besar ruang tunggu, menatap kosong ke arah gedung-gedung pencakar langit Jakarta yang menyentuh awan siang. Di tangannya, gelas kertas berisi kopi dingin dari mesin minuman otomatis tampak berembun, seolah mencerminkan pikirannya yang masih beku setelah pertemuan yang tidak terduga tadi.

Dari jauh, di dekat tiang koridor, Ghea menghentikan langkahnya. Ia memperhatikan Arlan yang berdiri tanpa bergerak.

Pemandangan itu dengan cepat menarik perhatiannya. Di bawah sinar matahari yang menerobos masuk melalui dinding kaca, Arlan terlihat seperti model yang sengaja dibingkai dengan indah dalam sebuah karya seni. Setelan jas yang mahal itu melekat sempurna, menonjolkan bahu lebar dan tegapnya. Postur tubuhnya yang tinggi dan atletis, serta garis rahangnya yang jelas berpadu dengan wajah tampan yang kini tampak dingin dan misterius. Sosok maskulin ini begitu memikat, menarik perhatian Ghea untuk beberapa saat, membangkitkan sisi emosional yang berusaha ia sembunyikan.

Ghea menarik napas dalam-dalam, merapikan blazernya, lalu melangkah elegan mendekati Arlan. Suara tumit sepatu yang menghantam lantai marmer menarik perhatian Arlan, yang kemudian perlahan menoleh.

"Kopi dari mesin otomatis bukan pilihanmu yang biasa, Pak Arlan," sapa Ghea dengan nada santai tetapi tetap sopan, berdiri satu langkah di sampingnya sambil menatap keluar jendela.

Arlan menatap gelas kopinya sejenak, lalu beralih menatap Ghea. Dari jarak dekat, wangi parfum Ghea yang lembut dan elegan langsung menerpa penciumannya, mengingatkannya pada malam di hotel yang ingin segera ia lupakan demi menjaga profesionalisme.

"Terkadang, pilihan yang cepat dan dingin adalah satu-satunya solusi saat kepala terasa penuh," jawab Arlan, suaranya dalam dan rendah. Ia menatap mata Ghea dengan tajam. "Kamu... benar-benar membuatku terkejut hari ini, Ghea."

Ghea memberikan senyuman tipis, senyuman yang sangat anggun dan tenang. "Dunia ini terasa kecil, bukan? Namun, di luar urusan pekerjaan yang baru saja kita mulai..." Ghea menghentikan kalimatnya, tatapannya melunak, menunjukkan perhatian yang tulus. "Bagaimana kabar Mika sekarang? Aku sangat mengkhawatirkannya sejak terakhir kali."

Mendengar nama putri kecilnya, ketegangan di pundak Arlan sedikit berkurang, diikuti perasaan rindu yang lembut.

"Dia... sekarang bersamaku, maksudku, untuk sementara dia tinggal di tempat Shinta," jawab Arlan dengan pelan, tatapannya kembali alihkan ke luar jendela. "Mika menolak pulang bersamaku hari itu. Ia merasa rumah kami terlalu sunyi dan dingin sejak... sejak kamu pergi, dan sejak aku terlalu terjebak dalam duniamu sendiri."

Arlan memutar gelas kopinya, melanjutkan dengan suara yang lebih pelan. "Aku memutuskan untuk membiarkannya di sana untuk sementara waktu. Aku ingin menyelesaikan semua kekacauan ini terlebih dahulu, menata kembali hidupku, agar ketika saatnya menjemputnya, aku bisa memberikan rumah yang hangat untuknya. Rumah yang pantas dia dapatkan."

Ghea mendengarkan setiap kata Arlan dengan penuh perhatian. Desahan napas berat Arlan yang begitu dekat di sampingnya kembali membangkitkan perasaan di hatinya, mengingatkan pada kerentanan pria ini saat memeluknya malam itu. Ada rasa nyeri di hati Ghea mendengar Mika harus berada dalam situasi sulit ini, namun ia juga melihat perubahan besar pada Arlan—pria ini kini lebih terbuka mengenai kelemahannya.

"Mika anak yang sangat sensitif," ucap Ghea lembut, menyentuh pembatas kaca di depan mereka. "Dia hanya perlu sedikit waktu untuk memahami bahwa ayahnya sungguh berjuang untuknya. Saya yakin, kamu telah berusaha semaksimal mungkin untuknya, Mas."

Panggilan "Mas" yang secara tidak sengaja atau mungkin dengan sengaja diucapkan Ghea di akhir kalimatnya menarik perhatian Arlan dengan cepat. Mata mereka bertemu kembali, terikat dalam keheningan ruang tunggu yang sepi, menyisakan ketegangan dan kerinduan yang tersembunyi di balik wajah profesional mereka.

