Rendra Wijaya (24 tahun) adalah definisi nyata dari pecundang urban. Bekerja belasan jam sehari sebagai kurir paket dengan sistem kemitraan yang mencekik, ia harus menerima kenyataan pahit: saldo m-banking yang tersisa Rp 14.500,-, cicilan motor menunggak, dan ancaman kelaparan di depan mata. Di titik terendah hidupnya saat diguyur hujan deras Jakarta, sebuah keajaiban fiksi ilmiah menghampirinya. Sebuah kecerdasan buatan misterius bernama Sistem Auto Rich mengikat jiwanya.
Mau tau kelanjutan nya yok simak....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mhmmad riko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4:Balapan Melawan Waktu Berwarna Merah
Suara knalpot motor bebek Rendra membelah keheningan malam Jakarta yang basah. Hujan baru saja reda, meninggalkan aspal yang mengilap memantulkan cahaya lampu jalanan. Di dalam kantong jaket kurirnya yang setengah basah, ponsel Rendra terus bergetar. Setiap getaran adalah pertanda bahwa saldo rekeningnya bertambah, namun malam ini, getaran itu terasa seperti bom waktu yang siap meledak.
Rendra melirik panel melayang di sudut pandangnya.
[ Sisa Waktu: 01:42:15 ]
[ Status Misi: Rp 0 / Rp 10.000.000 ]
"Sepuluh juta dalam waktu kurang dari dua jam... di jam sebelas lewat malam. Sialan, sistem ini mau bikin gue kaya atau bikin gue mati serangan jantung?" umat Rendra sambil memutar gas motornya lebih dalam.
Otaknya berputar cepat, menyisir setiap sudut kota yang ia hafal luar kepala berkat pekerjaannya sebagai kurir. Mal-mal besar seperti Grand Indonesia atau Central Park jelas sudah tutup sejak pukul sepuluh malam. Toko elektronik, toko emas, atau dealer motor yang bisa menghabiskan uang jutaan rupiah dalam sekali gesek juga tidak mungkin buka.
Aturan sistem: Uang harus ditarik tunai dan digunakan untuk konsumsi fisik atau aset. Tidak boleh diinvestasikan, tidak boleh ditransfer ke orang lain sebagai sumbangan.
Target pertama Rendra adalah mencari ATM.
Ia berhenti di sebuah minimarket 24 jam yang memiliki galeri ATM di dalamnya. Kamar ATM itu sepi. Dengan tangan gemetar, Rendra memasukkan kartu debitnya yang biasanya hanya berisi angka belasan ribu rupiah.
Begitu layar menampilkan saldo, Rendra menahan napas. Rp 11.214.500,-.
Sistem tidak berbohong. Uang itu benar-benar ada di sana. Tanpa membuang waktu, Rendra langsung menekan tombol penarikan tunai maksimal. Di Indonesia, batas penarikan tunai di ATM sekali transaksi biasanya hanya Rp 1.250.000,- atau Rp 2.500.000,- tergantung pecahan uangnya. Rendra harus melakukan transaksi berkali-kali.
Krrreeekkk... krrreeekkk...
Suara mesin ATM menghitung uang terdengar seperti musik paling indah di telinga Rendra. Satu bendel, dua bendel, tiga bendel. Dalam waktu sepuluh menit, kantong jaket Rendra sudah penuh sesak dengan pecahan uang seratus ribu rupiah baru.
Total sepuluh juta rupiah kini ada di dekapannya.
"Oke, uang tunai sudah di tangan. Sekarang, ke mana gue harus buang uang ini?" Rendra melihat jam di pergelangan tangannya. Pukul 23.25 WIB. Sisa waktu sekitar satu setengah jam.
Dia kembali menaiki motornya dan melaju menuju kawasan Mangga Besar dan Hayam Wuruk, daerah yang terkenal tidak pernah tidur di Jakarta. Jika ada tempat yang menjual barang mahal di tengah malam, di sanalah tempatnya.
Rencana Awal yang Gagal
Rendra menghentikan motornya di depan sebuah toko ponsel besar yang biasanya buka hingga larut. Sial, malam ini toko itu tutup lebih awal karena ada perbaikan instalasi listrik. Papan namanya mati total.
"Sialan!" Rendra memukul stang motornya.
Ia kemudian melihat sebuah restoran seafood mewah 24 jam di seberang jalan. Rendra segera masuk. Tempat itu cukup ramai oleh orang-orang kaya yang baru pulang dari klub malam atau pekerja eksekutif yang lembur.
Rendra yang masih mengenakan jaket kurir basah dan celana jins belel langsung menjadi pusat perhatian. Seorang pelayan memandangnya dengan tatapan menilai, cenderung merendahkan.
"Ada yang bisa dibantu, Mas? Mau ambil pesanan ojek online? Lewat pintu belakang ya," kata pelayan itu dengan nada ketus.
Rendra tidak punya waktu untuk berdebat soal sopan santun. "Saya mau makan di sini. Berikan saya menu paling mahal yang kalian punya. Sekarang."
