Danil Dwi Cahya, 16 tahun, lulus SMP dengan prestasi gemilang. Namun, ia tak bisa lari dari "Pernak-Pernik Kehidupan" yang keras: kemiskinan, pengkhianatan masa lalu sang ayah, dan beban mengangkat harga diri keluarga.
Hatinya makin rumit saat Ceceu Intan Nuraini, sahabat sekaligus cinta tak terucapnya, rela berkorban segalanya. Di tengah dilema merantau atau bertahan, Danil harus menghadapi intrik desa, mitos seram, dan bahaya dari majikan "buaya darat" Ceceu.
Akankah ia menemukan jalan keluar dari jeratan takdir dan cinta? Atau justru terhanyut dalam 'pernak-pernik' kehidupan yang tak terduga? Baca kisah perjuangan Danil dalam PERNAK-PERNIK KEHIDUPAN
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aris Tea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 11
Danil semakin prustasi mendengar penuturan dari sahabat yang sangat ia banggakan, namun menusuk nya dari belakang, ia harus bagaimana menghadapi situasi seperti ini, sungguh saat ini otaknya tak bisa bekerja.
"Ahhhhhhhhhhhhhhhh."
Dia berteriak dalam kemalangan, Ceceu melihat nya sangat sedih walau bagaimanapun ada rasa kasihan orang yang selalu mengisi hari hari nya menjadi korban kekuasaan dari majikannya itu.
" Niel, aku harus bagaimana agar kau bisa selamat dari incaran bandit tua itu, sebaiknya kau menerima rencana ku saat ini." Ceceu memberikan pilihan pada Danil untuk menerima apa yang di tuturkan dalam rencana dengan bandot tua itu.
" Stop Ceceu, aku kecewa dengan mu." Danil membentak Ceceu, namun tak sedikit pun Ceceu marah atau pun tersinggung.
" Ini tentang harga diri dan martabat ku, namun pilihan yang di berikan oleh Ceceu cukup masuk akal, dan memberi tenggat waktu bagi ku agar masih bisa bertahan dalam kehidupan, namun tetap saja aku akan selalu di bayang bayang oleh kematian dari sang bandot tua itu.
Danil di lema saat ini, ia duduk ke lantai dengan pucat wajahnya, keringat bercucuran di dahinya, beberapa sosok mata sedang mengamati ke arah dirinya saat ini. Perkataan dan penjelasan dari Ceceu bukan kebohongan semata.
Setelah beberapa saat diam, Danil pun berdiri melangkah masuk menghampiri Ceceu dan menarik kasar tangan Ceceu." Niel sakit." Ringis Ceceu, Danil mengacuhkan ia menarik dan langsung menghempaskan tubuhnya ke sofa.
" Aku akan mengikuti rencanamu, sesuai dengan obrolan di kafe ilahi, namun aku meminta syarat." Tegas Danil.
Ceceu tersenyum manis, ia mengacuhkan sipat kasar yang baru saja di lakukan oleh Danil, lalu menjawab dan bertanya pada Danil." Syarat apa?"
"Uh."
Danil menarik nafas dalam-dalam sebelum menjelaskan persyaratan yang di berikan oleh nya pada Ceceu Intan Nuraeni." Aku ingin kau mengabarkan segala sesuatu yang berurusan dengan bandot tua itu, aku ingin kejujuran tanpa ada kebohongan yang di rencanakan oleh bandot tua pada ku."
" Sederhana kan syarat ku.?" Danil bertanya.
Ceceu mengangguk cepat tanpa berpikir panjang untuk mencerna setiap kosa kata yang keluar dari mulut pemuda berusia belasan tahun itu. Ia ingin segera selesai dengan permasalahan yang telah menguras air matanya.
"Jadi hal yang pertama harus aku lakukan apa Ceceu.?" Tanya Danil kini wajah dan bicaranya sudah sesantai mungkin, hal itu membuat alis Ceceu naik ke atas.
" Anak ini bener bener memiliki kepribadian yang ganda, tadi aku melihat nya merasakan ketakutan, namun dalam waktu singkat saja ia sudah Danil yang biasa ia temui, Danil yang polos Danil yang ceria." Ceceu geleng geleng dalam hatinya.
" Ceu." Panggil Danil."
Gadis itu sedang melamun, hingga Danil memanggil nya kembali bersama dengan nama lengkapnya suaranya sedikit tinggi.
" CECEU INTAN NURAINI."
" Eh. Itu, iya Niel kamu harus tidur bertelanjang bulat bersama ku. Saat ini." Reflek Ceceu berkata.
" Ohk may good." Danil menutup mulutnya. Ceceu merona merah di wajahnya. Danil berkata." Apakah gak ada cara lain selain tidur bertelanjang dengan mu Ceu."
" Hmmm." Gumam Ceceu. Ragu ingin berbicara tentang isi hatinya." Apakah kamu sama sekali tak tertarik pada tubuh ku."
