Di dunia tempat takdir manusia tercatat dalam sebuah Arsip, seorang pemuda terbangun tanpa data apa pun tentang dirinya.
Saat rahasia dunia mulai terbuka, ia menjadi satu-satunya orang yang tidak seharusnya ada.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sena himura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7 — Lorong Energi dan Bayangan Masa Lalu
Bab 7 — Lorong Energi dan Bayangan Masa Lalu
Udara di lorong ini terasa berbeda. Lebih padat, lebih berat, seolah setiap tarikan napas menyerap sesuatu yang tak terlihat. Di sekeliling mereka, dinding-dinding batu kasar tidak lagi polos. Semakin jauh mereka melangkah, semakin jelas terlihat ukiran-ukiran rumit yang menyala samar dengan cahaya keemasan — pola yang sama, namun versi yang lebih tua dan lebih indah dibandingkan simbol di tangan Ren.
Langkah kaki mereka bergema panjang, satu-satunya suara yang terdengar di tempat yang sunyi ini. Tidak ada lagi suara ledakan, tidak ada lagi teriakan pertempuran. Hanya ada keheningan yang dalam, keheningan yang menyimpan ribuan rahasia zaman dahulu.
Ren berjalan paling depan. Cahaya ungu di tangannya kini berirama sempurna dengan cahaya ukiran di dinding, seolah dua bagian dari satu lagu yang sama sedang bernyanyi bersama. Rasa panas yang biasa ia rasakan kini berubah menjadi rasa hangat yang menenangkan, seolah tubuhnya mengenali tempat ini sebagai rumah.
"Tempat ini..." Ren memecah keheningan dengan suara berbisik, matanya tak lepas dari ukiran yang berjalan berkelok-kelok di sepanjang lorong. "Seperti tahu siapa aku."
Kai, yang berjalan di sebelahnya dengan layar pergelangan tangan menyala terang, mengangguk pelan. Wajahnya tidak lagi ceria atau penuh lelucon, melainkan serius dan penuh rasa hormat.
"Ini adalah saluran nadi utama Elarion," jawab Kai pelan, matanya meneliti data yang berkedip-kedip di layarnya, angka dan grafik yang rumit bergerak sangat cepat. "Dulu, seribu tahun lalu, sebelum kota ini tertutup beton dan teknologi, tempat ini adalah sumber kehidupan. Energi murni yang dikumpulkan nenek moyang kita dialirkan lewat sini untuk memberi tenaga pada segalanya."
Ia menunjuk ke dinding di sebelahnya.
"Elara pernah bilang padaku, lorong ini tidak dibangun. Ia dibentuk oleh energi itu sendiri. Dan hanya orang yang memiliki hubungan darah dengan pencipta awal... yang bisa berjalan di sini tanpa terluka atau hilang ingatan."
Kai menoleh ke Ren, matanya berkilat dalam kegelapan.
"Kau tidak merasa sakit, pusing, atau ingin melupakan segalanya, kan? Itu bukti bahwa kau memang benar-benar pewaris sejati, Ren. Lorong ini menyambutmu."
Di belakang mereka, Anya berjalan diam. Aura dingin yang biasa ia pancarkan kini meredup, seolah energi es miliknya tak berdaya di hadapan kekuatan purba yang mengalir di dinding-dinding ini. Wajahnya yang pucat tampak tenang, tapi matanya yang merah terus mengawasi setiap gerakan di sekitar mereka, waspada terhadap bahaya yang mungkin datang dari kegelapan.
"Ukiran ini..." Anya berbicara tiba-tiba, jarinya yang dingin menyentuh permukaan batu yang bercahaya itu. "Ini adalah sejarah tertulis. Lihat di sini."
Ia menunjuk satu deretan gambar yang menceritakan kisah berurutan. Ada gambar sekelompok orang yang memegang bola cahaya raksasa, gambar pertempuran, gambar pembangunan sebuah menara tinggi, dan akhirnya gambar dua sosok yang berdiri berhadapan — satu memegang kunci tertutup, satu lagi memegang kunci terbuka.
"Ini kisah penciptaan Archive," lanjut Anya suaranya rendah. "Dan lihat sosok yang memegang kunci terbuka itu... rambutnya bercahaya ungu, sama sepertimu saat kekuatanmu bangkit."