Pelayan itu mengerutkan kening, namun tetap memberikan buku menu. Rendra membukanya dengan cepat. Kepiting Alaska raksasa, lobster mutiara, tim ikan malas. Rendra memesan semuanya tanpa melihat harga.
"Sama ini, Mas. Semua meja yang ada di restoran ini sekarang, total tagihannya saya yang bayar!" seru Rendra setengah berteriak, membuat beberapa pengunjung menoleh terkejut.
Pelayan itu tertegun. "Serius, Mas?"
"Panggil manajer kamu, hitung semuanya sekarang. Saya bayar tunai di depan!" Rendra mengeluarkan dua ikat uang seratus ribuan dari jaketnya dan meletakkannya di atas meja.
Melihat tumpukan uang merah tersebut, sikap pelayan itu langsung berubah 180 derajat. Ia membungkuk hormat dan segera memanggil manajernya. Sepuluh menit kemudian, sang manajer datang membawa rincian total harga makanan Rendra ditambah seluruh meja yang sedang terisi malam itu.
"Total semuanya adalah Rp 4.250.000,-, Pak," ucap manajer itu dengan sangat sopan.
Rendra langsung menyerahkan 43 lembar uang seratus ribu. "Ambil kembaliannya."
[ Notifikasi Sistem: Pengeluaran terverifikasi. Kembalian dianggap sebagai tip/konsumsi jasa. ]
[ Status Misi: Rp 4.300.000 / Rp 10.000.000 ]
[ Sisa Waktu: 00:55:12 ]
Rendra menghela napas lega, namun matanya kembali melebar saat melihat panel status. Masih ada Rp 5.700.000,- yang harus dihabiskan dalam waktu kurang dari satu jam! Dan perutnya tidak akan kuat memakan semua seafood yang ia pesan sendirian dalam waktu singkat.
"Pak, bungkus saja semua makanan saya. Berikan ke orang-orang di luar," kata Rendra pada manajer restoran, lalu ia segera berlari keluar. Waktunya menipis.
Menembus Batas Logika
Rendra kembali memacu motornya. Angka di panel holografisnya terus berkedip merah, seolah-olah berdetak mengikuti detak jantungnya yang kian kencang. Jika ia gagal, semua ini akan hilang. Ia akan kembali menjadi Rendra yang miskin, yang dihina, yang tidak punya masa depan. Ia tidak mau kembali ke kehidupan itu.
Di daerah Harmoni, Rendra melihat sebuah toko sepeda besar. Beruntung, toko itu merangkap sebagai bengkel komunitas sepeda malam dan pintunya masih terbuka setengah.
Beberapa orang dengan pakaian olahraga ketat dan sepeda seharga puluhan juta sedang berkumpul di dalamnya.
Rendra langsung turun dari motor dan menerobos masuk.
"Permisi, saya mau beli sepeda paling mahal yang ready di sini sekarang juga," kata Rendra terengah-engah.
Seorang pria paruh baya yang tampaknya pemilik toko menatap Rendra dengan bingung. "Waduh Mas, kita sudah mau tutup ini. Kasir sudah close."
"Saya bayar tunai! Tolong, Pak. Berapa harga sepeda lipat atau sepeda balap yang paling mahal di sini?" Rendra memohon, matanya melirik sisa waktu yang tinggal 25 menit.
Pemilik toko yang melihat kepanikan di mata Rendra akhirnya mengalah.
Ia menunjuk sebuah sepeda lipat merek Inggris yang dipajang di dalam etalase kaca. "Itu ada Brompton edisi khusus, harganya Rp 35.000.000,-."
Rendra meringis. Uang tunai di kantongnya tinggal Rp 5.700.000,-. "Uang tunai saya nggak cukup kalau tiga puluh lima juta. Ada yang harganya lima jutaan?"
Pemilik toko menggeleng.
"Yang lima jutaan habis, Mas. Tinggal yang kelas hobi semua ini, di atas sepuluh juta. Paling ada sepeda gunung rakitan lokal yang punya mekanik saya di belakang, dia mau jual Rp 5.500.000,- karena lagi butuh uang."
Mata Rendra berbinar. "Saya beli! Mana sepedanya?"
Seorang mekanik muda berlari ke belakang dan membawa sebuah sepeda gunung berwarna hitam doff yang tampak sangat terawat. Rendra tidak peduli dengan spesifikasinya.
Ia langsung mengeluarkan sisa uang di kantongnya.
"Ini lima juta lima ratus ribu rupiah! Pas!" Rendra menyerahkan uang itu.
Mekanik itu menerima uang tersebut dengan tangan gemetar, tidak percaya sepedanya laku di tengah malam buta tanpa ditawar sepeser pun.
Rendra menahan napas, menunggu respons dari sistem di kepalanya.
[ Notifikasi Sistem: Pengeluaran terverifikasi. Pembelian aset fisik (Sepeda Gunung). ]
[ Status Misi: Rp 9.800.000 / Rp 10.000.000 ]
[ Sisa Waktu: 00:08:44 ]
"Sialan! Kurang dua ratus ribu lagi!" Rendra berteriak dalam hati. Waktu tinggal delapan menit!