Kata-kata lembut Ghea seolah menggantung di udara. Di balik kecantikan dan ketenangan yang ia tunjukkan di depan Arlan, terdapat sebuah rahasia besar yang dijaga rapat-rapat.

Sebenarnya, kembalinya Ghea ke dalam kehidupan Arlan—dan posisinya di perusahaan itu—bukanlah kebetulan. Ini merupakan bagian dari rencana licik Shinta.

Beberapa minggu lalu, Shinta, yang sadar bahwa Ghea telah menyelesaikan pendidikannya, dengan sengaja menghubungi Ghea. Memanfaatkan koneksi dan pengaruhnya, Shinta memastikan Ghea mendapatkan pekerjaan di perusahaan Arlan. Niat jahat Shinta sangat jelas: ia ingin memanfaatkan Ghea untuk mengawasi setiap langkah Arlan, mencari kesalahan, dan mengumpulkan bukti agar hak asuh Mika sepenuhnya jatuh ke tangannya secara hukum. Shinta percaya, luka masa lalu akan membuat Ghea membenci Arlan dan mau membantunya menghancurkan pria itu.

Namun, Shinta telah salah menilai Ghea.

Di balik sikap patuhnya kepada Shinta, Ghea sebenarnya sedang merencanakan langkah-langkahnya sendiri. Rasa cinta yang mendalam, ditambah dengan kenangan mesra yang masih terasa di tubuhnya dari malam di hotel butik, membuat Ghea bertekad untuk tidak membiarkan Arlan terluka. Ia sangat paham tentang sifat manipulatif Shinta.

Menerima tawaran Shinta adalah satu-satunya cara bagi Ghea untuk kembali masuk ke dalam kehidupan Arlan tanpa dicurigai, sekaligus menjadi pelindung yang tidak terlihat bagi pria yang dicintainya.

Sambil berdiri di samping Arlan di ruang tunggu yang sunyi, Ghea melirik sekilas ponselnya yang ada di dalam saku blazer. Ada satu pesan masuk dari Shinta yang menanyakan keadaan Arlan.

Ghea mengetik balasan singkat dengan jari-jemarinya yang tenang: "Dia masih terlihat kacau dan kurang fokus. Semua dalam kendali."

Setelah mengirim pesan itu, Ghea menghapus riwayat obrolannya. Ia tersenyum tipis. Shinta mengira dia sedang mengontrol situasi, padahal Ghea sedang mengarahkan Shinta ke dalam perangkap yang telah ia buat.

Ghea kembali mengalihkan pandangannya ke arah Arlan yang masih menatap jendela luar. Ia melangkah sedikit lebih dekat, hingga lengan mereka nyaris bersentuhan. Aroma parfum elegan Ghea kembali memanjakan indera penciuman Arlan.

"Mas," bisik Ghea dengan nada sangat lembut, memastikan tidak ada staf lain yang mendengar percakapan mereka. "Percayalah padaku. Apa pun yang terjadi di luar, fokuslah untuk mengembalikan kekuatanmu. Biarkan aku yang menyelesaikan sisanya dari dalam."

Arlan menoleh, menatap dalam-dalam mata indah Ghea. Ia tidak mengetahui tentang rencana jahat Shinta, tetapi ia dapat merasakan ketulusan dan kekuatan baru yang mengalir dari pandangan wanita di depannya ini.

"Mengapa kamu begitu peduli, Ghea? Setelah semua kekacauan yang kubuat..." tanya Arlan, suaranya terdengar berat dan serak.

Ghea tidak memberikan jawaban dengan kata-kata. Ia hanya menunjukkan senyuman yang penuh misteri dan sangat anggun. Di dalam hatinya, Ghea telah bertekad, ia akan mengumpulkan semua bukti tentang kelicikan Shinta, melepaskan Mika dari kendali wanita tersebut, dan membersihkan nama Arlan.

Ghea akan memastikan bahwa takdir yang pernah memisahkan mereka akan dipaksa untuk mengikuti rencana yang sedang ia siapkan. Dan kali ini, ketika semua kekacauan ini berakhir, ia akan kembali ke pelukan Arlan bukan lagi sebagai pelarian malam, tetapi sebagai satu-satunya wanita yang berdiri di sampingnya sebagai pemenang.

1
Soleh Mekanik
/Smile/
Heriyansah: Masih lanjut kok kak ceritanya, di tunggu ya. Semoga ga kecewa 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!