Di balik senyumnya yang tenang, Arumi menyimpan luka yang tak pernah benar-benar sembuh. Pernikahannya dengan Ardi hanya tinggal formalitas. Demi puteri kecilnya, Kayla, Arumi bertahan.
Segalanya berubah ketika ia bertemu seorang psikiater muda, Dimas, yang baru saja bekerja di klinik psikiatri Dokter Arisa langganannya.
Dimas yang tenang dan hangat selalu membuat Arumi merasa didengar. Di ruang konsultasi yang seharusnya penuh batas, justru tumbuh perasaan yang tak diundang.
Tanpa Arumi sadari Kayla, puteri kecilnya yang cerdas, melihat semuanya. Ia tahu ibunya tidak bahagia. Ia juga tahu, ada cahaya berbeda di mata ibunya setiap kali pulang dari pertemuan dengan Mas Dokter —panggilan akrab Kayla pada Dimas.
Apakah perasaan Arumi pada Dimas yang tumbuh di ruang konsultasi hanya sebatas pelarian? Ataukah rumah yang selama ini Arumi rindukan?
Simak kisah selengkapnya dalam Mengejar Cinta Mas Dokter untuk Mama
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Purnamanisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rasa Di Balik Ruang Konsultasi
Hening.
Dimas masih menatap Arumi dalam-dalam. Wajah sayu itu memberikan hipnotis tersendiri bagi Dimas. Tangan Dimas bergerak perlahan menuju pipi Arumi. Arumi menatap tangan Dimas yang bergerak ke arahnya.
"Dok?"
Tangan DImas berhenti, menggantung di udara. Dimas memejamkan matanya, lalu menghela nafas panjang perlahan.
"Maaf," kata Dimas sambil berjalan kembali ke meja kerjanya.
Arumi menatap punggung Dimas yang masih berdiri membelakanginya. Baru kali ini Arumi melihat Dimas tidak tenang dalam sesi konsultasi.
"Dok?" panggil Arumi sekali lagi. Dimas terlihat sedang menarik nafas dalam-dalam lalu membuangnya perlahan. Dimas berbalik, menoleh menghadap Arumi. Tersenyum.
"Maaf. Mari kita lanjutkan," kata Dimas sambil kembali duduk di kursi kerjanya. Arumi menatap Dimas penuh tanya.
"Jadi... apa pendapat Ibu tentang perubahan yang mendadak itu?" tanya Dimas kemudian, sambil menuliskan sebuah catatan dalam rekam medis Arumi.
Arumi kembali menatap langit-langit seolah mencari jawabannya disana. Tak ada. Hanya bayangan wajah Ardi yang semula hangat dan bergairah, menjadi dingin dan... entah. Arumi menggelengkan kepalanya.
"Saya tak tau lagi, Dok," kata Arumi lirih.
Dimas menatap Arumi dalam-dalam. Dimas tahu jawabannya, namun Dimas tidak tahu bagaimana menyampaikannya pada Arumi agar mudah dipahami.
"Bu Arumi," panggil Dimas. Arumi menoleh menatap Dimas.
"Ibu yakin suami Ibu tidak selingkuh?" tanya Dimas perlahan. Arumi diam. Lalu mengangguk perlahan.
"Baik. Apa yang akan saya jelaskan hanyalah kemungkinan yang timbul dari faktor psikologis," kata Dimas mencoba menjelaskan apa yang kemungkinan dialami oleh suami Arumi. Arumi mengangguk, menyimak dengan seksama.
"Yang pertama, bisa diakibatkan karena tekanan," kata Dimas.
"Tekanan disini, bisa dari berbagai hal, pekerjaan misalnya, atau hal-hal lain yang kesannya menuntut, bisa apa saja," lanjut Dimas.
"Yang kedua, bisa dari trauma masa lalu," kata Dimas.
"Namun, karena gejala ini baru timbul akhir-akhir ini, saya kira tidak ada kaitannya dengan trauma masa lalu," lanjut Dimas cepat.
"Trauma masa lalu bisa timbul dari masalah keluarga pihak suami Ibu, misalnya, ayah ibunya tidak memiliki kedekatan emosional," jelas Dimas.
"Atau... trauma bisa timbul karena adanya pelecehan seksual yang pernah suami Ibu alami di masa lalunya. Namun, seperti yang saya katakan sebelumnya, sepertinya bukan ini masalahnya," kata Dimas. Arumi mulai mengira-ira apa penyebab gairah Ardi tiba-tiba menghilang.
"Yang terakhir, dan Bu Arumi sudah mengatakannya tidak mungkin, adalah rasa bersalah," kata Dimas. Arumi mengerutkan alisnya.
"Rasa bersalah ini bisa dari berbagai faktor juga," lanjut Dimas.
"Bisa karena selingkuh, menjalin hubungan yang mungkin tidak sampai sejauh perselingkuhan, atau... one-night-stand yang biasanya terjadi dalam spur of time —mendadak, tidak terencana, dan biasanya, tidak ada cinta," kata Dimas. Arumi terdiam.