Detik-Detik Terakhir
Rendra melihat sekeliling toko sepeda dengan panik. "Mas! Ada aksesoris apa lagi yang harganya dua ratus ribu?"
Mekanik itu bingung. "Eh... ada helm ini Mas, harganya seratus lima puluh ribu. Sama lampu sepeda ini lima puluh ribu."
"Saya ambil dua-duanya!" Rendra meraba kantong celananya. Kosong. Uang tunai yang ia tarik dari ATM tadi sudah habis bis.
Rendra mendadak lemas. Di rekening m-banking-nya masih ada sisa satu juta lebih karena sistem terus mentransfer uang setiap 100 detik. Tapi dia tidak punya waktu lagi untuk mencari ATM! Jarak ke ATM terdekat butuh waktu lima menit perjalanan, belum lagi proses penarikannya. Waktunya tinggal lima menit!
"Pak, bisa gesek kartu debit atau QRIS?" tanya Rendra panik.
Pemilik toko menggeleng. "Kan tadi saya bilang, Mas, mesin EDC dan kasir sudah mati semua. Sudah di-settle untuk laporan harian. Hanya bisa terima uang tunai."
Rendra merasa dunianya runtuh. Panel sistem di depannya berkedip semakin cepat, memancarkan warna merah darah yang mengerikan.
[ Sisa Waktu: 00:03:12 ]
[ Sisa Waktu: 00:03:11 ]
Apakah semuanya akan berakhir di sini? Karena uang dua ratus ribu rupiah? Rendra tersenyum getir. Sungguh ironis. Dia bisa menghasilkan jutaan rupiah per jam sekarang, tapi akan dihancurkan oleh uang dua ratus ribu.
Tiba-tiba, Rendra merasakan sesuatu yang keras di kantong belakang celana jinsnya. Ia merogohnya dengan cepat. Itu adalah dompet lamanya yang kumal. Dengan tangan gemetar, ia membuka dompet itu. Di dalamnya, terselip dua lembar uang seratus ribuan yang sudah lecek—uang hasil tip dari seorang pelanggan paket siang tadi yang sengaja ia simpan untuk keadaan darurat.
"Uang tunai pribadi..." bisik Rendra. Sistem tidak mengatakan bahwa uang yang digunakan harus berasal dari hasil konversi sistem, aturannya hanya habiskan uang tunai sebesar Rp 10.000.000,-.
Rendra langsung melempar dua lembar uang lecek itu ke meja kasir. "Ini dua ratus ribu tunai! Helm sama lampunya saya ambil!"
Mekanik itu dengan cepat menyerahkan helm dan lampu sepeda kepada Rendra.
Tepat saat barang-barang itu berpindah tangan, waktu di panel holografis menunjukkan angka: 00:00:02.
Dunia seolah berhenti berputar bagi Rendra. Detik berikutnya, warna merah darah di panel holografisnya lenyap, digantikan oleh kilatan cahaya emas yang benderang hingga membuat Rendra harus menyipitkan mata.
“Ding! Selamat kepada Pengguna. Misi Harian (Level 1): The Art of Spending telah diselesaikan dengan sempurna.”
“Menghitung hasil... Total pengeluaran: Rp 10.000.000,-. Tingkat keberhasilan: 100%.”
“Menerima Hadiah Misi: 100 Poin Pengalaman.
Sistem Auto Rich berhasil naik ke Level 2!”
“Nilai Konversi meningkat: Dari Rp 1.000,- per detik menjadi Rp 2.500,- per detik!”
“Fungsi Baru Dibuka: Toko Sistem (V 1.0).”
Rendra terduduk di lantai toko sepeda yang dingin, mengabaikan tatapan heran dari pemilik toko dan mekaniknya. Ia memegang dadanya yang berdegup kencang, lalu perlahan sebuah tawa lepas keluar dari mulutnya.
Rp 2.500,- per detik. Itu berarti Rp 9.000.000,- per jam. Sembilan juta rupiah hanya untuk tidur, makan, dan bernapas. Dalam satu hari, ia akan menghasilkan lebih dari 200 juta rupiah.
Rendra bangkit berdiri, menuntun sepeda gunung barunya yang diikat di belakang motor bebeknya, lalu memakai helm barunya. Malam ini, Jakarta terasa berbeda bagi Rendra. Kota ini bukan lagi tempat yang menyiksanya dengan kemiskinan, melainkan sebuah taman bermain besar yang siap ia taklukkan.
Namun, di tengah euforia itu, suara mekanis sistem kembali berdenting di kepalanya, memberikan sebuah pesan baru yang membuat senyum Rendra langsung membeku.
“Peringatan: Peningkatan Level 2 telah menarik perhatian mata-mata dari Konsorsium Finansial Hitam (The Black Shard). Pengguna disarankan untuk mulai menyembunyikan identitas keuangan Anda sebelum fajar menyingsing.”
Rendra menelan ludah. Ternyata, memiliki uang tak terbatas juga berarti mengundang bahaya yang tak terbatas.