" Bukan aku tak tertarik dengan tubuh mu yang molek itu Ceu, tapi itu hal tabu dan dosa besar bagiku, apakah aku harus masuk dalam jerit ikat syetan yang akan menyeret ku dalam kenistaan melalui perantara tubuh mu."
Danil menimbang nimbang kosa kata dalam pikirannya, ia harus menjawab pertanyaan dari Ceceu, agar tidak tersinggung hatinya, walau bagaimanapun juga, nyawaku saat ini dengan garis miringnya ada di tangan nya dan laki tua cabul itu.
" Apakah tubuhku sekotor ini Niel di matamu. Hingga kau enggan untuk tidur dalam kepura-puraan meloloskan rencana demi keselamatan mu sendiri." Cicit Ceceu menjelaskan nya. Danil semakin di lema saat ini.
Perlahan kini air matanya tampak keluar kembali dari kedua mata indahnya itu. Danil yang tadi berdiri mulai duduk di sofa, perlahan memeluk nya seraya mengelus ngelus punggung Ceceu.
" Aku tak menganggap mu kotor Ceu, tak memandang mu hina dengan apa yang sudah kamu lakuin bersama bandot tua itu, namun yang menjadi ganjalan dan hati ku saat ini, menolak permintaan mu untuk tidur bertelanjang bulat itu membuatku ragu dan takut yang sangat amat takut." Danil memberikan alasan nya.
Ceceu luluh, terbuai akan kedewasaan yang di tunjukkan oleh pemuda belasan tahun itu, ia semakin mempererat pelukannya, Danil membiarkan nya memberi ruang untuk berpikir dan menerima tolakan darinya.
##############
Di lain tempat namun masih jam yang sama dengan seorang pemuda yang sedang memeluk gadis cantik di kursi sofa empuk, sekelompok orang orang yang berjumlah 6 orang berjalan menapaki jalan setapak di pegunungan yang sejuk nan indah di pandang mata.
Hampir dua jam lamanya kelompok yang di pimpin oleh lelaki kekar dengan memakai pakaian layaknya seperti bodyguard, masuk kedalam Sahung yang berada di Gunung Kanyang seorang diri, sementara lima orang nya lagi berdiri di luar menetralisir kan pernafasan nya.
Setelah 10 menit lamanya ke-lima orang yang menunggu di luar duduk di bangku kayu panjang seketika menoleh ke arah suara pintu Sahung. Pria berotot kekar itu menghampiri mereka seraya berkata pada pemuda berusia 25 tahun dengan membungkuk hormat.
" Tuan muda, anda di persilahkan masuk. Abah Peot menunggu anda di dalam."
Dingin datar wajah nya, pria yang di panggil Tuan muda itu beranjak dan langsung naik ke Sahung. Tampak di dalam Sahung beraneka macam benda benda mistis terpampang bahkan di depan lelaki tua berusia hampir seabad itu tampak beberapa kepala manusia yang sudah berubah menjadi tengkorak.
" Hahahaha. Hahahaha. Hahahaha." Prediansyah putra kedua pasangan Irwansyah dan Juliana akhir datang menemui orang tua ini." Tawa nya menggema menggetarkan sendi sendi tulang pria muda di hadapannya, tanpa sadar pria muda yang di tebak nama nya itu sudah duduk di hadapan lelaki tua yang orang orang menyebutnya ABAH PEOT.
" Kita bertemu kembali Nak." Abah Peot menatap penuh ke arah Prediansyah yang di tatap balik menatap dengan datar.
" Hampir satu tahun aku menunggu mu! Terakhir kita bertemu di kota, di mana kamu menolong orang tua ini yang sedang kesusahan dan buliyan dari para preman jalanan itu." Jeda sesaat sebelum melanjutkan perkataannya lagi.
Memberi ruang pada pemuda bangsawan dari pemilik perusahaan yang bergerak di bidang pertambangan, real estate property dan kelautan. Untuk mengingat ngingat pertemuan dengan Abah Peot tanpa di sengaja oleh nya.
Abah Peot waktu itu pernah berkata padanya setelah ia menolong nya dari amukan dan bulian preman yang ia baru keluar dari restoran bertemu dengan klien nya.
" Terima Kasih anak muda atas pertolongan mu. Seandainya kau memiliki kesulitan di masa depan dan tidak dapat menemukan jawaban nya serta sudah berada di jalan buntu, datanglah ke tempat orang tua ini, yang berada di pinggiran hutan belantara provinsi Banten. Para warga memanggil orang tua ini. ABAH PEOT PENGUASA GUNUNG KANYANG.
" Jadi bagaimana Nak.! Apakah ada kesulitan dalam hidup mu, hingga kau datang menemui Abah yang sudah lelah menunggu mu selama satu tahun ini.?" Tanya nya, pria muda tersadar akan dari lamunannya itu.
Bersambung.