Ren mendekat, menatap gambar itu lekat-lekat. Jantungnya berdebar aneh. Ada rasa samar, kilatan ingatan yang bukan miliknya, melintas sebentar di pikirannya. Gambar menara, suara gemuruh, rasa sakit, dan rasa bebas yang luar biasa.
"Ah!" Ren mengerang pelan, memegangi kepalanya yang tiba-tiba terasa berdenyut kencang.
"Ren! Apa kau baik-baik saja?" Kai langsung menopang bahu temannya itu.
"Gambar-gambar itu..." Ren menutup matanya, berusaha menenangkan rasa pusing itu. "Aku... seolah melihatnya. Bukan membayangkan, tapi mengingat. Ada suara, ada rasa sakit... dan ada seseorang yang memanggil namaku, meski aku tidak tahu siapa itu."
"Itu sisa ingatan dari darahmu," suara Anya terdengar lembut di telinganya. Ia melangkah maju, menatap Ren dengan pandangan yang lebih dalam, lebih akrab dari sebelumnya. "Kau membawa warisan ini, Ren. Segala penderitaan, segala harapan, dan segala kekuatan dari mereka yang hidup seribu tahun lalu... semuanya ada di dalam dirimu."
Ren membuka matanya kembali. Rasa bingung itu perlahan hilang, digantikan oleh rasa sadar yang lebih tajam. Ia menatap kedua temannya itu, lalu mengangguk mantap.
"Aku baik-baik saja. Ayo lanjutkan."
Mereka kembali berjalan. Lorong semakin melebar, dan cahaya keemasan semakin terang, hampir menyilaukan mata. Udara menjadi lebih hangat, dan suara dengungan halus seperti nyanyian jauh mulai terdengar, berasal dari ujung lorong itu.
Namun, seiring bertambahnya cahaya, bayangan-bayangan mulai muncul.
Bukan bayangan mereka sendiri.
Bayangan-bayangan berbentuk manusia, samar, tembus pandang, bergerak di sepanjang dinding dan lantai. Mereka berjalan, berbicara, tertawa, atau bahkan bertarung... seolah waktu di tempat ini berlipat ganda, masa lalu dan masa kini bertemu dalam satu ruang.
Kai menelan ludah, mundur selangkah mendekati Ren.
"Jangan diganggu," bisik Kai, suaranya sedikit gemetar. "Itu hantu ingatan. Jejak energi dari masa lalu yang terekam di sini. Mereka tidak nyata, tapi bisa berbahaya jika kau terjebak di dalamnya."
Salah satu bayangan berhenti bergerak. Sosok seorang wanita muda berpakaian panjang kuno berbalik, menatap tepat ke arah mereka, tepat ke arah Ren. Wajahnya samar, tapi matanya bercahaya ungu terang. Ia mengangkat tangannya, menunjuk ke depan, ke arah ujung lorong.
"Teruslah berjalan, pewaris... Jangan berhenti... Dia sudah menunggu..."
Suara itu bergema di kepala Ren, sama seperti suara misterius yang biasa ia dengar, namun lebih lembut, lebih penuh kasih sayang.
Lalu bayangan itu lenyap begitu saja, melebur kembali ke dalam cahaya dinding.
Ren diam terpaku. "Siapa dia?"
"Mungkin salah satu pendiri," jawab Anya pelan, matanya masih menatap tempat bayangan itu hilang. "Atau mungkin... salah satu dari pewaris sebelumnya yang gagal."
Kalimat itu membuat suasana menjadi dingin kembali.
Yang gagal.
Ren sadar sekarang, perjalanan ini bukan sekadar berjalan dari satu tempat ke tempat lain. Ini adalah ujian. Ujian bagi dirinya, bagi jiwanya, bagi kemampuannya memegang kekuatan yang begitu besar. Banyak orang sebelum dia yang memegang warisan ini, tapi mereka hilang, gagal, atau dikalahkan oleh Menara Zenith.
Dan sekarang, gilirannya.
Tiba-tiba, lantai di bawah mereka bergetar pelan. Bukan guncangan ledakan, tapi getaran berirama, berat dan dalam, seolah ada langkah kaki raksasa yang mendekat dari depan.
Cahaya di dinding berkedip-kedip, berubah warna dari emas menjadi ungu, lalu menjadi merah darah.