"Mungkin kalau selingkuh tidak mungkin, saya bisa setuju dengan Ibu. Karena perselingkuhan biasanya ada karena saling membuka jalan antara pria dan wanita, lalu terjalin hubungan intim yang intens dan biasanya terencana, dalam jangka waktu yang cukup lama," lanjut Dimas.
"Sedangkan, perilaku suami Ibu, tidak menunjukkan tanda-tanda tersebut. Pulang telat hanya akhir-akhir ini dan hanya beberapa hari saja, tidak tercium parfum orang lain, dan tidak ada tanda-tanda mencurigakan setiap kali Ibu memegang ponselnya," Dimas masih menganalisis.
"Jadi, kemungkinannya tinggal dua," kata Dimas. Arumi menyimak dengan serius.
"Karena tekanan —yang kita tidak tahu apa penyebabnya—, atau... one-night-stand —yang mungkin masih membayanginya—," tutup Dimas.
Arumi tertegun. Jika penyebabnya adalah tekanan, kemungkinan Arumi akan mau berusaha membantu Ardi melewati semua itu. Tapi, jika penyebabnya adalah one-night-stand... Arumi bahkan tak bisa membayangkannya.
'Nggak. Pasti bukan itu,'
***
Dimas menatap Arumi dalam-dalam. Wajah ngerinya yang membayangkan kemungkinan terakhir penyebab suaminya tiba-tiba kehilangan gairah, membuat Dimas tanpa sadar mengepalkan tangannya.
Dimas kembali berdiri. Ragu-ragu. Namun, sedetik kemudian dia berjalan mendekat ke arah Arumi. Dimas duduk di kursi di samping Arumi duduk. Pikiran Arumi masih mengambang. Ada sesuatu yang nyeri di dalam hati Dimas saat melihat wajah Arumi dari dekat.
"Arumi," panggil Dimas perlahan. Arumi menoleh, menatap Dimas.
"Saya akan bantu kamu perbaiki ini, kalau kamu bersedia," kata Dimas lembut.
Entah mengapa, perasaannya pilu saat mengatakan itu. Arumi mengangguk pelan. Dimas menatapnya lekat-lekat. Tak ada keraguan disana.
"Baik," kata Dimas.
"Kita bisa mulai dari menjalin komunikasi. Apapun alasannya, semua berawal dari kurangnya komunikasi antara Arumi dan suami. Arumi kurang memahami suami karena kurang adanya komunikasi yang membangun hubungan emosional," jelas Dimas, berusaha bersikap profesional tanpa menghakimi suami Arumi.
"Arumi dan suami bisa mulai dengan duduk berdua, membicarakan hal-hal ringan. Dari hal-hal ringan, pembicaraan akan bisa mengarah ke hal yang lebih intim," lanjut Dimas.
"Hal itu tidak bisa dilakukan dalam waktu semalam. Arumi harus telaten dan sabar untuk mengajak suami mengobrol ringan kalau ada waktu," kata Dimas.
"Bisa sambil ngeteh atau ngopi, nonton tv, atau mungkin bisa menyempatkan waktu berdua tanpa ada Kayla," lanjut Dimas memberi saran.
"Apa saya bisa?" tanya Arumi lebih kepada dirinya sendiri.
"Arumi ingat mengapa Arumi mendatangi klinik ini?" tanya Dimas. Arumi mengangguk.
"Demi kebahagiaan Arumi sendiri, Arumi harus berani," kata Dimas memberi semangat. Arumi mengangguk. Lalu tersenyum. Dimas menatap senyum itu.
'Manis. Sayangnya tak sering muncul di wajah itu,'
***
Dimas menatap tulisan-tulisannya di rekam medis Arumi.
Suami pasien berhenti bergairah di tengah hubungan intim.
Dimas tak bisa membayangkan bagaimana perasaan Arumi saat itu terjadi. Disaat gairahnya sudah memuncak dan harus terhenti begitu saja.
Dimas mengusap wajahnya kasar. Dia tak mengerti bagaimana dia merasa sulit bersikap profesional seperti biasanya jika berhadapan dengan Arumi.
"Kenapa harus dia? Ada banyak pasien wanita lajang yang lebih cantik darinya, Dimas," kata Dimas pada dirinya sendiri.
Dimas kembali menatap tulisannya di rekam medis Arumi. Matanya menyusuri tulisannya hari ini.
Pasien belum siap menerima kemungkinan terburuk alasan suaminya berhenti bergairah.
Wajah ngeri Arumi kembali terbayang. Wanita mana yang sanggup membayangkan suaminya tidur bersama wanita lain —yang entah dikenalnya atau tidak— tanpa ada perasaan cinta. Bahkan Dimas pun tak sanggup membayangkannya.
Dimas menutup rekam medis Arumi. Dia menatap kursi konseling yang baru saja ditinggalkan Arumi. Dimas tak tahu apakah dia bisa menahan dirinya lebih dari saat ini. Dia merasa sudah terlalu jauh melewati batas antara dokter dan pasien.
Dimas berdiri, berjalan menuju kursi konseling yang biasa Arumi duduki. Tangannya meraba sandaran kursi konseling seolah mengusap kepala Arumi dengan lembut.
'Mungkin sebaiknya... aku berhenti sampai disini,'
***