Kai melihat layarnya, wajahnya kembali pucat, tapi kali ini bukan karena takut pada teknologi, tapi pada apa yang terdeteksi alatnya.
"Energi... lonjakan energi luar biasa di depan," lapor Kai dengan napas memburu. "Bukan seperti Penjaga Arsip, bukan seperti Penjaga Inti yang tadi... ini lebih tua. Lebih murni. Dan jauh lebih marah."
Anya mengangkat kedua tangannya. Uap dingin mulai keluar dari telapak tangannya, meski udara di sini hangat.
"Kita sudah sampai di ujung lorong," kata Anya tegas. Di depannya, dinding batu berakhir, membuka ke sebuah ruangan besar, luas seperti alun-alun bawah tanah yang dipenuhi lautan cahaya emas.
Dan di tengah ruangan itu, berdiri sebuah gerbang raksasa.
Tingginya puluhan meter, terbuat dari logam hitam yang berkilau, dihiasi ribuan ukiran yang sama dengan yang ada di lorong. Di tengah gerbang itu, terdapat lubang kunci raksasa — lubang yang bentuknya persis sama dengan simbol di tangan Ren.
Namun, yang membuat darah mereka bertiga membeku... bukan gerbang itu.
Melainkan makhluk yang sedang berjaga di depannya.
Makhluk itu tingginya setara rumah dua lantai, tubuhnya tersusun dari ribuan kepingan cahaya emas yang bergerak terus-menerus, tidak memiliki bentuk tetap tapi selalu menyerupai wujud manusia. Di wajahnya, tidak ada mata atau mulut, hanya satu simbol ungu yang berdenyut di tengah dahinya.
Saat mereka melangkah keluar dari lorong, makhluk itu berputar perlahan.
Suaranya bukan suara mekanik, melainkan suara ribuan orang yang berbicara serentak, bergema memenuhi seluruh ruangan hingga tulang-tulang mereka bergetar.
"PENGHADAP DIKENALI: ARCHIVE ZERO."
"TUJUAN GERBANG: DIPERBOLEHKAN."
"SYARAT LULUS: UJIAN KEKUATAN DAN KEMAUAN."
Cahaya di sekitar makhluk itu meledak keluar. Ribuan kepingan cahaya itu berubah menjadi senjata tajam, mengarah tepat ke arah Ren, Kai, dan Anya.
"HANYA YANG LAYAK YANG BOLEH MELINTAS. BUKTIKAN BAHWA KAU BERHAK MEMEGANG KUNCI ITU, ATAU MATI DI SINI SEPERTI PEWARIS SEBELUMNYA."
Ren melangkah maju selangkah. Cahaya ungu di tangannya merespons ancaman itu, menyala sekeras-kerasnya, beradu melawan cahaya emas yang memenuhi ruangan.
Di sebelahnya, Anya dan Kai bersiap bertempur, napas mereka memburu tapi tekad mereka tak tergoyahkan.
Ren menatap makhluk penjaga itu, dan untuk pertama kalinya, ia tidak merasa takut. Ia merasa marah. Marah pada takdir yang mengikatnya, marah pada sistem yang membohongi semua orang, dan marah pada masa lalu yang menumpukkan semua beban ini di pundaknya.
"Aku bukan sekadar pewaris," ucap Ren lantang, suaranya tak kalah bergema melawan suara ribuan orang itu. "Aku adalah akhir dari semua ini. Dan aku akan melewati gerbang ini, suka atau tidak kau izinkan!"
Simbol di tangannya memancarkan kilatan cahaya menyilaukan, seolah menjawab tantangan penjaga kuno itu.
Pertempuran di lorong energi pun dimulai — pertempuran bukan hanya soal kekuatan fisik, tapi pertempuran jiwa melawan bayangan seribu tahun sejarah yang terkubur.
Dan di kejauhan, jauh di atas sana di puncak Menara Zenith, pria tua yang pernah membicarakan Archive Zero itu membuka matanya lebar-lebar. Ia merasakan gelombang energi yang sama, tersenyum tipis dengan campuran rasa gembira dan ngeri.
"Permainan sesungguhnya baru saja dimulai," bisiknya pelan di tengah ruangan gelap penuh layar itu.
Bersambung ...
jangan lupa berkunjung ke novelku mas judulnya "Ovrien"